
"Iya." Setelah memberikan jawaban, Guntur langsung mematikan sambungan telepon itu.
Sofyan mengerutkan kening, dia merasa heran akan sikap Guntur yang sudah beberapa hari terlihat berbeda. Dia cenderung dingin dan berbicara seperlunya saja.
'Kenapa dengan Pak Guntur? Apa aku punya salah padanya? Kok dia seperti cuek,' batin Sofyan.
***
"Siapa yang menelepon, Pa?" tanya Gita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai lilitan handuk di atas dada, dia melihat suaminya yang sedang memegang ponsel dan seperti habis menerima telepon.
"Oh, Sofyan yang telepon."
"Ada apa dia telepon?"
"Dia cuma mau mengingatkan, kalau jam 8 kita harus ke persidangan untuk menemani Rizky."
Padahal bukan itu yang Sofyan katakan, tapi entah mengapa Guntur lebih memilih berbohong pada istrinya.
"Oh, iya Pa." Gita membuka lemari dan mengambil baju tidur, segera dia keringkan tubuhnya dan memakai pakaian.
"Mama ... apa Mama tahu wanita yang bernama Mitha anaknya Aji Wijaya?" tanya Guntur. Dia masih duduk selonjoran di atas kasur sambil melihat Gita berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Tahu, dia modelnya Pak Mawan, kan? Memang kenapa?"
"Papa berencana ingin menjodohkan Rizky dengannya saat dia dan Nella sudah resmi bercerai."
Gita terbelalak, lalu menggeleng cepat. "Nggak! Mama nggak setuju!"
"Kenapa? Cara kita menjodohkan Rizky dengan Mitha jangan sama seperti menjodohkan dengan Nella. Biarkan mereka pendekatan saja dulu. Mama 'kan orangnya pintar merayu ... jadi Mama coba rayu Rizky nanti," terang Guntur. Dia meminta persetujuan sekaligus bantuan kepada istri tercintanya.
"Rizky nggak perlu dijodohkan, dia sama Nella nggak akan bercerai, Pa."
"Kata siapa? Memang Mama pikir Nella akan berubah pikiran? Wanita keras kepala seperti dia nggak mungkin berubah pikiran, Rizky juga nggak boleh terus menerus mengejarnya!" tegas Guntur.
"Papa, Papa nggak boleh bicara seperti itu. Nella itu menantu kita, kita nggak boleh menjelek-jelekkannya," tegur Gita dengan nada lembut. Dia merasa tak suka jika ada yang menghina menantu kesayangannya itu.
"Papa nggak menjelek-jelekkan dia, tapi memang itu kenyataannya. Dan Mama juga perlu ingat ... wanita cantik, mandiri dan pintar memasak bukan hanya Nella seorang! Tapi banyak!" tegur Guntur gusar.
Sepertinya, percakapan mereka sudah tak sehat sebab tak sependapat. Akan lebih baik dia akhiri. Guntur membaringkan tubuhnya dan menarik selimut di atas dada, perlahan dia memejamkan mata.
Gita terdiam dan memandangi wajah suaminya yang terlihat ditekuk. Dia paham, betapa kesalnya Guntur saat ini.
__ADS_1
'Semoga besok ada keajaiban ya Allah, buat Nella berubah pikiran dan mencintai Rizky,' batin Gita.
***
Ceklek~
Mendengar suara pintu UGD terbuka, mereka bertiga langsung berdiri dan menghampiri dokter berkacamata yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana keadaan cucu saya?" tanya Angga dengan cemas.
"Cucu Anda baik-baik saja, tapi maaf sebelumnya ... apa Nona Nella sudah menikah?" tanya Dokter berkacamata itu.
"Sudah, Dok." Sofyan mengangguk semangat.
"Bapak ini siapanya? Ayahnya atau—"
"Saya Papanya, Dok. Suami anak saya belum datang ke sini," sela Sofyan.
"Oh begitu. Mari kalian ikut saya ke dalam." Dokter itu masuk lagi ke dalam ruang UGD dan diikuti mereka bertiga.
Nella mengerjapkan matanya dan melihat tiga orang itu menghampiri dan langsung memeluk tubuhnya, tapi entah mengapa pandangannya masih tertuju ke arah pintu, seperti mengharapkan ada orang lagi yang akan masuk.
Nella hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Jadi putri saya sakit apa, Dok?" tanya Sofyan lagi pada Dokter yang berada di sampingnya.
"Putri Bapak tidak sakit, dia sedang hamil."
Deg!
Mereka yang berada di ruangan itu langsung membulatkan matanya, kecuali Dokter.
'Aku hamil? Kok bisa? Bukannya aku diKB?' batin Nella seraya menyentuh perutnya. Namun tidak dipungkiri, ada rasa berbunga dalam hatinya saat mendengar apa yang Dokter itu katakan.
"Alhamdulilah, terima kasih ya Allah." Sofyan pun memeluk tubuh Nella dan mencium keningnya. Tangannya perlahan menyentuh tangan putrinya yang berada di atas perut. "Sebentar lagi kamu jadi ibu, Papa jadi kakek." Sofyan tersenyum dengan lebar. Jelas sekali, rona bahagia itu terpancar dari wajahnya. Misinya berhasil dan Sofyan yakin—dengan begini Nella dan Rizky tak akan bercerai.
Angga dan Sindi langsung menggeleng cepat.
"Nggak mungkin, Dok. Cucu saya itu diKB, bagaimana bisa dia hamil?" Angga menatap Dokter itu dengan wajah tak percaya.
"Nona Nella KB suntik atau pil, Pak?"
__ADS_1
"Pil, pil KB." Angga mengambil tas Nella yang sedari dari dipegang oleh istrinya, dia ingat kalau Nella sering membawa pil itu di dalam tasnya.
Benar saja, satu strip pil KB yang sudah hilang 3 butir pil ada di dalam tas. Angga memberikan obat itu pada Dokter tersebut dan dia pun menerimanya.
"Mungkin Nona Nella ada lupa minum pil?" tanya Dokter.
"Apa kamu pernah lupa meminumnya?" tanya Sindi, dia sama halnya dengan Angga, tidak percaya sekaligus tak senang.
"Ada, tapi itu dua hari yang lalu, Oma," jawab Nella.
"Tapi saya mengecek kehamilan Nona sudah tiga Minggu," ujar Dokter itu seraya memberikan selembar kertas yang dia ambil di dalam saku jas putihnya pada Nella.
Nella membaca kertas hasil pemeriksaan itu dan memang benar, di sana mengatakan kalau usia kandungannya 3 Minggu.
Kening mereka semua menjadi berkerut karena binggung, kecuali Sofyan dan Dokter berkacamata itu.
"Mungkin karena suaminya terlalu subur Dokter, jadi meskipun Nella diKB ... dia sukses membuatnya hamil," tebak Sofyan sambil tersenyum.
Dokter itu memperhatikan strip pil KB seraya membolak-balikkannya. Beberapa detik kemudian, akhirnya Dokter itu menemukan alasan mengapa Nella hamil.
"Ah, ternyata ini alasannya," ujarnya.
"Apa itu?" tanya Angga.
"Pil KB yang Nona konsumsi sudah kadaluarsa dari dua bulan yang lalu. Ini menyebabkan obatnya tidak efektif saat dikonsumsi."
Penuturan Dokter itu sungguh membuat mereka terkejut, apalagi Nella.
'Jadi ... selama ini aku minum pil KB kadaluarsa? Bodoh sekali,' batin Nella.
Angga mengambil obat itu dari tangan Dokter untuk kembali memeriksa benar atau tidaknya. Raut wajahnya seketika menjadi muram dan kecewa.
"Kok bisa kamu minum pil KB kadaluarsa? Memangnya nggak dilihat dulu?" tanya Angga kesal seraya menatap Nella yang masih berbaring dengan wajah binggung.
"Aku nggak tahu." Nella menggeleng samar. "Tapi pil KB itu dari Dokter, Opa. Aku juga pergi ke Dokter bersama Tante Nissa."
"Kenapa harus meributkan masalah itu? Harusnya kita tanya janin yang ada di dalam kandungan Nella, apa dia baik-baik saja atau tidak? Obat kadaluarsa 'kan nggak baik untuk kesehatan," terang Sofyan seraya menoleh pada Dokter.
Nella sedih karena tau dia hamil ... atau karena Rizky belum datang, ya?
Mumpung hari Senin, ayok berbagi vote dan hadiahnya🤗. Buat yang minta Author untuk up banyak ... sabar, ya. InsyaAllah kalau novel ini udah cukup rame dan levelnya lumayan tinggi ... Author akan up banyak. Yang masih stay, beri terus dukungan, ya! Biar Author tambah semangat nulis novel ini sampai tamat 🤧
__ADS_1