
"Kalian begitu serasi, cantik dan tampan," puji Gita seraya memeluk tubuh Nella dan mengusap bahu Rizky. Senyuman kebahagiaan langsung terbit di wajah cantik yang sudah berkerut itu.
Nella hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kamu kenapa Riz? Kok cemberut terus?" tanya Sofyan sambil menyentuh lengan Rizky. Raut wajah Rizky benar-benar terlihat masam dan tak bersemangat. Kejadian tadi siang seolah menari-nari di otaknya.
"Nggak apa-apa kok, Pa." Rizky tersenyum paksa.
"Jangan cemberut dong, ini kan pesta adikmu." Sofyan tersenyum, dia sama sekali tak ambil pusing dengan sikap Rizky. "Harusnya kamu senang. Ajak Nella ke pelaminan untuk menemui adikmu."
"Iya." Rizky mengangguk lalu menatap Nella yang baru saja selesai mencium punggung tangan Guntur. "Lu mau ikut nggak ke sana?" Rizky menunjuk pelaminan itu dengan gerakan kepalanya.
"Iya," jawab Nella sambil mengangguk.
Rizky membiarkan Nella berjalan di depan, ingin rasanya dia merangkul pinggang yang terlihat sangat seksi itu, namun rasanya Rizky tak berani.
"Wah Kakak ipar, akhirnya kita bertemu." Ridho begitu antusiasnya melihat Rizky dan Nella yang datang menghampirinya. Dia gegas mengulurkan tangannya, berkenalan dengan Nella. "Namaku Ridho, Kak. Ini istriku, namanya Inggit." Ridho menoleh sebentar pada Inggit seraya merangkul bahunya.
"Senang bertemu kalian." Nella tersenyum dan membalas uluran tangan mereka berdua. "Oh ini, aku punya sesuatu untuk kalian." Nella memberikan apa yang dia bawa pada Inggit.
Wanita yang memakai gaun putih berjuntai panjang itu langsung menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih Kakak ipar."
"Nggak usah pakai sebutan Kakak ipar, panggil Nella saja."
"Oke, Kak Nella," jawab Inggit. Jika dilihat dari wajahnya, Inggit mungkin lebih muda beberapa tahun dari Nella.
"Selamat buat kalian berdua," ucap Rizky seraya memeluk mereka berdua secara bersamaan.
"Terima kasih. Oya, apa Kak Nella sudah hamil?" tanya Inggit saat pelukan dari Rizky terlepas.
Nella menggeleng pelan. "Belum."
"Semoga bisa bareng ya, Kak."
"Ah iya." Nella tersenyum canggung.
'Jelas nggak hamil, orang dia pakai KB. Coba nggak, mungkin sudah hamil,' batin Rizky.
Dada Rizky tiba-tiba bergemuruh, apalagi mengingat kalau Nella sama sekali tak ingin mempunyai anak dengannya. Tapi dia sadar diri, Nella juga mempunyai alasan mengapa dirinya tidak mau.
__ADS_1
"Kalian sudah makan belum Nella, Rizky?" Entah Gita datang dari mana, namun sudah ada di depan mereka berempat.
"Aku sudah makan, Ma," jawab Nella seraya menoleh pada Gita.
"Kamu bagaimana?" tanya Gita pada Rizky yang sejak tadi diam saja.
"Aku mau samperin Hersa deh, mau makan sama dia."
"Kenapa sama Hersa? Kan bisa sama Nella." Gita memegang lengan Rizky, menahan pria itu saat hendak pergi.
"Dia kan bilang sudah makan," jawab Rizky datar.
Gita terdiam dan menatap mata Rizky begitu dalam. Dia merasa aneh dengan sikapnya, terlihat jelas Rizky seperti memendam rasa kesal di dadanya. Namun yang Gita pikirkan adalah—Rizky mungkin kesal gara-gara dia yang mengajaknya ke dukun.
"Oh ya sudah, kamu makan dulu. Wajahmu jangan ditekuk begitu dong, nanti tampannya ilang." Gita mengelus pelan pipi kiri Rizky.
'Tampan juga percuma kalau nggak dicintai istri sendiri,' gerutu Rizky dalam hati.
Rizky lagi-lagi hanya bisa tersenyum paksa, setelah itu dia pun turun dari pelaminan dan berjalan menuju tempat makanan.
"Nella, Mama mau kenalin kamu ke teman-teman Mama, yuk ikut!" ajak Gita seraya menggenggam tangan Nella. Wanita cantik itu hanya mengangguk dan tersenyum seolah menuruti ajakan dari mertuanya.
"Eh kenalin, ini menantuku," ujar Gita dengan penuh semangat mengenalkan Nella pada teman-temannya. Dulu dia sempat ingin mengenalkannya, namun tidak jadi lantaran Nella diajak pergi dengan Angga.
"Nella." Nella mengulurkan tangannya, menyalami tiga ibu-ibu yang hampir sebaya dengan mertuanya.
"Yang ini Tante Dewi, Tante Munah dan Tante Dita," ucap Gita memperkenalkan mereka semua pada Nella.
"Kamu cantik sekali," puji salah satu dari mereka.
"Aku malah baru tahu kalau Pak Sofyan punya anak gadis," tutur Dewi. "Beruntung Rizky dapat kamu, Tante juga mau punya menantu yang seperti kamu. Cantik, mandiri dan pintar memasak," imbuhnya lagi. Dia tahu semuanya dari Gita. Setiap kali bertemu dengan teman-temannya, Gita memang selalu membawa-bawa nama Nella dan memujinya.
Pipi Nella langsung merona mendapatkan pujian seperti itu. "Terima kasih, Tante terlalu berlebihan."
"Nggak kok, ini serius."
"Duduk dulu Sayang." Gita mengajak Nella duduk di satu sofa yang berdekatan dengan teman-temannya. Nella mengangguk dan mendaratkan bokongnya. Setelah duduk, dia menutup paha mulusnya dengan jas milik Rizky yang sedari tadi dia bawa.
"Kamu mau minum apa?" tanya Gita sembari melambaikan tangan pada pelayan pria yang baru saja lewat.
__ADS_1
"Jus alpukat ada nggak, Ma?"
"Tentu ada, semua ada." Gita melihat ke arah pelayan pria yang sudah datang menghampiri. "Buatkan jus alpukat. Cepat ya!" titahnya yang langsung dianggukkan oleh pria itu.
Beberapa menit setelah pelayan pria itu membuatkan pesanan, tak lama dia kembali dengan segelas jus alpukat. Dia menaruhnya tepat di meja di dekat Nella duduk.
"Terima kasih."
"Sama-sama Nona," ujarnya seraya mengangguk. Kemudian berlalu pergi.
Nella meraih segelas jus itu, dia juga sudah merasa haus. Dia menyeruputnya dengan sedotan hingga tersisa sedikit lagi.
Gita melebarkan senyumnya saat melihat Nella minum jus itu, ada rasa kepuasan dalam hatinya.
"Oya ... katanya kamu jadi manager di restoran ya? Sejak kapan Nell?" tanya Dita.
"Sejak lulus kuliah Tante."
"Katanya kamu temannya Indah, ya? Berarti kamu kenal Dimas juga dong, dia anak Tante."
"Oh Dimas Nugraha? Iya ... aku kenal, dia yang sering sama Rio, kan?" Nella tiba-tiba saja langsung menjadi akrab dengan teman-teman Gita, apalagi salah satu dari mereka adalah ibu dari temannya.
"Iya benar, dia teman dekatnya Rio, berarti kalian juga teman kuliah?"
Nella mengangguk. "Iya, benar Tante."
"Di restoran tantemu, apa menu andalannya sih?" tanya Munah.
"Ada banyak, kebetulan aku juga punya foto-foto menu makanan terenak dan terlaris di sana. Tante mau lihat, nggak?" Nella membuka dompet emasnya itu untuk mengambil ponsel. Terlihat para ibu-ibu begitu antusias melihat foto menu makanan yang berada di ponsel Nella. Dia sendiri memang sangat senang jika ada yang bertanya mengenai makanan, apalagi yang ada di restoran tantenya. Mungkin itung-itung promosi juga.
Mereka hanya mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari Nella. Namun semakin lama, wanita itu duduk mulai gelisah. Tubuhnya terasa sangat panas dan mendadak ingin buang air kecil.
Lantas, dirinya bangkit dari duduknya dan menaruh jas Rizky di sofa, dia juga membiarkan ponselnya yang masih dipegang oleh salah satu teman Gita.
"Mama, toilet ada di sebelah mana? Aku mau pipis," tanya Nella pada Gita yang sedari tadi diam-diam memperhatikan sikapnya.
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...
__ADS_1