Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
148. Pura-pura


__ADS_3

"Lu takut? Tenang saja, sih. Selama bersama gue ... semuanya aman. Nanti satpam itu gue sumpel mulutnya pakai duit juga beres." Rizky menepis tangan istrinya pada lengannya, lalu dia turun dan meninggalkan Nella yang tengah menggerutu dalam hati.


'Mas Rizky mesumnya benar-benar sudah stadium 4. Parah dan sudah kronis! Tadi siang kita bercinta di lift. Sekarang dia memintaku menghisap burungnya di dalam mobil dan di parkiran? Astaga.' Nella menepuk dahinya sambil geleng-geleng kepala.


*


*


Setelah sepuluh menit berlalu, Nella pun melihat Rizky berjalan menuju mobil. Seketika ada ide muncul di dalam otaknya untuk menunda permintaan suaminya.


Gegas Nella menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi, lalu kepalanya menyandar pada jendela. Setelah itu perlahan dia memejamkan matanya.


"Ayok Nell, gue sudah siap," ucap Rizky seraya masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. "Lho, kok lu malah tidur, sih?"


Rizky melihat Nella yang tengah memejamkan mata, tetapi kelopak mata wanita cantik itu bergerak-gerak dan tentunya membuat Rizky curiga.


'Apa dia pura-pura tidur?' batin Rizky.


"Ya sudah deh, kita langsung pulang saja," ucap Rizky seraya menyalakan mesin mobilnya lalu mengemudi. Sesekali dia melirik ke arah Nella, tetapi wanita cantik itu masih memejamkan mata.


'Apa dia tidur beneran?' batin Rizky.


Tidak, wanita itu masih berpura-pura tidur. Meskipun posisinya tak nyaman saat ini, tetapi dia tetap berusaha menahannya.


Namun tiba-tiba ingatannya terlintas tentang Diana. Nella juga tentu ingat jika Rizky akan mengajaknya untuk menemuinya, bertanya masalah tadi.


'Apa Mas Rizky akan mengajakku ke rumah Papa? Atau malah langsung pulang ke rumah?' batin Nella.


Nella merasa tak yakin kalau Rizky akan membawanya bertemu dengan Diana, apa lagi dengan keadaannya saat ini tengah tertidur.


Dan pada akhirnya Nella menyerah, dia memutuskan untuk mengerjapkan matanya, sebab takut jika mobil itu akan sampai ke rumah suaminya.


"Ah maaf, Mas. Aku ketiduran," desah Nella sembari menggeliat dengan kepura-puraan, lalu matanya melirik ke arah jendela. Kebetulan memang arah rumah Rizky dan Sofyan sama, cuma jarak rumah Sofyan jauh lebih dekat dari mall. "Mas ... kita ke rumah Papa dulu, kan? Untuk bertemu Mami? Aku penasaran soalnya."


"Iya," jawab Rizky datar tanpa menoleh. Nella pun segera menoleh padanya. Terlihat dari samping wajah Rizky sangat masam. Jelas sekali dia seperti marah sebab tahu Nella pura-pura tidur.


'Apa Mas Rizky marah?' batin Nella tak enak hati.


Sebenarnya dia ingin bertanya, tetapi rasanya tak enak.

__ADS_1


'Mas sabar, ya! Nanti malam aku akan turuti semua kemauan Mas Rizky. Tapi jangan sekarang,' batin Nella.


'Ternyata masalah Ihsan jauh lebih penting daripada keinginan gue, ya? Gue kira ... setelah gue korbanin rambut gue demi lu, lu juga akan berkorban demi gue. Ternyata gue salah, Ihsan masih ada di dalam hati lu,' batin Rizky dengan dada yang bergemuruh.


*


*


Dua puluh menit akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Sofyan, Nella pun segera turun dari mobil. Tetapi Rizky justru diam pada posisinya.


"Mas nggak turun?" tanya Nella menatap Rizky dari jendela mobil yang terbuka.


"Nggak, gue tunggu di mobil saja," jawabnya datar.


"Mas maafin aku, ya. Nanti di rumah saja. Aku janji akan melakukannya," ucap Nella dengan nada memohon.


"Sudah sana masuk." Rizky tak menanggapi ucapan istrinya, dia malah menyuruh Nella untuk segera pergi.


"Iya, hanya sebentar kok, Mas. Nanti aku balik lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Nella berjalan cepat menuju rumah Sofyan dan memencet bel rumah itu. Dalam hitungan detik saja, pintu rumah mewah itu dibuka oleh Bibi pembantu, lalu Nella pun masuk ke dalam sana.


"Janji, janji, gue 'kan mintanya tadi. Lu minta gue cukur botak saja gue nggak pakai bilang nanti. Lu jahat sama gue, Nell." Rizky mendengus kesal, kemudian tangannya merogoh ponsel di dalam saku jasnya untuk menghubungi Hersa.


"Hersa, kemarin-kemarin gue 'kan minta lu untuk menemui Ihsan ... memberikan surat perjanjian padanya, apa dia tanda tangan?" tanya Rizky. Akibat banyaknya kerjaan di kantor, dia dan Hersa sampai lupa membahas masalah surat perjanjian.


"Sudah, dia sudah menandatanganinya, Pak."


"Surat perjanjiannya tolong kirim ke rumah gue, ya! Gue mau melihatnya."


"Baik, Pak."


***


"Mi," panggil Nella saat langkahnya terhenti di ruang keluarga, melihat Diana yang tengah duduk manis sambil nonton televisi.


Diana menoleh, lalu seketika menarik senyum dan berdiri. "Eh Nella, datang kapan? Kok sendiri?" tanyanya seraya memeluk singkat anak sambungan.


"Aku baru sampai, Mas Rizky menunggu di mobil, Mi." Nella mendudukkan bokongnya di samping Diana.

__ADS_1


"Kok nunggu di mobil? Kenapa nggak masuk saja?"


"Nggak apa-apa, lagian ... aku cuma ada perlu sebentar dengan Mami kok."


"Perlu apa?" tanya Diana.


"Tadi Mami habis pergi dari mana?" tanya Nella dengan wajah serius.


"Mami ke mall."


"Sama siapa?"


"Sendiri."


"Kok Mami bohong?" Mata Nella menajam menatap Diana.


"Mami memang ke mall sendiri kok, sumpah," jawab Diana. Tetapi entah itu jujur atau tidak, Nella sendiri tak yakin dan tak mengenal lebih dalam tentang wanita yang sekarang menjadi ibu sambungnya. Dan jangan lupa dia juga sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau Diana bersama Ihsan di mall.


"Bukannya Mami pergi sama Kak Ihsan, ya? Aku dan Mas Rizky tadi nggak sengaja melihatnya kok," ujar Nella kesal, lantaran Diana mengelak.


"Oh itu, Mami nggak sengaja bertemu dia saat diparkiran mall, Nell."


"Nggak sengaja ketemu maksudnya bagaimana? Tapi kok ... kenapa kalian masuk ke dalam mall dan memilih baju sama-sama?" tanya Nella dengan suara agak meninggi, dia merasa tak terima dan tak percaya dengan apa yang Diana katakan. "Jangan bilang Mami selingkuh dari Papa! Aku nggak terima apa lagi selingkuhannya Kak Ihsan!" tegas Nella.


Diana menggeleng cepat. "Siapa yang selingkuh? Mami nggak selingkuh apa lagi dengan mantan pacarmu, Nell. Mami bisa ceritakan semuanya," terang Diana dengan bibir yang bergetar, dia merasa takut melihat wajah marah anaknya.


"Ceritakan padaku sekarang, tapi nggak perlu mengarang cerita. Aku nggak suka dibohongi!" tegasnya.


Diana mengangguk cepat. "Iya, Mami akan ceritakan dengan jujur."


(Flashback On)


Diana turun dari mobil, saat mobil taksi yang dia tunggangi berhenti di depan mall. Lantas dirinya membuka tas miliknya untuk mengambil dompet, setelah itu membayarkan ongkos taksi.


Namun, ketika dia hendak menaruh dompet persegi empat dengan bahan emas itu ke dalam tas selempang miliknya—secara tiba-tiba dan begitu cepatnya ada seorang pria yang lewat sambil mengambil paksa dompet itu. Lalu setelahnya pria tersebut berlari dengan cepat.


"Copet!" pekik Diana dengan kencang, wajahnya tampak gusar dan cemas.


...Jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1021...


__ADS_2