
Raut wajah Shena yang tadinya senang saat melihat Yeon seketika berubah heran mendapati putranya sama sekali tak merasa bahagia begitu mengetahui bahwa dirinya akan segera kembali ke Swiss untuk melanjutkan studinya di sana. Ini pertama kalinya bagi Shena, ia melihat putra sulungnya bermuram durja.
Ini bukanlah karakter Yeon biasanya. Yeon yang Shena kenal tak pernah menunjukkan ekspresinya, buah cinta pertamanya dengan Leo ini lebih persis seperti Refald ketimbang dirinya ataupun Leo. Bawaan Yeon itu selalu tenang dalam keadaan apapun, Namun anehnya … kali ini berbeda. Jelas-jelas terlihat di mata Yeon, kalau ia tak ingin kembali ke Swiss. Apa alasannya, itulah yang Shena tidak tahu, tapi diketahui oleh Leo.
“Yeon, ada apa? Apa … yang membuatmu sedih seperti itu? Katakan pada ibu.” Shena hendak memeluk putranya tapi Yeon dengan cepat langsung berlari ke dalam rumah menuju kamarnya sendiri meninggalkan Leo dan Shena yang terbengong-bengong dengan sikapnya. Anak itu mengunci rapat-rapat pintu kamarnya dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Shena sangat terkejut melihat sikap putranya yang tak biasa. Ia ingin mengejar kepergian Yeon untuk mencari tahu apa penyebab Yeon tiba-tiba menjadi seperti itu. Namun, baru juga selangkah Shena berjalan, mendadak tangan kanannya langsung ditarik oleh Leo dengan kencang sehingga Shena terjatuh ke dalam pelukan Leo. Karena tarikan tangan Leo terlalu kuat, tubuh Shena oleng dan membuat Leo tak siap menahan beban tubuh Shena. Alhasil, keduanya terjatuh ke tanah mengikuti daya tarik graviatsi bumi dengan posisi Shena ada diatas Leo.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Shena dan hendak bangun, tapi ditahan oleh Leo supaya Shena tetap berada diatasnya.
“Memelukmu?” jawab Leo santai.
“Lepaskan aku? Bagaimana kalau ada yang melihat kita? Pasti mereka berpikiran yang bukan-bukan tentang kita?” Shena berusaha melepaskan diri dari Leo tapi tidak bisa. Pelukan Leo terlalu kuat untuk ia lawan.
“Biarkan saja! Aku tidak peduli pada mereka. Lagian ini gelap sekali, tidak akan ada yang tahu kalau kita bermesraan di sini.” Leo malah mengedipkan salah satu matanya untuk menggoda Shena.
“Leo, aku sedang tidak ingin bercanda denganmu? Lepaskan aku!” pinta Shena mencoba memberontak lagi. Namun dekapan Leo, jauh lebih kuat sehingga Shena tak bisa melepaskan diri dari kurungan tangan suaminya. Semakin Shena melawan, semakin kuat pula pelukan Leo.
“Siapa yang mengajakmu bercanda, hm? Aku juga tidak ingin bercanda denganmu. Aku serius.” Leo hendak mencium Shena tapi dengan cepat Shena memalingkan wajahnya.
Gila aja, masa mau kissing ditengah taman gelap gulita begini? Dasar gangster nggak ada akhlak! Batin Shena.
__ADS_1
“Kenapa kau berpaling? Kau tidak mau kucium?” tanya Leo dengan kilatan api yang menakutkan. Mungkin Shena lupa kalau Leo sama sekali tidak suka di tolak.
“Bukan tidak mau, ini bukan waktu yang tepat untuk kita kissing-kissingan di tempat terbuka seperti ini. Apa kau tidak lihat wajah putra kita? Dia terlihat sedih, orangtua macam apa kita membiarkan putranya seperti itu sendirian? Aku akan menemui Yeon dan bicara padanya.” Shena terus ingin melepaskan diri tapi Leo tetap kukuh menahan tubuh Shena diatasnya.
“Leo,” panggil Shena geram.
“Shena,” Leo menirukan panggilan Shena.
“Lepaskan aku!”
“Tidak mau!”
“Aku janji, setelah aku selesai bicara dengan Yeon, kita main bulan tertusuk ilalang sesuka hatimu. Lepaskan aku, oke!”bujuk Shena.
“Tidak mau!”
“Shena!” lagi-lagi Leo menirukan panggilan Shena.
“Aku mohon, lepaskan aku. Biarkan aku menemui putraku.” Shena mengedip-ngedipkan matanya supaya terlihat cute dengan harapan Leo mau melepaskan pelukannya.
“Aaah … kenapa kau mengedipkan matamu, Sayang. Kau tahu? Aku jadi ingin memakanmu sekarang juga!” gemas Leo.
__ADS_1
“Leo! Ayolah, lepaskan aku! Aku tak bisa membiarkan putraku bermuram durja begitu,” Shena mulai manyun dan ngambek di depan Leo karena suaminya tak kunjung melepaskan pelukannya.
“Sayang, Yeon bukanlah anak-anak biasa seperti anak-anak normal pada umumnya. Tubuhnya mungkin masih kecil tapi hati dan pikirannya sudah melampaui kita berdua. Yeon sedang jatuh cinta. Sama seperti yang pernah kurasakan padamu saat itu. Percuma saja kau menemuinya, itu hanya akan membuat hatinya semakin gundah gulana,” terang Leo dengan santai seakan sangat memahami apa yang dirasakan Yeon saat ini.
“Benarkah? Kok kamu tahu? Yeon kan tidak bilang apa-apa?” tanya Shena ragu dengan asumsi suaminya yang kadang asal jeplak saja.
“Aku adalah ayahnya, tentu saja aku tahu apa yang sedang terjadi pada putraku meskipun ia tak memberitahuku. Hal itulah yang terjadi diantara aku dan ayah. Aku tak pernah memberitahu ayah kalau aku jatuh cinta padamu, tapi ayah tahu dan menjodohkan kita berdua bahkan jauh sebelum kau dan aku dilahirkan ke dunia. Walaupun pada akhirnya kita terpisah karena hal tak terduga, toh kita berdua juga tetap bisa bersama hingga sekarang. Dan putra pertama kita, sedang mengalami apa yang aku dan kau alami dulu. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan bantin antara ayah dan anak.”
Shena tersenyum manis mendengar kata-kata suaminya. “Ini aneh, biasanya yang sering aku dengar adalah ikatan batin ibu dan anak, tapi kali ini … aku baru tahu kalau ikatan batin ayah dan anak juga jauh lebih kuat.”
Leo menggulingkan tubuh Shena dan menukar posisinya. Kali ini bukan Shena yang ada di atas tubuh Leo, tapi sebaliknya, Leolah yang ada di atas tubuh Shena. Mereka berdua ini benar-benar PW. Dimana-mana selalu saja oke. Tanpa banyak bicara lagi, singa Leopard itu langsung menerkam mangsanya kuat-kuat. Ia menciumi wajah istrinya tanpa henti sampai membuat Shena jadi kesulitan bernapas.
“Leo, hentikan! Jangan lakukan di sini! Aku takut ada serangga atau ular yang akan datang menggigit kita.”
“Akulah yang akan menggigitmu, bukan ular!” Leo bangun dan langsung menggendong tubuh Shena masuk ke dalam rumah. Tak perlu basa-basa lagi bagi Leo untuk segera melaksanakan ritual bulan tertusuk ilalang yang sudah sangat mereka nantikan.
Malam ini, adalah malam yang syahdu bagi Leo dan Shena dimana cinta sejati mereka telah bersemi kembali seiring dengan kembalinya ingatan Shena seperti sedia kala. Namun, berbeda dengan Yeon dan Yuna yang sedang merasakan kegundahan hati yang berbeda. Yeon mungkin masih belum sadar akan perasaannya pada Yuna.
Masih terlalu dini bagi Yeon untuk jatuh cinta. Anak genius itu masih butuh banyak waktu untuk memahami perasaan baru yang hadir dalam hidupnya dan pastinya, ia tak bisa menghindar dari perasaan ini. Yeon berdiri sepanjang malam di depan kamar jendelanya sambil menikmati pemandangan bulan purnama.
Begitu pula dengan Yuna. Bedanya, Yuna tidak memikirkan perasaan seperti yang dirasakan Yeon terhadapnya. Yuna lebih fokus pada kehidupan keluarganya yang sesungguhnya. Kata-kata Yeon dan Shena tentang arti sebuah keluarga, selalu terngiang diingatan Yuna. Sebab itulah, gadis manis itu sudah mengambil satu keputusan besar, dimana ia akan menjalani takdir hidup yang sudah digariskan Tuhan padanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***