Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
159. Aku sebel


__ADS_3

"Ya sudah ... Mami tinggal saja di rumah Opa dan Oma kalau nggak mau sendirian," usul Nella.


"Kamu ini, masa nemenin Mami sendiri nggak mau? Itung-itung mempererat hubungan. Kamu 'kan sama Mami Diana juga jarang mengobrol dan bahkan bertemu, kan?"


Sebenarnya bukan tidak mau, hanya saja Nella risih dengan Diana. Bagaimana tidak, wanita itu selalu tampil seksi setiap kali dia melihatnya.


Tentunya Nella juga tak rela, jika mata nakal suaminya melihat keindahan tubuh Diana, dan Nella hanya ingin dia saja yang dilihat Rizky.


Padahal, tanpa sepengetahuan Nella—dulu mereka berdua adalah partner ranjang. Sepertinya Rizky juga tak akan tertarik lagi dengan wanita itu sebab sudah bosan. Itu juga alasannya mengapa Rizky beralih dengan Anna.


"Memang iya, tapi aku nggak mau. Aku besok juga mau pergi jalan-jalan sama Mas Rizky. Iya 'kan, Mas?" Nella menatap wajah Rizky dengan kedipan mata sebelah, meminta dia supaya mengiyakan ucapannya.


"Iya, Pa," jawab Rizky.


"Jalan-jalan ke mana?" tanya Sofyan.


"Ke Bandung juga," jawab Nella.


"Ah kamu bohong pasti, Rizky 'kan sibuk. Pokoknya Papa nggak mau tahu, kamu harus temenin Mami Diana!" tegas Sofyan.


Namun bicara tentang Diana, tiba-tiba terbersit ingatan Nella tentang kejadian di mall. Dia juga merasa penasaran—apakah Diana cerita tentang pertemuannya dengan Ihsan pada Sofyan, atau tidak?


Nella sudah menganga ingin mengajukan pertanyaan, tetapi dia teringat ada Rizky. Rasanya tak baik jika pria tampan itu mendengarnya. Kemarin saja Rizky seperti marah, hanya lantaran menunda permintaannya demi bertanya pada Diana.


Nella melepaskan pelukannya, lalu mengusap bahu Rizky sebentar. "Eemm ... Mas, aku ingin bicara berdua dulu dengan Papa. Mas tunggu aku di mobil dengan Mama, ya?"


"Oh yasudah." Rizky mengangguk, dia pun mengecup singkat kening Nella lalu menghampiri Sofyan untuk mencium punggung tangannya.


Setelah itu, dia pun keluar dari ruangan Sofyan bersama Gita yang baru saja masuk ke dalam.


"Ayok, Ma," ajak Rizky.


Gita mengangguk.


Kini tinggal Nella dan Sofyan berdua, mereka pun kembali duduk di sofa bersama-sama.


"Kamu mau, kan? Mami sering bilang sama Papa ... kalau dia ingin dekat denganmu. Masa kamu nggak mau dekat dengan Mami? Jangan begitu dong." Sofyan masih meminta dan berupaya meluluhkan hati Nella. Tentu dia juga ingin, putri semata wayangnya itu dekat dengan wanita yang dia sayangi.


Nella terdiam sejenak, lalu membuang nafasnya dengan berat. "Ya sudah deh. Tapi 3 hari dihitung dengan hari ini, ya?"


"Pokoknya sampai Papa pulang dari Bandung, itu hanya 3 hari!" tegas Sofyan kesal.

__ADS_1


"Iya, iya," jawab Nella malas. "Oya, aku ingin tanya masalah Mami sama Papa."


"Masalah Mami?" Sofyan mengerutkan keningnya. "Memang kamu ada masalah dengan Mami?"


Nella menggeleng cepat. "Bukan. Tapi kemarin saat aku dan Mas Rizky ke mall, aku nggak sengaja bertemu Mami dan Kak Ihsan, Pa. Apa Mami sudah cerita sama Papa?"


"Iya, Mami cerita. Katanya Ihsan membantu Mami yang kecopetan," terang Sofyan.


Ya itu benar, Diana sudah bercerita pada suaminya. Tapi tetap saja Nella masih penasaran.


Saat melihat mereka di mall—mendadak hatinya tak enak. Namun bukan berarti Nella cemburu, lebih tepatnya dia takut jika hal tersebut bisa mengusik rumah tangga Sofyan.


Tentu dia juga akan sakit hati, jika Sofyan disakiti oleh orang lain apalagi istrinya sendiri.


"Apa Papa juga tahu ... kalau Kak Ihsan dan Mami belanja berdua di mall? Lebih tepatnya di toko pakaian?" tanya Nella.


"Iya, Mami bilang itu terpaksa." Sofyan mengangguk samar. Terlihat jelas dari bola matanya yang memerah, menandakan kalau dia tengah emosi. "Tapi Papa sudah menyuruh orang untuk mengawasi Mamimu, supaya dia tak dekat dengan pria lain, apalagi dengan pria bengkel itu."


Sekarang terlihat kobaran api yang menyala pada kedua mata papanya. Nella yakin kalau saat ini Sofyan sedang cemburu dan itu membuktikan kalau dia memang sangat mencintai istrinya.


"Bagus itu, Pa. Tapi Papa nggak usah sebut Kak Ihsan pria bengkel. Sebut saja namanya, dia 'kan punya nama," ujar Nella.


"Papa nggak sudi, sudah kamu pulang saja. Nggak usah memikirkan tentang Mami. Papa hanya minta kamu dan dia dekat saja." Sofyan menghela nafas gusar seraya mengusap kasar wajahnya.


"Papa juga sayang kamu." Sofyan mendekatkan bibirnya pada kening Nella, lalu mengecupnya singkat.


Cup~


"Jangan suka berantem dengan Rizky," imbuhnya dengan elusan di pipi kiri Nella.


Nella mengangguk, lalu berjalan keluar dari ruangan Sofyan.


***


Nella masuk ke dalam mobil saat pria tampan itu membukakan pintu depan mobilnya. Lantas Nella pun memutar kepalanya ke arah kursi belakang, mencari keberadaan Gita, tetapi tak ada dia di sana.


"Mama ke mana, Mas?" tanya Nella seraya menoleh pada Rizky.


"Mama pulang duluan, tadi bilang mau arisan."


"Oh." Nella mengangguk.

__ADS_1


Rizky menyalakan mesin mobil, lalu mengendarainya. "Kita langsung pulang apa bagaimana? Gue laper mau makan, Nell."


Perut Rizky yang terus menerus dikeluarkan sampai belum diisi lagi. Ingin makan sebenarnya, tetapi ingin menemukan Nella terlebih dahulu.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, makan siang mereka juga sudah lewat akibat kesalahpahaman.


"Aku juga laper, Mas." Nella menyentuh perutnya saat cacingnya berbunyi.


"Lu mau makan apa?"


"Aku mau makan bubur ayam. Mas doyan bubur ayam, kan?" tanya Nella.


"Doyan." Rizky mengangguk. "Di mana belinya?"


"Ada restoran yang menu unggulannya bubur, Mas. Aku dan Tante Nissa sering ke sana. Kita ke sana saja."


"Oke."


***


Tiga puluh menit berlalu, mereka akhirnya telah sampai di sebuah restoran mewah dengan nuansa serba putih.


Setelah turun dari mobil, mereka pun sama-sama masuk ke dalam. Mata Nella menyapu pada setiap sudut restoran itu untuk mencari meja kosong.


"Ramai banget, Nell. Gue nggak suka makan di tempat terlalu ramai begini," ucap Rizky seraya berbisik ke telinga kiri Nella. Mereka berdua tengah berdiri di depan pintu kaca.


"Mungkin karena ini hari Sabtu, Mas. Malam Minggu juga, kan?" Mata Nella akhirnya berhasil menemukan meja kosong yang berada ujung sebelah kanan. "Kita duduk di sana, Mas." Nella mengandeng lengan Rizky, mengajaknya ke meja yang dimaksud. Rizky pun menurut.


"Gue ke toilet dulu deh, ya. Mau kencing. Nanti lu pesenin saja buat gue," ucap Rizky saat melihat Nella baru saja duduk di sofa yang berukuran sedang, untuk duduk dua orang. Di depan mejanya lagi ada sofa yang berukuran sama.


"Baru juga sampai, kok mau kencing lagi?" tanya Nella sambil merenggut.


Lagi? Apa maksudnya? Rizky saja baru bilang mau kencing sekarang.


"Kok lu bilang lagi?" Rizky mengerutkan keningnya. "Perasaan ... gue baru bilang mau kencing deh, saat di mobil nggak, kan?"


"Iya, tapi Mas selalu kencing jika pergi bersamaku. Aku sebel."


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...

__ADS_1


...1076...


__ADS_2