
Mati-matian, Leo menahan tawa agar tidak muncrat keluar melihat kemarahan sang istri terhadap mafia tua yang ada dihadapannya. Ia akui, inilah Shena yang sebenarnya. Istrinya ini benar-benar sudah kembali menjadi Shena yang dulu. Shena yang suka ceplas-ceplos dan blak-blakan terhadap segala hal yang tidak ia suka. Benar apa yang dikatakan pepatah. Mulutmu harimaumu, senjata tertajam di dunia adalah ucapan menyakitkan yang keluar dari lidah tak bertulang. Seperti yang dikatakan Shena. Ucapannya, benar-benar membuat darah di Datuk Situroja mendidih.
“Aku harus apa, Datuk? Yang dikatakan Shenaku benar? Seorang gengsters sepertiku selalu menjunjung tinggi kebenaran. Sadarilah kalau kau memang sudah kakek-kakek.” Leo terlihat sangat santai dan bahkan ia dengan sengaja memainkan rambut hitam klimis istrinya seakan mendukung penuh apapun tindakan yang dilakukan Shena. Namun Leo tetap waspada terhadap orang-orang yang ada dibelakang mafia tua itu.
“Aku masih bisa memaklumi sikap kurangajarmu karena aku melihat ayahmu! Tapi wanita ini …” Datuk menunjuk wajah cantik Shena dengan jari telunjuknya. Ingin rasanya Shena menggigit jari telunjuk itu tapi niatnya ia urungkan karena tak ingin mengotori mulutnya sendiri. “Siapa kau berani mengataiku, ha?” bentaknya pada Shena.
“Aku … menantu dari keluarga Pyordova. Sebagai wanita, aku takkan pernah rela jika orang sepertimu merendahkan dan menghina wanita lain yang akan menjadi bagian dari keluarga kami walaupun ia masih anak-anak. Kaulah yang akan menggali lubang kuburanmu sendiri.” Kilatan mata Shena terlihat sangat menakutkan. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa takut.
“Cepat tanda tangani berkas itu, atau kau … akan menyesal seumur hidupmu! Ini peringatan keras, dan aku tidak main-main dengan ucapanku, karena aku adalah istri dari seorang gangster kelas kakap Leopard Bay Pyordova yang tidak akan pernah menarik kembali setiap kata yang kuucapkan. Kau tahu kenapa? Sebab itu adalah jalan ninjaku!” mata Shena beradu pandang dengan tatapan mata si pak tua. Api kebencian keluar dari aura tubuh mereka masing-masing dengan sangat kuat.
“Daebak!” gumam Leo bangga pada istrinya. Senyum mengembang terus saja terpancar di wajah Leo kala melihat keseriusan Shena.
“Tidak bisa!” teriak datuk itu menggelegar. “Aku tidak akan pernah membiarkan Yuna menjadi istri putramu! Dia calon istriku! Aku akan menikahinya nanti jika ia dewasa. Bagaimana bisa kau memilihnya menjadi menantunya?” sengal pria tua bangka itu.
“Hei, Kakek peot!” lagi-lagi Shena mengatai Datuk itu. Amarah Shena semakin lama semakin memuncak saja. Shena bahkan tidak sadar kalau ia sudah berkacak pinggang didepan sang Datuk. “Apa kau tidak pernah ngaca? Usiamu itu sudah berapa? Hanya tinggal dihitung dengan jari dan kau masih belum sadar kalau kau itu sudah bau tanah. Yuna lebih pantas jadi cicitmu ketimbang istrimu, kau tahu! Apa kau kau tidak waras? Jangankan menunggu Yuna dewasa, belum setahun saja kau sudah tinggal dikuburan!” teriak Shena penuh emosi.
Bisa-bisanya si kakek tua bangka ini punya niatan menikahi gadis manis nan cantik seperti Yuna. Mana mungkin Shena membiarkan hal itu terjadi. Leo yang melihat itu berusaha menahan tawanya yang minta segera dihempaskan.
__ADS_1
Kata-kata Shena benar-benar menjatuhkan harga diri sang mafia tua. Suami Shena itu baru sadar kalau hal paling menyakitkan adalah menahan tawa dan tak bisa dilepaskan secara leluasa. Yang bisa Leo lakukan adalah memegangi perutnya.
Shena sangat heran. Bagaimana bisa si tua bangka yang sudah karatan ini memiliki angan-angan untuk menikahi gadis manis seperti Yuna. Mungkin saja otaknya sudah eror.
“Kau! Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku, ha? Memangnya siapa kau?” ganti si Datuk ikutan emosi.
Berkali-kali ia memegangi tengkuknya. Para pengawal Datuk jadi ikutan cemas dan ikut memegangi tubuh majikannya. Namun, bukannya ucapan terimakasih, Datuk itu malah marah-marah tak jelas.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Kalian pikir aku ini tua, apa?" bentaknya masih belum sadar diri juga.
“Hadeuh selain sudah tua bangka, kau pikun juga!” ledek Shena sengaja memancing amarah Datuk.
"Kau tadi tanya aku ini siapa, kan? Sekali lagi kutegaskan supaya kau tak bertanya lagi tentang siapa aku. Aku … istri dari sultan Leopard Bay Pyordova, menantu satu-satunya dari keluarga Byon Pyordova? Kau tahu kenapa aku bicara kasar padamu? Karena kau tak pantas disebut seorang mafia. Sebagai mafia, harusnya kau menghormati istrimu dan memuliakannya karena itu adalah salah satu kode etik yang harus dimiliki seorang mafia.
"Tapi apa yang kau lakukan? Kau mencoreng nama besar seorang mafia dengan meniduri banyak wanita? Mafia macam apa kau? Jika saja semua mafia yang ada di sini mengetahui kalau kau sudah melanggar kode etik seorang mafia, maka habislah kau!” Shena terus berapi-api saking kesalnya dengan tingkah pria tua tak sadar diri ini.
Deg!
__ADS_1
Mata Datuk langsung terbelalak. Ia terkejut mendengar apa yang baru saja Shena katakan. Si tua bangka itu tidak menyangka, gadis biasa seperti Shena mengetahui seluk beluk kode etik dari dari seorang mafia dimana kode etik tersebut memang sudah Datuk langgar dan jika para mafia lain tahu masalah ini. Maka Datuk akan dikenakan sanksi. Sanksi terbesar bagi mafia yang melanggar peraturan adalah kematian.
Sementara Leo yang sejak tadi sudah menahan tawa, tiba-tiba saja berubah memasang wajah serius. Seperti halnya Datuk, Leo juga terkejut Shena mengetahui peraturan-peraturan penting, wajib dipatuhi dari orang yang memutuskan untuk menjadi mafia.
Kedua tangan Leo memeluk erat tubuh istrinya karena sejak tadi, Shena sudah ingin mencakar wajah Datuk Situroja yang berdiri dekat dihadapannya.
“Sayang, tenanglah. Kau semakin cantik kalau marah dan itu semakin membuatku ingin segera melakukan bulan tertusuk ilalang denganmu,” ujar Leo sambil tersenyum, bisa-bisanya si gangster nggak ada akhlak ini mulai menunjukkan otak mesumnya disaat yang menurutnya tepat.
“Hah? Kau bilang apa, tadi?” tanya Shena berharap pendengarannya ini salah.
“Kau cantik,” ujar Leo mulai merayu istrinya lagi.
“Benarkah?” tanya Shena mulai malu-malu. Amarahnya yang tadinya meledak-ledak mendadak hilang mendengar ucapan yang keluar dari mulut manis suaminya.
“Sungguh, kau sangat cantik bila marah Sayang, tapi aku tak ingin kecantikanmu ini dilihat orang lain selain aku, jadi jangan marah lagi, oke. Aku bisa kalap kalau saja ada orang yang berani memuji kecantikanmu.”
"Aku tidak marah, aku kesal sama si tua bangka bau bangkee itu? Bisa-bisanya dia berkata mau menikahi Yuna? Memangnya dia itu bocah apa? Udah bau tanah juga!" Shena kembali emosi lagi, tapi Leo terus menenangkannya sehingga wanita itupun luluh lantah dalam dekapan Leo.
__ADS_1
BERSAMBUNG