Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
203. Kinyis-kinyis


__ADS_3

"Dih, sembarangan saja kamu kalau ngomong!" bantah Sofyan. Dia jelas tak terima karena memang bukan itu tujuannya datang ke sini.


"Terus apa dong? Kok wangi dan tampan sekali?" Rizky masih terkekeh lalu memperhatikan Sofyan dari ujung kaki ke ujung kepala.


Nella menghirup aroma minyak wangi Sofyan, dia baru sadar jika memang papanya itu jauh lebih wangi dari biasanya. Dan aroma minyak wanginya tercium asing, sepertinya Sofyan juga mengganti minyak wangi. Untungnya Nella tak merasa mual.


"Minyak wangi Papa sepertinya baru." Nella melepaskan pelukan itu dan memperhatikan wajah Sofyan. "Iya, Papa juga sangat tampan. Ada apa ini, Pa?" Senyum Nella langsung mengembang. Tercetak jelas ada rona kebahagiaan di wajah cantiknya.


"Sepertinya sebentar lagi kita akan punya Mama baru, Nell," tambah Rizky. Lagi-lagi dia menggoda Sofyan.


"Jangan ngaco deh, Riz!" tukas Sofyan sambil terkekeh. "Papa ke sini karena mau mengontrol kondisi jantung."


"Jantung Papa kenapa memangnya? Sakit?" tanya Nella cepat.


Sofyan menggeleng. "Nggak sakit, cuma dari pagi berdebar saja, Nell." Sofyan menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang sudah kembali normal usai diperiksa.


"Jatuh cinta kali, Pa," tambah Rizky lagi.


Sofyan menghela nafas dan tersenyum. "Heh, sudah sih. Dari tadi kamu menggoda Papa terus, Riz."


"Ya itu Papa bilang berdebar tadi, ucapannya seperti orang sedang jatuh cinta saja." Rizky bergelak tawa.


"Memang benar kok, berdebar. Tapi ini sangat cepat, jadi Papa khawatir saja."


"Yasudah, ayok aku antar Papa periksa." Nella mengandeng tangan Sofyan. Dia hendak melangkah tetapi dengan cepat ditahan oleh Sofyan.


"Papa sudah periksa kok tadi."


"Terus apa kata Dokter?" tanya Nella.


"Dokter bilang Papa harus rajin olahraga."


"Bagaimana kalau hari Minggu kita ke tempat gym yang biasa Reymond olahraga, aku tahu tempatnya," tawar Rizky.


"Papa 'kan disuruh olahraga, bukan membuat otot, Riz."


"Sama saja, nge-gym juga termasuk olahraga, Pa. Kan sama-sama tempat kebugaran."


"Oh, yasudah. Ayok kita ke sana."


"Aku mau ikut juga ya, Mas," pinta Nella pada Rizky.


"Tapi disana khusus pria, Nell. Kamu nggak bisa olahraga disana dan kamu juga sedang hamil," sahut Rizky.

__ADS_1


"Nggak masalah, aku mau menonton Mas Rizky dan Papa olahraga saja."


"Jangan deh, disana juga banyak pria yang nggak pakai baju. Nanti kamu terpesona, Nell. Bahaya. Otot mereka juga gede-gede," bantah Rizky. Seketika terbayang tentang tempat gym tersebut. Rasanya dia tak rela jika istrinya itu menatap otot-otot pria lain, plus takut juga kalau Nella digoda.


Nella menggelengkan kepalanya. "Itu nggak mungkin, Mas. Aku 'kan cintanya sama Mas Rizky doang."


"Mending kamu ikut kelas olahraga ibu hamil saja, nanti aku minta Mama Gita mencarikannya," saran Rizky.


"Ah iya bener." Sofyan menimpali, dia sependapat dengan menantunya. "Ibu hamil juga harus berolahraga, Nell."


"Iya, nanti aku ikut kelas ibu hamil. Tapi sebelum itu aku mau ikut kalian dulu, masa nggak boleh." Nella mengerucutkan bibirnya.


Sofyan dan Rizky saling memandang sembari geleng-geleng kepala.


"Nggak apa-apa ajak saja, Riz. Biar kamu semangat." Sekarang Sofyan beralih mendukung Nella, sebab takut jika dia marah.


"Yasudah deh." Rizky pasrah juga akhirnya, dia memang kalah kalau urusan berdebat dengan istrinya. "Tapi janji matanya jangan jelalatan nanti, ya?" Rizky mengangkat jari kelingkingnya ke arah Nella.


"Belum juga berangkat, kok sudah disuruh janji?" protes Nella.


"Nggak apa-apa, ayok janji dulu."


Nella segera menautkan jari kelingkingnya ke arah Rizky. "Janji."


Lantas mereka pun berjalan sama-sama keluar dari rumah sakit menuju parkiran.


"Iya, nanti ikut nge-gym bareng."


"Bukan itu, maksudku ikut Papa sekarang."


"Mau ngapain? Papa pasti sibuk."


Nella menoleh pada Sofyan yang sejak tadi bermain ponsel. Kebetulan mobil Ali dan Sofyan terparkir sebelahan. "Pa, kita pergi ke makan Mama yok. Aku kangen sama Mama," pinta Nella.


"Ayok," jawab Sofyan tanpa mengalihkan pandangannya pada ponselnya sendiri.


"Aku nggak ikut nggak apa-apa, kan?" tanya Rizky tak enak hati. "Tapi nanti kita kapan-kapan ke makam almarhumah Mama Nina, berdua," imbuh Rizky lagi.


Mendadak perasaannya takut, takut jika Nella merengek jika dirinya harus ikut. Padahal sekarang sudah giliran Risma yang harus ikut dengannya.


"Iya, nggak apa-apa." Nella tersenyum manis lalu masuk ke dalam mobil Sofyan yang baru saja dibukakan pintunya oleh Rizky.


Dada Rizky terasa plong, dia juga senang sebab Nella sudah seperti biasa lagi. Wajahnya tidak cemberut lagi.

__ADS_1


Sebelum pintu mobil itu Rizky tutup, dia menyempatkan untuk mengecup kening istrinya.


"Kalau butuh aku, langsung telepon saja, ya?"


"Iya, Mas." Nella mengangguk paham.


"Eh, tunggu sebentar, Pa!" Rizky mencekal lengan Sofyan saat pria itu hendak membuka pintu kemudinya. Dia teringat sesuatu.


"Apa?"


Sofyan menoleh pada Rizky, dilihat menantunya itu tengah mengambil ponselnya sendiri di dalam saku jas.


"Aku mau tunjukkin Papa sesuatu." Rizky mengetik ponselnya untuk membuka galeri. Kemudian memperlihatkan sebuah foto seorang wanita cantik tetapi sudah berumur pada Sofyan.


"Dia Bu Santi, kan?" Sofyan yang tahu siapa wanita itu langsung menebaknya.


Rizky mengangguk. "Iya, Papa tahu dia janda, kan?"


"Tahu. Terus kenapa?" Sofyan menatap wajah Rizky dengan kening yang berkerut.


"Aku akan menjodohkan Papa dengannya."


Sofyan langsung menggelengkan cepat. "Papa nggak mau, dia 'kan Mamanya Reymond, Riz."


"Memang kenapa kalau dia Mamanya Reymond? Itu malah bagus, Pa. Aku dan Reymond bisa saudaraan. Begitu pun dengan Nella dan Indah," ujarnya dengan nada merayu.


"Iya, Papa tahu. Tapi Papa nggak mau," tolak Sofyan.


"Alasannya apa? Bu Santi wanita yang baik dan cantik, Pa. Dia juga sayang sekali sama Indah. Pasti sama Nella juga begitu."


"Bukan itu masalahnya, tapi dia terlalu tua untuk Papa, Riz."


Salah satu sudut bibir Rizky terangkat. Rasanya ingin mengumpat Sofyan dalam hati. "Dih, Papa sok muda sekali. Bu Santi sama Papa umurnya nggak jauh beda, lho."


"Dia seumuran Mamamu. Lagian ... Papa sukanya daun muda. Yang masih kinyis-kinyis, Riz."


Rizky langsung memasukkan jari kelingkingnya ke dalam rongga telinga kiri, lalu memutar-mutarnya sebab terasa gatal sekali mendengar ucapan Sofyan.


"Tapi kinyis-kinyis itu apa, Pa?"


"Masih muda, cantik, bening, seksi dan montok."


"Jal*ng juga?" Rizky menambahkan sebab kriteria itu mirip sekali dengan apa yang ada pada diri Diana. Hanya saja menurut Rizky Diana tak muda, sebab selisihnya dua tahun dengannya.

__ADS_1


Sofyan menggeleng cepat. "Nggaklah, Papa mau cari wanita baik-baik. Kapok sama modelan seperti itu."


Rizky mendecih. "Cih! Kemarin Papa bilang nggak mau menikah dulu, tapi sekarang kriterianya tinggi sekali," cibirnya, kemudian terkekeh geli. "Bilang saja Papa sudah nggak tahan, kan?"


__ADS_2