
"Memang bener Papa nggak mau menikah dulu untuk sekarang-sekarang, Riz," bantah Sofyan. "Tapi 'kan Papa juga punya kriteria istri idaman. Semua orang berhak atas itu. Benar, kan?"
Rizky mengangguk, memang ada benarnya juga. Lantas dia pun menggeser layar ponselnya, dan kini foto Santi berganti dengan foto seorang wanita cantik berambut panjang. Dilihat dari umur—sepertinya seumuran dengan Diana dan tak kalah cantik. "Kalau ini bagaimana? Kinyis-kinyis nggak?"
Sofyan memperhatikan wajah wanita itu. Dia mengenal wajah itu, tetapi tak tahu namanya. "Dia istrinya Pak Andra Omnya si Reymond, kan?" tebaknya.
"Bukan istri, tapi sudah jadi mantan istri." Rizky meluruskan.
"Memangnya mereka bercerai?" Sofyan menatap lagi wajah menantunya dengan kening yang berkerut. "Bukannya Pak Andra hanya dipenjara saja?"
"Mereka sudah bercerai, si Irene malu punya suami seperti Om Andra yang dipenjara." Kembali Rizky meneruskan.
Sepertinya ucapan Rizky saat di rumah sakit itu sungguh-sungguh ingin mencarikan jodoh untuk Papa mertuanya. Informasi yang dia dapatkan juga dari hasil pencariannya sendiri, tanpa campur tangan Hersa sang asisten.
"Ah tapi ... Papa bukannya pernah bilang kalau Papa maunya dengan seorang gadis, Riz. Dia 'kan janda."
"Memangnya Papa serius ingin menikah lagi dengan seorang gadis?" Alis mata Rizky bertaut. "Aku kira bohongan."
"Serius, tapi itu juga kalau dianya mau." Sofyan nyengir kuda.
"Sudah ada?"
"Siapa?"
"Dia yang Papa maksud itu? Siapa?"
"Belum ada. Katanya kamu yang mau mencarinya, bagaimana, sih?"
"Papa! Kok nggak naik-naik?" tanya Nella dari kaca mobil Sofyan yang baru saja dia turunkan. Sejak tadi dia menunggu di dalam mobil, tetapi Papanya itu malah sibuk mengobrol dengan Rizky.
"Ah iya, Sayang!" sahut Sofyan seraya menoleh sebentar padanya, lalu menatap kembali Rizky. "Papa duluan ya, Riz!"
Rizky mengangguk. "Iya, Papa hati-hati dijalan."
Sofyan mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Rizky lebih dulu.
***
Dua puluh menit, mobil Rizky sampai di depan halaman rumah Guntur. Dia tak turun dari mobil sebab sudah melihat adiknya yang tengah berdiri sambil bersedekap dengan bibir yang mengerucut.
Lantas Rizky menurunkan kaca mobilnya, lalu menoleh pada gadis berambut pendek itu. "Ayok naik! Mau diantar beli nggak?!"
Risma langsung berlari masuk ke dalam mobil Rizky, duduk di kursi depan di sampingnya.
"Kakak lama sekali, ini sudah setengah sembilan tahu." Risma mendengus kesal sembari memperlihatkan jam tangannya ke arah Rizky yang tengah menyetir. Padahal kakaknya itu tak melihatnya sama sekali.
"Maaf, tadi periksanya ngantre, Ris."
Risma menghela nafasnya. "Keponakanku laki-laki atau perempuan, Kak? Apa tadi sekalian periksa jenis kelaminnya juga?"
__ADS_1
"Kata dokter belum kelihatan."
"Kakak maunya dia laki-laki atau perempuan?"
"Apa saja, yang penting dia sehat." Rizky menoleh sebentar pada adiknya seraya tersenyum. "Kalau kamu sendiri? Maunya keponakan laki-laki atau perempuan?"
"Maunya sih perempuan, pasti dia cantik nanti seperti Mbak Nella, ya?"
Rizky mengangguk. "Iya, itu pasti."
"Oya, Kak. Kok aku merasa ... Mbak Nella seperti nggak suka padaku, ya?"
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
"Nggak ah, itu memang kenyataan. Dia juga selalu melihatku dengan sinis. Padahal aku 'kan nggak punya salah apa-apa sama Mbak Nella," keluh Risma sedih.
"Mungkin faktor kehamilan. Dia memang jauh sensitif sekarang, Ris. Tapi aslinya baik kok orangnya, apalagi kalau sudah kenal dekat."
"Masa sih? Kalau begitu Kakak dan Mbak Nella tinggal saja seterusnya di rumah Papa. Biar aku dan Mbak Nella dekat," saran Risma.
"Sepertinya Mbak Nella nggak akan mau, Ris."
Rizky ingat jika kemarin-kemarin Nella sempat memintanya untuk cepat pulang ke rumahnya. Tidak masalah, hanya saja dia tak enak pada Guntur.
"Kenapa memangnya?"
"Dia inginnya tinggal berdua, katanya supaya bisa romantis dimana saja."
"Bisa, tapi 'kan paling di kamar doang. Nggak bisa di tempat lain."
"Oh ...." Risma terkekeh. "Sepertinya Mbak Nella sangat mencintai Kakak, ya. Kakak memang hebat!" Risma menyeru sembari bertepuk tangan.
"Iya, dong."
***
Sementara itu di tempat yang berbeda. Nella dan Sofyan sudah selesai berziarah ke makan almarhumah Nina. Mereka mengirim do'a serta menyirami air mawar dan juga menaburkan bunga di atas tanah merah. Lalu setelah itu keduanya masuk kembali ke dalam mobil Sofyan.
"Nella, bagaimana tinggal di rumah orang tua Rizky? Apa kamu betah?" tanya Sofyan seraya menoleh sebentar pada putrinya yang sejak tadi diam saja.
"Betah," jawabnya pelan.
"Sikap Pak Guntur bagaimana padamu? Dia baik, kan?"
"Iya." Nella mengangguk.
"Syukurlah." Sofyan menghela nafasnya dengan lega.
"Antarkan aku ke restoran Tante Nissa ya, Pa."
__ADS_1
"Kamu masih kerja memangnya? Bukannya ambil cuti?"
"Iya, aku ambil cuti. Aku hanya ingin bertemu kok. Kangen saja."
"Oh, yasudah." Sofyan mengangguk lalu mempercepat mobilnya.
Tak lama mobil itu sampai di depan restoran. Setelah mencium punggung tangan Sofyan—Nella pun turun dari mobil.
"Papa hati-hati dan jaga kesehatan, ya!" Nella melambaikan tangan saat kaca mobil papanya diturunkan.
"Kamu juga, jangan suka berantem sama Rizky!"
"Iya."
Melihat mobil Sofyan sudah berlalu pergi, Nella pun berjalan masuk ke dalam saat pintu kaca itu dibukakan oleh satpam.
"Selamat pagi, Mbak. Mbak baru kelihatan, bagaimana kabarnya?" sapa seorang pria yang memakai seragam pelayan. Dia menghampiri Nella.
"Aku baik, Van. Apa Tante Nissa sudah datang?" Nella mendudukkan bokongnya di kursi, lalu membuka buku menu di atas meja.
Belum sempat pelayan itu menjawab, tiba-tiba datang seorang pria yang menghampiri mereka.
"Cantik ...," panggil pria itu yang mana membuat Nella menoleh sebab sedari tadi matanya melihat ke arah buku menu.
"Eh Kak Ihsan." Kening Nella mengerenyit heran saat melihat Ihsan berada di depannya. Pakaian pria itu terlihat sangat rapih tidak seperti biasanya. Dia memakai kemeja lengan pendek berwarna biru dan celana bahan panjang berwana hitam. Begitu tampan apalagi saat pria itu tersenyum manis padanya. "Kok Kakak ada di sini? Mau makan?"
Ihsan menggeleng. "Nggak, aku 'kan sekarang bekerja di sini." Ihsan menarik kursi lalu duduk di depan Nella. Dia pun menoleh pada pelayan pria yang sejak tadi masih berdiri. "Ivan, buatkan dua jus alpukat untukku dan Nella, ya."
"Baik, Bang." Pelayan yang bernama Ivan itu mengangguk, kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Kakak kerja di restoran sebagai apa? Kok pakaian Kakak sangat rapih?" tanya Nella dengan tatapan binggung.
"Tapi aku tampan, kan?" Ihsan malah berbalik tanya sembari menyugar rambutnya ke belakang. Seolah tengah tebar pesona pada mantan kekasihnya. Mungkin saja Nella akan kepincut lagi.
"Iya."
"Lebih tampan aku atau Rizky?"
"Aku tanya Kakak kerja apa di sini."
"Jawab dulu, lebih tampan aku atau Rizky, Nell?!" tanya Ihsan dengan nada penekanan.
"Mas Rizky."
"Berarti matamu sekarang bermasalah, sepertinya kamu harus memakai kacamata," celetuk Ihsan. Dia benar-benar tak menyukai jawaban itu. Terlihat wajah cerianya langsung berubah menjadi masam.
"Enak saja! Mataku normal! Memang itu kenyataannya kok!" Nella mendengus kesal, lalu mengangkat bokongnya.
"Eh, mau ke mana? Tunggu dulu!" Ihsan mencekal lengan Nella saat tahu wanita itu hendak melangkah.
__ADS_1
"Aku ingin ke ruangan Tante Nissa!" Nella menepis kasar tangan Ihsan pada lengannya. Dia merasa malas sekali bicara dengan Ihsan.
"Tunggu sebentar! Ada sesuatu yang perlu kamu lihat." Ihsan merogoh ponselnya yang berada di kantong celana, lalu memperlihatkan sebuah foto padanya.