
...(Flashback On)...
"Halo, Rey. Apa gue boleh minta dua anak buah lu untuk menemani gue?" tanya Rizky pada sambungan teleponnya, dia tengah menyetir mobil sambil menelepon Reymond.
"Boleh, siapa? Ali dan Aldi?"
"Iya, gue akan kasih alamatnya. Bilang suruh ketemu di sana."
"Oke."
Setelah mematikan sambungan telepon, Rizky segera mengirimkan alamat untuk kedua orang itu datang bersamanya.
Kemudian, dia menaruh ponsel itu ke dalam saku jas dan menarik gas mobilnya hingga selang beberapa menit saja—dia telah sampai di Bengkel Maulana bertepatan dengan dua orang pria berbadan kekar, yang bernama Ali dan Aldi.
Mobil hitam dan putih itu terparkir di depan parkiran bengkel tersebut.
"Kita mau ngapain ke sini, Pak? Bapak mau ganti oli mobil?" tanya Ali yang sudah turun duluan, sebelum Rizky yang baru saja turun dan menutup pintu mobilnya.
"Gila aja lu, ngapain gue ganti oli sampai meminta lu datang ke sini." Rizky mendengus kesal.
"Terus mau apa?" tanya Ali lagi.
"Lu ikut gue saja dari belakang!"
"Eh, Pak Rizky ... tunggu sebentar, Pak," pinta Ali seraya memegang lengan Rizky, mencegah pria tampan itu yang hendak melangkah.
Rizky menoleh. "Apa?"
"Maaf sebelumnya ...." Ali mendekati Rizky tepat pada telinga kirinya seraya berbisik. "Apa Bapak sudah mandi?"
"Apa maksud lu?" Rizky langsung melototinya. "Memangnya wajah gue yang tampan ini kelihatan belum mandi, ha?" bentaknya sewot sembari menunjuk wajahnya sendiri.
Jelas sekali dia belum mandi, Ali mengatakan hal itu pun bukan tanpa sebab.
"Kelihatan, Pak," jawab Ali jujur.
"Keliatan apanya? Gue nggak bau badannya, ya!" Rizky mengendus kedua lengannya dengan penuh percaya diri, sebab memang tidak bau dan dia juga sudah mengganti pakaian.
Namun, yang dimaksud Ali bukan kearah situ.
"Coba Bapak bercermin pada spion mobil, saya nggak enak bicara langsung," ucap Ali.
__ADS_1
"Tinggal katakan saja Pak Rizky ada beleknya, susah amat," tukas Aldi yang mana membuat Rizky membulatkan matanya.
Rizky segera berbalik badan tak menghadap ke arah mereka lantaran wajahnya sudah merah karena malu.
Setelah itu, dia menempelkan dua ujung jari telunjuknya tepat pada ujung matanya, dan benar saja—satu belek pada satu matanya sudah sangat jelas menggambarkan kalau dia belum mandi.
Dengan ragu-ragu Rizky membungkuk ke arah spion mobil untuk melihat wajahnya sendiri, dan seketika itu pun dia terperanjat dengan kedua mata yang membulat.
"Bapak kenapa?" tanya Ali penasaran, dia merasa aneh dengan tingkah Rizky yang tengah mengusap-usap wajahnya sendiri.
Kedatangan Rizky kemari memang ada perlu dan ingin membuat perhitungan pada Ihsan, tetapi melihat wajahnya yang begitu kusut, rambut yang acak-acakan serta beleknya tadi—seolah membuat Rizky tidak percaya diri.
Ihsan adalah mantan pacar istrinya, tentunya Rizky harus tampil lebih tampan darinya meski dalam keadaan apa pun, kan? Jadi—Rizky memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
"Belikan gue sabun, sikat gigi dan pasta gigi," titah Rizky seraya melihat sebuah toilet yang berada tepat di samping parkiran mobil. Mungkin dia bisa mandi dulu di sana.
"Ternyata Bapak benar-benar belum mandi, ya," ucap Ali sambil terkekeh.
"Tutup mulut lu otot besar!" pekik Rizky seraya menoleh ke arah Ali. "Cepat pergi ke mini market untuk beli yang gue bilang tadi. Kalau nggak ... lu nggak bakal gue bayar!" ancam Rizky dengan nada penekanan.
"Mereknya apa, Pak?" tanya Ali dengan cepat, mendadak wajahnya langsung cemas lantaran takut mendengar kata tidak dibayar.
"Apa saja, tapi cari yang mahal dan pakai uang lu dulu, gue lupa bawa dompet."
"Bod*h sekali lu!" Rizky menepuk pundak Ali dengan kasar dan penuh emosi. Ihsan belum sempat dia hajar, tetapi rasanya Rizky mau menghajar salah satu anak buahnya itu.
"Sudah sana pergi, Al. Pak Rizky pasti bayar kita, dia 'kan kaya." Aldi mendorong tubuh temannya itu supaya cepat-cepat pergi, sebab dia melihat Rizky sudah mengepalkan tangannya.
Ali langsung berlari meninggalkan mereka dan selang beberapa menit saja, dia kembali dan memberikan plastik putih yang berisi pesannya tadi pada Rizky.
"Kalian tunggu gue sepuluh menit, jangan kemana-mana dan buat curiga orang lain." Rizky menunjuk wajah Ali dan Aldi bergantian. "Setelah gue mandi ... gue bakal mengadakan perang!"
Setelah mengatakan hal itu, Rizky berlalu pergi dan masuk ke dalam toilet, meninggalkan mereka yang tengah berdiri sambil menyenderkan punggungnya pada mobil.
"Perang apa maksud Pak Rizky, Di? Kita 'kan nggak disuruh bawa senjata sama Pak Reymond?" tanya Ali pada Aldi.
"Memang nggak disuruh, tapi kita 'kan memang sudah membawa senjata kalau kemana-mana," jawabnya santai.
"Kamu bawa pistol?" tanya Ali seraya berbisik.
"Bawa."
__ADS_1
"Mana?"
"Kamu juga punya, ngapain tanya punyaku."
"Dih, aku nggak bawa." Ali menggeleng cepat.
"Itu di dalam celana apa?" Aldi menunjuk pusat tubuh Ali, ternyata yang dia maksud adalah senjata lain dan Ali pun langsung terkekeh.
"Dih, aku tanya beneran juga. Malah ngajak bercanda."
"Kita bercanda dulu, sebelum kerja. Nanti pas waktunya kita nggak bisa bercanda, Al," ucap Aldi dengan ekor mata yang melirik kesana kemari, melihat situasi.
Selang sepuluh menit, Rizky yang berstatus menjadi bosnya itu keluar dari kamar mandi. Dia terlihat segar habis mandi dengan rambutnya yang basah. Sayangnya rambutnya itu tak dia pakaikan shampoo, hanya air saja. Sebab dia lupa memesannya dan Ali juga tak punya inisiatif untuk sekalian membelinya.
"Nah begitu dong, Pak. Bapak terlihat tambah tampan," puji Ali sambil tersenyum.
"Halah, gue nggak mandi juga sudah tampan. Ayok ikut jalan di belakang gue!" perintah Rizky seraya berjalan menuju bengkel dengan gagahnya, ditemani mereka berdua yang berbadan kekar.
Bengkel itu tidak terlalu ramai, hanya ada tiga mobil yang tengah di servise dan tepat pada mobil ketiga, Rizky dapat melihat sesosok orang yang dicarinya.
Ihsan yang tengah nongkrong sembari mengisi angin pada ban mobil, secara tiba-tiba tubuhnya didorong kuat oleh Rizky sampai dia tersungkur di lantai.
Bruk!
Tidak sampai disitu saja, Ihsan juga terhenyak saat kepalan tangan pria itu sudah menonjok pada pipi kanan kirinya.
Bugh! Bugh!
"Itu akibat karena lu sudah mengganggu istri orang!" geram Rizky dengan penuh kebencian.
Merasa tak terima dan emosi diperlakukan seperti itu secara tiba-tiba, Ihsan langsung berdiri dan mendorong tubuh Rizky hingga punggungnya terhentak pada tembok. Satu kepalan tangannya segera mendarat dan berhasil menonjok pipi kiri Rizky.
Bugh!
"Kau mau cari mati denganku, ha?" bentak Ihsan.
Tangannya yang kembali mengepal hendak menonjok pipi kanan pria tampan itu, tetapi sayangnya kali ini tidak berhasil lantaran kedua lengannya sudah dikungkung oleh Aldi dan Aldi.
"Siapa kalian?" pekik Ihsan sambil melototi Aldi dan Ali, dia hendak menghentakkan kedua lengannya tapi terasa dikunci.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1059...