
Keesokan harinya, hampir seharian Nella mengurung diri di dalam kamar. Ia bahkan tidak makan, hanya minum air putih yang berada di kamar. Untuk mandi saja ia enggan. Sejak dari kemarin, ponselnya dimatikan, karena Sofyan terus menerus menelepon, ia juga mengedor-gedor pintu kamarnya, memintanya untuk keluar kamar.
Tok ... tok ... tok.
"Nella! Sampai kapan kau terus-terusan di kamar! Ayok keluar! Papah bawa makanan untukmu!" panggil Sofyan dari balik pintu.
Nella terdiam, ia hanya duduk dipojok kasur sambil memeluk foto Ihsan dan mamahnya dalam bingkai.
Ceklek~
Pintu kamar Nella berhasil Sofyan buka, karena dirinya menggunakan kunci serep dari Bibi pembantu. Sofyan membawa nampan berisi sepiring nasi dan sup ayam pada mangkuk. Ada segelas teh manis hangat juga yang ia bawa. Lantas, Sofyan meletakkannya di atas nakas, ia ikut duduk dan mengulurkan salah satu tangannya, untuk bisa menarik tubuh Nella supaya mendekat padanya.
"Sayang ... kamu makanlah, dari kemarin tidak makan. Jangan menyiksa dirimu seperti ini."
Sofyan mengambil piring itu dan menuangkan kuah dan ayam di atasnya. "Ini makan dulu, Papah tau kamu lapar. Dari kemarin belum makan apa-apa." Ia sudah mengulurkan satu sendok mengarah pada mulut Nella, namun mulut perempuan itu tertutup rapat.
"Nella, ayok makan. Jangan seperti ini," harap Sofyan.
"Kalau aku makan, apa Papah akan merestui hubunganku dengan Kak Ihsan? Apa Papah akan menerima lamarannya?"
Sofyan menggelengkan kepalanya.
"Papah ... lupakan masalah status, aku mencintainya dan aku juga menerima dia apa adanya, yang menjalani pernikahan juga aku, bukan Papah." Nella masih berusaha untuk merayu sang papah, entah itu berhasil atau tidak, setidaknya ia sudah berusaha.
"Nella, kau memang sudah dewasa. Ya ... Papah tau, tapi pernikahan bukan hal yang main-main, Sayang. Cinta tidak akan membuatmu kenyang dan bahagia, kau perlu makan dan juga minum. Semua itu dengan uang!" tegasnya.
"Tapi, Pah. Aku--"
"Tidak pakai tapi-tapi! Kalau memang kau mau menikah, Papah yang akan mencari calon untukmu!"
Nella menggeleng cepat. "Tidak! Aku tidak mau! Kalaupun Papah tidak merestui hubunganku dengan Kak Ihsan ... lebih baik aku jomblo seumur hidup, aku tidak ingin menikah!"
__ADS_1
Sofyan membuang nafasnya dengan gusar, ia tidak terkecoh dengan ucapan Nella, ia tau Nella hanya menggertaknya.
Si Ihsan ini, pasti semua gara-gara dia. Pakai pelet apa dia, sampai Nella jadi pembangkang padaku.
Lebih baik, aku mencari calon untuknya. Aku segera menikahkan Nella sama pria lain, supaya dia bisa melupakan pria miskin itu.
Sofyan mengangkat bokongnya, ia menaruh piring itu diatas paha Nella. "Kau makan dulu, lalu bersihkan dirimu. Memangnya kau tidak ke Restoran? Tadi Tantemu telepon Papah, dia menanyakan kamu."
Sofyan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Nella, meninggalkan Nella yang tengah termangu.
***
Sebenarnya, Nella malas untuk kemana-mana, ia ingin seharian ini berdiam diri di kamar. Tapi, ia tidak bisa melalaikan pekerjaannya di Restoran. Mungkin saja disana Nissa merasa kerepotan, apalagi sekarang adalah hari Minggu, pasti banyak sekali pengunjung yang berdatangan.
Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Nella segera makan dan mandi, ia bersiap-siap untuk pergi ke Restoran. Nella memakai kaca mata putih, supaya tidak terlihat mata sembabnya habis menangis.
"Nella, kamu mau pergi ke Restoran?" tanya Sofyan saat dirinya melihat Nella turun dari anak tangga. Putrinya begitu cantik, ia memakai dress kemeja berwarna biru, diatas lutut. Kedua kakinya juga memakai sepatu high heels, senada dengan warna bajunya.
"Iya," jawab Nella singkat, ia melangkahkan kakinya keluar rumah. Tapi Sofyan ikut mengikutinya dari belakang.
Nella belum sempat masuk kedalam mobil, ia menoleh pada papahnya, menutup pintu mobilnya kembali. "Apa, Pah?"
Tak lama seorang pria memakai setelan jas menghampiri Sofyan, ia pria yang kemarin datang bersama ibu barunya, dan sejak kemarin juga tinggal satu atap bersama mereka.
"Mulai sekarang Dirga akan menjadi sopirmu Nella," ucap Sofyan seraya merangkul bahu pria yang bernama Dirga tersebut.
"Dirga? Memangnya dia siapa?"
"Dia adiknya Mamih, kamu mulai sekarang panggil dia Om, Om Dirga," jawab Sofyan.
"Ngapain dia jadi sopirku? Aku biasa naik mobil sendiri, kok." Nella menatap Dirga dengan tatapan tak suka. Entahlah, baik Dirga ataupun Diana, mereka masih terlalu asing buat Nella.
__ADS_1
"Ya mulai dari sekarang saja, biar kamu tidak capek menyetir sendiri," jawab Sofyan.
Nella menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau. Aku mau menyetir sendiri saja."
Nella segera masuk kedalam mobilnya, tidak menggubris ucapan Sofyan. Pintu gerbang rumahnya sudah dibuka lebar oleh satpam. Nella berlalu pergi dengan mobilnya, keluar dari rumahnya.
"Kalau Nella tidak mau, aku kerja apa dong, Kak?" tanya Dirga dengan wajah sedih.
Dirga ini memang adik kandung Diana, berselisih dua tahun dari Diana. Ia ikut bersama Diana karena Diana sendiri yang meminta pada Sofyan, untuk memberikan adiknya pekerjaan karena sudah lama ia menjadi pengangguran.
Awalnya, Sofyan ingin memperkerjakannya menjadi OB atau Cleaning servise, karena dari riwayat pendidikan Dirga ini hanya tamatan SMA. Namun saat tau Nella mencintai Ihsan, niat Sofyan kini berubah. Ia ingin Dirga menjadi sopir Nella. Nanti Dirga bukan hanya menjadi sopir, tapi ia juga ikut mengawasi Nella supaya menjauhi Ihsan.
"Nanti kau kerja di kantorku. Tapi untuk sekarang, sebelum aku mencari calon untuk Nella, kau awasi dia dulu, awasi dari kejauhan saja. Kalau misalkan Nella bertemu dengan pria miskin itu, kau kabari aku, ya?"
"Iya, Kak. Tapi ... nanti aku di kantor Kakak kerja jadi apa? Aku tidak mau jadi OB ataupun Cleaning servise, itu pekerjaan terlalu rendah."
Padahal Sofyan ingin memberi pekerjaan itu, namun justru Dirga sudah menolaknya.
"Masalah itu nanti aku pikirkan, kau sekarang turuti saja apa yang aku katakan." Sofyan memberikan kunci mobil pada Dirga, mobil itu adalah mobil baru untuknya.
"Oke, Kak. Jangan lupa untuk transfer uang jajanku," tegur Dirga.
Sofyan mengangguk dan melihat adik iparnya masuk kedalam mobil.
***
Sampainya di Restoran, Nella langsung disapa para pelayan dan koki disana. Nella ini termasuk perempuan yang ramah dan murah senyum pada siapapun, jadi tidak salah jika banyak yang menyukai sifatnya itu.
"Alhamdulilah, akhirnya kamu masuk juga hari ini. Tante kira tidak datang," ucap Nissa yang baru saja menghampiri Nella, melihat keponakannya sedang berdiri didepan meja kasir.
"Tan, aku mau cerita deh. Kita masuk ke ruangan Tante, ya?"
__ADS_1
Belum mendapatkan jawaban dari Nissa, tapi Nella lebih dulu menarik tantenya untuk masuk kedalam ruangan yang bersebelahan dengan ruangannya. Mereka berdua duduk di sofa panjang, Nella mendekatkan tubuhnya untuk bisa memeluk tubuh Nissa.
Menurut dirinya, hanya Nissa yang seperti pengganti dari mendiam ibunya. Ia begitu dekat dengannya sejak dulu, karena Nissa adalah sosok Tante yang baik dan juga teman curhat Nella. Mungkin hanya dirinya seorang yang tau kedekatannya dengan Ihsan.