
"Itu seperti Mami Diana, kan?" tanya Nella. Ya, benar. Wanita itu adalah Diana. Tetapi masalah di sini—didekat Diana ada seorang pria yang tentu Nella sendiri mengenalinya, meskipun hanya punggung kekarnya yang terlihat. "Kok Mami bisa bersama ...."
"Ihsan!" sergah Rizky.
'Kok bisa Mami bersama Kak Ihsan? Sejak kapan mereka saling mengenal?' batin Nella penasaran. Pertemuan mereka saja Nella ingat saat Ihsan datang melamarnya.
"Hei, mau ke mana?" Rizky menarik lengan istrinya saat tahu Nella hendak melangkah.
"Itu, aku mau samperin mereka."
"Nggak usah!" tegas Rizky. "Itu bukan urusan kita." Rizky menarik lengan Nella untuk ikut bersamanya. Tetapi baru saja melangkah, wanita cantik itu menahannya.
"Tapi Mami Diana adalah istrinya Papa, Mas. Bagaimana bisa aku diam saja melihat Mami jalan dengan pria lain dan itu adalah Kak Ihsan?" Nella menatap kesal pada wajah suaminya.
"Terus mau lu apa? Samperin mereka supaya bisa bertemu lagi dengan Ihsan begitu? Oh ... apa lu cemburu?" tebak Rizky emosi. Dia pikir jika istrinya masih ada secercah rasa untuk mantan kekasihnya itu, tetapi sebenarnya tidak.
Nella di sini hanya merasa heran dan penasaran saja, bisa-bisanya mereka pergi ke mall sama-sama sedangkan yang Nella tahu—keduanya tidak seakrab itu.
Nella menggeleng cepat. "Bukan itu, tapi coba Mas lihat sendiri." Nella kembali menunjuk ke arah depan dan pandangan Rizky mengikutinya. "Apa Mas nggak merasa aneh melihatnya? Mereka terlihat dekat dan itu nggak baik. Bagaimana perasaan Papa kalau melihat semua ini?"
Ya, mereka memang terlihat sangat akrab. Di sana Diana tengah memilih pakaian dan Ihsan ikut membuntutinya sembari menenteng beberapa paper bag pada kedua tangannya.
Rizky terdiam sejenak. Dia juga tentu tahu dan mengenal siapa Diana sebenarnya. Wanita itu hanya suka dengan pria tampan dan beruang. Rasanya memang aneh jika mereka berdua bisa saling mengenal, terlebih Diana sudah berstatus suami orang.
Namun masalah di sini, Rizky sangat tak suka melihat istrinya bertemu dengan Ihsan apa pun alasannya. Jadi tetap, dia akan melarangnya supaya mereka berdua tak dipertemukan.
"Nanti kita tanya Mami saat pulang dari mall. Sekarang kita cari wig dulu, katanya lu mau lihat gue botak, kan?" Suara Rizky terdengar begitu lembut, dia berusaha merayu Nella supaya menurut padanya.
Nella pun menoleh pada Rizky dan memandanginya, setelah itu dia mengangguk.
Mereka pun masuk ke dalam toko tersebut dan disambut hangat oleh pelayan toko wanita yang memakai rok span selutut.
"Selamat siang, Bapak dan Nona mau cari model seperti apa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Aku mau cari wig yang seperti rambut asli, dengan model yang sama seperti rambutku," papar Rizky.
__ADS_1
"Silahkan lihat-lihat dulu, Pak." Pelayan itu mengajak mereka ke tempat khusus wig pendek untuk pria. Nella dan Rizky pun menurut sembari memilih mana yang cocok.
"Kalau dicoba dulu boleh nggak, Mbak? Supaya tahu mana yang cocok atau nggak?" tanya Nella. Dia begitu antusias melihat beberapa wig pada patung kepala yang berjejer di depannya itu.
"Boleh, silahkan Nona." Pelayan itu mengangguk, lalu mendorong kursi putar di dekat Rizky. "Bapak duduk saja di kursi, biar enak pas mencobanya."
Rizky mengangguk, lalu duduk di sana. Sedangkan Nella segera mengambil salah satu wig yang dirasa cocok, lalu memakaikan pada kepala Rizky.
Rizky hanya bisa menurut dan pasrah, ketika kepalanya dipakaikan rambut palsu. Dia rela melakukan apa saja demi membuat istrinya tersenyum.
"Ini sepertinya cocok, mirip seperti rambut asli," ucap Nella sumringah, saat menatap Rizky di depan cermin. "Bagaimana menurut Mas Rizky?"
"Cocok, mirip seperti rambut gue." Rizky ikut menyentuh wig, rambutnya terasa lembut dan warna hitamnya mirip seperti rambutnya.
"Bapak kenapa pakai wig? Padahal Bapak sudah tampan memakai rambut asli?" tanya pelayan itu dengan kening yang berkerut.
"Suami saya mau memakai rambut asli atau wig ... dia tetap tampan." Nella mengusap dagu suaminya sebentar dengan wajah cemberut, lalu melepaskan rambut palsu pada kepalanya. Dadanya terasa bergemuruh saat mendengar wanita lain memuji suaminya.
"Ah iya, suami Nona memang sudah tampan," jawab pelayan itu tak enak hati. Kemudian dia pun menerima wig yang Nella berikan padanya.
Pelayan itu hanya mengangguk lalu berlalu pergi meninggalkan mereka.
Rizky menarik lengan Nella hingga tubuhnya duduk di pangkuannya. Setelah itu dia kecup singkat pipi kiri Nella.
"Kenapa cemberut? Lu nggak senang?" tanya Rizky, dia sejak tadi hanya diam tetapi memperhatikan wajah masam istrinya.
"Aku senang, tapi aku nggak senang mendengar wanita lain memuji Mas Rizky." Nella menggenggam tangan suaminya.
"Gue juga sama, nggak senang lihat pria lain memuji lu."
Setelah membeli wig tersebut, mereka pun membeli perlengkapan mandi, lalu mencari toilet untuk Rizky mandi.
Selang tiga puluh menit seusai Rizky mandi, mereka kembali lagi ke salon dan masuk ke dalam sana.
"Bagaimana Nella cantik, apa wignya sudah ketemu?" Seorang wanita yang diyakininya adalah wanita jadi-jadian menghampiri mereka berdua yang baru saja masuk. Dia memakai dress mini begitu ketat dan seksi, buah dadanya juga terlihat besar dan mirip seperti asli.
__ADS_1
Rizky yang melihatnya pun seketika melebarkan matanya. 'Apa dia bencong?'
"Sudah ada Tante, ini." Nella memberikan paper bag yang berisi wig itu padanya.
"Jadi dia yang mau dibotakin?" Orang yang dipanggil Tante itu lantas berjalan menghampiri Rizky yang baru saja berdiri di belakang tubuh Nella, dia mendekap tubuh wanita itu dari belakang. "Tampan sekali kamu, siapa namamu?" tanyanya seraya mengusap dagu pria tampan itu.
Bulu kuduk Rizky seketika berdiri, lalu gegas dia mengusap dagunya bekas tangan si Tante tadi. Rizky mendekat pada telinga kiri Nella seraya berbisik. "Nella, gue nggak mau dicukur sama bencong, gue geli."
Nella merasakan tubuh Rizky bergetar hebat dalam pelukannya, antara takut dan ekspresi wajahnya terlihat jijik saat Nella berhasil meliriknya sebentar.
"Kenapa malah bersembunyi di belakang Nella? Ayok ikut Tante, katanya mau mencukur rambut." Tante itu memegang lengan Rizky, kemudian dengan cepat Nella menepisnya.
"Ah maaf, Tante. Sepertinya suamiku nggak jadi dicukur. Lain kali saja." Nella segera mengambil paper bag di tangannya. Tanpa pamit, dia langsung menarik lengan Rizky untuk sama-sama keluar dari sana.
"Jadi gue nggak jadi dibotakin, nih?" tanya Rizky dengan mata yang berbinar. Dia tak menyangka jika Nella bisa berubah pikiran secepat itu.
"Enak saja, jadi dong. Kita kembali ke tempat pangkas rambut."
Ternyata Rizky salah, kini wanita cantik itu membawanya masuk ke tempat pertama kali dia datang saat ke mall.
Dengan berat hati dan tatapan nanar saat melihat wajahnya sendiri di depan cermin, pada akhirnya proses pencukuran rambut itu dimulai.
Rizky memejamkan matanya saat alat cukur itu sudah berhasil merontokkan sebagian rambut kepalanya, rasanya dia tak sanggup untuk ikut melihat proses pencukuran itu.
Disisi lain ada Nella yang tengah berdiri di belakang suaminya yang sedang duduk dengan wajah tertekan. Tetapi Nella seolah bahagia diatas penderitaan suaminya.
Wajah wanita cantik itu tampak berseri saat melihat rambut suaminya telah berhasil habis tak tersisa di atas kulit kepalanya, hanya tinggal dilicinkan saja.
"Mas Rizky tambah tampan dan keren tanpa rambut, aku mencintai Mas Rizky!" ucapnya bersorak dengan tepuk tangan. Dia benar-benar girang sekali.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1089...
__ADS_1