Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
175. Apa benar dialah orangnya?


__ADS_3

Rizky mengatur nafasnya yang sudah naik turun sembari mengusap dadanya sebentar. Meredakan emosinya.


"Siapa yang menyuruh Ibu? Apa Mitha orangnya?" tanya Nella. Tidak seperti Rizky yang emosi, Nella jauh lebih santai sebab dia meyakini kalau pelaku yang sebenarnya adalah Mitha.


"Saya nggak bisa memberitahunya, saya sudah berjanji Nona," jawabnya pelan.


Brak!


Rizky menggebrak meja dengan sekuat tenaga yang mana membuat mereka terhenyak. Dia betul-betul tak menyukai jawaban dari mulut wanita itu.


"Cepat beritahu kalau Ibu nggak mau dipenjara!" tegas Rizky dengan nada menekan, mengancam wanita paruh baya itu.


Bu Sumiati menggeleng cepat, lalu dia pun segera bersimpuh di hadapan Rizky sembari menangkup kedua tangannya. "Jangan penjarakan saya, Pak. Saya orang miskin dan masih mempunyai banyak tanggungan. Maafkan saya," ucapnya dengan nada memohon.


"Aku nggak terima maaf, yang aku mau dengar adalah siapa yang menyuruh Ibu!" seru Rizky lantang, lantas dia pun membuang nafasnya gusar. "Sekali lagi aku tanya, dan kali ini Ibu harus menjawabnya. Kalau tidak ... aku akan diseret Ibu ke penjara!" tegas Rizky seraya mengedikkan dagunya lalu menatap Hersa.


Hersa mengangguk, kemudian menoleh pada anak buahnya, seakan memberikan isyarat.


Kedua anak buahnya itu langsung menarik tubuh wanita tersebut sampai dia berdiri, kemudian mencekal kedua lengannya.


"Satu ... dua ... ti—"


"Baik, baik, saya akan memberitahunya," sela Bu Sumiati yang berhasil menyela ucapan Rizky. "Tapi kalau saya memberitahunya, Bapak nggak akan penjarakan saya, kan?" Dia menatap wajah masam Rizky, memastikan jika dirinya tak dipenjara karena kasus ini.


"Iya, asal jujur," jawab Rizky dengan tatapan sinis.


"Saya disuruh oleh ...." Bu Sumiati menggantung ucapannya, dilihat dia seperti tengah mengingat sebuah nama. Sepersekian detik kemudian, dia pun berucap, "Dia adalah Pak Guntur."


Deg!


Mereka yang berada di sana membulatkan matanya, tersentak dengan apa yang diucapkan wanita itu barusan.


Rizky berdiri, lalu dengan cepat mencekik leher wanita tersebut dengan tangan kanannya. "Apa yang kau katakan? Jawab jujur! Siapa!" bentak Rizky dengan emosi yang meluap-luap. Dia merasa tak percaya dan tak habis pikir dengan jawaban wanita itu yang lagi-lagi membuatnya emosi.


"Sa-saya ju-jur, Pak. Di-dia Pak Gu-Guntur," jawab Bu Sumiati terbata, nafasnya tersendat akibat cengkraman tangan Rizky yang begitu kuat.


"Kau bohong!" Sekarang Rizky menggunakan kedua tangannya untuk mencekik leher Bu Sumiati. Dan seketika, wanita itu membulatkan matanya.


"Mas, lepaskan dia! Dia bisa mati!" Nella menarik kedua lengan Rizky sekuat tenaga saat melihat wajah Bu Sumiati memucat dan seakan menahan rasa sakit. Sedikit lagi mungkin Rizky bisa menghilangkan nyawanya.

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk!" Bu Sumiati menyentuh lehernya sendiri sembari mengatur nafasnya naik turun.


Rizky mengusap wajahnya. "Seret dia sekarang juga ke penjara!" tegas Rizky, kemudian berjalan melangkah keluar dari rumahnya.


Hersa dan dua anak buah yang menyeret Bu Sumiati segera mengikuti langkah kaki Rizky sampai masuk ke dalam mobil.


"Mas! Aku mau ikut!" pinta Nella seraya mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil suaminya.


Rizky menurunkan kaca tersebut. "Lu di rumah saja dulu, gue hanya sebentar."


"Tapi aku mau ikut, Mas."


"Hanya sebentar saja, gue nggak bohong!" Setelah mengatakan hal itu, Rizky pun segera meminta Hersa yang berada di kursi kemudi untuk menjalankan mobilnya, meninggalkan Nella yang berdiri sendiri di halaman rumahnya.


Rizky merogoh ponselnya di dalam kantong jas, lalu segera menghubungi Guntur untuk datang ke kantor polisi. Mungkin akan lebih baik papanya itu ikut serta berada di sana. Supaya bisa memastikan juga, apa benar dia pelakunya—atau tidak.


Namun hati kecil Rizky selalu berharap jika apa yang dikatakan Bu Sumiati adalah bohong.


"Halo, Pa. Apa kita bisa bertemu di kantor polisi?" tanya Rizky saat sambungan telepon itu diangkat oleh seberang sana.


"Kantor polisi?" Suara Guntur seperti terkejut. "Ada apa? Kamu ada masalah?" tanya Guntur.


"Apa?!" pekik Guntur berteriak. "Jadi maksudmu kamu mau penjarakan Papa begitu? Kamu gila, Riz? Kamu kira Papa sejahat itu, apa?" Terdengar suara Guntur tampak emosi, sepertinya dia merasa tak terima.


"Aku sebenarnya juga nggak percaya, cuma aku ingin memastikan saja. Apa kita bisa bertemu di kantor polisi?"


"Bisa, ke kantor polisi mana?" tanya Guntur.


"Aku akan kirim alamatnya ke Papa."


"Iya."


*


*


*


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka telah sampai di depan kantor polisi.

__ADS_1


Rizky segera masuk ke 'Ruang Keluhan' diikuti oleh Hersa, Bu Sumiati dan kedua anak buahnya.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Pak Polisi seraya berdiri dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya ke arah Rizky.


"Selamat malam juga," Rizky menjabat tangan Pak Polisi yang berkumis tebal itu, di sana hanya ada dia seorang diri. "Saya ingin buat laporan, tentang pelaku yang berencana ingin mencelakai istri saya, Pak."


"Baik, silahkan duduk dulu Pak Rizky." Pak Polisi mempersilahkan Rizky untuk duduk di kursi depannya.


Rizky mengangguk dan duduk di sana, terlihat Pak Polisi itu kembali duduk di tempat semula sembari mengetik layar laptopnya, membuat sebuah laporan.


"Mencelakainya seperti apa, Pak?"


"Dia mengirim sebuah jamu pengugur kandungan untuk istri saya yang sedang hamil. Dan kemarin-kemarin saya hampir saja kehilangan anak saya, Pak," tutur Rizky.


"Lalu sekarang istri dan anak Anda bagaimana kondisinya?" tanya Pak Polisi.


"Alhamdulillah, mereka baik sekarang. Tapi tetap saya ingin melaporkannya, karena takut jika sewaktu-waktu dia akan berbuat jahat lagi."


"Apa Ibu ini pelakunya?" Pak Polisi sudah menebak Bu Sumiati sembari menatap ke arahnya.


"Iya, dia pembuat jamunya. Tapi dia juga disuruh, Pak."


"Jadi Bapak ingin pihak polisi mencari pelaku yang sebenarnya?" tanya Pak Polisi.


"Iya, tapi sebelumnya tunggu sebentar ... soalnya Bu Sumiati sendiri bilang kalau pelakunya adalah Papa saya, saya sendiri nggak percaya. Kita tunggu Papa saya datang dulu, Pak," terang Rizky.


"Oh begitu, baiklah." Pak Polisi mengangguk.


Tak lama terdengar suara derap langkah dan ketukan pada pintu ruangan itu yang terbuka. Dan ternyata yang datang adalah Guntur.


"Riz," ucap Guntur seraya menghampiri anaknya, lalu ikut duduk di kursi kosong yang berada di samping Rizky. Lantas dia pun menatap Pak Polisi. "Malam, Pak."


"Malam juga. Maaf ... Bapak ini siapa?"


"Dia Papa saya, Pak." Yang menjawab Rizky, lantas dia pun memutar kepalanya ke arah Bu Sumiati, lalu memberikan isyarat suapan kedua anak buahnya untuk mendekati dirinya. Sebab jarak mereka lumayan jauh.


Setelah mereka bertiga berada di sampingnya. barulah Rizky kembali bertanya pada Bu Sumiati.


"Ibu jangan macam-macam padaku! Kalau Ibu nggak jujur ... aku langsung jebloskan ke penjara!" tegas Rizky sambil melotot, lalu memegang pundak kiri Guntur. "Bapak ini yang bernama Guntur, apa benar dialah orang yang menyuruh Ibu mengirim jamu?"

__ADS_1


__ADS_2