Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
86. Mas Rizky menyebalkan!


__ADS_3

Beberapa menit Sindi pergi, lalu dia balik lagi menghampiri suaminya.


"Kata Bibi kuncinya ada dua dan satunya waktu itu dipegang sama Rizky, Pa."


"Terus si Rizkynya ke mana? Apa dia ada di kamarnya? Cepat panggilkan!" Mendadak hati Angga merasa tak tenang, dia sedari tadi sibuk menarik turunkan handle pintu dan mengetuk-ngetuk pintu itu berulang kali.


Sindi mengangguk lagi, dia berlari masuk ke kamar Rizky dan tak lama balik lagi menghampiri suaminya dengan wajah frustasi.


"Rizky juga nggak ada di kamarnya. Papa dobrak aja pintunya," usul Sindi.


Angga mengangguk, dia mundur beberapa langkah dan mulai berancang-ancang. Namun tiba-tiba Sofyan datang menghampiri mereka berdua sambil membawa tentengan di tangan kirinya.


"Pa, Ma. Sedang apa di kamar Nella?" tanya Sofyan dengan kening yang berkerut.


Angga menoleh ke arahnya. "Kebetulan ada kamu, coba dobrak pintu kamar Nella," titahnya sambil menunjuk apa yang dimaksud.


"Kok didobrak? Memang kenapa? Nella terjebak di dalam?"


"Nella dari tadi nggak keluar kamar, dipanggil-panggil nggak ada sahutan, Sofyan. Mama dan Papa takut dia kenapa-kenapa," jawab Sindi dengan wajah cemas.


Sofyan terbelalak, sangking terkejutnya—tentengan yang dia bawah langsung dijatuhkan begitu saja. Lantas dirinya gegas berancang-ancang dan menghentakkan punggungnya di depan pintu.


Bruk!


Satu tabrakan tidak berhasil.


Bruk!


Dua tabrakan juga belum berhasil.


Bruk! Bruk! Bruk!


Lima tabrakan diri itu akhirnya berhasil mendobrak pintu, lantas mereka bertiga masuk ke dalam.


"Nella!" pekik mereka serempak. Di dalam kamar itu tak ada Nella di sana. Namun, kasurnya begitu acak-acakan dan bantalnya terlihat basah.


Sofyan memutar pintu kamar mandi dan melebarkan pintu tersebut. Ketiga orang itu membulatkan matanya dan beristighfar saat melihat Nella tengah tersungkur di lantai kamar mandi dengan mata terpejam.


"Astaghfirullah, Nella!"


Sofyan membungkuk dan meraih tubuh putrinya, mengangkatnya dan segera berlari keluar dari kamar mandi hingga keluar dari rumah Angga.

__ADS_1


Angga langsung menyusul Sofyan yang sudah berada di dalam mobilnya. Sedangkan Sindi, sebelum menyusul, dia menyempatkan untuk mengambil tas selempang milik Nella di atas nakas, yang kebetulan terdengar ponsel berdering di dalamnya.


Mereka menaiki mobil Sofyan, Angga mengemudi dan di samping Sindi. Sedangkan Sofyan, dia duduk di belakang sambil memangku Nella yang masih pingsan.


"Kamu kok bisa pingsan? Ada apa? Semoga kamu baik-baik saja Sayang," ucap Sofyan seraya menciumi rambut putrinya.


Ponsel di dalam tas Nella masih terus berdering, Sindi yang merasa terusik gegas mengambilnya dan melihat panggilan yang tertera di layar ponsel. Tidak ada namanya, dia pun memasukkan ponsel itu kembali ke dalam tas, malas untuk mengangkatnya.


"Siapa yang menelepon, Ma?" tanya Angga menoleh sekilas.


"Nomor baru, pasti orang iseng, Pa," jawab Sindi.


"Oh ya sudah." Angga mengangguk.


***


Di tempat berbeda.


Perasaan Rizky mendadak tak tenang bercampur rasa rindu untuk wanita yang saat ini jauh darinya. Padahal, baru tadi pagi dirinya terakhir bertemu dengan Nella, tetapi sekarang malah ingin bertemu lagi.


"Seminggu cepat sekali, ya? Rasanya gue masih ingin menghabiskan setiap malam bersamanya." Monolog Rizky sambil menatap langit-langit kamar. Dia tengah berbaring di atas kasur di dalam kamar, di rumah orang tuanya.


Mungkin ini adalah untuk pertama kalinya Rizky menghubungi Nella, sebelumnya dia selalu berpikir matang-matang untuk menghubunginya.


Namun sayang sekali, niat untuk pertama kali itu membuatnya kecewa sebab sudah tiga kali ditelepon—Nella tak menjawabnya. Akan tetapi Rizky mencoba berpikir positif, mungkin saja istrinya sudah tidur. Dilihat jam sudah menunjukkan pukul 20:30.


"Dia mungkin sudah tidur, gue tidur saja deh ... biar nggak kesiangan saat sidang besok." Rizky menaruh ponsel itu di atas nakas lalu memejamkan matanya.


...~Flashback On~...


Sejak sepulang dari restoran dan sampai ke rumah Angga, Nella masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia berlari dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sembari menutupi wajahnya di bawah bantal.


Di detik berikutnya isakan tangis itu terdengar, Nella menangis terisak-isak. Untuk kesekian kalinya, bantal tidur adalah saksi dimana air mata kesedihannya tumpah berjatuhan.


Nella sendiri masih berada didalam kebingungan antara hati dan pikirannya. Bayangan Rizky yang tengah tersenyum saat memandangi Mitha membuat hatinya teriris dan sakit.


"Kenapa Mas Rizky tersenyum padanya? Kenapa? Apa masakannya jauh lebih enak daripada masakanku?" Nella sebenarnya tengah berteriak, tetapi suaranya tertahan akibat tertutup bantal.


"Papa Guntur jahat! Aku dan Mas Rizky 'kan belum persidangan, tapi kenapa Papa sudah mau menjodohkan Mas Rizky dengan Mitha?" Nella terus mengoceh, meluapkan emosi di dadanya sambil terisak.


"Tadi pagi Mas Rizky bilang mencintaiku, kan? Tapi masa Mas nggak mengenali istri sendiri?" Nella kembali mengingat kejadian saat dirinya tabrakan dengan Rizky dan itu membuat dadanya terasa bergemuruh. "Apa Mitha secantik itu, Mas? Sampai aku nggak dilirik sama sekali? Mas Rizky menyebalkan! Dasar pria Mes ... eemm."

__ADS_1


Tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerang di dalam perutnya. Nella pun beranjak dari tempat tidur dan segera berlari menuju kamar mandi sambil menutupi mulutnya.


Ooeekk ... Ooekk.


Ketiga kalinya, Nella muntah dan merasakan rasa mual yang sama. Perutnya terasa diremas dan kini kepalanya kunang-kunang.


Nella buru-buru menarik kran air, lalu membasuh seluruh wajahnya dan bibir. Tangannya memegangi bak wastafel saat dirinya menatap cermin dan pandangannya kini menjadi buram.


Nella mengusap-usap kedua matanya ketika berbalik badan. Baru selangkah dia berjalan, tetapi kepalanya menjadi semakin berat dan tubuhnya terasa lemas. Wanita itu beringsut ke bawah dan tak sadar kalau tubuhnya sudah jatuh berbaring.


"Aakkh!!" erang Nella. Tangan kirinya menyentuh kepala dan tangan kirinya menyentuh perut, rasa sakit itu menyerang diwaktu yang bersamaan dan membuatnya susah untuk bergerak. "Opa! Oma! Mas ...."


Wanita itu tidak jadi meneruskan ucapannya lantaran sudah jatuh pingsan.


...~Flashback Off~...


***


Angga, Sindi dan Sofyan tengah duduk di kursi panjang di samping ruang UGD.


Sembari menunggu dokter yang tengah memeriksa Nella, Sofyan mencoba untuk menghubungi Rizky.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...."


Sofyan mematikan sambungan telepon itu sambil mendengus kesal. "Kenapa nomornya nggak aktif? Ke mana si Rizky ini?"


Tadi siang Sofyan sudah diberitahu oleh Rizky, jika dirinya sudah tak tinggal lagi di rumah Angga. Sekarang tangan Sofyan mengusap-usap layar ponsel untuk cari nomor Gita. Setelah berhasil ketemu, dia pun menghubunginya.


"Halo selamat malam, Bu," sapa Sofyan saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Iya Sofyan ada apa?" tanyanya dengan suara datar. Tetapi bukan suara Gita yang terdengar, melainkan suara pria. Mungkin Guntur yang menjawab telepon.


"Ini Pak Guntur?" tanya Sofyan.


"Iya, ada apa?"


"Pak, saya mau memberitahu kalau Nella pingsan. Nanti sampaikan pada Rizky untuk ke Rumah Sakit Harapan, kalau Bapak bertemu dengannya, ya?" terang Sofyan.


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...

__ADS_1


__ADS_2