Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
251. Diomongin


__ADS_3

Jleb!


Ucapan Yuni terasa begitu menusuk ke dalam hati Sofyan, kata 'tua' itu sangat tak enak didengar meski memang dia sendiri mengakui jika dirinya memang sudah tua.


'Apa Tante Yuni tadi sedang mengantaiku? Kenapa harus bawa-bawa tua, sih?' batin Sofyan.


"Itu pasti, Tante. Aku 'kan mencintai Maya, jadi wajar kalau perhatian." Sofyan merangkul pinggang istrinya lalu mengajaknya keluar dari kamar mandi, kemudian pintu kamar mandi itu ditutup oleh Yuni yang baru saja masuk.


"Ayank mau pergi ke mana?" Maya berbaring kembali di atas kasur, sedangkan suaminya itu justru berjalan hendak keluar dari kamar inap.


Sofyan menghentikan langkahnya di depan pintu seraya menoleh. "Aku mau keluar sebentar cari angin, kamu tidur duluan saja."


"Kok cari angin di luar? Kan di sini juga ada angin, Ayank." Maya menunjuk ke atas tembok tepat di mana AC berada.


"Anginnya kurang, May. Aku juga ada perlu sama Aldi." Sofyan mengibaskan tangannya ke arah wajahnya yang berkeringat. Setelah itu Sofyan berlalu pergi, Maya hanya menatap punggung suaminya dengan wajah bersalah.


'Apa Pak Sofyan marah gara-gara gagal lagi? Semoga saja nggak.' Maya menarik selimut.


"May ... kamu belum tidur?" Yuni yang baru saja keluar dari kamar mandi lantas menghampiri, namun dia duduk di sofa di dekat kasur Maya berada. "Di mana suamimu?" Yuni menatap pintu kamar inap dan menatap sekeliling.


"Dia keluar, Tan. Cari angin katanya."


"Suamimu kerja apa, May?"


"Sama kayak Pak Rizky, Tan. CEO di perusahaan."


"Perusahaannya sendiri?"


Maya mengangguk. "Iya."


"Apa dia masih punya orang tua?"


"Masih, orang tuanya masih lengkap."


"Pasti sudah jompo, ya? Tinggalnya serumah nggak itu sama kamu, May? Apa kamu disuruh ngurusin mereka?"


"Mereka belum jompo kok, Tan. Belum terlalu tua dan keduanya juga sehat. Mereka tinggal di rumahnya sendiri, Pak Sofyan juga hanya tinggal sendiri."


"Masa sih belum tua, anaknya juga segitu. Oh, ya ... Pak Sofyan anak keberapa?" tanyanya penasaran. Yuni memang wanita yang selalu kepo, dia sering sekali bertanya-tanya pada Maya saat gadis itu pulang kampung. Bahkan gaji perbulan Maya dia juga tahu.


"Aku nggak tahu, Tan." Maya menggeleng.

__ADS_1


"Kamu sudah bertemu mertuamu, kan? Kok nggak tanya-tanya?"


"Masa aku tanya-tanya, aku malu lah, Tan. Nggak enak juga."


"Ngapain malu, dia 'kan mertuamu. Oh ya, kamu perbulannya diberi uang berapa sama suamimu?"


"Aku baru nikah kemarin, Tan. Baru dua hari. Belum ada sebulan."


"Tapi suamimu ngasih uang pasti untuk biaya perbulan, kan? Eh, apa dia kasih itu ... apa namanya ...." Yuni terdiam beberapa saat mengingat apa yang akan dia ucapkan, lalu dimenit selanjutnya dia pun berkata, "Black card, iya blanck card. Orang kaya biasanya punya banyak kartu rekening seperti itu, apa kamu diberi satu? Pasti isinya banyak, kan?"


Maya menggeleng. "Nggak, Pak Sofyan nggak ngasih kartunya padaku."


"Lho kok begitu? Apa suamimu pelit, May?"


"Nggak, Pak Sofyan orangnya baik, Tan."


"Terus itu kenapa nggak kasih black card?" Yuni tersenyum miring sambil geleng-geleng kepala. "Kalau dia nggak mau ngasih kamu black card ... kamu jangan mau kalau dia minta jatah, May." Yuni beralih duduk, sekarang dia di atas kasur di dekat keponakannya yang masih berbaring.


"Jatah apa?"


"Wikwik."


"Wikwik itu apa?"


"Aku memang nggak tahu, malah baru dengar."


"Besok kamu minta kartu itu, May. Itu 'kan buat biayamu sehari-hari. Seorang suami ya harus menafkahi istri, kamu sebagai wanita jangan menurut dan diam saja, dong. Kamu jangan mudah dibodohi. Nanti dia ngelunjak!" Yuni jadi marah-marah, suaranya yang terdengar agak nyaring itu hingga membangunkan Darus dari tidurnya.


"Yuni ... kenapa kamu marahi Maya? Kenapa dengannya?" tanya Darus sambil mengucek kedua matanya yang terlihat buram dalam penglihatan.


"Ini, masa suaminya Maya nggak nafkahi dia, Mas? Kan kurang ajar!" Yuni berpindah lagi duduknya di sofa, lalu menatap suaminya sambil bersedekap.


"Benar itu, May?" tanya Darus.


Maya binggung untuk menjawab apa, tetapi memang Sofyan belum memberikan uang bulanan dan dia sendiri belum memerlukannya.


"Mungkin Pak Sofyan lupa, Om. Tapi aku yakin Pak Sofyan pasti menafkahiku. Dia juga pernah berumah tangga, pasti mengerti hal seperti itu."


Mungkin hanya jawaban itu yang bisa Maya sampaikan, semoga saja mereka mampu memahami dan tak berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya. Maya yakin—Sofyan pria yang baik.


"Kalau lupa kamu ingatkan dong, masa kamu diam saja." Yuni kembali menyahuti ucapan Maya. "Apa harus Tante yang bilang padanya?"

__ADS_1


Maya menggeleng cepat. "Nggak perlu, Tan. Nanti juga Pak Sofyan akan memberiku uang nafkah. Tante nggak usah khawatirkan masalah itu."


"Tante 'kan hanya takut kamu dimanfaatkan. Rugi tahu, May. Kamu cantik, masih muda. Masa iya punya suami tua dan pelit. Mending diracun saja biar cepat mati!"


*


*


*


Sementara itu di tempat yang berbeda, Sofyan yang tengah nongkrong di cafe bersama Aldi merasakan kedua telinganya berdengung. Berkali-kali dia mengusapnya, tetapi masih saja berdengung.


"Kenapa, Pak?" tanya Aldi sambil menyesap kopi hitam yang masih beruap pada cangkir di tangannya. Sejak tadi dia melihat Sofyan tak bisa diam dalam posisinya.


"Ini, telingaku kok dua-duanya berdengung ya, Di. Seperti ada nyamuknya." Sofyan menyentuh kedua telinganya.


"Ada yang ngomongin Bapak kali," tebak Aldi.


"Apa hubungannya berdengung sama diomongin orang? Ngaco kamu!"


"Kata nenek saya begitu, Pak. Biasanya memang ada yang ngomongin."


Sofyan mengerutkan keningnya, lalu menatap Aldi dengan serius. "Siapa kira-kira yang ngomongin aku, Di?"


"Saya nggak tahu." Aldi menggeleng. "Tapi palingan juga Pak Rizky, dia 'kan suka gosip orangnya, Pak."


Sofyan langsung bergelak tawa dan geleng-geleng kepala. Baginya diomongin Rizky tak jadi masalah, dia dapat maklum sebab memang Rizky suka menggosip.


"Tapi ini sudah malam, ngapain Rizky gosipin aku, Di?"


"Mana saya tahu, Pak. Saya 'kan hanya menebak." Aldi terkekeh. "Ngomong-ngomong Bapak mau mengajak saya begadang atau gimana? Kok Bapak nggak tidur? Ah ... nggak bisa goyang, ya? Tempatnya susah," terka Aldi menggoda. Wajah Sofyan seketika muram, dia lantas cemberut.


"Iya, susah. Lagi-lagi gagal," keluhnya.


"Memangnya Bapak sudah coba berapa kali sampai gagal begitu? Bukannya Bapak kenyang bercinta dengan Nona Maya, ya?"


"Mana ada aku kenyang." Sofyan mengusap kasar wajahnya sambil geleng-geleng kepala. "Gawangnya saja nggak berhasil gol."


Aldi membulatkan matanya, dan sontak dia tertawa. "Hahaha ... serius, Pak? Apa Bapak berbohong?"


"Ngapain aku berbohong?" Sofyan menarik bibir atasnya sebelah. "Berhenti menertawaiku, Di. Aku 'kan bosmu."

__ADS_1


"Maaf ... maaf, Pak." Aldi mengusap kedua sudut matanya yang berair, dia tertawa sampai menangis karena sangking lucunya.


__ADS_2