Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
198. Penderitaanku berakhir


__ADS_3

"Bianglala di mana? Di kampus?" tanya Rizky penasaran.


"Bukan, tapi di lapangan pinggir jalan."


"Coba ... aku mau bicara dengan Nella, Pa," pinta Rizky.


"Ini, Rizky mau bicara denganmu, Nell." Guntur memberikan ponselnya pada Nella, tetapi wanita cantik itu malah menggelengkan kepalanya.


"Aku 'kan sudah bilang mau naik bianglala sama Papa, bukan bicara dengan Mas Rizky. Kok dari tadi Papa nggak ngerti juga maksudku, sih?" Nella mendengus kesal. Matanya mulai berair seperti akan menangis saat menatap mata mertuanya.


"Iya, nanti kita naik. Tapi kamu bicara dulu pada Rizky." Guntur sudah benar-benar binggung. Untuk menolak rasanya susah sekali.


Nella segera mengambil ponsel Guntur lalu menempelkannya pada telinga kanan. "Halo, Mas."


"Sayang, ayok datang ke kantor gue. Gue dari tadi nungguin elu," pinta Rizky dengan nada merayu.


Dia kira, dengan begitu akan mampu meluluhkan hati Nella untuk menolak setiap keinginannya. Padahal itu salah besar. Sebelum terwujud, Nella tak akan pergi dari tempat itu.


"Nanti aku ke kantor Mas Rizky, tapi aku mau naik bianglala dulu sama Papa." Seusai mengatakan hal itu, Nella langsung mematikan sambungan telepon. Entah Rizky yang berada di sana masih ingin bicara atau tidak. Kemudian dia pun memberikan ponsel itu pada Guntur.


"Sekarang kita beli tiketnya dulu ya, Pa." Nella seraya mengajak Guntur pergi ke tempat pembelian tiket.


Nella membayarkan dua lembar itu yang seharga 200 ribu untuk dua orang. Dan setelah itu, mereka berdua mengantre untuk mendapatkan giliran untuk naik. Kebetulan memang antrian cukup panjang. Jangankan di depan, di belakang mereka saja ada orang yang ikut mengantre.


Guntur mendongakkan wajahnya ke arah bianglala. Mendadak jantungnya berdebar dengan kencang serta tubuhnya juga bergetar. Belum juga naik, tetapi dia sudah takut duluan.


Lantas dia pun menoleh pada menantunya, dilihat wanita cantik itu sangat ceria dan begitu antusias ingin naik. Hampir tak ada rasa cemas bahkan takut, seperti apa yang Guntur alami saat ini.


"Nell, kamu takut nggak?" tanya Guntur.


"Nggak, memangnya Papa takut?" Nella berbalik tanya seraya menoleh hingga mata mereka bertemu.


Guntur menggelengkan kepala. Jika dia jujur, rasanya dia sangat malu. "Papa nggak takut. Cuma lebih baik kita ...."


"Silahkan masuk."


Ucapan Guntur langsung disela oleh seorang pria yang membukakan pintu kabin bianglala untuk mereka berdua. Lantas mereka berdua pun masuk dan duduk saling berhadapan.


Setelah pria itu mengunci pintu, perlahan-lahan kabin itu naik ke atas. Guntur pun langsung berpegangan dengan erat pada besi di samping kanan kirinya.

__ADS_1


Jantungnya terasa ingin loncat dari dari dalam dan kedua matanya melebar sempurna saat kabin itu turun ke bawah.


"Aaakkkhh!!" Guntur menjerit ketakutan. Nella yang melihatnya langsung terhenyak lalu meraih lengan papa mertuanya yang sudah bergetar hebat.


"Papa takut naik bianglala?"


Dilihat wajah Guntur sudah pucat, tetapi pria tua itu menggelengkan kepalanya. Tak berani jujur.


"Papa nggak takut, Nell. Hanya alergi ketinggian. Aaakkkhhh!" Guntur lagi-lagi menjerit saat kabin itu naik ke atas. Dan terus berputar-putar.


"Memangnya ada alergi ketinggian, Pa?" Nella mengerutkan keningnya binggung.


"Ada, buktinya Papa." Merasa tak sanggup, kini Guntur memejamkan matanya, dia benar-benar tak kuat melihat orang-orang dari ketinggian.


"Papa bukannya sering ke luar negeri juga, kan? Terus nggak naik pesawat gitu?"


"Pesawat sama bianglala beda, Nell. Ini menguji jantung. Kalau Papa kena serangan jantung gara-gara naik ini bagaimana?"


"Nggak akan, Pa. Yasudah ... kalau Papa takut, Papa merem saja seperti itu sampai kabinnya berhenti."


"Papa nggak takut, tapi alergi," bantah Guntur.


Dari kejauhan, terlihat seseorang turun dari mobilnya. Pria itu berkacak pinggang sambil menengadah ke arahnya.


"Wah, ada Mas Rizky, Pa. Lihat!" seru Nella sambil menepuk lutut Guntur.


"Ada di mana?" Guntur bertanya, tapi matanya masih terpejam.


"Itu." Nella menunjuk Rizky yang baru saja berjalan menuju bianglala, namun tampaknya pria tampan itu seperti kebingungan. Atau mungkin dia mencari Nella dan Guntur tetapi belum terlihat dalam penglihatannya.


"Mas Rizky!" teriak Nella sambil melambaikan tangan ketika kabinnya turun. Namun sayangnya Rizky tak mendengarnya. "Mas Mesum!"


Sudah jantungnya berdebar, tubuhnya bergetar, tenggorokan kering akibat teriak-teriak. Sekarang Guntur merasa ingin buang air kecil.


"Kira-kira kita turunnya kapan, Nell? Papa mau kencing banget," ujar Guntur seraya mengempit kedua pahanya, menahan rasa ingin kencing.


"Mungkin sebentar lagi, Pa."


"Tapi Papa nggak tahan, Nell. Papa takut ngompol."

__ADS_1


Nella melirik ke kanan dan kiri. Tepat di tempat duduknya—ada botol kosong. Segera dia memberikan pada Guntur yang baru saja membuka mata.


"Ini, Pa."


"Maksud kamu apa? Masa Papa kencing dibotol?" Guntur mendengus kesal.


"Takutnya Papa nggak tahan. Tapi kalau bisa menahannya ... tunggu pas sudah turun saja kita cari toilet," saran Nella.


Guntur sudah menolak sebenarnya, tetapi dia tetap mengambil botol itu lalu menggenggamnya.


Ternyata bianglala itu lama sekali turunnya, terus berputar-putar dan membuat kepala Guntur pusing, ditambah miliknya benar-benar sudah ingin mengeluarkan sesuatu.


"Nella, tutup matamu. Papa mau kencing dibotol." Guntur akhirnya pasrah, daripada ngompol lebih baik air itu dimasukkan ke dalam botol saja.


"Iya, Pa." Nella mengangguk, lantas dia pun memalingkan wajahnya dan perlahan memejamkan mata.


Lantas, Guntur pun melepaskan jasnya, lalu menaruhnya pada perut bagian bawahnya. Supaya bisa menutupi miliknya yang hendak dikeluarkan untuk kencing di dalam botol.


Sudah berhasil kencing dengan selamat, namun sayangnya belum sempat botol itu ditutup, botol itu malah jatuh dan menggelinding ke bawah hingga keluar dari kabin


Guntur terhenyak seraya membulatkan matanya, setelah membereskan resleting celana, dia menyembulkan kepalanya ke jendela untuk melihat botol itu.


Sungguh mengerikan sekali, botol itu jatuh tepat di kepala gondrong seorang pria berjas beserta air kencingnya yang tumpah.


"Astaga! Maaf!" serunya sambil bergidik ngeri.


"Ada apa, Pa? Apa Papa baik-baik saja?" tanya Nella cemas, namun matanya masih terpejam.


"Nggak ada apa-apa, Papa sudah selesai."


Nella perlahan membuka matanya dan disaat itu pula bianglala itu berhenti.


"Terima kasih sudah naik, Nona dan Bapak," ucap pria yang baru saja membukakan pintu kabin untuk mereka keluar. Dia adalah orang yang sama saat membukakan pintu untuk mereka naik.


"Ayok, Pa." Nella turun lebih dulu lalu memegangi lengan Guntur, sebab pria itu tubuhnya sudah sempoyongan merasakan pusing akibat diajak Nella berputar-putar.


'Alhamdulillah ... akhirnya penderitaanku berakhir,' batin Guntur sambil menghela nafasnya dengan panjang.


Nella berjalan sambil melirik ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Rizky yang entah hilang kemana. Sedangkan Guntur masih sibuk memegangi kepalanya yang kunang-kunang.

__ADS_1


"Mas Rizky ke mana ya, Pa? Perasaan aku melihat tadi dia ada di sini." Nella mengerutkan keningnya.


__ADS_2