
"Baik, Mbak." Pemuda itu mengangguk, lalu mengambil alat cukur dan dengan cepat Rizky memegang lengannya.
"Nggak, gue nggak mau dicukur. Apalagi sampai botak!" tegas Rizky seraya berdiri, lalu menghampiri istrinya hingga melepaskan lengan pemuda itu. "Nella, lu gila apa gimana? Masa suami sendiri dibotakin?"
"Kok Mas Rizky bilang aku gila? Apanya yang gila? Aku mau Mas Rizky botak."
Rizky menggeleng cepat, dia pun segera menarik tangan istrinya hingga keluar dari tempat pangkas rambut itu.
"Nella, lu jangan aneh-aneh deh. Ya kali gue botak, malu dong." Rizky tampak kesal mendengar apa yang Nella ucapkan barusan.
"Malunya kenapa? Kan hanya dibotak saja, bukan suruh bugil."
"Sama saja, nanti kepala gue dingin kalau nggak ada rambut. Lu tega memangnya sama gue?" Rizky menyentuh rambutnya sendiri sambil meringis ketakutan.
"Masa dingin, Pak Indra saja botak nggak kedinginan."
"Kok lu samain gue sama si botak itu, sih? Jangan dong."
"Aku nggak samain Mas Rizky kok, tapi aku mau Mas Rizky botak. Sepertinya Mas akan tambah tampan nanti." Nella tersenyum sampai memandangi Rizky tepat pada rambut kepalanya, dia sudah membayangkan pria tampan itu botak hingga licin. Dan sepersekian detik kemudian—Nella terkekeh.
"Lu mikirin apa?" tanya Rizky penasaran. "Jangan bilang lu sudah menghayal gue botak?"
Ucapan Rizky membuyarkan semua lamunannya.
"Iya, aku sedang menghayal tadi. Mas mau ya ... dibotak. Aku ingin melihatnya," ucap Nella dengan wajah memelas sembari mengusap perutnya.
Rizky pun segera memeluknya, dia tak mau akibat wajah Nella yang terlihat sedih—akan membuatnya luluh.
Sungguh, Rizky benar-benar tak ingin jika rambut di kulit kepalanya habis hanya karena keinginan Nella.
"Mas ... mau, ya ...," ucap Nella lagi, suaranya begitu lembut sambil masuk ke relung hati Rizky.
"Please ... gue mohon sama lu. Jangan minta hal seperti ini, gue nggak bisa dan nggak mau, Nell," pinta Rizky dengan suara memohon. "Eh ... gue dan lu juga habis bercinta tadi. Kan nggak boleh mencukur rambut jadinya, lebih baik kita pulang saja, ya?"
Ya, ada sebuah ide. Mungkin saja Nella akan menurut padanya.
"Mas bisa mandi di sini kok, nanti kita cari toilet dulu." Nella masih bersikeras supaya keinginannya terwujud.
"Tapi gue malu kalau botak, Nell. Apa kata orang-orang nanti? Dan seluruh karyawan gue pasti menertawakan gue. Masa CEOnya botak?" Rizky mendengus kesal.
__ADS_1
"Mas bisa memakai topi kalau keluar pergi-pergi. Jadi orang lain nggak bakal tahu Mas botak. Mas juga nggak bakal malu."
"Nggak, gue tetap nggak bisa." Rizky menggeleng cepat. "Masa gue setiap hari pakai topi, kan lu tahu gue kerjanya di dalam ruangan. Gue juga nggak betah pakai topi, Nell." Rizky masih berusaha supaya Nella tak terus memaksanya.
"Bagaimana kalau gue cukur saja, tapi nggak usah botak, ya," imbuhnya lagi.
"Nggak mau, kan aku maunya botak, Mas."
"Eemm ... kalau rambut yang lain bagaimana? Asal jangan rambut kepala," tawar Rizky.
"Rambut yang mana? Ketiak?"
"Bukan, rambut yang di bawah." Rizky memegang tangan Nella, lalu mengarahkan pada senjata miliknya dibalik celana. "Kalau ini gue bersedia dibotakin, bila perlu lu yang mencukurnya."
Nella langsung menarik tangannya dan menggelengkan kepala. "Nggak mau, yang disitu biarkan saja berambut."
"Tapi gue tetap nggak mau rambut gue botak. Lu jangan maksa gue, ya. Maaf banget, bukan gue nggak mau menuruti ucapan lu ... tapi memang ini sangat sulit, Nell," jelas Rizky.
Nella terdiam dan melingkarkan tangannya pada punggung Rizky. Perlahan dia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suami dan tiba-tiba suara isakan tangis itu terdengar.
Ya, Nella menangis sebab merasa sedih keinginannya tak bisa Rizky penuhi. Dia sebenarnya mengerti dengan alasan suaminya, tetapi mengapa hatinya sangat terenyuh mendengar penolakan itu.
Sudah duduk, lengan Nella masih terus memeluk. Pada akhirnya Rizky berdiri dengan lutut yang menopang tubuhnya, supaya mereka masih bisa menempel.
'Bagaimana ini? Gue nggak bisa menolaknya. Gue nggak tega,' batin Rizky.
Hati Rizky perlahan melunak. Seperti biasa—Rizky selalu gampang luluh pada seseorang yang tengah membutuhkannya.
Rizky menghela nafas dengan panjang, seraya berkata, "Oke, gue mau dibotakin."
Jantung Nella langsung berdebar kencang dan rasa sedihnya seketika sirna begitu saja. Lantas dirinya melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Rizky.
"Apa yang Mas katakan tadi?" Nella ingin memastikannya sekali lagi, jika telinganya tak salah dengar.
"Iya, gue mau dibotakin." Rizky perlahan mengelus wajah Nella yang memerah, matanya juga terlihat sembab. Padahal baru tadi dia menangis. "Tapi ada syaratnya."
"Apa? Bercinta?" tebak Nella.
Ya, apalagi kalau bukan itu. Nella menebak kalau syaratnya adalah bercinta.
__ADS_1
"Apa tentang menghisap burung? Aku bersedia, nanti aku coba kalau nggak enek," imbuhnya lagi.
Sekarang hal lain Nella menebak. Tapi memang ujung-ujungnya kearah sana.
Rizky yang mendengarnya jelas berbahak, jelas sekali istrinya itu sudah sangat mengerti dia bagaimana. Tetapi sekarang bukan syarat itu yang mau Rizky ajukan.
"Bukan itu, Nell. Tapi gue mau kita membeli wig untuk gue. Jadi ... setelah gue botak, gue bisa pakai wig saat keluar rumah. Dan hanya botak di depan lu saja," jelas Rizky yang tiba-tiba mempunyai ide untuk menyelamatkan rasa malunya. Dan setidaknya dia juga bisa menuruti ucapan Nella meskipun harus berkorban dengan memakai rambut palsu.
"Tapi tentang menghisap burung, anggap saja itu bonus buat gue, ya," imbuhnya lagi. Sebuah kesempatan emas dan tawaran yang begitu menggiurkan jelas jangan sampai terabaikan begitu saja.
Nella mengangguk. "Iya, nanti malam aku akan melakukannya. Sebentar ... aku tanya Tante Mimi dulu. Siapa tahu di salonnya ada wig untuk Mas Rizky." Nella melepaskan pelukannya, lalu berdiri. Setelah itu dia masuk ke dalam salon.
Berselang beberapa menit—dia pun balik lagi menghampiri Rizky yang tengah duduk di kursi bekas bokongnya.
"Mas ... katanya kosong. Tapi dia kasih tahu aku toko wig di mall ini. Apa kita bisa langsung pergi ke sana? Apa Mas mau mandi dulu?" tawar Nella.
"Cari wig dulu deh." Rizky berdiri lalu merangkul bahu istrinya, mereka pun berjalan mengitari mall sembari memperhatikan beberapa toko, mencari toko wig.
"Nanti Mas Rizky mau dibotakinnya sama siapa? Tante Mimi juga bisa, nanti kulit kepala Mas Rizky bisa sekalian dipijat dan diberi vitamin ... supaya rambutnya cepat tumbuh lagi."
"Yasudah, sama dia saja."
Sebenarnya mau sama siapa Rizky pun tak peduli, yang terpenting dia bisa menuruti ucapannya dan tidak membuatnya menangis. Rizky mau—Nella selalu bahagia, supaya tak ada kata menyesal jika wanita cantik itu memilih dirinya daripada Ihsan.
Setelah beberapa menit mengitari mall tersebut, akhirnya langkah mereka terhenti di depan toko wig dengan beberapa model rambut palsu untuk pria dan wanita.
Rizky yang masih merangkul bahu Nella langsung mengajaknya untuk masuk. Tetapi langkah wanita cantik itu seketika tertahan lantaran pandangan memusatkan ke arah depan.
"Kok berhenti? Ayok masuk."
"Mas ... coba lihat deh." Nella menunjuk ke arah toko pakaian wanita yang terada di depan. Berjarak lima toko dari toko wig.
Rizky pun menurut, dia mengarahkan pandangannya tepat sesuai arahan jari telunjuknya Nella. Tepat pada punggung seorang wanita berambut panjang yang memakai dress ketat berwarna merah.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1108...
__ADS_1