
Wanita cantik itu segera duduk di sampingnya. "Aku mau, Pa,” pintanya sembari menunjuk piring.
"Kamu belum makan memangnya? Nanti Papa pesan nasi dulu deh, ya." Sofyan mengambil ponselnya di atas meja, tetapi dengan cepat lengannya di pegang oleh Nella.
"Nggak mau, aku mau itu saja." Nella menggeleng cepat dan kembali menunjuk piring. "Tapi maunya disuapi Mas Rizky," ucapnya dengan wajah sedih sembari menatap Sofyan.
"Memangnya Rizky ke mana?"
"Mas Rizky ... dia ...." Mata Nella seketika berkaca-kaca, dan perlahan mengeluarkan air bening yang mengalir membasahi kedua pipinya. "Dia selingkuh, Pa."
Sofyan terbelalak sangking terkejutnya. "Apa? Selingkuh?" pekiknya mengulang ucapan Nella. Lalu didetik selanjutnya kepala Sofyan menggeleng. "Nggak mungkin, Rizky nggak mungkin selingkuh, Nell."
"Itu kenyataannya, Pa. Mas Rizky selingkuh dariku."
Merasa makin terenyuh, Nella segera mendekat pada Sofyan lalu memeluk tubuhnya. Kembali dia menangis.
"Hei, jangan menangis." Sofyan menyugar rambut Nella perlahan sembari menciuminya. "Ceritakan sama Papa dulu, kenapa kamu bilang Rizky selingkuh?"
"Tadi aku dan Mama Gita ke kantornya Mas Rizky, Pa. Terus aku melihat di dalam ruangan Mas Rizky ... ada Anna," papar Nella seraya menarik dasi Sofyan untuk menyeka air matanya. Kepalanya menyandar pada dada bidang Sofyan.
"Siapa Anna?"
"Mas Rizky bilang dia bukan siapa-siapanya, tapi Anna bilang ... Mas Rizky adalah temannya. Dan waktu Mas Rizky melamarku, Papa masih inget, nggak. Aku pernah bilang kalau Mas Rizky mesum di toilet?" tanya Nella.
"Papa inget. Tapi bukannya kamu saat itu salah lihat, kan?"
"Dih, kapan aku bilang?" Nella melepaskan pelukan itu dengan wajah merenggut. Lantas dia pun beralih menyandar pada penyangga sofa. "Itu beneran Mas Rizky, aku nggak bohong."
"Terus, apa hubungannya dengan Rizky selingkuh?"
"Ya itu, dia berbuat mesum di toilet sama si Anna. Sepertinya mereka memang dekat, bahkan lebih dari teman."
"Tapi Papa yakin, kok. Rizky nggak mungkin selingkuh. Dia sangat mencintaimu, Nell." Sofyan masih tak percaya dengan apa yang Nella ucapkan. Baginya, Rizky adalah menantu yang sempurna. Tak mungkin rasanya jika dia melakukan hal senekat itu.
Sofyan juga tentu ingat betapa kerasnya perjuangan Rizky mendapatkan putri semata wayangnya itu. Dia rela dipukuli sampai melakukan hal yang menurutnya konyol.
"Memangnya, saat kamu dan Bu Gita datang ... posisi Anna dan Rizky sedang apa? Mereka berciuman?" tebak Sofyan.
"Nggak! Mas Rizky nggak boleh melakukannya!" sergah Nella emosi.
"Dih, kamu ini. Papa 'kan tanya." Sofyan mengerutkan keningnya heran. Menatap aneh dengan sikap Nella yang mendadak berubah-ubah, dari mulai sedih sampai emosi. "Posisi mereka saat itu bagaimana?" tanyanya sekali lagi.
"Mas Rizky duduk di kursi putarnya, terus Anna duduk di sofa."
Sofyan terdiam sembari mengingat ruangan di kantor menantunya. Jarak meja kerja dan sofa tentunya tak terlalu dekat.
__ADS_1
"Mereka saja duduknya berjauhan, bagaimana bisa kamu mengira Rizky selingkuh? Mungkin saja Anna datang hanya ada perlu." Sofyan menebak dan berpikir positif.
"Mau ada urusan apa pun ... itu tetap saja nggak baik. Mas Rizky sudah punya istri. Bagaimana bisa dia bertemu dengan wanita lain, apa lagi dia adalah Anna," jelas Nella.
Dia sepertinya lupa ingatan, jika dulu pernah bertemu dengan pria lain saat berstatus istri Rizky.
"Kamu sudah tanya Rizkynya belum? Atau tanya Anna, kenapa dan ada perlu apa datang menemui Rizky?"
"Anna bilang ingin meminjam uang. Tapi aku sendiri nggak percaya." Nella bersedekap seraya mengerucutkan bibirnya. "Papa pikir saja ... kenapa harus meminjam sama Mas Rizky? Memangnya nggak ada orang lain apa, selain dia?"
Sofyan mengangguki ucapan Nella, sebab memang ada benarnya. Tetapi meski begitu—dia tetap percaya pada menantunya.
"Terus sekarang kamu maunya bagaimana?"
"Aku mau Papa marahi dia, tegur juga supaya dia nggak selingkuh dan menjadi pria yang setia," jelas Nella.
"Ya sudah, nanti pulang kerja Papa akan ke rumah Rizky."
"Dih, lama dong. Sekarang saja telepon Mas Rizky suruh datang ke kantor Papa."
"Kalau dianya sedang sibuk bagai ....” Ucapan Sofyan menggantung manakala terdengar suara ponsel yang sejak tadi dalam genggamannya berbunyi. Dia pun segera memperhatikan layar ponselnya dan kebetulan itu dari Rizky. "Ini Rizky telepon." Sofyan memperlihatkan layar ponselnya ke arah Nella.
"Angkat cepat, Pa," ujar Nella yang sudah kegirangan.
Dia sengaja membiarkan ponselnya bisu supaya tak menjawab panggilan dari Rizky, dan tentunya Nella sangat berharap jika suaminya itu mencari keberadaannya secara langsung, tanpa menghubunginya.
Nella segera mengusap ke atas layar ponsel Sofyan, untuk mengangkat telepon. Setelah itu dia speaker, supaya mampu mendengar suara Rizky.
"Halo siang, Pa," ucap Rizky.
Hanya baru sapaan, Nella sudah mengulum senyum sambil merasakan detak jantungnya yang begitu berdebar. Dia merasa senang sekali.
'Semoga Mas Rizky benar-benar mencariku,' batin Nella.
"Siang, Riz."
"Apa Papa tahu di mana Nella?" tanya Rizky.
Tepat sekali tebakan Nella.
Nella memegang lengan Sofyan saat pria itu menganga, tindakan yang dilakukan Nella barusan membuat Sofyan mengurungkan niatnya untuk memberikan jawaban.
Lantas Nella pun mendekat lalu berbisik ke telinga Sofyan, supaya apa yang akan Sofyan katakan sesuai dengan apa yang Nella inginkan.
Bisa disimpulkan jika sekarang Nella meminta sang Papa untuk menuruti semua ucapannya dengan mengulang ucapannya.
__ADS_1
"Papa nggak tahu, Riz. Memang kenapa?" tanya Sofyan.
"Nella salah paham padaku, Pa. Apa Papa bisa membantuku mencari dia?"
"Salah paham kenapa? Kamu bisa ke kantor Papa dulu untuk menjelaskan semuanya? Nanti Papa akan membantumu."
"Ini aku sudah di depan pintu ruangan Papa," ucap Rizky dan tak lama suara ketukan pintu itu terdengar dari luar. "Apa aku boleh masuk, Pa?"
Nella yang mendengarnya lantas membulatkan matanya dengan lebar. Baru saja Sofyan mengaku kalau dia tak tahu tentang keberadaan Nella. Masa sekarang Sofyan harus ketahuan kalau berbohong?
Merasa panik, Nella pun segera memutuskan sambungan telepon Rizky pada Sofyan dan tak lama ketukan pintu kembali terdengar.
Tok ... tok ... tok.
"Pa, apa aku boleh masuk?" tanya Rizky setengah berteriak dari balik pintu.
"Papa jangan bilang aku ada di sini, Papa harus marahi dia." Nella berdiri lalu berlari menuju kamar mandi. Baru saja dia hendak membuka pintunya, lengannya langsung di pegang oleh Sofyan.
"Biarkan kamu di sini saja, kita harus selesaikan semuanya supaya kamu nggak salah paham."
Sofyan tahu, Nella pasti ingin mengumpet sebab tak mau bertemu Rizky.
"Tapi aku nggak mau bertemu Mas Rizky, aku kesal padanya, Pa," tolak Nella sambil menggeleng.
"Kalau kesal kamu cukup diam saja, tapi jangan menghindarinya. Biarkan Rizky menjelaskan di depan Papa," tegur Sofyan.
Belum sempat Nella menjawab, Sofyan sudah menariknya hingga duduk di di sofa secara bersamaan.
"Masuk, Riz!" pekik Sofyan.
Ceklek~
...1042...
Nikmati part" bucin mereka, nanti-nanti akan ada konflik. Tapi nanti masih beberapa bab lagi 😅
Tapi tenang aja, konfliknya dibuat ga terlalu berat kok, nggak kayak beban hidup 🤭. Cuma buat tambah greget cerita aja.
Yang minta crazy up ... sabar, ya! Akan ada waktunya 😁
Yang belum baca novel pertamaku silahkan mampir~🤗
Sudah tamat, dan itu kisah Indah dan suaminya. Ada Rizky dan Nella juga disana, sebelum mereka dipertemukan di novel ini😬
__ADS_1
Oke itu, saja. Salam sayangku untuk kalian~❤️