Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
199. Kita mulai sekarang


__ADS_3

"Nggak tahu, kita langsung ke mobil saja, yuk. Papa sakit kepala, Nell." Guntur merangkul bahu Nella, dia hampir saja oleng gara-gara sakit di kepalanya.


"Papa, Nella!" panggil Rizky yang baru saja datang. Dia terlihat seperti habis mandi, rambutnya basah dan pakaiannya juga tak sama seperti tadi saat Nella melihatnya.


"Selamat siang Nona Nella dan Pak Guntur," sapa Hersa yang berada di samping Rizky.


"Papa kok rangkul-rangkul Nella begitu! Jangan!" Rizky menepis kasar lengan papanya pada bahu Nella, lantas dia pun segera memeluk dan mencium kening istrinya.


"Maaf, Papa sakit kepala, Riz. Perut Papa juga rasanya mual." Guntur menyentuh perutnya yang tiba-tiba bergejolak, tetapi tak ingin muntah. Mungkin dia hanya mabok habis naik bianglala.


Tetesan air dari rambut Rizky mengenai wajah Nella, dan dia juga merasa aneh pada suaminya yang siang bolong mandi sambil keramas.


"Mas kok mandi siang-siang? Mana keramas lagi. Habis ngapain?" Nella memicingkan matanya, menatap curiga pada suaminya.


"Tadi gue kena sial, Nell. Jadi gue mandi."


"Kena sialnya apa?"


"Tadi 'kan gue nungguin lu di sini, eh gue malah kesiram air dari atas. Mana pesing lagi airnya." Rizky mendengus kesal sembari menyugar rambutnya ke belakang.


Degh!


Sontak Guntur membulatkan matanya, dia teringat akan air kencingnya yang berada di dalam botol.


'Apa jangan-jangan orang yang kesiram air kencingku adalah Rizky?' Guntur membatin.


"Kesiram air yang baunya pesing? maksudnya bagaimana, Mas?"


"Gue juga nggak tahu, air itu asalnya dari botol tapi tumpah ke arah gue."


Sekarang Nellalah yang membulatkan matanya, lantas dia pun menoleh pada Guntur, teringat papa mertuanya kencing dibotol.


Guntur yang sama-sama memandangnya segera menggeleng cepat, seolah memberi isyarat supaya menantunya tak bicara apa-apa.


'Apa itu air kencing Papa? Tapi kok bisa jatuh kena Mas Rizky?' batin Nella.

__ADS_1


"Papa pulang duluan deh, ya! Kepala Papa sakit banget dan mau buru-buru istirahat," ujar Guntur sambil menyentuh kepalanya. Dia langsung berbicara sebab melihat Nella sudah menganga seperti ingin mengatakan sesuatu hal.


"Sa, lu antar Papa pulang dengan mobil Papa, ya? Biar gue pulang sama Nella," titah Rizky yang mana dianggukan oleh Hersa.


*


*


*


"Bagaimana tadi naik bianglala, apa seru?" tanya Rizky seraya mengemudi. Nella duduk di sebelahnya.


"Seru, tapi sepertinya Papa alergi ketinggian, Mas. Aku jadi nggak enak tadi."


"Memangnya ada alergi ketinggian?" Rizky mengerutkan keningnya.


Nella menggelengkan kepala. "Nggak tahu, Papa yang bilang."


"Lu laper nggak? Mau makan dulu apa langsung pulang?"


"Mas mau ke kantor lagi nggak?" Nella berbalik tanya.


Bicara tentang rumah, Nella jadi ingat pada Risma dan perlakuan Rizky padanya. Rasanya dia malas tinggal di rumah Guntur, sebab merasa risih dengan adiknya Rizky.


"Mas, aku mau pulang ke rumah Mas Rizky saja," pinta Nella pelan.


"Memang kenapa? Kita baru dua hari menginap di rumah Papa dan Mama, Nell." Rizky menoleh sebentar pada Nella yang tengah murung, lalu fokus menyetir kembali. "Apa tadi Papa bicara sesuatu yang membuat lu sakit hati?"


Setengah hari Nella pergi bersama Guntur. Rizky menebak, mungkin saja ada hal yang mengganjal dalam hati Nella tentang kebersamaan mereka yang tak diketahuinya.


Nella menggelengkan kepalanya. Ingin jujur sebenarnya, tetapi rasanya tak enak. "Nggak kok, aku hanya ingin tinggal berdua saja dengan Mas Rizky. Lebih enak berdua, bisa romantis di mana saja."


"Oh ...." Rizky terkekeh, pikiran mesumnya langsung masuk ke dalam otak. "Lu mau kita bercinta, ya? Kan bisa. Mau di mana memangnya?"


"Di mana saja, asal enak."

__ADS_1


Ucapan Nella membuat Rizky salah paham, dia kira—saat ini istrinya yang cantik itu mengajaknya bercinta.


Lantas dengan segera Rizky menepikan mobilnya dan mematikan mesinnya. Kemudian perlahan dai melepaskan jas dan membuka kancing kemeja pendeknya dari atas hingga ke bawah.


"Apa yang Mas lakukan? Aku mau bercinta tapi nggak di mobil juga, Mas." Nella segera menutup dada bidang Rizky yang sudah terekspos di depan matanya. Suaminya itu kalau mengajak bercinta pasti tidak bisa ada kata tolak menolak.


"Katanya dimana saja asal enak. Gue maunya di sini bagaimana dong?" Rizky memegang kedua pinggang Nella, lalu mengangkat tubuh wanita cantik itu hingga berada di pangkuannya. Miliknya yang terasa begitu keras kini tertimpa di bawah sana.


"Tapi Mas ... nanti kejadian waktu itu terulang lagi." Rasanya malu jika mereka kembali kepergok dengan tuduhan berbuat mesum, meski memang itu benar.


"Itu 'kan diparkiran. Sekarang 'kan di jalan dan ini sepi." Rizky perlahan membelai mesra pipi kiri Nella lalu mengecup sekilas bibir merah muda itu.


Nella menoleh ke kanan dan kiri. Memang benar suasana jalan raya itu sepi dan lokasi mereka tak ada rumah sama sekali. Sepertinya akan aman.


"Tapi, Mas. Harusnya kita .... eemmpphh."


Mulut Nella tak berhasil meneruskan ucapannya sebab Rizky sendiri sudah berhasil melummat bibir itu dengan rakus.


Tangan Rizky perlahan menyingkap dress Nella yang berada di atas lutut, merambat hingga masuk ke dalam celana pendek dan CD.


Tubuh Nella meremang tak karuan. Sungguh, dia ingin meminta lebih dari itu.


"Mas, kita lanjutkan di rumah saja, ya?" Nafas Nella tersengal dan kabut gairah itu sudah memuncak, tetapi dia masih ingat bahwa ini di dalam mobil.


"Sudah kepalang tanggung, kita selesaikan di sini saja, Sayang ...," rayu Rizky. Dia pun menjilati setiap inci leher jenjang istrinya, melummatnya hingga jejak kepemilikan itu tertinggal.


'Ini enak, Mas Rizky sangat pintar.'


Nella mengigit bibir bawahnya, pemanasan yang Rizky lakukan sungguh menguji imannya saat ini. Rasanya dia ingin mendapatkan yang lebih dari itu.


"Mas, ayok kita mulai," pinta Nella terang-terangan.


Rizky tersenyum puas dan segera melepaskan leher istrinya yang sudah begitu banyak bercak-bercak yang dia tinggalkan. Lantas mengusap pelan rambut kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Duh, nggak tahan, ya? Sekarang kita mulai." Rizky tentu bangga, Nella memang selalu luluh dalam kendalinya dibidang ini.

__ADS_1


Segera Rizky menarik dress Nella ke atas lalu melucuti seluruh benang di tubuhnya hingga polos sempurna. Selanjutnya dia pun melepaskan celana luar dan dalamnya.


Dalam hitungan detik saja, penyatuan itu dimulai dan keduanya langsung bergulat di dalam mobil.


__ADS_2