Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
278. Kan bikinnya bareng-bareng


__ADS_3

"Terus sampai kapan? Kan perutku lama-lama besar, Mas. Pasti ketahuan dong."


"Pas dua bulan saja, deh." Rizky memberikan penawaran.


"Terus aku nggak minum susu ibu hamil? Nanti nggak ada asupan vitamin dong."


"Minumlah. Nanti aku suruh Bi Yeyen yang beli dan buatkan. Paling hanya Bibi saja yang aku beritahu nanti."


"Ya sudah deh." Nella terpaksa menurutinya. Meski sebenarnya hatinya tak mau.


***


Sampainya di rumah, Rizky langsung pergi ke dapur untuk menemui Bi Yeyen sebab tangan kanannya menenteng kantong hijau yang berisi susu ibu hamil. Sebelum sampai mereka mampir dulu ke mini market. Sebenarnya bukan hanya membeli susu untuk Nella saja, tetapi membeli susu formula untuk menyapih Jihan juga.


"Bi, apa aku bisa minta tolong?" tanya Rizky dengan pelan.


Bi Yeyen yang tengah mencuci piring lantas berbalik badan kemudian menyeka kedua tangannya dengan serbet.


"Bisa, ada apa, Pak?"


"Bibi pindahkan tiga box susu ini ke dalam toples, jangan jadikan satu. Soalnya tiga varian itu." Rizky memberikan apa yang dia bawa itu ke tangan Bi Yeyen.


Wanita paruh baya itu mengambil satu kotak dan keningnya langsung berkerut. "Ini susu ibu hamil punya siapa? Bu Gita hamil, Pa."


"Masa Mama, Mama 'kan sudah tua. Itu punya Nella." Rizky memasukkan kembali kotak susu tangan Bi Yeyen ke dalam kantong, takut jika Gita dan Guntur melihat.


"Bapak serius? Nona Nella hamil lagi? Wah ... Nona Jihan baru tiga bulan sudah jadi Kakak, kasihan banget."


"Masa kasihan? Jangan begitu dong. Harusnya bersyukur. Jihan juga pasti seneng."


Wajah Rizky seketika masam, dia tak suka sekali mendengar kata itu. Sebab itu akan membuatnya makin bersalah pada Jihan. Tetapi meski begitu—Rizky sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu memberikan perhatian lebih padanya.


Dia tentu ingat betapa sibuknya dirinya akhir-akhir ini dengan pekerjaan di kantor yang menumpuk, jarang sekali ada waktu untuk bermain dengannya. Namun kali ini, Rizky akan mencoba membagi waktu.


"Aku juga minta sama Bibi untuk merahasiakan kehamilan Nella, pada siapa pun di rumah ini. Cukup aku dan Nella saja yang tahu. Buatkan susu itu seperti biasa, pagi dan malam sebelum Nella tidur. Karena Nella orangnya pelupa."


"Iya, Pak." Bi Yeyen mengangguk patuh. "Bibi akan turuti permintaan Bapak. Selamat untuk Bapak dan Nona Nella atas anak kedua, semoga Bapak selalu sehat dan bahagia begitu pun dengan anak-anak Bapak."


Ucapan yang terlontar dari bibir Bi Yeyen terdengar begitu tulus. Entah mengapa kata-katanya sampai begitu menyentuh hatinya. Hingga tak terasa Rizky pun menitihkan air mata.


"Eh, kamu kenapa, Riz? Bibi jahatin kamu?" Gita tiba-tiba saja datang sambil membawa piring kotor, lalu menaruhnya ke dalam bak wastafel. Rizky menyeka air matanya kemudian memeluk tubuh Gita sekilas. "Kamu kenapa sih? Aneh banget."

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, mana Jihan? Aku kangen banget sama dia."


"Dikamarmu sama Nella."


Rizky langsung berlari pergi meninggalkan Gita, dia naik ke lantai atas rumahnya.


"Rizky kenapa, Bi? Kok aneh banget." Gita yang masih penasaran lantas bertanya pada Bi Yeyen.


"Dia tadi menangis terharu, Bu."


"Terharu karena apa?"


"Karena Nona Nella ha ...." Sedikit lagi Bi Yeyen hampir keceplosan jika dia tak buru-buru menahannya.


"Ha apa?" Kening Gita mengerut, dia memicingkan matanya menatap wanita di depannya dengan penuh rasa penasaran.


"Ha ... ha ... ha." Bi Yeyen malah tertawa tidak jelas, dia mencari ide untuk dijadikan alasan. "Maksud saya karena Nona Nella hari ini sangat cantik. Dia memakai pakaian yang begitu menggoda Pak Rizky, mangkanya beliau tadi terharu sampai menangis."


Gita langsung terkekeh. "Ah lebay sekali Rizky, biasanya 'kan Nella memang selalu menggoda di matanya setiap hari."


*


*


Rizky membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam. Nella baru saja keluar dari kamar mandi sembari menggendong Jihan lalu membaringkannya di atas kasur. Dilihat anaknya itu hanya memakai handuk saja, tubuhnya juga basah.


"Lho, Jihan mandi, Nell? Ini 'kan masih siang?" Rizky duduk di atas kasur, lalu menggendong anaknya dan mengecup kedua pipinya. Tercium aroma sabun mandi bayi varian stroberi. Aromanya begitu menyegarkan.


"Dih jangan digendong, dia mau aku pakaikan baju dulu, Mas." Nella membuka lemari kayu berukuran besar berwarna pink, kemudian mengambil pakaian untuk anaknya.


"Sambil aku pangku saja, Nell." Rizky memangku Jihan pada kedua pahanya. "Tadi aku tanya lho, kenapa Jihan siang-siang mandi? Kan nggak boleh."


"Tadi Jihan pipis sampai tembus, bajunya basah. Jadi aku mandikan saja supaya nggak bau pesing."


"Besok-besok mah jangan mandi kalau siang-siang, mending dielap saja, Nell."


Nella duduk di samping Rizky, lalu memakaikan pakaian santai untuk anaknya. Terlihat Jihan begitu anteng, dia malah senyum-senyum sendiri sambil menatap wajah Daddynya dari bawah.


"Memangnya kenapa? Mandi 'kan biar seger, Mas. Lagian Jihan juga sering keringetan."


"Nanti dia panuan, Nell."

__ADS_1


"Mana ada panuan, Jihan masih kecil dan bersih. Dia nggak mungkin panuan." Nella gelengan-geleng kepala. "Panuan 'kan penyakit kulit."


"Ya siapa tahu, mangkanya aku mengingatkan. Kan demi kebaikan juga."


"Kebaikan apanya? Mas 'kan kadang suka asal. Dari siapa coba siang-siang mandi bisa panuan? Jangan bilang dari Pak Reymond. Nanti aku akan telepon Indah deh, biar dia tegur suaminya. Kadang perkataanya suka aneh dan nggak masuk akal." Nella memutar bola matanya dengan kasar.


"Itu bukan dari Reymond tapi fakta, soalnya aku sudah lihat buktinya sendiri."


"Apa buktinya?"


"Ada OB di kantorku, dia panuan terus aku pecat."


"Lha, apa hubungannya sama pekerjaan, Mas? Kok dia dipecat? Memang panu menganggu kerjaan, ya?"


"Iya lah, ada OB lain yang mengadu padaku, katanya dia suka garuk-garuk tengkuk pas bikin kopi untuk karyawan kantor, bahkan pernah juga pas buat kopi untukku. Kan itu jorok namanya, di tengkuknya dia banyak panunya ternyata. Aku juga baru sadar pas dia ngasih lihat sendiri."


"Ngasih lihatnya gimana?"


Sebenarnya obrolan mereka benar-benar absurd dan tak berfaedah sama sekali, tetapi entah mengapa Nella jadi penasaran ingin tahu lebih lanjut.


"Iya, dia nunjukin sendiri pas gue tanya. Terus gue tanya kenapa dia panuan ... eh dia jawabnya gara-gara mandi siang."


"Dih geli banget. Ah tapi itu mungkin hanya kebetulan saja dia panuan dan Jihan nggak bakal panuan, Mas. Dia bersih, putih, cantik dan anakku." Nella membungkuk lalu mengecupi seluruh wajah cantik anaknya.


"Anak kita dong, masa anak kamu doang? Kan buatnya bareng-bareng."


"Iya, iya." Nella malas berdebat, lebih baik diiyakan saja. Lantas dia hendak mengambil Jihan dari pangkuan Rizky, tetapi dicegah oleh suaminya.


"Mau aku susuin, dia harus tidur siang."


"Orang dia nggak ngantuk kok. Aku mau ajak dia main dulu, Nell." Rizky berdiri lalu mengendong anaknya.


"Main ke mana? Jangan dibawa pergi naik mobil, bahaya nyetir sambil gendong Jihan, Mas." Nella ikut berdiri dan mencekal lengan suaminya saat dia hendak melangkah.


"Siapa yang mau naik mobil? Aku mau main di rumah saja dengannya kok. Oh ya, tadi Mama nanya nggak sama kamu pas baru pulang?"


"Nanya apa?"


"Nanya sakit apa gitu."


"Iya, nanya. Aku bilang maghku kambuh."

__ADS_1


"Bagus, Nell." Rizky menimang-nimang Jihan, lagi-lagi bayi cantik itu tersenyum memandangi Rizky. Sepertinya dia merasa senang berada di dekatnya. "Kamu ada keinginan mau sewa babbysitter nggak? Kamu 'kan nggak boleh capek. Masa ngurus Jihan sendirian."


"Kalau nggak mau lihat aku capek ... Mas ikut ngurus dong. Bukan malah sewa orang. Katanya bikinnya bareng-bareng," celetuk Nella. Dia sengaja menyindir sebab dia tahu jika memang Rizky jarang sekali bercengkrama dengan anaknya. Padahal, terkadang bayi juga perlu diajak ngobrol. Bukan hanya sekedar mendapatkan kecupan saja karena lucu.


__ADS_2