Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
259. Kurap dan Congek


__ADS_3

Keduanya langsung terperanjat dan melepaskan ciuman. Cepat-cepat Maya membereskan kemejanya lalu duduk di kursi sebelah dengan wajah merah dan menundukkan kepala. Dia benar-benar malu.


"Selamat pagi, boleh dijelaskan apa yang kalian lakukan? Dan tolong pinggirkan mobilnya, karena mobil Anda menganggu pengendara lain."


Mereka tak sadar, jika mobil itu berada ditengah-tengah. Bahkan membuat macet jalan raya tersebut dan begitu nyaring suara klakson dari pengendara mobil yang berada di belakang.


Maya mengangguk, lalu menekan kunci seraya menyalakan mesin mobil. Tetapi saat distater—mobilnya tak menyala.


"Ah Sayang. Apa kamu lupa kalau mobilmu memang mogok?" tanya Sofyan. Dia berpura-pura dan sengaja mengatakan hal itu.


"Mogok?" Maya mengerenyit heran. "Ah iya, mobilnya ternyata mogok." Maya jadi ikut-ikutan berbohong. Jantungnya berdebar kencang, dia benar-benar takut jika sudah berhubungan dengan polisi.


"Kita turun dulu, May." Sofyan menarik lembut tangan istrinya, lalu turun dari mobil sama-sama.


Ternyata polisi itu tidak sendiri, ada rekan seprofesinya yang berada di dalam mobil polisi. Lantas dia pun turun, lalu mendorong mobil Maya ke sisi jalan raya.


"Kamu nggak perlu takut, santai saja. Kan ada aku." Sofyan merasakan tangan Maya begitu dingin dan basah saat dia genggam. Wanita itu terlihat ketakutan.


"Bisa kalian jelaskan dulu, kenapa kalian berbuat mesum ditengah jalan? Dan ... apa kalian nggak merasa malu?" tanya sang polisi yang menghampiri Maya dan Sofyan di pinggir jalan. Di sebelahnya ada rekannya, dia berkumis tebal.


Sorotan mata pria itu sangat tajam terhadap Sofyan, tetapi terlihat sama sekali tak ada rasa takut dan bersalah pada wajah Sofyan. Dia justru tersenyum.


"Maaf, Pak. Tadi mobilnya mogok ditengah jalan dan ...." Sofyan mengantung ucapannya begitu saja lantaran tak ada satu pun ide yang muncul di otaknya yang akan dijadikan alasan.


"Dan Bapak dengan gadis ini berbuat mesum, begitu? Apa kalian sudah menikah?" tanya polisi.


"Sudah, kami malah pengantin baru," jawab Sofyan cepat.


"Boleh tunjukkan kami bukti kalau kalian sudah menikah? Dan berikan STNK dan SIM Anda. Siapa tadi yang menyetir?"


Maya segera mengambil tasnya yang berada di dalam mobil, lalu membuka isinya dan mencari-cari dompet.


Setelah dilihat—ternyata SIMnya tidak ada, sepertinya bukan hanya KTPnya yang dimusnahkan saat di Singapura, namun SIMnya juga.


Melihat gelagat aneh dan ekpresi wajah Maya yang ketakutan, Sofyan langsung mengerti.


"Tadi saya yang menyetir, Pak. Sebentar ... saya ambil dulu SIM dan STNKnya." Sofyan segera merogoh dompetnya pada kantong belakang celananya. Tetapi dia hanya memberikan SIM, sebab STNK mobil tersebut memang tak punya.


"STNKnya?" tanya polisi itu lagi.


"Kamu yang pegang, kan? Berikan STNKnya, May." Sofyan menatap Maya, wanita itu mendekati telinga kirinya seraya berjinjit. Sofyan segera membungkuk supaya Maya dapat membisikkan sesuatu padanya.

__ADS_1


"STNKnya nggak ada, Ayank."


"Kok nggak ada? Hilang?" tanyanya pelan.


"Saat beli memang nggak ada."


"Kalau BPKB?"


"Nggak ada juga."


"Maksudmu ini mobil bodong?" Sofyan mengerenyitkan dahinya.


Maya mengangguk sebagai jawaban, dan sontak kedua mata Sofyan membulat sempurna.


"Cepat beritahu STNKnya, Pak!" pinta polisi itu dengan nada memaksa.


"STNKnya hilang, Pak. Istri saya lupa menaruhnya," jawab Sofyan berbohong.


"Kalau buku nikah?"


"Buku nikah ada di rumah, masa saya bawa-bawa."


"Kalau KTP istri Anda?"


"Baik, kalau begitu Bapak dan Nona silahkan ikut kami ke kantor polisi." Polisi itu langsung mencekal lengan kanan Sofyan, begitu pun dengan rekannya. Tetapi dia mencekal lengan Maya.


Wanita itu langsung membulatkan matanya, kemudian menoleh ke arah Sofyan.


"Ayank ... aku nggak mau dibawa ke kantor polisi, aku takut," ujarnya dengan wajah ketakutan.


"Tunggu sebentar, Pak." Sofyan menahan kakinya saat hendak ditarik masuk ke dalam mobil polisi. Dia terdiam beberapa saat mencari ide, rasanya akan runyam nanti jika mereka ditangkap. Ditambah mobil Maya juga bodong, bisa-bisa akan ditahan. "Saya orang sibuk, begitu pun dengan istri saya. Kita berdua mau pergi ke kantor ada meeting penting. Bagaimana kalau kita selesaikan dengan cara kekeluargaan saja?"


"Maksudnya Bapak mau sogok kami dengan uang? Itu nggak akan bisa!" tegasnya sambil melotot.


Polisi itu kembali menarik tubuhnya untuk masuk, tetapi kedua kaki Sofyan masih berusaha menahan. Sedangkan Maya sudah masuk lebih dulu ke dalam sana bersama polisi yang satunya.


"Siapa yang mau nyogok dengan uang? Tapi kita 'kan memang berteman. Masa kamu seperti itu padaku ...." Sofyan menatap papan nama yang terdapat di seragam pria di depannya. "Hartono. Ah, kita itu dulu satu SMP. Apa kamu lupa?"


Sofyan kembali berpura-pura, siapa tahu dia mampu mengibuli polisi itu.


Polisi yang bernama Hartono itu lantas mengerutkan keningnya. Memang dilihat dari wajah—tampaknya dia memang seumuran.

__ADS_1


"Saya nggak kenal Bapak," jawabnya sambil memandangi wajah Sofyan. Dia juga tengah mengingat siapa saja teman-temannya saat SMP. Tetapi memang wajah Sofyan sangat asing di matanya.


"Tega sekali, masa kamu lupa? Kita bahkan pernah kencing bersama, berak bersama dan saling bertukar cellana dalam." Sofyan berekspresi sesedih mungkin.


"Tapi memang saya nggak punya teman yang bernama Sofyan ...." Hartono menatap KTP Sofyan, melihat nama belakangnya. "Sofyan Prasetyo. Iya, saya nggak punya teman yang bernama Sofyan Prasetyo."


"Coba sebutkan siapa saja nama temanmu, Tono." Sekarang Sofyan sudah lebih akrab, sampai menyebut nama panggilan sesuka hatinya.


"Wawan, Jaya, Bejo dan Tata. Selain itu saya lupa lagi. Cuma hanya empat orang yang memang teman dekat."


"Nah itu, aku yang bernama Tata. Tapi aku memang ganti nama dan operasi plastik karena sempat kecelakaan."


"Tata?" Hartono menautkan kedua alis matanya, dia masih menatap wajah Sofyan yang terlihat begitu meyakinkannya. "Tata kurap bukan?"


"Dih, kok kurap?" Sebelah sudut bibir Sofyan terangkat dengan mata mendelik.


"Iya, Tata temanku dulu kurapan. Kamu dia bukan?" tanyanya penasaran.


"Oh, iya. Aku si Tata kurap." Sofyan tersenyum aneh, dia terpaksa mengiyakan demi meyakinkan semua cerita bohongnya itu. 'Kenapa harus kurapan?' batinnya meringis geli.


Hartono terbelalak, sontak saja dia pun langsung memeluk tubuh Sofyan, lalu mengelus punggungnya.


Sofyan terkejut, tetapi dia diam saja dan pasrah.


"Tata, ternyata ini kamu? Sudah lama sekali aku nggak bertemu denganmu. Aku sempat dengar kalau penyakit kurapmu itu nggak sembuh-sembuh, tapi sekarang aku lihat kamu jauh lebih baik. Dan juga sangat tampan."


Tak lama terdengar suara isakan tangis yang pecah. Rupanya berasal dari Hartono. Pria itu menangis tersedu-sedu di pundak Sofyan.


Sofyan melepaskan pelukan, lalu menyeka air mata pria itu. Tampaknya dia sangat percaya jika Sofyan benar-benar si Tata kurap, wajahnya juga terlihat sedih bercampur senang saat melihat wajah Sofyan.


Mungkin Hartono sedih karena penyakit kurap Tata yang katanya tak kunjung sembuh, dan senangnya karena sudah lama baru bertemu kembali.


"Kamu nggak perlu menangis, aku baik-baik saja sekarang. Penyakit kurapku sudah sembuh," ujar Sofyan menenangkan. Dia mengelus lengan pria itu dengan lembut.


"Kamu obati dengan apa? Kok tubuhmu sekarang putih bersih?" Hartono memerhatikan leher Sofyan.


"Aku obati dengan salep yang beli di apotik."


"Bukannya obat mana pun kamu bilang nggak mempan, ya? Oh ... terus telingamu sekarang bagaimana? Terlihat sangat sehat sekarang." Hartono sekarang beralih menatap kedua telinga Sofyan, dan pria itu langsung memegangi keduanya.


"Sehat? Memang dulu telingaku kenapa?"

__ADS_1


"Dulu 'kan kamu congek'an."


Sofyan langsung terbelalak. 'Astaga! Sudah kurap sekarang congek. Kasihan dan menggelikan sekali si Tata.'


__ADS_2