
Padahal, tujuan Rizky meminta Nella datang juga lantaran ingin memastikan—apa benar cinta Nella pada Ihsan masih ada atau tidak, tetapi sikapnya yang seperti itu membuat Rizky yakin—jika masih ada celah di hati Nella yang tersimpan rasa cintanya pada Ihsan.
"Bukan, Mas. Maksudku bukan—”
"Pak Rizky." Lagi-lagi ucapan Nella disela dan kali ini yang menyelanya adalah Irwan. Sejak tadi dia ingin bicara tetapi tidak ada kesempatan. "Maaf Om menyela ucapanmu, Nell." Irwan berjalan perlahan mendekati Rizky.
"Pak, bisa kita bicara berdua? Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Bapak."
"Tentang apa? Gue 'kan sudah bilang nggak ada urusan dengan lu!" tegas Rizky marah.
"Tapi masalah ini nggak perlu dibawa ke penjara, apalagi Ihsan sampai dikasuskan. Kita bisa bicarakan baik-baik, saya akan membantu Bapak," ucap Irwan dengan nada memohon.
Mungkin sekarang bukan Nella orang yang pertama yang tak rela melihat Ihsan dipenjara, tetapi Irwan. Sebab, cinta Nella yang sesungguhnya pada Ihsan sudah luntur dan berganti cinta baru untuk Rizky.
Hanya saja sejatinya Nella tak pernah bisa melihat Ihsan menderita apalagi dialah alasannya. Meskipun sudah putus, dia tentu ingat betapa kerasnya pria bule itu mencoba berusaha untuk mendapatkannya, walau pada akhirnya mereka tak bisa bersatu.
"Bapak ini siapa?" tanya Pak Polisi pada Irwan.
"Saya Omnya dia, Pak," jawab Irwan sembari menunjuk pada Ihsan. "Saya akan menasehati keponakan saya supaya tidak menggangu rumah tangga Pak Rizky, jadi Pak Rizky tidak perlu menjebloskannya," jelasnya.
"Kalau nggak dijebloskan, bagaimana dia bisa jera? Ihsan selalu menghubungi Nella dan itu membuat gue sakit hati!" gerutu Rizky. "Apalagi dia mengaku-ngaku Nella mengandung anaknya!"
"Aku hamil anak Mas Rizky!" teriak Nella. Entah mengapa dia merasa sangat sensitif bahkan marah, jika ada yang mengatakan dirinya hamil bukan anak Rizky. Padahal, niat Rizky hanya sekedar memberitahu atas apa yang Ihsan perbuatan padanya. "Katanya Mas Rizky sedang berusaha untuk mempercayaiku? Kenapa harus terus dibahas?" berangnya kesal.
Merasa jengkel, Nella segera bangkit dari duduknya seraya berjalan keluar dari ruangan itu.
"Tunggu, Pak." Irwan menghentikan langkah Rizky yang baru saja hendak mengejar Nella. "Kita bicarakan masalah ini dulu biar semuanya selesai."
"Bapak ini benar, Pak," ucap Pak Polisi. "Pak Rizky silahkan bicara berdua dulu untuk memilih jalur perdamaian atau tidak, setelah mengambil keputusan ... Bapak bisa bicara lagi ke saya."
Rizky terdiam sejenak, sampai dimenit berikutnya dia berjalan keluar dari ruangan itu diikuti oleh Irwan di belakangnya. Mereka duduk di bangku panjang tepat di depan pintu ruangan itu, hanya saja saling menjaga jarak.
"Katakan," ucap Rizky dengan ketus.
"Saya akan menasehati Ihsan supaya nggak terus menerus mengejar-ngerjar Nella, tapi saya mohon ... Bapak beri dia kesempatan dan jangan dipenjarakan," ucap Irwan dengan nada memohon, melihat Rizky yang tengah menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Rizky bersedekap. "Apa jaminannya? Bagaimana bisa gue percaya sama lu?"
"Kita bisa buat surat perjanjian, kalau misalkan Ihsan melanggarnya ... Bapak bisa memenjarakannya."
Rizky berdecih. "Cih! Lu pikir gue, Reymond? Yang bentar-bentar surat perjanjian kalau punya masalah." Rizky menatap Irwan dengan sengit.
"Nggak apa-apa, Pak. Dengan begitu Ihsan tak lagi mengejar-ngerjar Nella, karena ada sebuah ancaman untuknya."
"Lu bukannya Omnya? Kok lu nggak dukung dia?" Rizky memicingkan matanya, menatap curiga pada Irwan. Mungkin saja itu hanya akal-akalannya demi membantu keponakannya.
"Saya dukung, bahkan dari dulu. Tapi saat tahu Nella hamil ... sepertinya, Ihsan harus menyerah," jawab Irwan dengan wajah sedih.
"Lu juga nggak percaya kalau Ihsan menghamili Nella?"
Irwan menggeleng cepat. "Iya, saya nggak percaya. Tapi Ihsan terus saja mengelak setiap saya tanya, dia tetap bilang itu adalah anaknya."
Rizky terdiam. 'Irwan yang sebagai Omnya saja nggak percaya? Terus ... ngapain juga gue percaya sama dia, kan?'
"Saya tahu bagaimana Ihsan, dia nggak akan melakukan hal seperti itu pada Nella," imbuh Irwan lagi. Dia tentu ingat jika dulu dialah orangnya yang pernah mengusulkan Ihsan untuk melakukan hubungan badan dengan Nella, tetapi sampai sekarang pun—rasanya dia tak percaya jika Ihsan sudah benar-benar melakukannya.
Tatapan sengit Rizky seketika memudar dan berubah menjadi iba saat mendengar kata demi kata yang Irwan lontarkan, pria berbadan kekar itu mengatakan hal yang terdengar begitu tulus dari hatinya.
"Saya yakin ... Pak Rizky ini adalah orang yang baik dan pasti mengerti akan perasaan Ihsan saat ini. Saya mendengar waktu itu Bapak juga pernah menyelamatkan Ihsan, kan?"
"Yang waktu itu dia tergeletak di jalan?"
Ya, hari itu. Tentunya ingatan Rizky begitu kuat hingga dia tak mudah melupakannya.
"Iya, itu semua ulah Pak Sofyan. Dia menyekap Ihsan dihari Nella menikah."
Rizky membulatkan matanya. "Kenapa disekap?"
"Supaya dia nggak merusak pernikahan Nella mungkin, tapi memang Pak Sofyan nggak pernah suka sama Ihsan karena dia miskin."
"Apa menurut lu ... gue orang yang tega saat ini? Tega karena gara-gara gue ... Ihsan dan Nella nggak bisa bersama?" Rizky menjadi merasa bersalah setelah mendengar apa yang Irwan katakan, tetapi sejatinya disini dia pun sebenarnya tak bersalah.
__ADS_1
"Menurut saya sih ... Bapak nggak salah, Bapak juga nggak ada niat untuk merebut Nella dari Ihsan karena kalian menikah dijodohkan. Mungkin memang Ihsan disini yang harus mengikhlaskannya," terang Irwan.
Rizky kembali terdiam, sepertinya—memang apa yang dikatakan Irwan benar. Tidak ada salahnya jika Rizky memberinya kesempatan.
Lantas, dia pun menghela nafas dengan berat. "Ya sudah, Ihsan nggak jadi gue penjarakan. Tapi gue hanya kasih dia kesempatan sekali, kalau sampai Ihsan mencoba menghubungi Nella atau menemuinya ... gue akan masukkan dia ke penjara!" jelas Rizky.
"Iya, terima kasih, Pak." Irwan tersenyum, akhirnya dia bisa bernafas lega lantaran hati Rizky sudah berhasil diluluhkan.
"Masalah surat perjanjian, nanti asisten gue dateng ke bengkelnya Ihsan. Nanti tinggal suruh dia tanda tangani, dan gue juga akan ingat semua kata-kata lu yang mengatakan ... kalau lu akan membantu gue dan menasehati Ihsan."
Irwan mengangguk paham. "Iya, tentu saja Pak. Bapak tenang saja."
Setelah mengatakan hal itu, Rizky berdiri dan kembali masuk ke dalam ruangan tadi untuk mengajak kedua anak buahnya pulang.
Sama halnya dengan Irwan, dia juga balik lagi ke ruangan itu untuk mengajak Ihsan pulang.
***
"Apa yang Om katakan sama Rizky tadi? Kok dia nggak jadi memenjarakanku?" tanya Ihsan seraya menoleh pada Irwan yang tengah mengemudi di sampingnya.
"Om membujuknya."
"Bujuk? Membujuk apa?" Ihsan mengerutkan kening.
"Bujuk supaya nggak memenjarakan kamu, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Kamu harus bisa mengikhlaskan Nella. Jangan pernah menemuinya lagi dan menghubunginya."
Ihsan membulatkan matanya dengan lebar, tentunya syarat itu sangatlah berat. "Mana bisa begitu? Nella adalah hidup, Om. Aku nggak bisa melakukan itu padanya!" tegasnya tak terima.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1083...