
"Tapi itu masalah pribadi, Pak. Rasanya aneh saja."
"Ya sudah deh, kalau lu nggak mau jawab ... lu lembur sampai jam 12 malam!" ancam Rizky emosi sambil melahap makan siangnya. Tetapi tak lama kedua matanya berbinar saat merasakan rasa dari masakan itu. "Masakan Nella memang nggak ada duanya, enak dan mantap. Gue jadi kangen dan tambah sayang." Rizky bergumam lalu mengangkat kotak makanan itu dan menciuminya.
"Eh, ngapain lu masih di sini? Bukannya keluar." Rizky melirik sinis pada Maya yang sejak tadi masih berdiri mematung dengan wajah takut.
"Saya nggak bisa lembur, Pak. Apalagi sampai pulang jam 12. Sudah hampir satu bulan saya lembur pulang jam 9, dan rencananya saya pulang kerja ini mau ke bengkel, mau servise mobil."
"Jadi lu lebih mementingkan mobil jelek lu daripada pekerjaan? Kok lu nggak patuh sih sama bos, May?"
Maya menggeleng cepat. "Bukan begitu, Pak. Tapi mobil saya sudah dua bulan nggak diservise. Nanti malah rusaknya tambah parah. Saya bisa susah kalau pulang pergi ke kantor."
Rizky terdiam beberapa saat. Padahal niatnya hanya ingin bertanya masalah pacar, tetapi Maya sudah membawa-bawa mobilnya yang rusak. Dia tentu tahu bagaimana kondisi mobil sekertarisnya itu, sering mogok dan sering keluar masuk bengkel. Tetapi anehnya sampai sekarang mobil itu belum diganti juga.
"Ah begini saja. Nanti mobil lu biar gue yang bawa ke bengkel dan gue bayarin sampai selesai. Tapi syaratnya lu harus mau kencan sama seorang pria." Rizky memberikan penawaran sekaligus bantuan.
"Kencan? Dengan siapa?" Alis mata Maya bertaut, dia yakin sekali jika Rizky benar-benar menjadi Mak Comblang.
"Ada lah pokoknya. Dia tampan dan kaya."
"Tapi kenapa harus kencan? Dan alasan pria itu ingin kencan apa? Dan kenapa harus saya, Pak?" Maya mencecar beberapa pertanyaan.
"Karena lu masuk kategori istri idamannya. Mau ya, May. Setidaknya lu makan malam dulu dengannya. Gue yakin lu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama," ujar Rizky dengan penuh percaya diri dan semangat ingin mencari jodoh untuk papa mertuanya.
"Usianya berapa dan apa dia pria hidung belang seperti Bapak?"
__ADS_1
Rizky langsung melolot dan tersendak. "Uhuk ... uhuk."
Maya bergegas mengambilkan air pada dispenser, lalu bosnya itu segera menenggak isi gelasnya sampai tandas.
"Dih, enak saja lu kalau ngomong, May! Sejak kapan lu berani ngatain gue? Wah ... lu sudah nggak mau kerja dengan gue lagi, ya?!" Suara Rizky terdengar begitu menggelegar, tampaknya dia benar-benar marah. Niat awal hanya ingin bertanya masalah sepele, kini malah melebar kemana-mana.
Maya menggeleng cepat. "Nggak, maaf, Pak. Tadi saya keceplosan." Maya menampar bibirnya berkali-kali, merasa menyesal. Lantas dia pun menundukkan kepalanya. "Jangan pecat saya, Pak. Saya masih banyak cicilan."
"Gue nggak mau dengar bantahan. Terserah lu anggap gue ini sedang mengancam atau nggak. Tetapi intinya lu nanti malam harus pergi berkencan dengan seorang pria yang gue kenalkan. Lu harus dandan yang cantik, nanti pakaiannya gue yang kasih!" tegas Rizky lalu melanjutkan makan.
"Iya, saya akan berkencan nanti malam. Tapi prianya nggak akan ngajak saya macam-macam 'kan, Pak? Saya takut soalnya."
Rizky menghela napasnya dengan kasar. "Nggak akan, gue jamin. Kalian hanya akan makan malam. Tapi lu pokoknya harus bersikap baik dengannya, ya? Sekarang mana kunci mobil lu?"
Maya merogoh kantong celananya dengan ragu, kemudian meletakkan kunci mobilnya di atas meja di depan Rizky.
"Iya, Pak." Maya mengangguk, lantas membungkuk sopan dan setelah itu berjalan keluar dari ruangan Rizky sambil bergumam.
'Hanya kencan, kan? Makan malam doang? Iya, hanya kencan dan itu nggak masalah. Pak Rizky juga orang baik meskipun memang otaknya mesum. Aku yakin dia nggak bakal tega menjual sekertarisnya ke tangan om-om. Nanti dia akan masuk penjara. Tapi masalahnya pria itu siapa? Apa mungkin Pak Hersa?'
...(Flashback Off)...
Sofyan turun dari mobilnya sambil membenarkan jas berwarna merah maroon. Jas itu kiriman dari Rizky dan begitu cocok sekali di tubuh kekarnya.
Tangannya memegang buket bunga mawar merah, tetapi rasanya ragu sekali jika harus membawanya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ah nanti dia mengira aku lebay nggak, ya? Apa dia akan mengantaiku tua-tua keladi?" Sofyan bergumam sendiri, tangannya sejak tadi tak bisa diam, antara ingin menaruh bunga itu ke dalam kursi mobil atau tetap dalam genggamannya.
"Ah bawa saja deh kalau begitu." Sofyan sudah melangkah, tetapi di pintu kaca dia menghentikan langkahnya. Perlahan kedua lengannya dia tempelkan pada hidung, tepat pada daerah ketiak. Hanya ingin memastikan jika dirinya cukup wangi atau tidak. "Aku wangi."
Sekarang beralih, dia membungkam hidung dan mulutnya dengan salah satu telapak tangan. Lalu membuang napasnya demi bisa mencium orama napasnya sendiri.
"Ah wangi dan segar. Barang kali dia juga sekalian minta dicium," gumamnya sambil terkekeh.
Tidak hanya mandi susu dan kembang 7 rupa, Sofyan juga sampai menyikat gigi dua kali dan berkumur larutan khusus untuk menghilangkan bau mulut. Tak lupa mencukur kumis dan jenggot, bahkan semua rambut yang ada di tubuhnya. Mungkin yang dia tinggalkan hanya rambut kepala, tangan dan kaki.
Dia ingin tampil sempurna, supaya wanita yang dikencaninya itu nyaman dan tak kapok untuk bertemu dengannya lagi.
"Is, kenapa aku sangat gugup? Seperti abg saja. Nggak malu sama umur apa." Sofyan mengelus dada. Berkali-kali dia membuang napasnya, sampai akhirnya dia melangkah masuk ke dalam sana.
Matanya sudah berkeliaran mencari-cari sosok teman kencannya, dan tepat di depan meja yang berada di tengah-tengah restoran. Kedua matanya membulat sempurna, Sofyan terkagum-kagum melihat sosok perempuan yang benar-benar tipe idamannya, yaitu kinyis-kinyis seperti apa yang pernah disebutkannya.
Gadis yang sama-sama menatapnya juga ikut membelalakkan matanya, saat sadar jika teman kencannya itu mertua dari bosnya.
"Pak Sofyan!" ujar Maya kaget, dia sampai berdiri dari duduknya.
Sekilas Sofyan tak sadar karena pangling dengan make up sempurna gadis itu, tetapi saat mendengar suara yang keluar dari bibirnya yang cukup seksi itu—dia sudah sadar jika itu adalah Maya, sekertaris Rizky.
"Maya ...."
Sofyan hanya kenal, tetapi tak terlalu memperhatikan. Maya juga bisanya hanya tampil sederhana dengan bedak dan lipstik. Sekarang gadis itu seperti menjelma menjadi model, bahkan bulu matanya begitu cetar membahana. Kedua pipinya merah seperti orang yang jatuh cinta akibat blush-on.
__ADS_1
"Apa Bapak yang akan kencan makan malam dengan saya?" tanya Maya dengan wajah binggung. Sungguh dia benar-benar merasa tak habis pikir, bisa-bisanya Rizky mengenalkan mertuanya kepadanya. 'Apa Pak Rizky gila? Masa aku dikenalkan sama Pak Sofyan?'
"Apa kamu yang disuruh Rizky berkencan denganku?" Sekarang Sofyan yang bertanya, dia juga ikut binggung dan tak menyangka.