
Indah memperhatikan wajah Ihsan, ia juga seperti pertama kali melihat Nella bersama pria asing. Bisanya Nella lebih sering bersama om dan papahnya.
"Dia siapa, Nell? Pacar kamu?" tanya Indah melihat sebentar pada Ihsan lalu beralih melihat pada temannya.
"Iya, dia Kak Ihsan. Pacar sekaligus calon suami aku, Ndah." Nella mengelus pelan lengan Ihsan. Walau lamarannya di tolak, setidaknya ia masih bisa berharap. Kata orang, ucapan adalah do'a. Bisa saja memang Ihsan akan jadi suaminya.
Indah tersenyum, ia ikut bahagia melihat jawaban dari Nella. "Kapan kamu menikah? Nanti aku dan Mas Reymond di undang, kan?"
"Tentu saja, masa kamu tidak di undang. Nanti undangannya aku yang berikan langsung," jawab Nella dengan yakin.
Ihsan menatap lekat wajah pacarnya itu. Perasaannya tiba-tiba tak tenang, ada rasa takut kehilangan. Apa mungkin ini adalah sebuah pirasat?
"Nella, bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Ihsan memegang punggung tangan pacarnya.
Nella mengangguk, ia meminta izin pada Indah dan Nissa dulu, sebelum mereka keluar dari kamar inap. Ihsan mengajak Nella pergi ke kantin rumah sakit.
Ihsan mencari meja yang kosong dan agak sepi, ia tak ingin pembicaraannya terganggu oleh suara berisik dari orang lain. Setelah mendapatkan meja yang ia inginkan. Lantas, mereka duduk dan memesan minuman.
Lengan Ihsan terulur dan perlahan mengenggam tangan Nella dengan lembut.
"Nell, aku kok takut, ya? Aku takut kehilanganmu. Takut kamu diambil orang lain," ujarnya lirih.
Nella tersenyum malu-malu, pipinya sudah merah merona. "Kakak sedang merayuku, ya?"
Ihsan menggeleng cepat. "Tidak, aku serius. Sejak sehari setelah lamaranku ditolak, jujur aku sangat gelisah. Aku takut, Nell. Takut kamu pergi meninggalkan aku, aku sangat mencintaimu," ucapnya tulus.
Mendadak hati Nella merasa terenyuh, ia juga binggung tentang hubungannya dengan Ihsan. Apalagi setelah peristiwa tadi pagi.
"Aku juga sangat mencintai Kakak, tapi sepertinya Papah tidak merestui hubungan kita, Kak. Aku binggung, apa kita kawin lari saja?"
"Ish jangan! Itu tidak baik, nanti aku bisa dimarahi Papahmu, dikira menculik gadis orang. Tapi ... aku juga mengerti alasan Papahmu menolakku, apa mungkin aku sama sekali tidak ada harapan? Harapan hidup bersamamu?"
Nella terlihat begitu murung, bola matanya sudah berkaca-kaca.
"Kamu jangan sedih." Ihsan mencium punggung tangan Nella. "Eemm ... di mana kantor Papahmu? Apa aku boleh tau?"
__ADS_1
"Memang Kakak mau apa ke sana?"
"Iya, aku ingin bertanya sekali lagi. Mungkin saja aku masih diberi kesempatan, untuk jadi suamimu."
"Amin, Kak. Nanti Kakak pergi sama Tante Nissa saja. Dia juga mau ke kantor Papah."
"Iya." Ihsan tersenyum manis, sedikit menghilangkan rasa kecemasannya.
***
Setelah pulang dari rumah Sofyan, Gita mengajak Rizky pergi ke Mall. Jujur saja awalnya Rizky menolak, tapi lagi-lagi Gita memaksanya.
Mereka berdua mengelilingi beberapa toko pusat perbelanjaan, Gita membelikan Nella beberapa kebutuhannya. Ia membeli tas branded, sepatu high heels, beberapa dress cantik-cantik. Yang ia beli juga dengan harga fantastis, ia tidak mungkin memberikan barang KW untuk seorang Nella, itu tidak akan cocok.
Rasanya ada yang masih kurang, kini langkah Gita terhenti pada pakaian dalam para wanita, yang tentunya juga sangat seksi-seksi. Beberapa model ada disana. Ia yakin, Nella pasti akan terlihat tambah seksi nanti.
"Maaf, Ibu mencari apa?" tanya pelayan wanita yang baru saja melihat kedatangan mereka.
"Kau pergi saja dulu, aku mau lihat-lihat dulu dengan anakku." Gita mengibaskan tangannya, seolah-olah mengusir sang pelayan. Matanya meneladah pada beberapa lingerie yang terpampang nyata di patung-patung.
Rizky ikut melihatnya, memang ia suka dengan beberapa pakaian seksi milik perempuan. Tapi entah mengapa bayang-bayang wajah Nella yang menatapnya dengan tatapan tidak suka, seakan membuatnya tidak percaya diri. Ia yakin sekali, lamarannya saja ditolak, apalagi pernikahannya.
"Mamah, menurutku tidak usah membelikan pakaian seperti itu untuk Nella, segini juga sudah cukup, sudah banyak." Rizky menarik turunkan tentengan yang ia bawa, beberapa paper bag belanjaan sang mamah.
"Mana bisa seperti itu, ini 'kan pakaian wajib untuk malam pertamamu. Kau jangan seperti itu sih, Riz! Kau memang tidak suka sama Nella? Dia sangat sempurna, Mamah ingin dia jadi menantu Mamah!" Gita mendengus kesal.
"Bukan aku tidak suka, tapi dianya yang tidak suka padaku. Memang Mamah tidak lihat sikap Nella tadi? Dia seperti jijik melihatku, Mah!" sekarang giliran Rizky yang kesal.
"Jijik ya wajar, kan memang kelakuanmu yang menjijikan! Mangkanya, kalau jadi pria tuh mikir! Kau sering bercinta dengan wanita, tapi kenapa harus melakukannya di toilet? Memang tidak ada tempat lain apa?" Gila menonjok lengan Rizky dengan sekuat tenaga, merasa gemas pada anaknya yang tidak tau malu itu.
"Pokoknya, sehabis menikah dengan Nella. Kau jangan pernah melakukan kebiasaannya burukmu itu!" tegur Gita dengan penuh penekanan.
"Iya, iya," jawab Rizky malas.
"Yasudah, pilih yang mana? Kau suka dengan model yang seperti apa?" Gita kembali menunjuk-nunjuk beberapa pakaian seksi itu.
__ADS_1
"Yang itu saja." Rizky menunjuk lingerie yang tadi Gita tunjuk, dengan model celana bolong di tengah dan transparan.
"Pelayan, sini kamu!" Gita memanggil pelayan wanita yang berdiri agak menjauh dari mereka, ia memang sengaja, takut menganggu.
"Yang mana, Bu?"
"Yang itu." Gita menunjuk pakaian yang dimaksud tadi. "Bungkuskan enam, dengan berbeda warna."
"Baik, Bu."
Rizky terbelalak. "Kenapa banyak sekali? Satu saja Nella belum tentu mau memakainya?"
"Kata siapa? Nanti Mamah yang memintanya."
Setelah semuanya selesai, mereka beralih untuk membeli perhiasan. Satu set perhiasan untuk Nella. Ia juga memesan cincin pernikahan untuk Rizky dan Nella. Gita memesan ukuran cincin yang sama dengan cincin lamaran yang sempat Nella tolak.
"Memang kapan aku menikahnya, Mah?"
"Besok."
Rizky kembali terbelalak. "Besok? Kenapa cepat sekali? Terus menikahnya dimana?"
"Di Hotel lah, Papah dan Sofyan sedang mengurusnya sekarang. Kau tenang saja, Riz. Kau dan Nella tinggal duduk di pelaminan dengan wajah bahagia setelah ijab kabul." Gita sudah terbayang Rizky dan Nella duduk berdampingan dengan memakai baju pengantin, ia tentunya sangat bahagia.
"Tapi kok, kenapa kita tidak fitting baju pengantin? Gaun untuk Nella bagaimana?"
"Kita pakai WO Bu Santi, dia juga tau ukuran pakaianmu dan pakaian Nella. Kau tenang saja, semuanya akan beres!" ungkapnya dengan percaya diri.
***
Beruntung Ihsan datang bersama Nissa. Jika tadi ia datang sendiri, sudah pasti tidak akan diperbolehkan oleh satpam penjaga kantor. Bahkan kedatangannya tadi sempat di tanya-tanya, karena melihat wajahnya yang asing.
Mereka berdua menaiki lift bersama, ruangan Sofyan ada di lantai paling atas.
"Ihsan. Apa Tante boleh tau, ada hal apa yang ingin kamu bicarakan dengan Papahnya Nella?"
__ADS_1
Jangan lupa like 💕