
Rizky tak menghiraukan jeritan dan rintihan tangis istrinya, yang ia pikirkan adalah kenikmatan tiada tara, merasakan miliknya seakan terjepit dan membuatnya makin bergairah.
"Ah ... ah!" desah Rizky seraya menggempur tubuh Nella dari atas.
Ternyata begini rasanya bercinta dengan seorang gadis? Rasanya sangat-sangat nikmat. Kenapa tidak dari dulu saja gue menikah dengan Nella, kalau tau akan senikmat ini' batin Rizky.
"Pak, apa bisa dihentikan dulu? Milikku sakit sekali ...." Nella berucap dengan pelan dan memasang wajah memelas, wajah memelas itu asli, bener-bener asli. Ia seperti tengah memohon ampun pada Rizky untuk menghentikan aktivitas panasnya. Tubuh bagian bawah Nella begitu sakit dan ngilu.
Rizky menghentikan aktivitas sejenak, lengannya terulur untuk menarik secarik tissu. Dengan masih menyatukan tubuhnya dan tubuh Nella, Rizky menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Sudut bibirnya tersenyum bahagia saat mata istrinya memandanginya. Rona kebencian itu lagi-lagi tampak, bahkan semakin banyak. Ya ... mungkin bisa dikatakan Nella makin membenci pria yang saat ini berada di atasnya. Tapi Rizky tak peduli, yang terpenting ia sudah memiliki Nella seutuhnya.
"Apa gue mainnya terlalu kasar?" tanya Rizky seraya mengecup bibir Nella singkat. Permainannya tidak kasar sebenarnya, namun ini adalah pengalaman pertama bagi Nella. Jadi wajar jika merasa sakit yang benar-benar hebat.
"Iya, apa kita bisa udahan dulu?" mohon Nella.
"Nggak bisa Nella Sayang. Gue udah nanggung." Rizky kembali tersenyum dan menarik turunkan pinggulnya.
"Aaww!!" jerit Nella menangis.
Bagi Nella ini sangat menyakitkan, namun bagi Rizky ini sangat mengasyikkan. Ia tampak bersemangat melakukannya, kedua tangannya juga kembali meremas dua benda kenyal dan sesekali menghisapnya.
Tak ada penolakan lagi pada tubuh gadis yang menjadi wanita itu. Nella bukan menikmatinya, ia lebih tepatnya sudah pasrah lantaran seluruh tubuhnya lemas tak berdaya.
Mulutnya ingin menjerit dan merintih, namun dibungkam oleh mulut Rizky. Untuk saat ini, seluruh tubuh Nella benar-benar sudah dikendalikan oleh Rizky.
Rizky ingin merubah gaya bercintanya, namun ia tak tega melihat Nella yang sedari tadi diam saja. Ia juga merasa tubuh Nella seperti tanpa tenaga.
Apa dia benar-benar capek? Padahal rasanya nikmat sekali' batin Rizky.
"Ah ... ah!" Rizky kembali mendessah dan menggempur tubuh Nella lebih kuat lagi, sebab ia sudah berada dipuncak tertinggi. Rizky menekan miliknya untuk memasukkan hingga ruang terdalam, membuat Nella kembali meringis ngilu karena terpentok kepala dari senjata Rizky.
Semburan larva panasnya masuk dengan sempurna diiringi erangan panjang Rizky. "Aaaahhh ...."
__ADS_1
Rizky yang sudah tak bertenaga langsung menubruk tubuh Nella, tubuh mereka kembali menempel hingga keringat mereka pun menjadi satu. Rizky dan Nella saling mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, Rizky mendekatkan mulutnya pada telinga Nella seraya berbisik. "Tubuh lu luar biasa, Nell. Bukan hanya indah ... tapi terasa sangat nikmat. Gue suka."
Sekarang giliran Nella yang berbisik pada telinga Rizky. "Tapi aku nggak suka, aku makin membenci Bapak."
Rizky mengangkat tubuhnya dan mencabut miliknya yang sudah mengecil itu, namun ia masih bisa menyempatkan untuk mencium pucuk kepala istrinya. "Gue nggak peduli. Mau sebenci apapun lu sama gue, gue tetaplah suami lu, Nell!" Rizky membaringkan tubuhnya di samping Nella, mendekapnya dari belakang.
"Lepas," lirih Nella. Ia hanya berucap tanpa menepis lengan Rizky pada perutnya.
"Sudah sih, gue tau lu capek. Lebih baik kita tidur saja." Rizky tak menghiraukan ucapan Nella, ia justru makin mendekapnya dan menciumi rambut istrinya. Perlahan mata itu sayu dan terpejam.
Apa yang dikatakan Rizky memang benar, Nella ingin melepaskan dekapan itu namun tak punya tenaga. Ia memutuskan untuk ikut memejamkan matanya, melepaskan rasa capek dan lelahnya dengan cara tertidur pulas.
***
Pagi hari.
Nella membuka matanya secara perlahan, pandangan matanya terasa buram sekali. Lantas ia mengusap-usap kelopak matanya dengan kedua tangannya sendiri.
Saat pandangan mata itu terlihat begitu jelas, Nella langsung terbelalak kala melihat Rizky yang tengah duduk menyilang kaki di sofa. Pria tampan itu seperti habis mandi, ia memakai celana jeans berwarna hitam dan kemeja pendek berwarna hijau tosca. Rambutnya masih basah, namun sedari tadi matanya menatap Nella dengan mengukir senyuman indah.
"Selamat pagi istri gue yang cantik, bagaimana tidurnya? Apa lelap?" tanya Rizky sambil meraih secangkir kopi hitam di atas meja yang masih beruap, ia menyeruputnya secara perlahan. "Ah!"
Nella menarik tubuhnya untuk bangun, namun rasa ngilu dan sakit pada bagian intinya seakan mengingatkannya pada kejadian semalam. Ia kira, semalam hanyalah mimpi buruk. Pada kenyataannya, mimpi buruk itu nyata sebab Nella saat membuka selimut—terlihat tubuhnya polos dan ada beberapa tanda kepemilikan yang Rizky buat berwarna merah keunguan.
"Aaww!!" Nella meringis pelan, upayanya untuk mengangkat tubuhnya sia-sia saja. Nella tak punya tenaga. Ia kembali berbaring.
"Apa tubuh lu masih sakit?" tanya Rizky seraya menghampiri, ia duduk didekat kepala Nella dan mengelus pipi istrinya yang baru saja berpaling. "Lu mau mandi dulu atau sarapan dulu?" suara Rizky terdengar begitu lembut.
Dia pasti sangat bahagia sekarang, setelah apa yang dia lakukan padaku selamam. Dasar pria brengs*k dan tidak tau malu! Aku benci padamu, Rizky!' umpatnya dalam hati.
"Nella, kenapa lu diam saja? Lu mau mandi atau sarapan dulu?" Rizky mengulang pertanyaan lagi karena belum menerima jawaban, ia mengelus pelan rambut Nella.
__ADS_1
"Aku ingin menagih syarat dari Bapak sekarang juga!"
"Syarat? Syarat apa?" Rizky mengerenyitkan kening.
Nella menoleh padanya, menatap tajam mata Rizky. "Bisa-bisanya Bapak lupa? Oh ... apa Bapak lupa ingatan?" jelas sekali Nella marah, Rizky terlihat sengaja pura-pura lupa.
"Syarat yang mau bantuin lu supaya kita bercerai?"
"Iya."
"Eemm ...." Rizky terdiam sejenak dan mengangguk-angguk. "Gue akan pikirkan nanti."
"Kenapa harus nanti? Kenapa nggak sekarang saja?"
"Iya, iya. Lu sabar dikit. Gue akan pikirkan caranya, nanti gue bicara sama Papah lu." Rizky tersenyum, ia membungkuk dan mengecup kening Nella. Namun segera Nella usap dengan tangannya, ia juga menepis kasar tangan Rizky pada rambutnya.
"Nggak usah pegang-pegang!" protesnya dengan kesal.
"Pelitnya ya ampun! Udah dikasih enak juga." Bukannya ikut kesal melihat wajah cemberut Nella, Rizky justru gemas hingga mencubit lembut kedua pipi istrinya itu.
"Enak enak! Sakit tau, nggak! Dasar Mesum!" pekik Nella seraya melempar bantal pada wajah Rizky.
Rizky terkekeh geli. "Apa yang sakit? Lu semalam menikmati, kan?"
Nella memalingkan wajahnya sambil mencebik bibirnya. "Cih siapa yang menikmati? Nggak, ya!" bantah Nella. "Cepat telepon Papah, Pak! Aku ingin mendengar langsung Bapak membantuku!"
"Ini masih terlalu pagi dan enaknya ngobrol dengan orang tua itu secara langsung, apa lagi hal penting."
"Ya sudah, kita pulang saja dari sini, lalu ke kantor Papah."
"Liburan kita seminggu, Nella. Gue juga masih betah tinggal di sini dengan lu."
__ADS_1
"Kok Bapak kayak gitu, sih?" Nella memicingkan matanya, menatap wajah Rizky dengan curiga. Pria tampan itu sedari tadi senyum-senyum sendiri sambil memandanginya. "Bukannya Bapak bilang mau membantuku? Kenapa banyak sekali alasan?"
Jangan lupa like đź’•