
"Nanti saja saat di mobil, aku mau pulang sekarang Ayank. Aku ngantuk." Maya tiba-tiba saja menguap dan segera dia tutup dengan salah satu tangan.
"Lho, kenapa pulang? Bicara sekarang saja, nanti kalau di jalan nggak ada makanan yang kamu mau bagaimana?"
"Aku bukan mau makanan."
"Bukan makanan?" Sofyan mengerutkan dahi, terlihat dia binggung serta penasaran. "Maksudnya bagaimana? Coba bisikan saja. Aku penasaran." Sofyan mendekatkan telinganya ke arah Maya.
Wanita itu pun menurut, dia pun lantas berkata, "Aku mau leher Ayank."
Mata Sofyan seketika terbelalak, lalu dia pun gegas menyentuh lehernya sendiri sembari membenarkan posisi duduknya. "Kamu mau makan leher aku, May? Leherku bukan makanan. Ya meskipun ada dagingnya ... tapi nggak boleh dimakan. Nanti aku mati dong."
"Kok dimakan? Siapa juga yang mau makan leher Ayank? Kan aku juga bilang itu bukan makanan."
"Terus kenapa pengen leherku? Mau diapain?"
"Aku cuma mau cium."
"Cium? Cium bagaimana?"
"Ya cium, aku mau cium leher Ayank. Aku lihat jakun Ayank seksi."
Kedua pipi Sofyan tiba-tiba bersemu merah. Lalu dia pun meraba jakun pada lehernya sendiri. "Masa sih? Aku baru dengar ada jakun seksi."
"Ya itu ada, punya Ayank."
"Ah kamu jangan begitu, May." Sofyan tampak tersenyum malu-malu, ingin rasanya dia berjingkrak-jingkrak saat ini juga. Tak dipungkiri—hanya mendengar kata seksi saja jantungnya sudah berdebar. Dia memang gampang meleleh jika ada yang memujinya. "Ya sudah ayok kita pulang. Aku sudah nggak sabar ingin dicium lehernya sama kamu."
"Iya."
Sofyan pun segera membayar pesanannya, kemudian membawa Maya untuk pergi dari sana hingga masuk ke dalam mobil.
"Dih, Ayank ngapain? Kok lepas celana?" Maya langsung memalingkan wajahnya karena malu, sebab apa yang dilakukan Sofyan secara tiba-tiba. Mereka baru duduk di kursi mobil, tetapi suaminya sudah melepaskan seluruh celananya.
"Katanya mau cium leherku tadi?"
"Terus hubungannya sama lepas celana apa?"
"Ya masa kamu cium leher doang? Sekalian kelonan lah."
"Di mobil? Aku nggak mau." Maya menggeleng cepat. Namun tubuhnya sudah Sofyan angkat hingga berada dalam pangkuannya. Kemudian Sofyan mengatur kursinya supaya terasa lebih nyaman, penyangga kursi itu agak ke turun sedikit hingga membuat Sofyan bisa leluasa.
"Jangan bilang nggak mau kalau akhirnya mendessah. Ayok sekarang cium leherku, atau kamu mau goyang sambil cium leher?" Kalimat Sofyan begitu frontal, dia juga sudah mengerakkan pahanya dan menekan-nekan tubuh bagian bawah Maya yang masih memakai celana tidur.
"Ih, Ayank mesum banget. Aku 'kan cuma mau cium leher, lagian ini di mobil. Nanti kita kena tilang bagaimana?"
__ADS_1
"Mana ada kena tilang? Ini 'kan parkiran, May. Sudah jangan banyak mengoceh. Katanya kamu ngantuk, habis goyang terus kita pulang lalu tidur."
"Kebalik itu Ayank. Harusnya kita pulang dulu lalu kelonan, kan biasanya kalau habis kelonan suka ngantuk. Nanti Ayank nyetirnya bagaimana?"
"Kalau ngantuk ya tidur di sini saja, susah amat." Sofyan yang sudah tak sabar cepat-cepat membuka celana Maya. Meskipun awalnya susah karena ditahan—namun pada akhirnya berhasil juga. Dan kini keduanya sudah saling menyatu. "Nah, enakkan? Apa aku bilang." Sofyan tersenyum puas saat melihat Maya tengah mengigit bibir bawahnya.
"Wanita hamil memang boleh kelonan? Kan di dalam sini sudah jadi, Ayank." Maya menyentuh perutnya. "Apa kalau Ayank sudah keluar nanti akan jadi anak lagi? Nanti dia tumbuh dan jadi kembar?" tanya Maya dengan polosnya.
Sofyan yang tengah bernafs* sontak terkekeh geli mendengarnya. Lucu mendengar apa yang dipertanyakan wanita itu. "Ya nggaklah, paling nanti yang keluar buat vitamin saja. Memperkuat janin."
"Oh begitu, terus dia minum?"
"Nggak, May. Masa diminum. Ya itu buat proses pertumbuhan saja, biar makin kuat dan sehat."
Maya terdiam sesaat, lalu mengangguk-ngangguk. "Oh, jadi semakin banyak Ayank keluar itu malah buat dia sehat dong, ya? Ya sudah ayok kita mulai. Aku mau anak kita sehat."
Sofyan tertawa terbahak, tetapi dengan cepat dia pun menutup bibirnya sendiri.
"Kok Ayank ketawa? Memang ada yang lucu?"
"Kamu yang lucu, ngemesin." Sofyan mencubit lembut kedua pipi wanita itu, kemudian mengecup bibirnya. "Ayok cium leher, katanya jakunku seksi."
"Boleh aku pegang dulu?" Tangan Maya hendak menuju leher Sofyan, tapi terlihat ragu.
"Pegang saja, kenapa nggak boleh? Aku 'kan sudah menjadi milikmu seutuhnya. Jadi semua tubuhku ya milikmu, May."
"Ini tulang ya, Ayank. Keras banget." Maya sudah meraba jakun Sofyan. Hanya begitu saja aliran darah pria itu terasa berdesir lebih cepat, tubuhnya menegang dan miliknya langsung meronta di dalam sana.
"Iya, namanya cowok ya begitu, May. Ayok lah dicium, kenapa diam saja? Aku sudah nggak sabar." Sofyan menarik Hoodie, melepaskannya hingga membuat seluruh tubuhnya polos sempurna. Mungkin dengan begitu akan mempermudah Maya untuk mencium lehernya.
Maya mendekat, lalu perlahan dia pun mengecup leher Sofyan. Tetapi apa yang dilakukannya terbilang begitu singkat. Hingga Sofyan yang sempat memejamkan mata ingin menghayati sontak membuka matanya dengan lebar. Merasa aneh dengan sentuhan bibir Maya yang tidak terasa sama sekali baginya.
"Kok begitu doang?" Padahal, Sofyan sudah berandai-andai. Maya akan melakukan sesuatu di lehernya hingga membuatnya merah-merah.
"Namanya 'kan dicum, Ayank. Ya memang seperti itu."
"Nggak berasa, May. Aku kira mau dibuat merah-merah." Sofyan mendengus kesal dengan wajah cemberut.
"Maksudnya dicup*ng?"
"Iya."
"Aku nggak bisa caranya." Maya menggeleng.
"Masa nggak bisa? Memang dulu pas pacaran kamu nggak pernah?"
__ADS_1
"Nggak, masa sampai cium-cium leher?"
"Memang kenapa kalau cium leher?"
"Ya nanti lama-lama naffsu."
"Kenapa kalau naffsu?"
"Kok kenapa? Ya nggak boleh Ayank. Nanti kebablasan."
"Kalau sudah kebablasan?"
"Ya bunting dong, kaya aku ini." Maya menyentuh perutnya sambil terkekeh. "Gara-gara Ayank cup*ng leherku jadi Ayank naffsu dan kebablasan."
Sofyan tertawa terbahak. "Kamu ada-ada saja, May. Tapi memang ada benarnya juga sih. Ya sudah ... sekarang goyang lagi. Milikku nggak kuat di dalam sana, dianggurin mulu."
Pelan-pelan Maya menggerakkan pinggulnya, sensasi kenikmatan itu langsung membuat mata Sofyan merem melek dan mendessah kecil. Cepat-cepat dia menarik resleting jaket yang Maya kenakan, lalu membukanya. Kemudian membuka baju tidur Maya juga.
Sontak, mata Sofyan membulat kala gundukan kembar itu sudah berada di depan mata. Tak tertutupi apa-apa lagi.
"May ... kok kamu nggak pakai bh?" tanyanya sambil meremmas kedua benda kenyal yang naik turun itu.
Maya menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kan tadinya aku bangun tidur, Ayank. Katanya tidur nggak boleh pakai bh?"
"Iya, sih. Tapi harusnya kalau mau keluar rumah kamu pakai bh dulu, untungnya pakai jaket. Jadi nggak terlalu kelihatan."
"Aku lupa." Tiba-tiba Maya mengentuh perutnya sambil meringis, terasa melilit di dalam sana.
"Hei, kamu kenapa?" Sofyan menangkup kedua pipi wanita itu. "Ayok goyang lagi. Tanggung ini, lagi enak-enak."
"Perutku sakit."
Sofyan terbelalak. "Sakit? Apa si Jombo di dalam sana menyakitimu?" Cepat-cepat Sofyan mengeluarkan temannya itu pada milik Maya, sebenarnya tak rela. Tetapi dia merasa tak tega jika menyakiti wanita itu.
Maya menggeleng cepat. "Bukan itu, Ayank. Tapi ...."
Duuuttt!
Terdengar suara bariton dari bibir keriput di bawah sana. Begitu nyaring dan tak lama tercium aroma gas beracun yang menguar pada ruang mobilnya.
"Kamu kentut, May?"
***
Yok kirim vote dan hadiahnya, buat semangat nulis. Jangan lupa like dan komennya juga, ya?
__ADS_1
Kok makin kesini malah makin sepi? Apa udah pada bosen? 🤧
Apa kutamatin aja ya🤔