Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
238. Ayank Sofyan


__ADS_3

"Terus saya harus panggil apa? Mas?"


Sofyan menggeleng. "Nggak ah, panggilan itu terlalu pasaran."


"Abang?"


"Kayak tukang baso, May."


"Aa?"


"Nggak cocok." Sofyan menggeleng.


"Om?"


"Jangan."


"Eeemmm ... Papa?"


"Kita 'kan suami istri, May. Ya memang kamu lebih pantes jadi anakku, tapi kalau panggil Papa kayaknya agak gimana gitu." Sofyan menggaruk kepalanya.


Maya terdiam beberapa saat, sampai akhirnya berkata, "Kalau Ayank gimana, Pak?"


Sofyan membulatkan matanya, namun seketika kedua pipinya merah merona. Dia juga tampak malu-malu. "Ah nggak, itu terlalu lebay. Aku 'kan bukan anak abg, May."


'Tapi manis juga sih panggilan itu, terdengar begitu mesra lagi.' Lain di mulut lain di hati. Sebenarnya Sofyan setuju, tetapi malu untuk mengungkapkannya.


"Terus apa dong, Pak?" Maya mengerutkan keningnya binggung. "Eemm ... Ayank saja deh, ya? Nggak apa-apa kayak ABG juga."


Sofyan mengangguk kecil. "Ya sudah deh kalau kamu memaksa."


Jantung Sofyan rasanya ingin lompat sekarang juga karena sangking senangnya. Mungkin kalau tidak sedang naik pesawat dia sudah lompat-lompat.


Aldi yang tengah duduk di kursi belakang mereka hanya bisa terkekeh dan geleng-geleng kepala. Dia tentu mendengar apa yang dibicarakan di antara mereka. Rasanya begitu menggelitik terdengar di telinganya.


'Pak Sofyan sok sok'an nggak mau, padahal berharap,' batin Aldi.


"Kamu kalau capek bisa tidur dulu, kalau pegal bisa menyandar ke pundakku." Sofyan menepuk pundak kirinya.


"Saya—"


"Aku saja, biar nggak kaku ngomongnya," sela Sofyan.

__ADS_1


Maya mengangguk. "Iya, maksudku, aku nggak ngantuk, Ayank."


"Oh ya sudah, kita mengobrol saja kalau begitu, ya?" Sofyan menatap lekat wajah Maya yang sama-sama menatapnya. Bibir merah merekah itu sangat begitu menggoda. Rasanya dia ingin mengecupnya walau sebentar. Tetapi rasanya malu, takut Maya menolaknya. "Apa aku boleh tanya sesuatu, May?"


"Bicara saja, Pak. Eh, Ayank."


"Apa kamu suka sama Hersa, May?"


Maya agak terkejut mendengar itu semua, matanya sampai membulat dan pipinya juga merona.


Melihat itu semua—sontak membuat dada Sofyan bergemuruh. Hatinya juga langsung terasa sakit.


"Suka ya, May? Apa jangan-jangan kamu dan dia juga pacaran?" tanya Sofyan lagi.


Maya menggeleng cepat. "Nggak, saya dan dia hanya rekan kerja, Yank."


"Kalau suka?"


"Itu ...." Maya terlihat ragu untuk mengatakannya. Dia ingat statusnya sekarang adalah istrinya Sofyan, dan rasanya tak baik jika mengatakan kalau suka dengan pria lain.


"Jujur saja, nggak apa-apa kok. Aku nggak akan marah."


Maya hanya mengangguk kecil. Tetapi begitu saja sudah cukup menjawab semuanya.


Maya menatap dalam manik mata Sofyan, terlihat begitu tulus dan itu membuat hatinya terasa hangat.


"Mau ya, May?" pinta Sofyan. Tangan Maya dia dekatkan ke arah bibirnya. Lalu mengecup punggung dan telapaknya.


Maya tersenyum tipis dan mengangguk kecil. "Iya, aku akan berusaha, Yank. Aku juga nggak mau mempermainkan pernikahan."


Sofyan langsung memeluk tubuh Maya dengan erat dan penuh cinta, lalu menciumi rambutnya yang wangi aroma shampoo.


"Terima kasih, May. Kamu manis sekali. Kalau ada yang nggak suka dariku entah apa pun itu ... bicara saja, nggak perlu merasa sungkan, ya?"


"Iya, tapi masalahnya kita menikah juga tanpa sepengetahuan Om dan Tanteku, Yank. Dan janjiku pada mereka belum terpenuhi."


"Kamu 'kan sudah ada uang dari Rizky, dan nanti kita akan sama-sama menemui Om dan Tantemu untuk membicarakan pernikahan kita yang sudah berlangsung." Sofyan tersenyum, lalu menangkup kedua pipi Maya.


"Tapi ... ah, tabunganku, tabunganku sepertinya hilang." Maya baru saja ingat jika sejak tadi tak melihat tasnya. Bahkan sejak dia bangun dari pinsan. "Kartu atmku ada di dompet dan di dalam tas, Yank. Tapi tasku entah kemana."


Sofyan mendekatkan tubuhnya ke arah Maya. "Aku sudah menyuruh Aldi untuk mengurusnya, kamu tenang saja."

__ADS_1


Maya menghela napasnya lega. "Alhamdulillah, aku sempat mengira ... eemmpp ...."


Cup~


Sofyan secara tiba-tiba meraup lembut bibir Maya. Gadis itu tampak terkejut hingga kedua matanya membulat sempurna. Sofyan memagut perlahan, lalu menyesapnya. Tangan kanan Sofyan langsung meraba salah satu buah dada Maya, dia ingin menyusup dari atas gaun itu tetapi terlihat susah. Akhirnya dia hanya meremasnya saja, tetapi dengan kedua tangan.


'Harusnya kita ganti baju saja tadi, ya. Biar enak,' batin Sofyan.


Lumattan yang awalnya lembut itu kini menjadi sedikit kasar, suara decakan itu mampu di dengar oleh Aldi.


Syukurnya di dalam pesawat itu hanya mereka bertiga yang menjadi penumpang di kelas VVIP, jadi tak ada yang menonton.


Mata Aldi terpejam, tetapi dia belum tidur. Dan sekarang dia harus pura-pura tak mendengar apa-apa.


'Pak Sofyan nggak mungkin bercinta di pesawat 'kan, ya? Semoga saja,' batin Aldi.


Maya terlihat hanya diam saja dan pasrah. Ingin menolak awalnya, tetapi remassan yang Sofyan lakukan pada buah dadanya itu cukup membuat tubuhnya meremang tak karuan. Sensasi itu sangat terasa enak, dan Maya menikmatinya.


Sesuatu yang berada di dalam celana Sofyan terasa mengeras. Dia sepertinya memberontak ingin segera dibebaskan. Dan semalam Sofyan juga tak jadi bermain sabun, karena sempat sakit hati.


Kepala Sofyan kini turun ke arah leher putih Maya. Semalaman belum sempat menyentuh leher itu dan sekarang dia menginginkannya.


Pria berumur itu menjilatinya perlahan-lahan dan mellumatnya.


"Aahh!" Dessahan di bibir Maya langsung lolos seketika, terdengar begitu nyaring hingga Aldi pun membuka matanya dengan lebar.


Maya lantas melipat bibirnya lalu menutupnya dengan salah satu tangan. Tangan kanan Sofyan kini berkelana hingga menjalar ke arah punggung gadis itu, dia tengah mencari-cari resleting gaun.


Baru saja hendak diturunkan setelah ketemu, tetapi lengannya langsung dicekal oleh Maya.


Sofyan langsung melepaskan leher Maya dan memandangi wajahnya, wajah gadis itu sama-sama merah seperti dirinya.


"Kenapa?" tanya Sofyan dengan kening yang berkerut.


"Ini di pesawat, Ayank. Masa kita berdua ...?"


"Kita nggak akan melakukannya, Sayang. Nanti saja di rumah. Tapi ini hanya pemanasan. Aku ingin melihatnya." Sofyan menyentuh kedua dada gadis itu yang masih berbalut gaun.


"Tapi aku malu. Dan di sini juga ada Pak Aldi."


Sofyan memiringkan tubuhnya untuk melihat Aldi yang berada di belakang, pria itu terlihat tenang dan memejamkan mata.

__ADS_1


"Dia tidur kok, dan di sini juga sepi. Nggak akan ada yang lihat."


"Tapi aku malu, Ayank." Maya lagi-lagi menahan lengan Sofyan saat hendak menurunkan resleting gaunnya.


__ADS_2