Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
100. Bagaimana rendangnya?


__ADS_3

"Lho, memang kenapa?" tanya Nella sambil cemberut.


"Kamu nanti capek, istirahat saja. Rizky mendapat masakan darimu itu sudah cukup buat dia senang, kok."


'Padahal aku membuat ini sengaja, supaya ada alasan bertemu dengan Mas Rizky lagi,' batin Nella kecewa.


Mungkin belum ada sepuluh menit Rizky pergi, tetapi ada rasa rindu ingin bertemu. Entah itu memang bawaan bayi, atau memang Nella itu benar-benar keinginannya.


"Tapi sebenarnya aku—"


"Sudah jangan bandel," sela Gita cepat. "Nanti kalau kamu kenapa-kenapa ... Mama juga yang disalahkan oleh Rizky."


Nella menghela nafas dengan gusar. "Ya sudah deh," ucapnya pasrah, sembari mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku nggak tahu alamat kantornya di mana, Ma?"


"Kalau masalah itu gampang, Mama yang akan memberitahumu, Sayang."


Setelah memakan waktu satu jam lebih, akhirnya rendang itu sudah jadi. Nella menaruhnya didalam tupperware, dan menyiapkan satu tupperware lagi untuk tempat nasi.


Ketika semuanya telah siap, dia memasukkannya ke dalam kantong berwarna merah maroon. Lalu berjalan keluar gerbang untuk menemui kurir delivery yang akan mengantarkannya.


"Ini, Pak. Alamatnya sudah saya kirim lewat pesan. Penerima atas nama Rizky Gumelang, ya?" Nella memberikan kantong merah itu pada pria berjaket hijau, dan pria itu pun menerimanya. "Beritahu juga, pengirimnya atas nama Nella, istrinya."


"Baik, Nona. Kalau begitu saja permisi." Setelah menaruh kantong itu ke dalam box yang berada di belakang jok motornya, lantas pria tersebut mengendarai motornya dan meninggalkan Nella.


(Flashback Off)


"Biar saya saja yang memberikannya, Pak. Kebetulan saya juga mau menemuinya," ujarnya seraya menadah tangan.


"Nona ini kerja di sini? Apa bagiamana?"


"Iya, saya kerja di sini. Saya sekretarisnya. Sudah, sini saya bawa saja. Nanti saya akan memberikannya." Mitha merebut kantong merah tersebut lalu buru-buru masuk ke dalam gerbang, meninggalkan kurir itu.


"Coba kita lihat, dia bawa apa untuk suaminya," gumam Mitha. Dia menghentikan langkahnya saat sudah duduk di kursi lobby, lalu membuka isi didalam kantong itu. "Oh ternyata rendang? Sepertinya masih hangat dan baru matang. Aku coba deh ... lebih enak masakan siapa."


Mitha membuka tupperware yang berisi rendang itu, lalu memasukkan tangannya kedalam kantong merah itu untuk mencari sendok yang kebetulan sempat dia lihat.


Sendok yang berbungkus plastik itu dia ambil, kemudian menyendokkan rendang ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Saat sudah terasa di lidahnya dan mulai mengunyah hingga menelan, seketika matanya membulat sempurna.


"Ini enak, dan jauh lebih enak dari rendangku kemarin. Ah ... Mas Rizky nggak boleh makan rendang ini, nanti dia tambah tergila-gila sama Mbak Nella."


Dia tentunya tidak rela, jika melihat Rizky memakan masakan istrinya. Jelas dirinya ingin menyaingi Nella untuk bisa mendapatkan hati pria itu.


Mitha buru-buru menaruh kembali tupperware tersebut ke dalam kantong, lalu kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan tong sampah. Setelah ketemu, dia bergegas membuangnya.


'Mampus, memang enak masakannya dibuang,' batinnya seraya tersenyum puas.


Tak lama orang yang dia tunggu akhirnya lewat bersama asistennya. Mitha yang melihatnya langsung berlari mengejarnya.


"Mas Rizky pasti mau makan siang, kan? Aku ikut, ya?" ucap Mitha.


Rizky menghentikan langkahnya dan Hersa pun sama, lantas mereka menoleh ke arah wanita cantik itu.


"Kok lu masih ada di sini, sih? Kenapa nggak pulang?" tanya Rizky.


"Bukannya kita sudah janji makan siang pas tadi pagi, ya?"


"Janji? Kapan gue bilang, perasaan nggak." Rizky melengos, lalu melanjutkan langkahnya bersama Hersa untuk ke cafe depan. Mitha tentunya ikut membuntut di belakang mereka. Bahkan ikut duduk juga di antara mereka berdua, setelah sampai di cafe.


"Aku ingin tanya kenapa Mas Rizky nggak jadi ke restoran, padahal Papi dan aku sudah menunggu kemarin malam."


"Oh, itu karena ...." Ucapan Rizky mengantung ketika mendengar suara ponselnya berdering. Cepat-cepat dia mengambil benda pipih itu di dalam kantong jas.


Seketika itu pun matanya berbinar, melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Rasanya seperti mimpi dan itu membuat hatinya begitu berbunga, ini bisa dibilang pertama kali Rizky mendapatkan telepon dari pujaan hatinya.


"Hersa, Nella telepon! Lihat!" Tentu kebahagiaan itu ingin dia bagi pada asistennya. Pria tampan itu sampai memamerkan ponselnya di depan wajah Hersa.


"Wah, bagus itu Pak. Cepat angkat, mungkin Nona Nella rindu Bapak," jawab Hersa yang ikut senang.


"Semoga saja ya, Sa." Rizky menggembungkan senyum. Sebelum telepon itu diangkat—pria tampan itu mencium layarnya dulu.


Tingkahnya yang terlihat berlebihan itu membuat Mitha berdecak kesal. 'Mas Rizky lebay banget, sih. Cuma dapet telepon dari Mbak Nella doang juga,' batin Mitha.


"Halo Nell," ucap Rizky.

__ADS_1


"Halo juga, Mas. Mas Rizky sedang apa?" tanya Nella dengan suara lembut dan begitu menggoda di telinga Rizky.


"Gue lagi di cafe, mau makan siang. Apa lu sudah makan?"


"Lho, kok Mas Rizky malah makan siang di cafe?"


"Gue memang kalau makan di cafe, memangnya kenapa? Apa salah?"


Nella tidak langsung menjawabnya, dia terdiam dan memikirkan sesuatu. 'Oh, mungkin Mas Rizky hanya beli minuman di sana.'


Oke, kali ini dia masih berfikir positif. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya kembali Nella berbicara.


"Nggak ada yang salah. Oya, Mas ... bagaimana rendangnya? Apa enak?"


"Rendang?" Rizky mengerutkan kening. "Rendang apa maksudnya?"


Mitha yang mendengar ucapan Rizky langsung membulatkan matanya, dia seakan mengerti obrolan mereka. Seketika bibirnya menyunggingkan senyum. 'Pasti Mbak Nella akan bertanya masalah rendang. Kasihan sekali dia, capek-capek masak tapi sudah aku buang."


"Kok maksudnya apa, sih?" Suara Nella terdengar sedikit tinggi. "Aku 'kan kirimin rendang dan nasi untuk Mas Rizky makan siang."


"Gue belum menerimanya."


"Memang bukan Mas Rizky yang menerima, tapi sekretaris Mas Rizky. Aku menyuruh kurir untuk mengantarnya," terang Nella.


"Sekertaris? Oh, ya sudah ... gue nanti kabari lu lagi, gue akan tanya sekertaris gue, ya?"


Rizky hendak mematikan sambungan telepon itu, tetapi Nella masih terdengar bicara. Kembali dia menempelkan benda pipih itu ke telinga kanannya.


"Kenapa nanti? Sekarang saja. Aku mau dengar komentar Mas Rizky tentang masakanku." Suara Nella seperti marah, itu tentu membuat Rizky kelabakan.


"Iya, iya. Sebentar ...." Rizky menoleh pada Hersa yang tengah melihat ke arahnya. "Hersa, tolong telepon Maya. Bilang untuk antarkan makanan yang Nella kirim."


"Iya, Pak." Hersa mengangguk, baru saja dia hendak mengambil ponselnya di dalam saku jas, tiba-tiba wanita yang bernama Maya itu melewati meja mereka.


"Maya!" panggil Hersa yang mana membuat wanita itu menghentikan langkah, dia berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum.


...Jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....


...1038...


__ADS_2