
Rizky merasa tak percaya pada Diana, bisa saja dia akan mengambil harta Sofyan di dalam rumah.
"Baik, Pak." Ali mengangguk, lantas dia pun berlari masuk ke dalam rumah Sofyan.
Kembali Diana membulatkan matanya mendengar apa yang Rizky ucapkan. "Apa maksudmu, Riz? Kenapa begitu?"
"Maksudku maksudku, terus saja lu tanya maksud gue!" pekik Rizky. "Apa lu nggak paham juga dari tadi ... kalau gue sendiri bilang lu nggak boleh bawa harta Papa! Jadi, jangankan lu ... adik lu saja nggak boleh, Diana!" Setelah itu, Rizky melepaskan tangan Diana lalu merampas tas jinjing wanita itu dari tangan sebelahnya.
Diana ingin mengambil tas miliknya, tetapi dicegah oleh Aji.
"Biarkan saja, turuti semua kemauan Rizky." Aji merasa direndahkan tadi, dan dia tidak mau jika Rizky kembali mengatakannya tak mampu membiayai hidup Diana.
Diana menatap sedih saat Rizky tengah membuka isi di dalam tas branded kesayangannya itu. Ada ponsel, alat make up, dan yang paling penting adalah black card yang berisi miliyaran.
Rasanya sangat rugi, jika dia tak mendapatkan harta Sofyan seperpun. Lalu untuk apa dia mau menikah dengannya sejak dulu? Padahal itu semata-mata hanya uang.
Sofyan hanya batu loncatan ketika Diana tak bisa menikah dengan Aji, dan saat Aji menyandang status duda—kebetulan juga bertepatan dengan keuangan Sofyan yang merosot. Jadi untuk apa mempertahankan? Lebih baik dia bersama Aji yang jelas mapan dan perusahaannya pun dalam kondisi baik-baik saja. Tidak seperti apa yang dialami Sofyan sekarang.
Tetapi bukankah manusia tak selamanya berada diatas? Dan Sofyan juga belum tentu langsung jatuh miskin seperti apa yang Diana duga. Benar, kan?
"Kak Diana, Rizky," ucap Dirga yang baru saja keluar dari rumah itu bersama Ali. Dia memakai celana jeans berwarna biru dan kaos hitam dengan gambar tengkorak, berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Ayok pergi dari sini, Ga. Kita pindah rumah." Diana menarik lengan adiknya, tetapi langsung dihentikan oleh Dirga.
"Kenapa? Kak Sofyan dan Nella sejak semalam belum pulang, dan Kakak juga ke mana saja?" tanya Dirga yang tak tahu apa-apa.
Sebelum Rizky membeberkan aibnya lagi, dia pun segera menarik kasar lengan pria itu, membawanya masuk ke delam mobil Aji bersamanya. Aji pun langsung berlari untuk masuk juga ke dalam.
"Jangan kembali lagi lu jal*ng! Dasar nggak tahu malu!" pekik Rizky saat melihat mobil Aji keluar dari gerbang rumah Sofyan.
Rizky berkacak pinggang sembari menghela nafasnya dengan lega. Lantas dia pun menoleh pada Ali.
"Ali, lu suruh Bibi untuk bereskan seluruh barang-barang Diana dan Dirga di rumah ini tanpa tersisa, lalu kumpulkan menjadi satu." Rizky melempar tas Diana ke arahnya dan dengan sigap Ali menangkapnya. "Sama itu juga, terus dijual sampai bisa jadi duit."
"Nanti duitnya buat saya, Pak?" tanya Ali dengan mata yang berbinar.
"Dih, gila lu, Ndro! Eh salah ... gila lu, Al! Itu duitnya Papa Sofyan! Ya untuk Papa lah." Rizky mendengus kesal. "Kalau sudah jadi duit, lu kirim ke rekening gue, jangan dikorupsi! Nanti gue yang kirim ke rekening Papa!" titah Rizky.
__ADS_1
***
Mobil Aji sudah mendarat sempurna di depan rumah mewahnya, dia merasa sangat bahagia bisa membawa Diana untuk tinggal dengannya.
Dan apa yang dilakukannya sekarang, juga didukung oleh Mitha. Dia pernah cerita tentang Diana, tapi hanya mengatakan bahwa wanita itu adalah mantan kekasihnya, lalu saat sudah tahu—Mitha sangat mendukung supaya Aji bisa merebutnya dari Sofyan.
Mitha memang membenci Nella, tetapi dengan menyakiti papanya, sama saja dengan menyakitinya, bukan? Dan itulah yang dia inginkan. Melihat Nella tersakiti.
"Ayok turun, kok diam saja?" Aji sudah turun lebih dulu dan kini dia tengah membukakan pintu mobil dimana arah Diana duduk. Tetapi sejak tadi Wanita itu malah diam saja, seperti melamun.
"Diana," panggil Aji sekali lagi yang mana kali ini membuat wanita itu terhenyak, lamunannya buyar seketika.
"Ah, iya, Om." Diana menggeleng samar. "Kenapa?"
"Ayok masuk, kita sudah sampai." Aji mengulum senyum, memandangi wajah cantik Diana.
"Memangnya nggak apa-apa mulai sekarang aku dan Dirga tinggal di sini, Om? Kita 'kan belum menikah." Diana tampak ragu. "Aku dan Papi ... ah, maksudku Pak Sofyan, kami belum bercerai."
'Bercerai? Kak Diana bercerai dengan Kak Sofyan? Dan apa katanya? Kita tinggal di sini? Yang benar saja?' Begitu banyak tanda tanya di otak Dirga, tetapi dia tak enak untuk menanyakannya sekarang. Mungkin nanti kalau hanya empat mata dengan Diana.
"Nanti juga kalian akan bercerai, semuanya tinggal menunggu waktu."
"Mith! Mitha!" pekik Aji saat langkah mereka berhenti di ruang keluarga, lantas dia pun mengajak Diana dan Dirga duduk bersama di sofa.
"Pak Aji," ucap seseorang yang baru saja berlari menghampiri mereka. Dia bukan Mitha, melainkan Bibi pembantu di rumahnya, tangannya membawa selembar surat lalu memberikan pada majikannya. "Tadi Nona Mitha ditangkap Polisi dan ini surat penangkapannya, Pak."
Aji terbelalak lantaran kaget, sedangkan Diana dan Dirga hanya mengerutkan keningnya heran.
"Bibi ini jangan bercanda? Mana mungkin Mitha ditangkap polisi? Memang dia salah apa?" Aji merasa tak percaya, tetapi kini tangannya perlahan membuka surat yang diberikan Bibi tadi dan dia pun kembali terkejut.
Disana tertulis kalau Mitha dikasuskan sebagai tersangka kejahatan percobaan pembunuhan dan pencemaran nama baik.
Yaitu mencoba membunuh anak yang masih berada di dalam kandungan Nella, dan mencemarkan nama baik Gita dan Guntur yang dijadikannya sebagai pelaku kejahatannya.
Dan yang lebih mengejutkannya adalah—pelapor atas nama Rizky Gumelang.
Aji geleng-geleng kepala, dia tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak anak semata wayangnya itu. Jelas sekali dia tak tahu apa-apa masalah ini.
__ADS_1
'Kenapa Mitha nekat banget? Kapan dia melakukannya? Bisa-bisanya dia mempermalukan aku!' gerutu Aji dalam hati.
Pria itu terdiam beberapa saat sampai beberapa menit dia pun berdiri kemudian berlalu pergi begitu saja, keluar dari rumahnya.
Diana dan Dirga yang masih di ruang keluarga tampak kebingungan namun mereka diam saja.
***
Di rumah sakit.
"Kamu mau pergi ke mana, Nell?" tanya Sofyan saat melihat Nella hendak menurunkan handle pintu kamar inapnya.
Nella menoleh sambil tersenyum. "Aku mau ke mini market, Pa. Papa sama Mama Gita dulu sebentar, ya?"
Gita tengah duduk di sofa sedangkan Sofyan masih berbaring.
"Mau apa ke mini market?" tanya Sofyan lagi.
"Mau beli es krim, Pa. Aku lagi kepengen." Nella tersenyum sembari mengusap perutnya.
"Masih pagi makan es krim, nanti kamu sakit perut, Nell," tegur Gita.
"Kan tadi aku habis sarapan, Ma. Minum susu ibu hamil juga sudah. Sekarang aku mau beli es krim."
"Nanti saja tunggu Rizky pulang, kamu di sini saja," pinta Sofyan.
Wajah ceria Nella seketika berubah menjadi sendu, dia mengingat kalau Rizky tadi seperti marah dan malah pergi ke kantor. Padahal dia ingin menghabiskan waktu bersamanya, ditambah keinginannya untuk jalan-jalan juga belum terlaksana.
"Hanya sebentar kok, hanya 3 menit." Nella memperlihatkan tiga jarinya yang dia angkat, kemudian keluar dari kamar itu.
Namun baru saja keluar dan menutup pintu, tiba-tiba ada seseorang yang berlari menghampirinya.
"Selamat pagi, Cantik," sapa Ihsan. Dia memakai jaket kulit hitam dan kaos merah kotak-kotak serta celana jeans panjang berwarna hitam.
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya~