
Nella menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Kak Ihsan, sebelumnya aku ingin meminta maaf pada Kakak sebesar-besarnya." Nella menurunkan pandangan, rasanya dia tak akan sanggup jika melihat air mata Ihsan jatuh membasahi pipinya. "Kita ... kita lebih baik putus saja dan menjalani kehidupan masing-masing."
Ihsan terhenyak sembari membulatkan matanya. Kembali pria itu ingin mendekati Nella, tetapi salah satu lengan Guntur membentang seolah menjadi penghalang bagi mereka.
"Diam di tempat atau mau aku hajar!" Sekarang sebuah kepalan tangan terangkat di depan wajah. Jelas, Guntur sedang mengancam Ihsan di sini.
"Cantik, kok kamu bicara seperti itu? Apa maksudnya? Jangan bercanda." Ihsan tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Jantungnya berdebar begitu kencang dan tiap degupannya terasa sakit. Tapi untuk sekali lagi, Ihsan berusaha untuk tidak langsung mempercayainya.
"Aku serius, Kak. Sepertinya ... memang kita nggak berjodoh, aku ingin kita putus." Suara Nella begitu pelan tetapi mampu menyayat hati Ihsan. Bola matanya seketika berair dan mulai mengenang dipelupuk mata.
"Nggak, aku nggak mau putus! Kita nggak boleh putus!" tegas Ihsan.
Rahang Guntur langsung mengeras, kepalan tangan itu hampir saja ingin dilayangkan pada wajah pria di depannya. Namun dia urungkan, Guntur masih bersikap sabar dan mengatur emosi yang bergemuruh di dadanya.
"Kita harus putus, Kak. Ini adalah jalan yang terbaik," ungkap Nella yang masih menunduk.
"Apa alasannya? Beri aku alasan kenapa kamu mau putus? Bukankah kamu bilang sangat mencintaiku?" tanya Ihsan dengan lantang, suaranya begitu bergetar sebab air matanya sudah mengalir membasahi kedua pipinya.
"Aku hamil," jawab Nella.
Kedua kalinya Ihsan membulatkan matanya. Sakit, perih, nyeri menusuk ke lubuk hatinya.
Ihsan terdiam sejenak, lalu menyeka air mata pada kedua pipinya. Tiba-tiba, tanpa diduga pria bule itu menarik senyum. Senyum luka tetapi dia ubah menjadi senyum kebahagiaan.
Guntur dan Irwan yang melihatnya hanya bisa mengerutkan keningnya lantaran binggung. Mereka tak paham dengan apa maksud tujuan Ihsan tersenyum.
"Benarkah kamu hamil?" tanya Ihsan.
"Iya, Kak." Nella mengangguk samar.
"Alhamdulilah, berarti aku sebentar lagi menjadi Ayah."
Deg!
Sontak, kalimat yang terlontar dari mulut pria itu membuat tiga orang itu membelalakkan matanya lantaran kaget.
Bugh!
Bruk!
__ADS_1
Mendengar suara seseorang jatuh dan bunyi tonjokkan, seketika itu pun Nella mengangkat pandangannya ke arah Ihsan. Tepat di depannya, Guntur tengah duduk di atas perut Ihsan dan mencengkeram lehernya.
"Apa yang kau katakan bodoh!" pekik Guntur. Kali ini, emosinya tidak bisa terkontrol. Pria tua itu berhasil membuat Ihsan babak belur sebelum dirinya diamankan oleh Irwan dan beberapa montir. Mereka memegangi kedua lengan Guntur meskipun pria tua itu berusaha untuk memberontak.
"Brengs*k! Apa yang kau katakan!" berang Guntur sambil melotot.
"Apa yang aku katakan? Memangnya nggak jelas tadi? Aku menyebutkan kalau aku sebentar lagi jadi ayah?"
Ucapan Ihsan terdengar seperti penghinaan bagi Guntur. Jelas dia tak akan rela dunia dan akhirat, membiarkan Rizky hidup bersama wanita yang mengandung anak orang lain.
"Nggak! Semuanya nggak benar, Pa!" tegas Nella seraya menggeleng cepat, dia mendekati Guntur. Terlihat wajah sang mertua begitu merah dan sangat menyeramkan. "Aku hamil anak Mas Rizky! Bukan Kak Ihsan!"
"Apa yang kamu katakan, Cantik?" Ihsan langsung menangkup kedua pipi wanita itu, tetapi dengan cepat Nella menepisnya. Sungguh, dia tak mau membuat Guntur tak mempercayainya dan malah kemakan omongan Ihsan.
"Harusnya aku yang tanya Kakak! Kenapa Kakak bicara seperti itu!" berang Nella.
"Aku jelas bicara semua itu karena memang itu fakta."
Nella menggeleng. "Nggak! Aku hamil anak Mas Rizky, Kak. Kita juga pacaran nggak pernah melanggar batasan!"
Ihsan tersenyum miring sambil berkacak pinggang. Baru kali, Nella melihat sikap pujaan hatinya begitu menyebalkan. Jelas sekali Ihsan berbohong dan ingin mengarang cerita. Dia sengaja memancing Guntur yang tengah emosi.
"Mungkin kamu lupa Cantik, kita pernah melakukannya sekali saat kamu selesai datang bulan dan sebelum Rizky menyentuhmu."
Nella lepaskan kedua lengan Guntur dari kungkungan Irwan dan beberapa montir itu. Dia pun segera memegang lengan sang mertua, tetapi tiba-tiba Guntur menepisnya dengan kasar dan itu membuat Nella terkejut.
"Nggak usah pegang-pegang tanganku! Mulai sekarang aku bukan lagi Papa mertuamu!" tegas Guntur sambil melotot.
"Papa ... apa maksud Papa? Jangan bicara seperti itu." Nella berlari mengejar Guntur yang sudah berjalan cepat menuju parkiran. Pintu mobil itu dibuka dan dirinya langsung masuk ke dalam. Bergegas Nella berlari menuju pintu sebelahnya, tepat dimana dia duduk saat naik mobil. Namun sayangnya pintu mobil itu sudah dikunci dari dalam. "Papa! Buka! Buka pintunya!" Nella yang sudah menangis mengetuk kaca mobil itu. Bukannya Guntur membukakannya, dia malah menarik gas dan meninggalkan menantunya.
Tubuh Nella bergetar hebat, dia sungguh merasa takut. Bisa dipastikan Guntur benar-benar tak mempercayainya. Segera Lengannya terulur menyetopkan taksi yang baru saja lewat, lalu wanita itu masuk ke dalam.
"Mau ke mana Nona?" tanya sang sopir.
"Jalan saja dulu, Pak," jawab Nella sambil menyeka air matanya.
"Baik."
Sebetulnya Nella sendiri binggung mau ke mana saat ini, mau mengejar Guntur pun rasanya percuma. Mobil Papa mertuanya sudah tak terlihat lantaran tadi melaju begitu kencang.
__ADS_1
Nella mengigit bibir bawahnya, dia terdiam sejenak. Tetapi tiba-tiba dia teringat dengan Rizky. Bisa saja Guntur datang ke kantor anaknya untuk mengadukan apa yang dia dengar tadi.
"Pak, kita ke jalan Xxx. Kantor Gumelang Grup B, ya!" titah Nella.
"Baik, Nona."
***
Tok ... tok ... tok.
Tepat di depan pintu ruangan Rizky, Guntur berdiri sambil mengetuk pintu. Benar dugaan Nella tadi, papa mertuanya akan datang menemui Rizky dan niatnya ingin mengadu.
"Rizky! Buka pintunya!" pekik Guntur.
Ceklek~
Tak lama pintu itu terbuka dan yang membukanya adalah Rizky.
"Maaf lama, Pa. Tadi aku kebelet."
Guntur langsung menarik lengan anaknya hingga masuk ke dalam sembari menutup pintu, lalu dia pun menariknya lagi hingga mereka sama-sama duduk di sofa.
"Papa kenapa sih tarik-tarik?" Rizky mendengus kesal, dia melihat lengan jasnya terlihat begitu lecek.
"Kamu dan Nella harus benar-benar bercerai, Riz!"
Rizky mengerutkan keningnya, dia binggung sekali. Kemarin mereka baru saja membatalkan perceraian, lantas mengapa harus bercerai lagi?
"Papa ini bicara apa? Kan Papa tahu aku dan Nella nggak jadi bercerai, hubunganku dan dia juga jauh lebih baik."
Guntur menggeleng cepat. "Nggak, itu semua nggak baik. Nella selama ini menghianatimu, Riz! Dia selingkuh di belakangmu!"
"Nella bilang dia akan memutuskan Ihsan, Pa. Dia nggak akan berselingkuh," sanggah Rizky.
"Apa kamu tahu, Riz. Ternyata Nella itu hamil anak Ihsan, bukan anakmu!"
Deg!
...Jangan lupa like dan komentarnya...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....
...1058...