
"Nggak boleh, Ta." Hartono menggeleng.
"Nggak bolehnya kenapa?"
"Kamu memangnya nggak pernah baca undang-undang tentang mobil ambulan? Kita nggak boleh menganggunya. Biarkan dia melaju sampai tujuan."
"Oh begitu, ya sudah deh. Kita ikuti dari belakang saja." Sofyan patuh pada omongan Hartono, walau bagaimanapun dia sadar jika orang yang tengah naik motor bersamanya adalah seorang polisi. Ini seperti sebuah pengalaman baru, Sofyan tak menyangka bisa mengelabui pria itu sampai sejauh ini.
*
*
Setelah memakan waktu 20 menit, akhirnya mobil ambulan itu berhenti di tempat tujuan. Benar dugaan Sofyan tadi, mobil itu benar-benar berhenti di rumah Guntur.
Polisi itu menghentikan motornya tepat di depan gerbang, dia tak masuk ke dalam sebab banyak sekali beberapa mobil yang terparkir di dalam sana.
Di depan gerbang besi itu banyak sekali karangan bunga bela sungkawa yang beratas namakan Rizky Gumelang. Bukan hanya diluar, tapi di dalam gerbang juga begitu banyak.
Sepertinya Guntur sudah mengumumkan pada beberapa orang tentang Rizky meninggal.
"Terima kasih ya, Ton." Sofyan turun dari motor Hartono lalu membuka dompetnya. Setelah itu dia pun memberikan beberapa lembar uang berwarna merah padanya.
"Untuk apa?" Hartono menatap heran uang ditangan Sofyan, tetapi dia belum mengambilnya.
"Untukmu, itung-itung uang bensin."
Hartono menolak. "Nggak usah, memangnya aku ojeg? Kita 'kan teman dan sebagai sesama manusia harus saling menolong."
"Oh yasudah terima kasih sekali lagi, ya!"
"Iya."
Sofyan langsung berlari masuk ke dalam gerbang, kebetulan gerbang itu terbuka lebar. Gegas dia juga langsung masuk ke dalam rumah Guntur.
__ADS_1
Tepat di ruang tamu, di atas lantai itu sudah terhampar karpet besar dan sudah banyak sekali beberapa rekan bisnis Rizky yang berdatangan, duduk lesehan di sana. Serta ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak juga ustadz yang tengah membacakan ayat kursi Al-Qur'an.
Pandangan mata Sofyan langsung tertuju pada sebuah peti kayu besar yang berada ditengah-tengah itu, dia lantas melangkahkan ke sana dengan wajah yang amat penasaran.
"Sofyan, jangan dibuka!" Gita mencekal tangannya saat Sofyan hendak membuka penutup peti. Wajah wanita itu terlihat merah dan basah, dia tampak sangat sedih.
"Memang kenapa? Apa Ibu sudah melihatnya? Apa dia beneran Rizky?"
Gita mengangguk. "Iya, aku sudah melihatnya. Tapi kondisi Rizky begitu memprihatinkan, Sofyan. Kamu bisa sedih melihat," jawabnya sambil menyeka air mata dengan kerudung hitam yang dia pakai.
"Memprihatinkan bagaimana? Aku penasaran sekali ingin melihat wajah Rizky." Sofyan perlahan melepaskan tangan Gita pada lengannya, lantas dengan hati-hati dia pun membuka peti itu dan melihat wajah orang yang berada di dalamnya. "Astaghfirullah!"
Bruk!
Sofyan langsung menutup kembali peti itu dengan wajah syok, dia menyentuh dadanya yang terasa berdebar karena kaget. Tetapi ada rasa lega dalam hatinya.
Pria tadi bukanlah Rizky, jelas! Sofyan kenal bagaimana wajah tampan menantunya. Yang membuat pria itu tadi kaget adalah—wajah pria di dalam peti itu sangat rusak dan berlumuran darah, juga matanya terlihat melolot. Siapa saja yang baru melihatnya pasti kaget dan berekspresi sama seperti Sofyan.
"Awal mula Rizky bisa kecelakaan itu bagaimana, Sofyan?" tanya Gita sambil menangis.
"Maksudnya?" Gita terlihat binggung, dia menyeka kedua pipinya. "Tapi perawat mengatakan kalau Rizky kecelakaan mobil."
Sofyan menggeleng lagi. "Nggak! Rizky hanya pingsan! Saya juga memberitahu Pak Guntur."
"Papa, kata Sofyan dia bukan Rizky kita, Pa." Gita berkata pada Guntur saat pria itu datang menghampirinya. "Rizky nggak kecelakaan mobil, dia hanya pingsan kata Sofyan."
Guntur sontak membulatkan matanya, dia tiba-tiba teringat ucapan Sofyan dalam sambungan telepon. Tetapi bodohnya mengapa dia mengiyakan ucapan perawat tadi, saat dia dan Gita bertanya mengenai wajah rusak yang mereka yakini adalah Rizky.
"Ah iya, kenapa aku bisa lupa." Guntur mengusap dahinya yang berkeringat. "Tapi mereka bilang dia Rizky Gumelang kok, Yan. Mangkanya aku yakin."
"Ini sepertinya ada kesalahan, Pak. Dokter juga salah mengira. Atau mungkin pria yang bernama Rizky ada dua?" tebak Sofyan.
"Itu pasti," sahut Gita yakin. "Lalu bagaimana sekarang? Apa kita kembalikan jenazah ini?" Gita menatap peti kayu di depannya.
__ADS_1
"Iya, kita kembalikan lagi ke rumah sakit, pasti keluarganya datang mencari."
"Terus Rizky ke mana? Apa tadi kamu melihatnya pas diUGD?"
"Nggak, Bu. Tapi nanti aku akan tanya perawat yang membantuku saat membawa Rizky ke UGD."
"Perawat? Bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau perawat sendiri yang bilang kalau dia Rizky?" Gita terlihat begitu binggung, ucapan Sofyan seperti berputar-putar.
"Bukan, mereka bukan orang yang sama. Aku mengenal wajahnya. Ya sudah ... biar aku saja yang membawa jenazah ini dengan mobil."
"Aku ikut, Sofyan." Guntur menyahut, lalu menoleh pada Gita. "Mama tolong beritahu kepada para tamu yang datang dan beberapa orang yang ngaji, suruh mereka pulang dan beri pengertian tentang apa yang terjadi sebenarnya. Jangan lupa beri uang untuk yang mengaji, ya?"
Gita mengangguk. "Iya, Pa. Tapi ... apa Rizky masih hidup? Aku takut dia meninggal." Meskipun ada perasaan lega saat tahu pria itu bukan Rizky, tetapi nyatanya Gita masih cemas sebab belum menemukan anaknya.
Guntur langsung memeluk tubuh istrinya lalu mengecup kening. "Nggak, Ma. Rizky pasti masih hidup, dia hanya pingsan saja kok kata Sofyan juga."
"Iya, Bu. Ibu tenang saja," tambah Sofyan. Dia sangat yakin jika menantunya itu baik-baik saja, dan tentunya masih hidup.
"Kalau sudah ketemu Rizky, Papa kabari Mama, ya?" Gita menatap dalam mata Guntur dengan penuh harapan.
"Iya." Guntur mengangguk. Kemudian dia menyuruh beberapa orang berseragam hitam itu mengangkat peti itu, mereka berenam orang yang sengaja dia bayar untuk menggotong peti. Menyambut kedatangan jenazah Rizky.
Beberapa tamu di sana tampak heran dan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Guntur dengan membawa peti itu pergi, tetapi mereka semua hanya saling berbisik satu sama lain dan masih diposisi yang sama.
"Lho, Om. Itu Rizky, kan? Mau dibawa ke mana?" tanya Reymond seraya berlari menghampiri mereka berdua. Dia baru saja turun dari mobil, kemudian melihat dua pria itu berdiri di dalam mobil sambil melihat enam pria memasukkan peti.
"Bukan, Reymond. Dia bukan Rizky." Guntur menggeleng.
"Maksudnya salah orang?"
"Iya, Rizky juga masih hidup. Ada kesalahpahaman." Sofyan ikut menyahut.
"Oh ...." Reymond langsung tersenyum lebar dan mengusap dadanya yang terasa lega. Dia tadi ikut bersedih dan terpukul saat mendengar berita buruk itu. Tentu saja karena Rizky sahabatnya, pria baik dan begitu dekat bahkan seperti saudara walau kadang suka berantem. "Padahal, aku sudah siap-siap lho, Om. Aku kira Rizky beneran meninggal."
__ADS_1
"Siap-siap apa?" tanya Guntur dan Sofyan berbarengan. Alis mata keduanya bertaut.
"Siap-siap menjadikan Nella istri keduaku."