
Refald meminta bantuan helikopter untuk membawa pergi Yeon dari atas bukit ini. Ia tak bisa berteleportasi, sebab Yeon masih terlalu kecil. Karena itulah ia tidak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan nyawa keponakan kesayangannya. Cara tercepat agar bisa sampai di lokasi Leo dan Shena kini berada hanyalah dengan menggunakan Helikopter pribadinya. Syukurlah tak Refald tak perlu menunggu waktu lama untuk menunggu kedatangan helikopter tersebut.
“Kau menunggu lama, suamiku Sayang?” teriak Fey dari atas. Ia melongokkan kepalanya saat Helikopter itu mendekat kearah Refald.
“Kau datang juga, Honey? Bagaimana dengan Rey?” Refald terlihat senang saat melihat Fey ada didalam helikopter pribadinya. Refald agak memicingkan matanya saat istrinya membawa senjata dipunggungnya.
“Dia aman bersama dengan kakek dan neneknya di Swiss. Bagaimana dengan Yeon? Apa dia baik-baik saja? Sini … berikan dia padaku!” Fey menyulurkan kedua tangannay sambil tersenyum senang.
“Kau habis berperang? Darimana kau mendapatkan senajata itu?”
“Kau sudah tahu jawabannya? Kenapa aku malah bertanya? Cepatlah! Bawa Yeon padaku. Aku sudah sangat merindukannya juga.”
“Minggirlah dulu, Honey. Aku akan melompat!” teriak Refald dan beralih menatap pilot helikopter yang melayang diatasnya. “Pak Pilot! Tolong rendahkan sedikit, aku tidak ingin anak ini mengalami tekanan udara terlalu lama saat aku melompat.”
“Siap, Sir!” pilot pribadi Refald yang sudah menmgetahui seluk beluk siapa Refald itupun mencoba merendahkan helikopetrnya dan berdiri sejajar dengan bibir jurang menganga lebar didepan Refald. Dengan gerakan super duper cepat, Refald melompat masuk kedalam helikopter dan Yeon langsung diambil alih oleh Fey setelah ia meletakkan senjata apinya. Anak itu tidak menangis saat Fey menggendongnya. Bayi mungil itu hanya menatap paman dan bibinya secara bergantian.
“Apa yang kau lakukan padanya, Refald? Aku merasakan kekuatanmu ada pada anak ini juga!” Fey menatap wajah Yeon yang mungil dan menggemaskan itu.
“Ceritanya panjang sekali, Honey. Nanti saja kuceritakan. Bagaimana dengan Bibi? Kau berhasil membawanya kemari? Dan senjata itu? Kenapa kau bisa sampai memegang senjata, sih?” Tanya Refald pada istrinya.
Fey menghela napas panjang sebelum ia menjawab. “Susah sekali meyakinkan bibi Biyanca. Sepertinya kali ini beliau benar-benar marah pada paman Byon. Aku hampir kehilangan cara untuk bisa membawanmya kemari. Tapi saat kau mengirim video penculikan Yeon dan Shena, hatinya tergerak dan langsung mengikutiku saat aku membasmi seluruh preman pasar suruhan musuh Leo. Senjata ini hasil rampasan yang aku ambil dari mereka. Gila aja? Mereka banyak sekali! Kenapa Leo tidak bilang dari awal kalau ia sedang dalam masalah besar?” Fey bercerita panjang lebar pada suaminaya atas aksi yang ia lakukan saat ia mencoba membantu bibinya Shena pergi kerumah sakit agar segera mendapat perawatan, tentu saja pasukan Refaldpun juga ikut membantunya.
“Dia berusaha mengatasi masalahnya sendiri, Honey. Adikku itu mungkin tidak ingin terus-terusan merepotkanku. Taka ada yang bisa dilakukan oleh seorang enak selain kesedihan melihat kedua orangtuanya memilih berpisah. Meski si Bengal Leo tak mengatakannya pada kita. Tak bisa dipungkiri, Leo sendiri terpukul atas apa yang menimpa paman dan bibi.”
“Menurutmu … apa paman dan bibi bisa baikan kembali? Aku kasihan pada Leo dan Shena, juga Yeon.”
“Kita tidak bisa ikut campur urusan mereka berdua, Honey. Tapi … ada satu hal yang harus aku lakukan begitu paman muncul.” Refald menatap tajam wajah Yeon yang mulai tertidur lelap dalam dekapan istrinya.
__ADS_1
“Apa kau yakin rencana Leo ini akan berhasil? Melihat bagaimana kerasnya bibi saat aku membujuknya kemari, aku tidak yakin paman akan datang mengikuti jebakan yang sudah direncakana Leo.”
Kali ini Refald tersenyum simpul. “Paman sudah mulai beraksi, Honey. Malah dia sedang kalap sekarang.”
“Benarkah? Memang apa yang dilakukan paman? Saat berperang tadi, aku tidak lihat ada siapapun selain musuh-musuh Leo,” tanya Fey tidak mengerti.
“Kita akan segera menuju kesana? Oh iya … dimana bibi sekarang? Kita jemput dia juga.”
“Ehm … bibi sedang ….” Fey tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena ia terlalu ngeri untuk mengungkapkannya. Awalnya, Refald sedikit bingung melihat ekspresi istrinya, tapi karena Refald bisa membaca pikiran, maka ia pun tesenyum mengetahui apa yang terjadi sekarang.
“Baiklah kalau begitu. Kita akan jemput bibi kalau urusannya mengeksekusi sudah selesai.”
***
Sementara di tempat lain, Leo dan Shena segera menuju lokasi dimana Kun sedang disekap saat menggantikan dirinya. Penjagaan di sini sangat ketat sehingga Leo dan beberapa pengawalnya harus turun tangan sendiri untuk melawan orang-orang yang berjaga dipintu masuk area tempat Kun ditahan.
“Dasar gangster nggak ada akhlak!” gumam Shena cemberut akut. “Dia sama sekali tidak berubah, dalam keadaan apapun, mesumnya tak pernah ketinggalan!” Shena memerhatikan suaminya yang langsung datang membantu pengawalnya saat berkelahi dengan preman-preman itu.
Dengan kuat, Leo menendang ulu hati salah satu preman yang mencoba menyerangnya. Sekali tendang, preman itupun jatuh terkapar dan pingsan. Tak berhenti sampai disitu, Leo juga melayangkan bogem mentahnya pada para preman yang mencoba mendekatinya. Suami Shena itu menggunakan kedua tangannya untuk berkelahi. Leo menyerang semua orang dengan membabi buta tapi tetap terlihat keren. Tendangan dan pukulan maut yang Leo layangkan selalu sukses membuat para musuhnya tumbang tak berdaya.
Saat Leo sedang sibuk menghajar orang-orang suruhan Rega, tiba-tiba dari sisi lain, ada sekelompok orang memecahkan kaca mobil Leo dimana didalamnya masih ada Shena. Kaca mobil tersebutpun pecah dan preman itu mencoba membuka pintunya. Shena mencoba melawan mereka semua dengan cara menendang-nendang wajah para peman itu, tapi mereka tetap saja berhasil menyeret Shena keluar dan bermaksud membawa istri Leo itu pergi dari tempat ini.
“Leo! Tolong aku!” teriak Shena dengan kencang berharap suaminya segera menolongnya dari cengkeraman sekelompok orang yang mencoba menculik Shena lagi.
Leo yang sedang dikepung langsung kalap begitu melihat istrinya dalam bahaya, iapun menghadiahi bogem mentah pada siapapun yang menghalangi jalannya. Leo melompat ke atas mobil dan melompat lagi untuk menghalau langkah para preman yang mencoba membawa Shena kabur dari sini. Leo memiting leher salah satu preman hingga lehernya patah dan pingsan Leo juga mengambil sebuah tongkat hitam yang tak sengaja ia temukan dibawah kakinya. Ia menggunakan tongkat itu untuk menghajar para preman itu tanpa ampun.
“Beraninya kau menyentuh istriku! Jangan salahkan aku jika kupatahkan tulang-tulang tangan dan kaki kalian semua! Dasar berengsek kalian!” Teriak Leo menggelegar. Kilatan api kemarahannya terlihat jelas dan menakutkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***
Maaf upnya telat … mulai lagi actionnya Leo, semakin kesini semakin seru dan sedikit demi sedikit masalah yang menimpa Leo dan Shena mulai terkuak setelah ini.
Jangan bosan menunggu ya … dan terus dukung dengan like, komen dan votenya. Teriaaksih untuk kak Ariju Ari yang sudah mau memberikan hadiah hatinya dan juga kalian semua yang masih mau memberikan hadiah kopi dan mawarnya. Tanpa kalian semua, mungkin aku nggak akan sesemangat ini meski aku sangat sibuk di RL. Pokoknya love you all forever.
visual Leo dan pengawalnya
visual Fey
visual Yeon kecil
visual Shena
visual Refald
__ADS_1