
Sambil menyetir, Leo terus memerhatikan Shena yang terlihat sangat cemas. Leo tahu, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengagumi betapa cantiknya Shena jika ia terlihat panik. Sebab, putranya ini sedang dalam bahaya besar karena komplotan cacing liar itu menculik putranya tanpa alasan yang jelas dan Leo sangat tahu siapa pelakunya.
Namun, dibalik itu semua, Leo percaya kalau Yeon akan baik-baik saja sampai ia datang menyelamatkannya. Atau bisa jadi Refald akan datang lebih dulu menyelamatkan keponakan kesayangannya. Itulah kenapa Leo tak terlihat panik seperti Shena tapi tetap berjaga-jaga dan terus waspada mengahadapi segala kemungkinan yang terjadi.
“Tuan muda,” panggil salah satu anak buah Leo melalui walkie talkie yang terpasang di mobil Leo. “Ada banyak mobil jeep yang mengikuti kita dari belakang. “Kami menunggu perintah dari anda,” ujar anak buah Leo.
Leo tersenyum sinis sambil melirik kaca spionnya. “Berapa jumlah mobilnya?” tanya Leo santai.
“Tiga, tuan muda! Jika anda memberikan perintah, kami bisa melenyapkannya sekarang juga!”
“Bagaimana keadaan Yeon dan Yuna di sana?” tanya Leo masih terlihat tenang sementara Shena sudah panik tak karuan.
“Kami masih belum sampai di lokasi, Tuan. Pengamanannya sangat ketat dan banyak cctv terpasang dimana-mana. Beberapa rekan mencoba menyamar dan mengendalikan ruang cctv, tapi belum ada laporan lagi apakah mereka sudah berhasil atau tidak. Sepertinya, tempat itu sangat berbahaya, Tuan.”
“Kalian semua pergilah dulu kelokasi Yeon dan Yuna, lindungi mereka dan tembus pertahanan lawan, tapi jangan sampai ketahuan. 3 mobil itu, serahkan semuanya padaku. Biar aku sendiri yang membereskan mereka semua!” perintah Leo sambil terus menatap lurus ke depan.
“Baik Tuan muda.”
“Salah satu dari kalian yang berada paling belakang, berhentilah disitu dan blokir jalan begitu ketiga mobil musuh lewat. Jangan sampai ada mobil lain melewati jalan ini. Kalian paham?” ujar Leo lagi melalui walkie talkienya. Sepertinya Leo punya rencana besar untuk mengalahkan ketiga mobil yang mencoba mengikutinya.
“Siap, Tuan muda!” ujar pengawal yang ditunjuk Leo.
“Apa yang akan kau lakukan? Kenapa kita tidak menyelamatkan Yeon dan Yuna dulu?” tanya Shena bingung dengan perintah yang diberikan Leo pada semua anak buahnya.
__ADS_1
“Menyelam, sambil minum air, Sayang. Yeon pasti baik-baik saja karena pamannya takkan pernah membiarkan putra kita terluka. Ah, aku lupa memberitahumu tentang siapa Refald sebenarnya, tapi itu nanti saja kujelaskan.”
“Hah?” mata Shena melotot menatap Leo. “Aku tidak mengerti apa maksudmu?”
Leo tersenyum manis sambil menggenggam erat tangan Shena dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang kendali setir.
“Untuk saat ini, ku akan mengalahkan mereka semua dengan cara sama saat kita dulu kita berkencan. Artinya, mengalahkan musuh sambil mengembalikan ingatanmu dengan mengulang kembali momen romantis kencan seru kita berdua. Setelah itu, kita akan selamatkan Yeon sesegera mungkin.” Genggaman tangan Leo semakin mengerat dan Shena tak pernah melepas tatapannya melihat betapa keren suaminya ini.
“Tuan muda, kami sudah memblokir jalan,” lapor anak buah Leo.
“Bagus, pergilah menyusul rekan kalian dan biarkan saja ketiga mobil itu. Kalian yang ada disana juga jangan bertindak gegabah sebelum aku datang!”
“Baik, tuan muda!” seru pengawal Leo penuh dengan semangat 45. Pengawal yang ada dibelakang mobil penguntit Leo menancapkan gas dan melewati ketiga mobil musuhnya tanpa bicara sepatah katapun.
“Ada apa dengan mereka semua? Kenapa majikannya malah ditinggal?” tanya salah satu komplotan penjahat yang ada di dalam mobil.
“Entahlah, mungkin mobil majikannya sedang bermasalah,” jawab rekannya yang lain.
“Hahahaha … bagus kalau begitu, kita tunggu momen yang tepat untuk menghabisi mobil yang ada di depan kita itu.” salah satu penjahat itu tertawa senang karena mengira sendirinya Leo, merupakan kesempatan baginya untuk menghabisi seorang Leo. “Sepertinya mereka masih belum sadar kalau kita sedang mengikuti mereka,” ujarnya lagi. “Cepat kejar dia! Aku akan menembak kepala orang itu begitu ada kesempatan.”
“Baik,” ujar sopir mobil itu. Tiba-tiba saja, ia agak keki juga ketika melihat mobil salah satu anak buah Leo yang tadinya berhenti di pinggir jalan malah mengedipkan salah satu matanya saat melintas mendahului mobil jeep yang dikendarainya. “Orang itu menyebalkan sekali! Awas saja kau!” seru sopir itu tidak terima.
“Ada apa?” tanya salah satu rekannya.
__ADS_1
“Masa ia mengedipkan mata padaku? Dia pikir dia itu siapa?” sopir mobil tersebut terlihat marah dan tidak suka pada gaya sok keren anak buah Leo.
“Mungkin saja orang itu suka jeruk makan jeruk, dan kaulah jeruknya, hahaha.” Rekan sopir itu malah menggodanya. Tawa riang menggema memenuhi isi mobil musuh Leo karena menjadikan rekannya yang dapat kedipan mata dari anak buah Leo sebagai lelucon, tanpa tahu bahwa nyawa mereka semua sedang dalam bahaya besar. Di tangan Leo, orang-orang ini bakal di binasakan tanpa jejak.
Leo melihat mobil anak buahnya yang paling belakang dan sempat membuat marah sopir musuhnya itu melaju kencang mendahuluinya untuk menyusul rekan-rekannya yang sudah meninggalkan Leo lebih dulu. Suami Shena memerhatikan kaca spionnya dan sengaja memperlambat kecepatan untuk lebih dekat dengan penguntitnya.
“Duduklah dipangkuanku Sayang,” pinta Leo tiba-tiba tanpa menoleh pada Shena begitu hanya tinggal dia sendiri dijalanan yang sepi ini.
“Apa?”
“Lakukan saja, apa yang aku katakan. Aku jamin, ini akan menjadi momen terindah kita berdua. Percayalah padaku.” Leo tersenyum.
Momen ini memang mengingatkannya kembali akan kenangan masa lalu mereka. Bedanya, kalau dulu Shena dan Leo masih belum menikah, tapi sekarang mereka sudah menjadi sepasang suami istri dan punya tiga anak.
Meski agak ragu, Shena menuruti permintaan Leo. Ia duduk dipangkuan suaminya tapi entah mengapa jantung Shena malah berdetak sangat kencang. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka berdua berdekatan, tapi tetap saja jantung Shena berdebar-debar setiap berada didekat suaminya. Dan ini benar-benar sangat dekat.
“Pegang kendali kemudinya, aku akan menyiapkan senjata.” Tangan Leo meletakkan tangan Shena untuk menggantikannya menyetir.
Tidak ada yang bisa Shena lakukan selain menuruti arahan dari Leo. Ia berkonsentrasi penuh mengendalikan kemudi mobilnya sementara Leo sibuk mengisi peluru dari senjata semi otomatisnya. Setelah selesai, Leo memeluk tubuh Shena dengan satu tangan dan menginjak rem secara dadakan sehingga tubuh Shena hampir saja menabrak kendali setir jika saja tangan Leo tidak memeluknya dan menahannya kuat-kuat.
Awalnya, Shena sangat terkejut tapi akhirnya ia mengerti alasan Leo memeluknya. Seketika sekelebat ingatan tentang momen ini, terlintas dipikiran Shena. Yah, tidak salah lagi, kejadian ini sama persis seperti waktu Shena dan Leo dibuntuti musuhnya dulu. Mereka berdua juga duduk pangku-pangkuan seperti ini. Shena tertegun tapi tak dapat dipungkiri, ia bahagia karena ingatannya sudah kembali meskipun ada sedikit rasa sakit menyerang kepalanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***