Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
186. Gondrong


__ADS_3

"Kak Ihsan?" Nella mendelik sedikit, agak terkejut sebab lagi-lagi Ihsan bagaikan hantu yang tiba-tiba saja datang. "Kok Kakak ada di sini?" Nella menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari suaminya. Dia tak mau dengan adanya Ihsan akan makin membuat Rizky marah.


"Aku ke sini mau bertemu denganmu."


"Bertemu denganku?" Nella mengulang kalimat itu dengan kening yang berkerut.


"Ah bukan." Ihsan menggeleng cepat, dia tadi keceplosan. "Aku kesini mau menjengkuk Papamu, bagaimana keadaannya?"


"Oh. Alhamdulillah ... Papa baik-baik saja, Kakak silahkan ma ...." Tangan Nella menyentuh handle pintu, ingin membuka pintu dan mempersilahkan Ihsan masuk. Tetapi rasanya ragu, sebab dia tahu papanya tak suka pada pria di depannya itu. Kondisinya juga sudang tidak bagus untuk marah-marah. "Maaf, Kak. Papa belum bisa dijenguk oleh siapa pun."


Iya, lebih baik berbohong saja. Supaya tak melukai hati Ihsan.


Namun, dengan mengatakan hal itu, justru memberi peluang untuk Ihsan supaya bisa mengobrol dengannya.


Malah Ihsan datang ke rumah sakit sejak tadi namun menunggu di dalam mobilnya diparkiran. Dan saat melihat Rizky keluar dari rumah sakit lalu menaiki mobil, bergegas Ihsan masuk. Dia tadi sempat kesusahan mencari kamar inap Sofyan, tetapi akhirnya bisa ketemu juga dan melihat pujaan hatinya.


"Kak." Nella melambaikan tangan ke wajah Ihsan. Terlihat Ihsan seperti melamun.


"Ah iya, maaf, Cantik." Ihsan terhenyak lalu mengusap pelan wajahnya.


"Nggak perlu minta maaf, Kakak 'kan nggak salah." Nella menatap buah jeruk yang sejak tadi ditenteng Ihsan sembari menelan ludahnya, sepertinya Nella menginginkannya, tetapi malu jika langsung meminta. "Kakak bawa buah jeruk untuk siapa?"


Tidak meminta, kan? Hanya bertanya meskipun sekarang dia juga tengah mengusap perutnya.


Ihsan yang melihat akan hal itu segera memberikan padanya, memang jeruk itu dibeli sengaja untuk Nella.


"Ini buat Om Sofyan dan kamu." Pakai nama Sofyan juga, supaya tidak mencurigakan. Kemudian Nella pun segera mengambilnya dengan senang hati.


"Terima kasih, Kak," ucapnya sambil tersenyum manis.


"Nella tunggu!" Ihsan menahan lengan Nella saat melihat wanita cantik itu hendak menurunkan handle pintu, dan seketika Nella urungkan lalu menoleh kembali padanya. "Aku ingin kita mengobrol sebentar," pintanya.


"Mengobrol masalah apa? Sepertinya nggak ada yang perlu diobrolkan, Kak." Nella segera menepis tangan Ihsan sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ini tentang pelet. Apa kamu sudah melakukan apa yang kusuruh?" tanya Ihsan penasaran. Dan itu adalah tujuan utamanya menemui Nella. Mungkin kalau Rizky marah, Ihsan sangat puas.


Nella mengangguk cepat. "Ya, aku sudah melakukannya. Tapi hanya dua kali dan sepertinya aku nggak akan melakukannya lagi, Kak," keluh Nella dengan wajah sedih.


Jangankan untuk melakukan setiap hari, baru sehari saja dia gagal dan itu hanya dua kali menyembur.


"Lho, kenapa hanya dua kali dan kenapa kamu nggak akan melakukannya lagi?" Ihsan sangat penasaran.


"Mas Rizky—”


"Aku mau pergi ke toilet sebentar, ya!" Ihsan tiba-tiba saja menyela jawaban Nella lalu berlari terbirit-birit tak tentu arah meninggalkan wanita cantik itu. Entah apa yang dialaminya, tetapi terlihat jelas wajahnya sangat panik, seperti habis melihat hantu.


"Sedang apa lu di depan pintu?" tanya Rizky, dia berjalan menghampiri Nella yang sejak tadi dilihatnya seorang diri di depan pintu.


Rupanya kepergian Ihsan yang secara mendadak itu karena kehadiran Rizky, dia merasa takut jika pria itu melihatnya menemui Nella.


Tentu rencana Ihsan adalah main cantik, tanpa sepengetahuan siapa pun.


Mata Nella langsung berbinar, saat melihat suami tercintanya berada di hadapannya, lantas dia pun segera memeluk tubuh Rizky, juga menciumi dada Rizky bertubi-tubi. Minyak wanginya masih menyeruak pada hidungnya.


Dari kejauhan, Ihsan yang mengintip dibalik tembok tengah meremmas kuat jaket kulitnya sendiri. Dia merasa sangat kesal dan tentunya pemandangan itu membuat matanya sakit.


"Si Rizky sial*n banget, sih! Kenapa dia kembali cepat banget. Aku belum sempat mencium Nella," gerutu Ihsan pelan. "Padahal lumayan walau mencium rambutnya saja, sedikit mengobati rasa rinduku." Ihsan menyentuh dadanya yang terasa sesak.


Kemudian dia pun melihat Nella menarik lengan Rizky membawanya pergi dari sana. Ihsan yang penasaran—gegas mengikuti langkah mereka dari kejauhan.


Rizky masih diam saja, sebenarnya dia mau melupakan kejadian tadi pagi. Tetapi rasanya masih kesal dan menganggap istrinya tak sopan padanya.


Langkah Ihsan yang mengikuti mereka kini sampai di halaman rumah sakit, tepat di parkiran mobil dan di sebuah mobil hitam yang diyakininya adalah mobil Rizky.


'Apa mereka mau pergi? Pergi kemana?' batin Ihsan penasaran, dia pun segera berlari masuk ke dalam mobil Omnya yang kebetulan parkir tepat di belakang mobil Rizky. Mungkin niatnya akan ikut membuntuti mereka.


"Mas, tolong buka kuncinya." Nella bergelayut manja di lengan Rizky sambil menunjuk pintu belakang mobil.

__ADS_1


Nella mempunyai sebuah ide supaya Rizky tak lagi marah padanya, dan masalah mengusir pelet—itu ditunda dulu saja.


"Lu mau pergi ke mana memangnya?" tanya Rizky dengan suara datar.


"Buka dulu, nanti aku beritahu."


Rizky merogoh kantong celananya, lalu memencet tombol yang berada dikunci mobil. Setelah mobil itu berbunyi, wanita cantik itu membuka pintu kemudian menarik lengan Rizky untuk sama-sama masuk ke dalam mobil.


Namun rasanya agak aneh. Jika memang ingin pergi, kenapa musti duduk di belakang? Lantas siapa yang menyetir?


"Kok kita duduk di belakang?" tanya Rizky yang masih dilanda penasaran.


Sontak pria tampan itu membulatkan matanya ketika Nella secara tiba-tiba duduk di pangkuannya, perlahan kupluk yang berada di atas kepala Rizky Nella lepas.


Namun tanpa diduga, Nella langsung terbelalak. Merasa terkejut dengan apa yang dilihat di atas kepala suaminya.


Kepala Rizky sudah ditumbuhi rambut berwarna hitam pekat, dan anehnya rambut itu lebih panjang dibandingkan rambut Rizky sebelum dipotong botak, lebih tepatnya bisa dibilang gondrong.


Padahal seingat Nella, Rizky kemarin-kemarin masih berkepala plontos dan saat di rumah sakit kepalanya terus dibungkus oleh topi kupluk.


Dia juga tak pernah terbayangkan jika bisa secepat itu tumbuh rambut sampai bisa gondrong. Apalagi rasanya baru ada tiga Minggu Rizky cukur botak, belum sampai sebulan.


Kok bisa seajaib itu? Apa karena serum?


Namun tetap saja aneh, setidaknya kalau memang tumbuh rambut baru, pasti akan sedikit dulu, tidak langsung panjang seperti ini.


"Lho, Mas. Kok Mas Rizky rambutnya sudah panjang? Apa Mas pakai wig baru?"


Nella sangat heran dan tak yakin sebelum itu benar-benar terbukti. Perlahan tangannya pun meraih beberapa ujung rambut Rizky, lalu menariknya.


Bret!


"Aaww! Sakit!" Rizky merintih kesakitan.

__ADS_1


Sepertinya Nella terlalu keras menariknya, dan sudah sangat jelas jika itu benar-benar rambut asli dari kulit kepalanya, bukan wig.


__ADS_2