
Teriakan Diana yang begitu nyaring seolah membuat seorang pria berbadan kekar keluar dari mobilnya, yang terparkir di depan parkiran mall. Pria tersebut berlari dengan cepat mengejar sang pencopet itu.
Kaki kirinya dengan cepat dia menghentakkan pada punggung si tukang copet, dan seketika itu pun—tukang copet tersebut langsung tersungkur di bawah.
Pria berbadan kekar itu membungkuk ingin menyambar kerah belakang si pencopet, tetapi sayangnya copet itu keburu bangkit lalu melarikan diri.
Niatnya ingin mengejar, namun terlihat dompet persegi empat itu tergeletak di bawah. Segera dia ambil lalu menghampiri Diana yang masih berwajah gusar.
Awalnya Diana sendiri tak sadar, tetapi saat langkah pria itu semakin mendekat—Diana akhirnya tahu jika yang menolongnya adalah Ihsan.
"Ihsan, kamu Ihsan, kan?" Meskipun hanya bertemu sekali, Diana masih ingat dengan wajah tampan pria bule di depannya itu.
"Mbak mengenalku?" tanya Ihsan dengan dahi yang mengerut.
Raut wajahnya terlihat binggung, mungkinkah dia lupa dengan wajah Diana?
"Aku Diana, Maminya Nella," ucap Diana.
Ihsan terdiam sejenak, kemudian menyunggingkan senyum. "Oh, iya ... maaf kalau aku sempat lupa. Ini dompetnya, Tante."
Mereka seumuran, tetapi Diana sebagai ibu tiri Nella. Jadi akan lebih sopan Ihsan memanggilnya dengan sebutan tante.
"Terima kasih, Ihsan. Kalau nggak ada kamu ... mungkin semuanya sudah hilang." Diana menerima dompetnya yang baru saja Ihsan berikan, matanya begitu berbinar dan dia amat berterima kasih. Mungkin jika dompet itu benar-benar dicopet, dia tak akan jadi untuk belanja ke mall.
"Sama-sama," jawab Ihsan.
Diana membuka dompetnya, lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikan pada Ihsan. "Ini untukmu, anggap sebagai ucapan terima kasih."
Ihsan menggeleng cepat seraya menggerakkan tangannya. "Nggak perlu, aku ikhlas kok membantu Tante," tolaknya.
"Oh ya sudah kalau nggak mau." Diana pun menaruh uangnya kembali ke dalam dompet dan memasukkannya ke dalam tas.
"Tante ke sini sama siapa? Sendirian?" Ihsan melirik ke kanan dan kiri, seperti mencari seseorang. Tentunya yang dia cari adalah Sofyan. "Om Sofyan mana, Tan?"
"Dia ada di kantor," jawab Diana. "Ya sudah, aku duluan, ya."
Diana pamit untuk masuk ke dalam mall itu, tetapi Ihsan justru mengikutinya dari belakang.
"Bareng saja denganku, Tan. Kebetulan ... aku ke sini juga sendirian. Aku sedang mencari kado untuk sepupuku yang berulang tahun dan aku juga kesulitan mencarikannya kado."
__ADS_1
Padahal Diana tak bertanya, tetapi Ihsan malah memberitahunya lebih dulu, akan maksud dan tujuannya datang ke sini.
"Tan ...," panggil Ihsan sekali lagi, sebab sedari tadi wanita itu diam saja.
Sejujurnya, Diana tak membenci Ihsan. Dia juga sadar jika pria bule itu tidak mempunyai salah apa-apa padanya.
Namun, melihat sikap Sofyan yang terlalu membencinya, dia jadi tak enak jika berbicara lama-lama dengan pria itu. Terlebih Nella dan Ihsan sudah putus.
Diana masih bergeming, kakinya segera melangkah naik eskalator dan Ihsan tentunya juga ikut naik.
"Apa aku punya salah sama Tante? Apa Tante juga membenciku seperti Om Sofyan?" tanya Ihsan dengan suara lembut dan pelan.
Diana yang mendengarnya segera menoleh sembari menggeleng cepat. Didetik berikutnya mata Diana membulat saat melihat air mata Ihsan jatuh membasahi kedua pipi.
"Kok kamu nangis? Kenapa?" Diana mengerutkan keningnya heran. Mendadak hatinya tak enak. Apa mungkin sikapnya tadi membuat Ihsan sedih?
"Nggak apa-apa." Ihsan menggeleng lalu mengusap pelan wajahnya. "Aku hanya sedih saja dengan nasibku sendiri, Tan. Hanya karena aku miskin ... aku jadi dihina dan cintaku kandas," ujarnya murung.
Wajah pria bule itu terlihat saat sendu, berkali-kali dia mengusap wajahnya yang sedikit memerah.
Diana binggung harus bersikap seperti apa. Sejujurnya dia pun malas dan tak ingin ikut campur urusan anak tirinya. Tetapi kalau saat ini dia bersikap acuh, rasanya tak enak.
"Katanya kamu mau membeli kado untuk keponakanmu, ayok kita pergi bersama. Nanti aku akan bantu pilihkan, kalau kamu merasa kesulitan," tawar Diana.
Daripada Diana menanggapi perihal nasib jelek pria bule itu, akan lebih baik dia mengiyakan ajakkan Ihsan dari awal. Supaya tidak memperlihatkan kesan buruk padanya.
'Hanya memilih pakaian, kan? Nggak masalah, kan?' batin Diana.
Rona kesedihan itu seketika sirna begitu saja, Ihsan langsung mengulum senyum yang terlihat amat menawan dalam penglihatan Diana.
"Terima kasih, Tan."
"Sama-sama." Diana mengangguk, lalu mereka pun sampai di lantai dua tempat toko pakaian wanita.
Dan mungkin disitulah saat dimana Nella dan Rizky melihat mereka.
(Flashback Off)
"Apa Mami berbohong?"
__ADS_1
Meskipun sudah diceritakan, tetapi nyatanya Nella tak langsung gampang percaya pada Diana.
Sejujurnya, sampai sekarang pun—Nella sendiri tak bisa semudah itu percaya akan apa yang Diana lakukan padanya dan Sofyan.
Apalagi mengingat saat pertemuan pertama mereka yang terkesan aneh. Datang dengan status yang sudah dirubah menjadi ibu tiri, tanpa sepengetahuan Nella sebelumnya.
Diana menggeleng cepat. "Mami jujur, Sayang."
Nella terdiam sembari menatap lekat mata Diana, terlihat dari mata wanita itu—ada sebuah kejujuran. Dan memang itu yang sebenarnya terjadi.
"Ya sudah, tapi aku nggak mau sampai Mami selingkuh dari Papa. Apa lagi dengan Kak Ihsan," tegur Nella.
"Itu nggak akan terjadi, Mami sangat mencintai Papimu," jawab Diana sambil mengusap sebentar puncak rambut Nella. "Apa Mami boleh tanya sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Bagaimana perasaanmu sama Ihsan? Apa kamu masih mencintainya?"
Nella menggeleng. "Nggak, aku sekarang mencintai Mas Rizky."
"Secepat itu kamu melupakannya, sampai bisa mencintai Rizky? Bukannya dari dulu kamu membencinya?" Diana tersenyum miring sambil geleng-geleng kepala. "Rizky memang hebat, dia dari dulu bisa meluluhkan hati wanita."
"Apa maksud Mami? Memang kalau aku mencintai Mas Rizky ... apa itu salah? Bukannya itu bagus kerena aku bisa mencintai suamiku sendiri, dan menerima pernikahan ini?" Nella mengerutkan keningnya, merasa heran dengan ucapan Diana. Wajah wanita itu tampak begitu serius menatap matanya.
"Nggak, Mami nggak bilang itu salah. Malah itu bagus. Cuma Mami nggak menyangka saja ... ternyata kamu bisa secepat itu luluh dengan rayuan Rizky."
"Rayuan apaan, sih? Mas Rizky itu suamiku. Mami ini lama-lama bicaranya aneh." Nella menatap heran wajah Diana, lalu berdiri. "Sudah ah, aku mau pulang saja."
Lama-lama Nella merasa jenuh berbicara dengan Diana, akan lebih baik pembicaraan yang menurutnya tidak berfaedah itu segera dia akhiri.
Setelah mencium punggung tangan Diana, Nella berjalan keluar dari rumah lalu masuk lagi ke dalam mobil.
Nella menoleh pada Rizky yang baru saja menyalakan mesin mobil, kemudian mengemudi.
Tidak ada kata yang dikatakan pada mulut pria tampan itu. Bahkan menoleh saat melihat Nella masuk ke dalam mobil pun tidak, sikapnya terasa sangat dingin.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1063...