Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
195. Aku mau ikut Papa


__ADS_3

"Iyalah, memang Kakak pikir aku kecil terus." Risma mengerucutkan bibirnya.


'Lebay banget sih dia.' Nella membatin.


"Terus di Jakarta mau kuliah dimana?" tanya Rizky kembali.


"Di kampusmu dulu, Papa juga hari ini akan mengantarnya mendaftar," jawab Guntur sambil tersenyum memandangi anak bungsunya.


Sekarang pandangan Nella teralihkan pada senyuman Guntur, rasanya dia juga ingin mendapatkan senyuman seperti itu dari Papa mertuanya.


"Nella, kok kamu belum dimakan nasi gorengnya? Kenapa?" tanya Gita. Diam-diam dia memperhatikan wajah Nella yang terus cemberut, tetapi dia sendiri tak mengerti alasan dari itu semua.


Jangankan nasi gorengnya, susu ibu hamilnya saja masih utuh.


Rizky lantas menoleh pada istrinya, lalu mendekatkan tubuhnya. Terlihat wanita cantik itu menunduk kepalanya sambil meremmas jari jemarinya sendiri.


"Sayang, kok lu nggak makan? Kenapa?" tanya Rizky dengan penuh perhatian seraya mengelus rambut istrinya. Nella hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Apa kamu nggak kepengen nasi goreng?" Sekarang Gita yang bertanya dengan penuh perhatian, dan lagi-lagi wanita cantik itu menggelengkan kepala.


"Lu mau gue belikan apa?" tawar Rizky. "Ayok kita beli sarapan yang lu mau. Kebetulan gue meetingnya agak siangan." Rizky berdiri dan menarik lembut lengan Nella sampai tubuhnya ikut berdiri.


"Aku mau makan bubur di kantin kampusku dulu, Mas," jawab Nella pelan.


Akibat membicarakan masalah kampus, dia jadi rindu dengan kampusnya yang dulu.


"Yasudah, ayok kita beli." Rizky merangkul bahunya Nella, lalu mengajaknya keluar dari rumah.


Namun, baru saja Rizky membukakan pintu mobilnya untuk Nella masuk. Nella malah berlari kecil menghampiri Guntur saat pria paruh baya itu berjalan menuju mobilnya bersama Risma.


"Aku ingin makan bubur ditemani Papa, apa Papa mau menemaniku?" tanya Nella.


Entah ada keberanian dari mana hingga membuat Nella tiba-tiba berkata seperti itu pada Guntur. Padahal, dia tadi mendengar jelas kalau papa mertuanya akan mengantarkan putrinya untuk daftar kuliah.


Belum sempat Guntur menjawab, Nella pun kembali berkata, "Maafkan aku, Pa. Tapi cucu Papa yang mau." Nella mengusap perutnya secara perlahan.

__ADS_1


'Masa Papa tega pada cucunya sendiri? Nggak mungkin, kan?' Nella membatin.


Nampaknya disini Nella hanya ingin mengetes saja, apa Guntur benar-benar masih menghargai dirinya dan cucunya atau tidak.


"Kok minta ditemani Papa?" Rizky berjalan menghampiri istrinya dengan dahi yang mengerenyit binggung. "Sama gue saja, yuk! Biasanya 'kan lu mau ikut sama gue."


Nella menggeleng cepat. "Aku mau ditemani Papa."


Rizky menatap Guntur yang tengah membuang nafasnya dengan berat. Sepertinya dia akan menolak Nella dan sudah pasti nantinya wanita cantik itu akan sedih. Rizky tak akan membiarkan itu sampai terjadi.


"Papa mau 'kan temani Nella?" tanya Rizky dengan nada memohon.


"Kamu 'kan tahu Papa mau antar Risma daftar kuliah, ada hal yang perlu Papa bicarakan juga pada dosennya, Riz."


Jawaban Guntur sudah sangat meyakinkan jika pria tua itu tak mau menerima ajakan menantunya. Lantas dia pun membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam.


"Lu ikut gue saja, ya?" tawar Rizky.


Nella menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih. "Aku mau ikut Papa, Mas."


"Iya, Pa." Risma mengangguk, lalu dia pun membuka pintu mobil Guntur. Namun tanpa diduga, Nella tiba-tiba saja mencekal tangan gadis itu hingga dia yang hendak masuk tak jadi.


"Aku mau ikut dan aku mau duduk di samping Papa," pinta Nella dengan nada penekanan.


Risma baru saja hendak memberi jawaban, tetapi Rizky segera berbisik di telinganya. "Turuti saja, Ris."


Risma mengangguk patuh. "Oh, yasudah. Aku duduk di belakang, Mbak," jawabnya lalu membiarkan Nella duduk di kursi depan. Lantas dia pun bergegas masuk dan duduk di kursi belakang.


"Sayang." Rizky mengelus puncak rambut Nella dari luar jendela mobil. "Kamu bisa makan bubur di kampus barunya Risma. Di sana juga ada penjual bubur yang enak."


Nella mengulum senyum sambil mengangguk semangat. "Iya, Mas. Tapi Papa mau menemaniku, kan?" tanyanya dengan sedih menatap lekat mata Rizky.


"Papa tolong temani Nella dulu sebelum daftarin Risma kuliah, kasihan dia belum sarapan," ujar Rizky pada Guntur yang tengah menyalakan mesin mobilnya. "Kalau nggak dituruti nanti cucu Papa ileran, memangnya Papa mau?"


"Iya, iya, bawel amat sih." Guntur mendengus kesal, lantas dia pun melajukan mobilnya meninggalkan anak pertamanya.

__ADS_1


Sebenarnya Rizky masih menyimpan banyak tanda tanya pada otaknya tentang Nella, tetapi dia membiarkan wanita cantik itu pergi dengan papanya. Mungkin apa yang Nella lakukan saat ini hanya semata-mata ingin mengambil hati Guntur.


Dia tentu ingat, kemarin-kemarin Nella sempat mengatakan kalau dia ingin dekat dengan Guntur seperti Rizky yang dekat dengan Sofyan.


"Mbak Nella katanya hamil, ya? Berapa bulan, Mbak?" tanya Risma.


Nella menyentuh perutnya sendiri. "Mungkin ada 3 bulan."


"Kok pakai mungkin? Memangnya kamu sendiri nggak yakin?" tanya Guntur tanpa menoleh.


"Bukan nggak yakin, Pa. Tapi aku sudah lama nggak ke dokter kandungan. Terakhir saat hampir keguguran itu," jawabnya jujur.


Guntur hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


Tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai di sebuah gedung universitas besar di kota Jakarta. Dan ternyata, universitas barunya Risma adalah universitas Nella dulu menimba ilmu.


"Lho, aku dulu dan Indah kuliah disini, Pa. Sama Rio dan Dimas juga," ujar Nella dengan mata yang berbinar menatap gedung tersebut, lantas dia pun turun. Begitu pun dengan Guntur dan Risma yang ikut turun.


"Benarkah, Mbak? Berarti Mbak Nella dan Kak Rizky kuliahnya bareng juga disini dong? Apa satu kelas juga?" tanya Risma dengan penuh antusiasnya seraya menggandeng tangan Nella.


"Jelas Kakakmu duluan lah, Risma. Kamu ini bagaimana, sih? Umur mereka saja jauh," sahut Guntur sembari membenarkan jasnya yang sempat terlipat.


"Memangnya Mbak sama Kak Rizky beda berapa tahun? Katanya kalian dijodohkan, ya? Kok bisa sekarang saling mencintai?" Risma sebenarnya banyak sekali menyimpan tanya di otaknya mengenai rumah tangga kakaknya, tetapi Rizky sendiri susah sekali ada waktu untuk menceritakannya.


"Ceritanya nanti saja, aku lapar, Ris," ujar Nella seraya mengusap perutnya yang tiba-tiba saja terdengar bunyi keroncong.


"Ayok kita pergi ke kantin," ajak Guntur.


Dia mempersilakan anak dan menantunya untuk berjalan lebih dulu. Sebab berjalan di belakang juga sangat bagus untuk mengawasi Nella. Takutnya wanita itu tersandung atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Sampainya di kantin, Nella meminta duduk di samping Guntur. Sedangkan Risma di depan mereka. Dan memang kursinya tak cukup untuk duduk bertiga.


Nella memesan semangkuk bubur dan teh manis hangat, Guntur memesan kopi hitam, sedangkan Risma hanya air putih saja.


"Apa Papa mau mencobanya?" tawar Nella saat melihat Papa mertuanya itu sejak tadi sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


'Kenapa sih, nggak Mas Rizky, nggak Papa Sofyan, nggak Papa Guntur. Mereka selalu sibuk dengan hape.' Nella membatin.


__ADS_2