Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
190. Jodoh untuk Papa


__ADS_3

Rizky langsung bergelak tawa mendengar apa yang Nella katakan. "Hahaha ... serius lu pengen? Tadi bukannya kita sudah bercinta di dalam mobil?"


"Iya, tapi buru-buru banget, Mas. Padahal aku maunya lama."


Padahal Nella juga yang keluar duluan, tapi tetap saja dia selalu ingin bercinta dengan jangka lama dengan Rizky, seperti dulu sebelum hamil.


"Tempatnya darurat juga, kan? Itu juga ada satpam yang pergoki kita. Tapi untungnya kita sudah selesai."


"Yasudah, tambah lagi saja kalau begitu, Mas. Kita bercinta lagi."


Sifat Nella langsung kembali seperti kemarin-kemarin lagi, sudah tertular mesum seperti Rizky.


"Besok lagi kita coba. Kan tadi sudah."


"Kenapa? Apa sekarang bercinta denganku rasanya nggak enak ya, Mas?" Nella selalu kesal jika Rizky seakan menolaknya dalam bercinta, padahal tadi dirinya saja dengan senang hati menerima saat diajak.


"Enaklah, sangat enak. Tapi 'kan tadi sudah. Jadi besoknya lagi saja, nanti lu capek. Papa juga 'kan sedang sakit."


"Yasudah deh." Nella mengerucutkan bibirnya.


"Ayok kita masuk lagi." Rizky mengangkat tubuhnya hingga Nella juga ikut berdiri, mereka pun kembali masuk ke dalam kamar inap menemui Sofyan.


"Kalian berantem?" tanya Sofyan saat melihat anak dan menantunya duduk bersama di sofa.


Nella menggeleng cepat. "Nggak kok, Pa. Hanya meluruskan saja."


"Bagus itu, jangan suka berantem nggak baik. Kamu juga harus nurut sama suami dan jangan bertingkah yang nggak sopan seperti tadi pagi, ya?" tegur Sofyan.


"Iya, Pa." Nella mengangguk. Lantas menoleh pada Rizky. "Oya, Mas. Tentang pelaku jamu itu bagaimana? Bukan Papa Guntur pelakunya, kan?"


Rizky menggeleng cepat. "Bukan, dia Mitha."


"Tuh 'kan benar apa kataku juga, instingku memang kuat, Mas." Nella tak kaget sebab sudah curiga dari awal. "Apa dia sudah dipenjara sekarang?"


"Kata Hersa sih sudah dari pagi, Nell."


"Kalian ini membicarakan apa, sih?" Sofyan yang tak mengerti apa-apa tampak kebingungan. "Pelaku jamu dan Mitha dipenjara itu apa maksudnya? Mitha anaknya Pak Aji?"


Menyebutkan nama Aji, rasanya dada Sofyan berdenyut nyeri. Sakit, sangat sakit.

__ADS_1


Nella menoleh pada Sofyan. "Papa ingat nggak pas hari di mana Papa mau pergi ke Bandung, saat itu Bibi pembantu di rumah Mas Rizky mengantarkan jamu. Aku juga dengar darinya ... kalau aku boleh membuang jamu itu sama Papa," terang Nella.


Sofyan mengangguk. "Iya, terus kenapa, Nell? Jamu itu dari Mama Gita, kan?


"Jamu itu ternyata bukan kiriman Mama Gita, tapi Mitha, Pa. Dan yang lebih parahnya ... itu jamu pengugur kandungan," terang Nella yang mana membuat Sofyan membulatkan matanya.


"Apa? Kamu serius, Nell?" Wajah Sofyan tampak tak percaya. "Tapi kamu baik-baik saja, kan? Cucu Papa?" Kembali dia mengusap perut anaknya.


"Sedikit lagi hampir keguguran, Pa. Kalau aku nggak cepat-cepat membawanya," sahut Rizky. Dia terdiam beberapa saat dan kemudian kembali berucap, "Eemm ... apa Pak Aji kita penjarakan juga, Pa?"


"Penjarakan?" Sofyan mengerutkan keningnya. "Untuk apa penjarakan dia?"


"Ya mungkin saja Papa nggak terima, kita bisa mengkasuskannya sebagai perusak rumah tangga orang," usul Rizky, nanti kasusnya akan sama seperti Ihsan. "Memang hukumannya nggak terlalu berat, tapi lumayanlah. Kariernya bisa hancur."


"Nggak perlu." Sofyan menggeleng cepat. "Papa dengar dia mau menikahi Diana, nanti kalau dia dipenjara mereka nggak bisa menikah."


"Terus kenapa?" sahut Nella kesal. Dia melihat wajah Sofyan seketika sendu.


Meski begitu, Sofyan masih punya rasa kasihan pada istri tercintanya jika nanti keinginannya tak terwujud.


Selama menikah, Sofyan terus berusaha untuk membahagiakannya. Entah dari materi dan juga kasih sayang. Tetapi semua itu ternyata tak cukup, Diana malah memilih selingkuh dengan Aji.


"Biarkan saja Om Aji dipenjara, biar menemani anaknya. Mami akan menyesal saat meninggalkan Papa!" imbuh Nella lagi dengan ketus.


"Ah Papa lemah. Masa ...."


Tok ... tok ... tok.


Ucapan Nella menggantung kala mendengar suara ketukan pintu dan tak lama pintu itu terbuka.


Ceklek~


"Selamat sore, Nona, Pak Sofyan, Pak Rizky," sapa seorang wanita paruh baya yang memakai daster, dia adalah Bibi pembantu di rumah Sofyan.


"Sore, Bi. Bibi ke sini mau apa?" tanya Nella, dia melihat Bibi itu berjalan masuk dengan menenteng kantong merah dan tercium aroma masakan, tetapi tangan sebelahnya memegangi amplop putih.


"Bibi mau antar makan malam, Nona. Siapa tahu Nona, Pak Rizky dan Pak Sofyan ingin makan masakan Bibi," ujarnya sembari menaruh apa yang dibawanya di atas nakas. Lalu dia pun mendekati Sofyan yang masih duduk. "Pak, ini ada surat. Katanya dari pengadilan."


Sofyan terbelalak saat Bibi itu memberikan sebuah amplop ke tangannya, jantungnya terasa berdebar kencang dan kini Sofyan menyentuh dadanya, ada rasa sakit di dalam sana.

__ADS_1


"Papa nggak apa-apa? Apa yang sakit?" Nella yang merasa panik segera menghampirinya, lalu ikut menyentuh dadanya.


"Apa mau aku panggilkan Dokter?" tawar Rizky seraya berdiri.


Sofyan menggeleng cepat sambil meringis, menahan rasa sakit. Tetapi sakit itu bukanlah berasal dari jantung, melainkan hati.


Sofyan menutup wajahnya dengan salah satu tangan dan beberapa detik kemudian, terdengar suara isakan tangisnya.


Lagi-lagi kesedihan itu menyelimuti dalam dirinya. Padahal semuanya sudah terungkap dengan jelas kalau Diana bukanlah wanita baik-baik.


Nella mengambil amplop yang sejak tadi dipegang oleh Sofyan dengan tangan yang bergetar, perlahan dia pun membukanya.


Sudah jelas jika Bibi pembantu mengatakan jika surat itu dari pengadilan, dan ternyata memang benar—itu adalah surat cerai yang Diana daftarkan lebih dulu.


Harusnya Sofyan dulu yang menggugatnya atas dasar perselingkuhan, tetapi sepertinya wanita itu sudah tak sabar ingin cepat-cepat bercerai dengannya.


'Apa selama ini cintamu nggak pernah tulus padaku, Diana? Sampai dengan mudahnya kamu melakukan ini semua?' batin Sofyan sedih.


Nella segera memeluk tubuh Sofyan bersamaan dengan Rizky yang juga ikut. Mungkin dengan begitu—bisa sedikit meredakan rasa hancur di hatinya.


"Papa yang kuat ... aku tahu ini sangat sulit dan menyakitkan. Tapi aku yakin, Papa bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada wanita gatal itu," ucap Nella.


"Setelah Papa jadi duda ... nanti aku akan membantu Papa mencari jodoh. Papa tinggal pilih saja, mau yang seperti apa," ujar Rizky dengan entengnya.


"Memangnya bisa semudah itu ya, Mas?" tanya Nella tak yakin. Sepertinya ucapan Rizky hanya mengasal supaya menghibur Sofyan saja.


"Ah kamu, Riz. Sok-sok'an mencari jodoh untuk Papa. Kamu saja dulu nggak akan dapat jodoh kalau bukan dari Papa dan orang tuamu," cibir Sofyan sambil terkekeh. Benar saja, kesedihannya langsung sirna lantaran ucapan Rizky, dia memang pintar sekali mengambil hati Sofyan.


"Dih, kok Papa jadi meledekku sekarang?" Rizky segera melepaskan pelukannya pada Sofyan, merasa malas sebab keniatannya diremehkan begitu saja. Lantas dia pun duduk lagi di sofa. "Papa memangnya nggak percaya kalau aku bisa mencari jodoh untuk Papa?"


"Iya," jawab Sofyan sambil mengangguk.


"Nanti aku buktikan," ujar Rizky yang merasa tertantang.


"Papa tunggu ... tapi carikan yang masih perawan. Apa kamu bisa?" tawar Sofyan.


"Kalau masih perawan ... mending kucoba dulu saja, habis itu aku berikan pada Papa," ucap Rizky sambil terkekeh.


"Mas bilang apa tadi?!" Nella yang merasa emosi langsung menyergap Rizky dengan kedua tangan yang menyangga pada leher pria itu.

__ADS_1


Rizky terhenyak dengan kedua mata yang membulat, dia mengatakan hal barusan tak menyadari jika saat ini ada Nella juga. Sudah pasti wanita cantik itu marah dan menganggapnya sesuatu yang serius.


"Mas mau aku cekik apa disunat dua kali sampai habis?" tekan Nella sambil melotot.


__ADS_2