
Nella pun gegas menggoyangkan pinggulnya, kedua tangan Rizky langsung menyelusup masuk ke dalam baju tidur Nella, kemudian mengangkat bra ke atas. Barulah setelah itu dia meremmas.
"Mas ...," desah Nella sambil mengigit bibir bawahnya, dia yang beraksi dia pula yang meracau. Cepat-cepat Rizky meraup bibirnya, supaya keduanya tak bersuara.
'Ini sangat enak, Nella sangat pintar di atas sekarang,' batin Rizky.
Semakin lama gerakan Nella makin cepat, begitu pun dengan remmasan dada yang dilakukan oleh Rizky. Merasa gemas dan sangat terangsang, Rizky pun segera menyingkap baju tidur istrinya. Lalu melahap salah satu puncaknya.
Mereka yang sama-sama bersemangat sampai tak menyadari jika ada seseorang yang tengah membuka pintu, dia adalah Guntur. Kedua matanya terlihat membelalak kaget.
Meskipun keduanya memakai baju dan di bawahnya tertutup selimut, namun dengan gerakan tubuh yang Nella lakukan membuat pria itu mengerti tentang apa yang tengah mereka berdua perbuat.
'Astaga, apa mereka sedang bercinta? Parah sekali.' Guntur cepat-cepat dia pun keluar lagi dan menutup pintu. 'Apa nggak bisa kalau pas nanti di rumah saja? Ah dasar anak muda.' Guntur geleng-geleng kepala.
Nella menghentikan goyangannya secara mendadak lantaran mendengar bunyi pintu itu. Lantas dia pun memutar kepalanya, menatap ke arah pintu.
"Kok diem? Kenapa, Nell?" tanya Rizky seraya mengusap keringat di dahinya. Dia sama sekali tak mendengar apa pun, sebab otaknya hanya terpenuhi kepuasan.
"Aku seperti mendengar suara pintu, Mas. Apa tadi ada yang masuk, ya?" Nella menatap Rizky dengan wajah takut.
"Nggak ada, perasaan kamu saja kali."
"Bener aku mendengarnya kok."
"Tapi aku pasti lihat tadi Nell, kalau memang ada. Tapi memang nggak ada kok." Bohong, Rizky sejak tadi malah sibuk bermain pada gunung kembar istrinya.
Nella terdiam, lalu perlahan dia menarik tubuhnya. Seketika Rizky langsung menariknya kembali dan menekannya.
"Jangan ditunda dong, tanggung. Bentar lagi aku keluar."
Belum sempat Nella menjawab, tetapi Rizky sudah duluan menggempurnya dari bawah. Dan tak lama Nella juga ikut serta mengayunkan pinggulnya, demi memuaskan dirinya dan Rizky.
***
Keesokan harinya.
Rizky sudah diperbolehkan pulang, kondisinya sudah kembali normal dan vit. Terlihat, satu keluarga itu berjalan sama-sama keluar dari rumah sakit kemudian menuju parkiran.
Baru saja Nella hendak masuk ke dalam kursi belakang saat pintu itu dibukakan oleh Rizky, tiba-tiba saja dia langsung menutup bibirnya kemudian berlari menuju wastafel untuk mencuci tangan yang berada disekitar sana.
__ADS_1
Lantas, segera dia pun memuntahkan isi di dalam perutnya yang terasa bergejolak. Perutnya terasa sakit bagaikan diremas-remas.
"Uueekk ... uueek."
Rizky yang melihatnya pun gegas berlari menghampirinya, lalu memijit pelan tengkuk putih istrinya. "Kamu sepertinya memang nggak enak badan, Nell. Dari kamarin muntah-muntah mulu."
"Sepertinya iya, Mas. Kepalaku juga kadang pusing." Nella mengentuh kepalanya yang terasa pening, lalu membasuh seluruh wajahnya.
"Kita periksa sebelum pulang, ya? Sebentar ... aku ngomong dulu sama Mama." Rizky mengusap wajah Nella yang basah dengan lengan jasnya, lalu berlari menuju mobil Guntur.
"Nella kenapa, Riz?" tanya Gita. Dia sejak tadi melihat mereka berdua lewat jendela mobil yang terbuka.
"Sepertinya Nella nggak enak badan, Ma. Aku mau antar dia periksa dulu, ya? Mama duluan saja. Kasihan Jihan kalau nunggu." Rizky memasukkan tangannya ke jendela, lalu mengusap pipi kanan Jihan. Anaknya itu tengah tidur di pangkuan Gita.
"Ya sudah, nanti pulang hati-hati. Kamu telepon Ali saja untuk jemput."
"Iya." Rizky mengangguk.
***
Rizky mengantar Nella ke dokter umum, tetapi dia meminta dokter wanita saja yang akan memeriksa istrinya.
Sekarang Nella sudah berbaring di atas tempat tidur, dokter itu menempelkan stetoskop di dadanya, kemudian seorang suster yang berada di sana tengah mengecek tekanan darah Nella dengan menggunakan tensimeter digital.
"Apa selain mual dan muntah perut Nona juga sakit?" tanya dokter berambut pendek yang habis memeriksanya.
"Iya, Dok."
"Dibagian mana?"
"Sini." Nella menyentuh perut bagian bawahnya. Dokter itu perlahan ikut merabanya, tetapi dengan sedikit menekan.
"Apa Nona sedang datang bulan?"
Nella menggeleng. "Nggak, Dok."
Dokter itu berjalan menuju meja kerjanya, lalu membuka laci. Setelah mengambil benda di dalam sana, dia pun segera memberikan pada Nella.
"Coba dicek dulu, Nona."
__ADS_1
Nella dan Rizky langsung melihat kotak persegi tersebut, kemudian Nella membukanya dan seketika keningnya berkerut. Dia belum pernah memakai benda itu, tetapi dia tahu jika itu adalah tespek.
"Kok aku disuruh pakai tespek, Dok? Memangnya aku hamil?" tanya Nella binggung.
"Dari gejalanya sih, iya."
"Tapi aku dan suami diKB, Dok."
"Orang yang diKB juga bisa hamil Nona, bisa dari telat pas suntik KB, atau lupa sehari nggak minum pil," jelas dokter itu.
Nella lansung memandang ke arah Rizky yang sejak tadi diam saja. Wajah pria itu terlihat berkeringat dan tegang, dia juga seperti gelisah.
'Bagaimana kalau Nella beneran hamil? Apa nanti Mama dan Papa akan marah? Tapi anakkan rezeki iya, kan? Ah tapi Jihan ....' Seketika Rizky mengingat Jihan yang masih bayi dan tentu sangat suka menyusu pada istrinya. 'Masih kecil sudah jadi Kakak. Apa Daddy terlalu jahat padamu, Sayang?'
"Mas ... masa sih aku hamil?" Nella terlihat tak percaya dan ragu untuk melakukan tes, dia merasa takut jika hasilnya positif. Setahu dia, Rizky sudah meyakinkan kalau dia tak akan hamil.
"Coba cek dulu," saran Rizky.
Nella mengangguk. Rizky membantunya untuk turun dari ranjang, lalu mengantarnya masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sana.
"Lho, Mas kok nggak keluar?" Nella hendak menurunkan celana dalamanya, tetapi urung lantaran melihat suaminya masih ada di sana. "Jangan bilang mau mengajakku bercinta? Jangan sekarang lah, aku 'kan lagi periksa."
Akibat suaminya yang selalu tak mengenal tempat saat mengajak bercinta, jadi Nella sudah berpikir ke arah sana.
Rizky menggeleng cepat. "Nggak kok, siapa juga yang mau bercinta? Aku mau ikut melihatnya. Aku penasaran, Nell."
"Padahal bisa tunggu diluar, masa orang pipis dilihatin." Nella mendengus kesal, kemudian menurunkan celana dan menaruh wadah stenless yang sempat diberikan dokter tadi, untuk menampung air kencingnya.
Rizky menelan saliva saat mendengar suara gemericik air itu, hanya mendengarnya saja dan melihat bokong mulus Nella yang terekspos—miliknya di dalam celana sudah menegang saja.
"Sini, biar aku saja yang cek." Rizky membungkuk lalu mengambil wadah yang mirip mangkuk kecil itu. "Hanya dicelupkan saja, kan?" Rizky mengambil tespek di atas kloset duduk yang tertutup. Sebelum kencing Nella menaruhnya disana.
"Pas tadi aku baca sih hanya dicelupkan saja, Mas. Terus tunggu beberapa detik." Nella membersihkan inti tubuhnya lalu menyiram bekas air kencingnya tadi. Setelah itu dia memakai celana.
"Terus nanti yang membedakan apa?"
"Kalau garisnya satu aku nggak hamil, kalau garisnya dua aku hamil."
"Oh ... oke, deh." Rizky membuang napasnnya kasar. Perlahan dia pun mencelupkan ujung benda itu, jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang kala matanya tengah fokus memerhatikan garis.
__ADS_1
Dan ternyata hasilnya......