
Gita yang sudah kebakaran jenggot lantas menaiki anak tangga untuk masuk ke kamar, menemui suaminya. Sebab tadi dia berada di ruang keluarga tengah menonton televisi.
"Papa, ayok kita pergi cari Nella dan Rizky!"ucap Gita seraya menghampiri Guntur yang sedang mengetik keyboard laptopnya, dia duduk selonjoran di atas kasur.
"Cari mereka? Memang mereka ke mana? Hilang?" Guntur terlihat begitu fokus pada laptopnya, sampai tak peduli ucapan istrinya. Gita pun segera mengalihkan fokusnya untuk menatap ke arahnya. Dia sampai melipat laptop tersebut dan benar saja, Guntur kini melihat padanya.
"Kata Pak Angga ... Rizky dan Nella pergi memancing, Pa. Mama telepon mereka nggak ada yang jawab," tutur Gita dengan wajah cemas.
"Terus kalau memancing kenapa? Bukannya bagus. Kata Mama biarkan mereka berdua menjalani hubungan tanpa diganggu."
"Itu memang bagus, tapi masalahnya pamali, Pa."
"Pamali? Apanya yang pamali?" Guntur mengerutkan keningnya, dia merasa binggung dengan ucapan Gita yang terkadang terdengar aneh.
"Nella 'kan sedang hamil, jadi Rizky sebagai suaminya nggak boleh memancing ikan. Kata orang dulu itu nggak boleh," terang Gita.
"Apa hubungannya memancing dan hamil? Aneh-aneh saja Mama ini. Itu hanya mitos." Guntur tak menghiraukan ucapan istrinya, lantas dia kembali membuka laptop.
"Papa! Ini serius, mencegah lebih baik daripada mengobati. Jadi lebih baik kita jangan melakukannya daripada membuat pengaruh yang nggak baik untuk kandungan Nella." Gita menyingkirkan laptop suaminya itu ke atas meja, lalu menarik Guntur hingga tubuhnya berdiri.
"Mama ini lebay banget tahu nggak, sih? Hidup di zaman apa memangnya, sampai pamali masih dipakai!" Guntur mendengus kesal saat istrinya menarik lengannya sampai keluar dari kamar dan rumah mereka. Gita juga membuka pintu mobil untuk Guntur masuk lalu setelah itu dia masuk ke pintu sebelahnya.
"Mama nggak lebay, Mama melakukan hal ini demi kebaikan. Ayok nyalakan mobilnya cepat!" titah Gita.
"Iya, iya," jawab Guntur malas. Dia langsung menyalakan mesin mobil dan mengendarainya dengan kecepatan sedang. "Kita ke mana nih?" tanya Guntur yang tak tahu arah tujuan mereka.
Gita sibuk dengan ponselnya untuk membuat google, mencari informasi tentang tempat pemancingan ikan yang buka 24 jam.
"Jalan dulu saja, nanti Mama kasih arahan."
Guntur hanya diam, tetapi menuruti semua perintah dari istrinya yang begitu bawel itu.
***
Di rumah Sofyan.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok.
Tepat di pintu kamar Sofyan, Nella sedang mengetuk pintu, dia sempat diberitahu oleh Bibi pembantu kalau papa dan mami tirinya berada di dalam kamar.
"Nella gue ...."
"Papa! Buka pintunya! Ini aku, Nella!"
Lagi-lagi ucapan Rizky disela oleh Nella, padahal dia mau izin ke kamar mandi. Ingin langsung pergi rasanya tidak enak sebab lengannya tengah digandeng oleh istrinya.
'Aku pengen kencing ya Allah,' batin Rizky.
"Papa! Buka pintunya! Papa sedang apa, sih?" gerutu Nella kesal. Mereka hampir tak mendengar suara apa pun dari balik pintu itu, sekedar menjawab pun, tidak. Dan itu membuat Nella kesal.
Satu menit kemudian akhirnya pintu itu dibuka oleh Sofyan yang tengah mengelap keringat pada dahinya, tubuhnya berkeringat dan dia hanya memakai celana boxer. Terdengar nafasnya juga terengah-engah, Rizky yang melihat keadaannya pun dapat mengetahui sang mertua habis ngapain.
"Tadi lagi nanggung ya, Pa," ucap Rizky sambil menarik turunkan alisnya, menggoda Sofyan.
"Nanggung apaan, orang belum selesai," jawabnya kesal. Tetapi sejenak dia memperhatikan Nella dan Rizky, keduanya terlihat lengket dan membuat hatinya terasa tenang.
"Papa kok bengong," ucap Nella merenggut saat melihat Sofyan yang seperti melamun.
"Nggak kok." Sofyan menggeleng samar. "Eemm ... kalian ada apa ke sini?"
"Aku mau mengajak Papa dan Mami memancing," ucap Nella.
"Memancing?" Sofyan mengerutkan keningnya.
"Iya, tapi Papa nggak boleh bilang nggak mau!" tegas Nella dengan nada memaksa.
"Papa baru saja mau jawab nggak bisa, Nell."
"Nggak!" tegas Nella. "Opa tadi nggak ikut aku ajak, tapi Papa harus ikut denganku. Temenin aku dan Mas Rizky memancing!"
"Jangan sekarang deh, besok saja bagaimana?" tawar Sofyan.
__ADS_1
"Nella, Papa ... aku mau izin ...."
"Nggak mau, aku maunya sekarang!" sergah Nella, Rizky tak ada ruang untuk berbicara dan pergi darinya, lengannya pun dikempit oleh ketiaknya. Wanita itu masih fokus membujuk Sofyan dan Sofyan pun masih fokus memberikan alasan. "Kan aku ngajaknya sekarang bukan besok, sekarang Papa ganti pakaian, aku dan Mas Rizky tunggu di mobil."
Wajah Rizky seketika mengerut dan pucat, bulu kuduknya langsung berdiri. Rasanya dia tak tahan lagi untuk menahan pancuran air yang terjebak dalam kantong menyannya.
'Pengen kencing,' batin Rizky.
"Nella! Nella tunggu Sayang!" Sofyan memegang lengan anaknya saat Nella beranjak pergi dengan Rizky. "Besok saja deh, ya! Jangan sekarang ... please," pintanya dengan nada memohon.
"Nggak mau, pokoknya aku mau sekarang!" tekan Nella.
"Masalahnya kalau sekarang Papa dan Mamimu ...." Ucapan Sofyan menggantung tatkala kakinya merasakan hangat dan basah oleh aliran air yang baru saja menyentuh kakinya. Dia menunduk dan melihat kakinya sendiri dan seketika itu pun—matanya membulat saat tahu asal air kekuningan itu dari mana.
"Kamu ngompol?" tebak Sofyan saat melihat celana Rizky rembes terkena air kencingnya sendiri. Dia benar-benar sudah tak tahan dan akhirnya keluar di celana. Wajah pria tampan itu yang semula pucat akibat menahan kencing, sekarang berubah merah padam lantaran malu.
Nella menoleh dan seketika terbelalak, dengan refleks dia melepaskan lengan Rizky yang sejak tadi dia kempit. "Mas Rizky kok ngompol?"
Padahal, dia ngompol juga gara-gara sejak tadi susah melepaskan lengannya dan seakan tak diberi izin untuk bicara.
Tanpa berkata, Rizky langsung berlari masuk ke dalam kamar yang berada di samping kamar Sofyan. Dia masuk ke dalam kamar mandi, tetapi sayangnya aliran air itu tetap saja menetes mengikuti langkahnya.
"Malu-maluin banget sih, lu! Bisa-bisanya lu kencing di celana!" Rizky mengerutukki senjata miliknya saat sudah berhasil dia lepaskan pada pembungkusnya. Kemudian Rizky mengambil selang untuk segera menyiram celana luar dan dalamnya tersebut.
"Ngomong-ngomong gue pakai celana apa dong? Masa gue gondal-gandil seperti ini." Rizky menggerak-gerakan pinggulnya ke kanan dan kiri.
"Si Rizky beg* amat! Dasar jorok!" umpat Sofyan, lalu dia berlari menuju tangga tetapi tidak turun. Hanya berdiri untuk memanggil Bibi pembantu dari dapur. "Bibi! bawa kain pel! Ada bayi habis ngompol!"
"Iya, Pak," jawab Bibi yang mendengar teriakan Sofyan.
Nella berjalan menghampiri Sofyan sambil memegang tangannya, dia masih berusaha membujuk papanya. "Papa, ayok ikut denganku," rengek Nella dengan nada manja. Mungkin dengan begini Sofyan mau menurutinya.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1031...