Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
193. Dari segi rasa


__ADS_3

Guntur membulatkan matanya, dia pun lantas berbalik badan lalu berlari terbirit-birit ke ruangan yang tadi dimaksudkan oleh pria itu. Mungkin yang terpenting sekarang adalah buang air kecil dulu, baru setelah itu menghilangkan rasa takut.


Namun ternyata Guntur salah, saat tibanya di depan dua pintu toilet yang tertutup—mendadak bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya merinding. Ditambah secara tiba-tiba ada suara cekikikan yang entah asalnya dari mana terdengar begitu menggema di telinganya.


"Hihihi!"


Guntur terhenyak, dia pun langsung berlari keluar dari ruangan itu kemudian menghampiri Rizky yang masih menonton film sambil merem.


"Riz," ucap Guntur seraya memegang lengan pria itu dan seketika Rizky menjerit.


"Aaakkkhh setan!" Rizky menepis kasar tangan Guntur sembari membuka matanya dengan lebar.


"Ini Papa bodoh!" Guntur menoyor kepala Rizky, lalu dia pun menarik tangan pria tampan itu hingga berdiri.


Tanpa berlama-lama sebab sudah diujung tanduk, Guntur menarik lengan anaknya hingga kakinya terseret mengikuti langkahnya yang begitu cepat menuju toilet.


"Papa mau apa? Kenapa membawaku ke sini? Aku takut, Pa," ucap Rizky. Bulu kuduknya seketika berdiri saat Guntur membawanya masuk ke dalam toilet.


"Papa mau kencing banget, nggak tahan, Riz." Guntur segera membuka penutup kloset kemudian menurunkan resleting celana bahannya dan setelah itu menyembulkan miliknya untuk keluar.


Bunyi gemericik air terdengar dan Rizky yang melihatnya ikut menurunkan resleting celananya juga.


"Kamu mau apa? Jangan ngajakin Papa bercanda, ya?"


"Bercanda apaan, sih? Papa kira aku mau adu pedang?" Rizky mengerutkan keningnya, lalu dia pun mengeluarkan air pada inti tubuhnya. "Noh lihat, aku juga kencing." Rizky mengedikkan dagunya ke depan.


Setelah membersihkannya dengan air, keduanya membereskan celananya masing-masing.


"Riz, kita tunggu filmnya selesai saja di sini." Guntur mencekal tangan Rizky saat pria tampan itu lebih dulu keluar dari toilet.


"Nggak mau, di sini juga seram, Pa. Aku mau peluk Nella saja."


"Yasudah, Papa juga deh."


"Dih, Papa nggak boleh peluk Nella!" tegas Rizky.


"Maksud Papa Mama. Papa mau peluk Mama." Guntur meralat ucapannya dengan cepat.


"Oh, kirain."


Mereka pun berjalan sama-sama lalu duduk di tempat masing-masing.


"Aku kira Papa sudah keluar dari tadi?" tanya Rizky seraya menenggak minumannya sampai tandas.


"Tadinya mau, tapi nggak boleh sama penjaganya."


*


*

__ADS_1


*


Akhirnya, setelah melewati proses yang menurutnya panjang hingga film itu selesai dan kini mereka berempat bisa pulang.


"Tadi filmnya seru nggak menurut Mas Rizky?" tanya Nella pada Rizky yang tengah mengemudi.


Rizky mengangguk cepat. "Seru banget."


"Menurut Papa bagaimana?" tanya Nella seraya menoleh ke kursi belakang, tepat pada Guntur dan Gita berada.


"Iya, seru banget," jawab Guntur.


"Kalau menurut Mama?"


"Sama, seru sayang. Tadi pas adegan congkel mata kamu nutup mata, nggak?"


Nella mengangguk cepat. "Iya, itu 'kan sadis. Kata Mama nggak boleh."


"Bagus kalau kamu menurut." Gita tersenyum.


Nella pun segera mendekati Rizky dan bergelayut di lengannya. "Kapan-kapan kita nonton film dan jalan-jalan lagi ya, Mas. Aku suka menghabiskan waktu bersama Mas Rizky."


"Iya, Sayang." Rizky menyentuh sebentar puncak kepala Nella sembari tersenyum. "Tapi jangan nonton film horor lagi, ya? Gue nggak suka."


"Tadi bukannya Mas bilang seru, ya?"


"Memang seru, tapi gue nggak suka."


"Bener, hanya nggak suka kok."


"Yasudah, nanti kita nonton film romantis."


"Iya, itu lebih baik."


***


Sampai di rumah, Nella segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pinggang terasa kram sebab terlalu lama duduk.


Setelah berganti pakaian memakai celana boxer dan kaos putih polos, Rizky pun ikut berbaring di samping istrinya lalu memeluknya.


"Mas punya minyak angin nggak? Minyak anginku habis."


"Lu sakit emangnya?" Rizky menyentuh kening istrinya dengan punggung tangannya.


"Pinggangku kram, kalau ada salep nyeri otot yang seperti punyaku itu, Mas."


"Sebentar ... gue minta sama Mama dulu, ya? Mungkin dia punya." Rizky bangkit lalu berdiri, lantas dia pun keluar dari kamar itu.


Beberapa detik kemudian, terdengar deringan ponsel yang asalnya dari ponsel Rizky yang berada di atas nakas. Nella yang mendengarnya pun segera mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel itu.

__ADS_1


Tertera nama Risma pada layar itu, nama seorang perempuan tapi rasanya asing. Segera Nella mengangkat telepon lalu menempelkannya pada telinga kanan.


"Halo, Kak," ucap seorang gadis di seberang sana. Suaranya terdengar begitu lembut.


"Halo, kamu siapa, ya?" tanya Nella.


"Aku Risma, Kakak ini siapa? Apa Kak Nella?"


"Kok kamu tahu namaku? Kamu siapanya Mas Rizky?"


"Aku adiknya, Kak."


"Adik?" Nella mengerutkan dahi. "Mas Rizky 'kan hanya punya adik cowok, kamu 'kan cewek."


"Aku adiknya yang terakhir. Memangnya Kak Rizky ... Mama atau Papa nggak memberitahu tahu Kakak, ya?" Suara gadis dalam sambungan telepon itu mendadak jadi sendu. "Aku sedih sekali."


"Maaf, memang aku nggak tahu kok. Nanti aku tanya sama Mas Rizky deh kalau memang kamu benar-benar adiknya. Oya, ada perlu apa telepon? Nanti aku sampaikan padanya."


"Nanti Kakak sampaikan saja kalau aku telepon, hanya itu saja. Yasudah ... selamat siang Kakak ipar."


Setelah mengatakan hal itu, gadis itu pun memutuskan panggilan. Nella merasa heran, jelas sekali sekarang sudah malam, tetapi dia bilang siang.


Ceklek~


Rizky membuka pintu kamarnya dengan membawa segelas susu rasa coklat dan salep yang berbentuk pasta gigi. Lantas melangkahkan mendekati istrinya.


"Lu minum susu dulu, habis ini gue olesin salep." Rizky mendudukkan bokongnya di atas kasur lalu menarik lengan istrinya untuk duduk di sebelahnya.


Nella mengangguk, kemudian dia pun menenggak susu ibu hamil itu sampai habis. Lantas segera menarik dressnya ke atas sedikit sampai punggungnya terlihat lalu duduk membelakangi Rizky.


"Salepnya sama seperti punyaku nggak, Mas?"


"Beda, tapi khasiatnya sama kok." Rizky membuka penutupnya lalu memencetnya diujung jari dan perlahan mengolesi pinggang putih istrinya. "Pegel banget apa bagaimana? Padahal gue mau mengajak lu bercinta malam ini, Nell. Kita 'kan belum pernah bercinta di kamar ini."


"Memangnya ada yang beda kalau kita bercinta di tempat yang berbeda, Mas? Ini 'kan kamar juga, dan kita sering bercinta di kamar." Mata Nella menyapu pada ruangan dengan nuansa putih, kamar itu mirip dengan kamar Rizky di rumahnya. Hanya saja jauh lebih luas kamar Rizky sedikit.


"Pasti beda dong, mungkin dari segi rasa." Setelah mengolesi Nella salep, Rizky segera menarik dress pada tubuh wanita itu hingga terlepas. "Lu kuat nggak?" Rizky sudah memegang pengait bra, tapi rasanya ragu untuk membukanya.


"Kuat, tapi Mas yang mimpin, ya?"


"Iya, lu tinggal dapat enaknya saja kok." Rizky tersenyum, lalu dia pun melepaskan pengait bra dan juga melepaskan seluruh benang di tubuhnya hingga polos sempurna.


Setelah melihat Nella berbaring terlentang, Rizky langsung melepaskan cd berwarna merah dengan model brokat milik istrinya.


Sekarang pemandangan yang indah langsung berada di depan mata Rizky.


Tanpa berlama-lama, Rizky pun membuka kedua paha istrinya dengan lebar, lantas segera membungkuk dan menenggelamkan wajahnya di sana.


*

__ADS_1


*


Hari ini author up 4bab, ya! Mohon kasih dukungan terus pada novel ini 🙂 dan jangan tabung bab!!


__ADS_2