
Sepasang suami istri itu sedang gendong -gendongan menuruni tangga menuju ruang pesta yang sudah Leo siapkan sebelumnya. Sepasang mata Leo tak pernah lepas dari wajah cantik jelita Shena. Sejak keluar kamar hingga sekarang, suami Shena itu senyam-senyum sendiri seperti orang gila menikmati kecantikan Shena yang paripurna.
"Kenapa kau melihatku dan senyam-senyum sendiri begitu?" tanya Shena sewot, tapi kedua tangannya melingkar erat di leher Leo.
"Aku hanya teringat momen indah setelah kita selesai pertama kali belah bulanmu dulu. Kau kesulitan berjalan, dan aku menggendongmu sampai ke lantai bawah, seperti yang sedang kulakukan sekarang. Bedanya, kita belum belah bulan lagi," kekeh Leo.
"Aku tidak kesulitan," ralat Shena. "Tapi kesakitan. Pertama kali melakukan itu memang sakit tahu, dan jangan harap malam ini aku mau belah bulan denganmu. Aku masih marah padamu. Ingat itu," cetus Shena.
"Kita lihat saja nanti. Sampai berapa lama kau bisa marah padaku, duhai wanita pujaan hatiku." Leo mencium mesra kening Shena dan wajah Shena langsung manyun meskipun ia ingin tertawa mendengar kata-kata gombal Leo.
Bagaimana bisa Shena marah lama-lama kalau suami jahilnya ini terus bersikap sweet begini. Walau punggungnya terasa sakit, Leo tetap bertahan sok kuat menggendong Shena menuruni anak tangga satu persatu.
Benar apa yang dikatakan Leo, semua orang sudah memenuhi ruang pesta di acara anniversary pernikahan Leo dan Shena. Seluruh tamu undangan langsung menatap senang pasangan suami-istri yang baru saja baikan itu. Tepuk tangan menghiasi ruang pesta melihat keromantisan Leo dan Shena saat berjalan mendekat kearah para tamu yang hadir mengikuti acara pesta hari bahagia Shena dan Leo.
"Dasar menyebalkan, mereka berdua mengulang, adegan saat keduanya dulu menjadi pengantin baru." Refald mulai ngedumel sendiri melihat Leo sok romantis pada Shena.
"Bagus, kan ... mereka berdua memang pasangan yang serasi," sambut Fey ikutan tepuk tangan seperti yang lainnya.
"Cecunguk itu lebay sekali!" Refald jadi keki sendiri dan Fey malah tertawa melihat suaminya seperti itu.
"Nanti anniversary kita juga bisa seperti mereka. Itupun juga kalau kau mau," hibur Fey dan berhasil. Refald melirik tajam mata Istrinya seolah sedang merencanakan sesuatu.
"Kau benar, Honey. Aku juga tak kau kalah dengan si kampret itu. Pesta anniversary kita, harus spektakuler melebihi mereka berdua." Refald menyeringai senang.
Lantunan lagu melankolis mulai terdengar merdu ditelinga, semua orang mulai berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Refald mengajak istri tercintanya berdansa begitu pula dengan Leo yang langsung menurunkan tubuh Shena lalu menggandengnya untuk berdansa bersama. Tentu saja Shena masih enggan mengikuti arahan Leo karena perasaan kesalnya masih belum hilang sepenuhnya.
__ADS_1
"Injak saja kakiku, kalau kau enggan berdansa. Kau permaisuriku malam ini, Sayang. Tidak enak dilihat orang kalau kau terus berwajah manyun begitu." Leo menjinjing tubuh Shena sampai kaki Shena berada diatas kakinya.
"Kau yang membuatku seperti ini. Kejahilanmu benar-benar menguras emosiku. Dimana Laura dan Roy sekarang? Apa mereka juga ikut andil dalam sandiwaramu? Dan tubuh Leo yang terkapar dan penuh darah itu ...," Shena mulai interogasi.
"Robot yang mirip denganku," sahut Leo cepat. "Aku akui, para ilmuwan di Jepang ini sangat canggih sehingga menciptakan robot yang sangat mirip denganku. Bahkan istriku saja tidak bisa mengenali mana suaminya yang asli. Soal Roy dan Laura, jangan khawatirkan mereka. Sebab keduanya sedang bermesraan di dalam kamar. Roy sedang merayu Laura karena ia juga marah sama sepertimu." Leo tersenyum melihat wajah Shena yang sudah lebih rileks dari sebelumnya.
"Leo," panggil Refald saat ke-empatnya sedang berdekatan. Kakak sepupu Leo itu masih berdansa dengan Fey. "Besok ada jumpa pers. Dunia sedang heboh perihal kematianmu. Saatnya kita semua mengkonfirmasi berita ini."
"Siap. Besok aku pasti akan datang. Tapi untuk sekarang, aku mau menikmati pesta anniversary kami," ujar Leo masih sambil terus menatap Shena.
Mereka berempat saling bercuap-cuap sambil berdansa bersama. Seluruh keluarga Leo yang kebetulan ada di Jepang saling berkumpul diacara spesial Leo dan Shena dan bercanda ria.
Tiba-tiba saja, rentetan kembang api besar menyala terang menghiasi langit-langit malam. Pesta kembang apipun di mulai dan semua orang berhenti berdansa untuk menikmati kembang api yang sangat menakjubkan itu.
"Kau suka?" Maaf kalau persiapan pestanya tak semeriah perta resepsi pernikahan kita," bisik Leo ditelinga Shena.
Semua orang yang ada di pesta ini berdiri di depan dinding yang terbuat dari kaca dan menikmati pesta kembang api persembahan Leo untuk Shena. Diujung acara, sebuah pesawat jet datang dan mengeluarkan gas membentuk tulisan 'I love you forever, Shena'.
Seketika Shena mengatupkan mulutnya dengan kedua tangan karena terharu. Tulisan itu membuat Shena sampai berkaca-kaca. Suaminya ini, selain jahil dan nggak ada akhlak, tapi tetap bisa sok sweet juga.
"Kenapa aku jadi teringat puisi cinta yang kau tulis dilangit-langit tepat kita selesai melaksanakan upacara pernikahan ghaib kita dulu?" ujar Fey yang juga ada dipelukan Refald.
"Ehm, cecunguk itu bisa juga melakukan hal serupa meskipun tak punya kekuatan sepertiku." Refald semakin mengeratkan pelukannya. "Kau mau berkencan denganku? Kita pergi ke tempat pertama kali aku menuliskan puisi cinta untukmu." suara Refald terdengar menggoda sehingga Fey tak kuasa menolaknya.
"Ayo!" Fey mengangguk setuju. "Suruh saja semua tamu undangan ke tempat lain dan biarkan Leo berduaan dengan Shena."
__ADS_1
"Setuju," ujar Refald sambil tersenyum.
***
Keesokan harinya, kejutan untuk Shena ternyata tak berhenti sampai di situ. Leo memanjakan Shena dengan banyak kado yang sudah ia siapkan untuk istri tercintanya. Begitu Shena terbangun dari tidurnya, ia terkejut karena tak mendapati Leo disampingnya.
"Kemana dia?" tanya Shena mengamati sekitar kamar tidurnya yang sudah dihias Leo sedemikian rupa.
Leo menepati janjinya yang tidak mengajak Shena main bulan tertusuk ilalang selagi Shena masih marah pada suaminya. Sebagai gantinya, Leo hanya memeluk tubuh Shena semalaman dan bangun lebih dulu untuk memberikan kejutan pagi pada istrinya.
Mata Shena langsung terpaku pada kotak kado yang ada di bawah kakinya saat ia akan turun ranjang. Ia mengambil kotak itu dan matanya kembali tertuju pada kotak kado lain yang ada didekat pintu keluar kamarnya. Karena penasaran, Shena kembali mengambil kado kedua tersebut. Diatas kado itu, Shena melihat tulisan yang bertuliskan 'buka pintunya'. Shena tersenyum lalu membuka pintu kamarnya dan ia melihat sebuah kado lagi. Kali ini bukan cuma satu, melainkan ada banyak dan berjajar rapi dengan jarak tertentu.
"Ada apa ini? Kenapa kadonya banyak sekali?" gumam Shena.
Karena masih penasaran, Shenapun memunguti semua kado yang tersebar di seluruh lorong satu persatu. Sepertinya kado-kado tersebut diarahkan pada sebuah balkon. Saking banyaknya kado, Shena sampai kualahan membawa semua kado-kadonya. Akhirnya, ia letakkan saja seluruh kado itu jadi satu di lantai dan kembali memungut kado-kado lain hingga ia sampai dibalkon.
Sesampainya di kado terakhir, Leo muncul dari balik pintu dan mengagetkan Shena dengan membawa sebuket bunga mawar indah.
"Selamat pagi, Sayang. Ini untukmu." Leo tersenyum manis semanis madu sehingga semakin klepek-klepeklah Shena dibuatnya.
Leo juga memberikan cincin berlian terindah yang pernah Shena lihat. Cincin berlian tersebut jauh lebih indah bila dibandingkan dengan cincin pemberian Leo sebelumnya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
Setelah ini aku loncat 7 tahun ya ... Saat Yeon, Bima, dan Lea sudah ada dan berusia anak-anak.