
"Make up Tante terlalu sederhana. Harusnya Tante tebalin dikit tadi." Yuni menunjuk wajahnya sendiri yang hanya memakai bedak dan lipstik saja. Padahal, Maya juga sama, hanya memakai bedak dan lipstik.
"Terus apa masalahnya? Orang juga nggak akan tanya-tanya kok."
"Tapi penuaan di wajah Tante kelihatan, nanti kalau keluarga Sofyan menghina bagaimana?"
"Keluargaku nggak bakal ada yang menghina, Tante tenang saja." Sofyan yang menyahut di samping Maya. Dia benar-benar risih sekali mendengar wanita itu mengoceh.
"Kamu belikan Tante di mana baju ini, May?" Yuni menundukkan wajahnya ke arah dress yang dia kenakan saat ini. Berwarna biru nevi.
"Aku nggak tahu, Tan. Ayank Sofyan yang membelikannya."
"Beli di mana Sofyan?" Sekarang Yuni berbalik tanya. Belum sempat Sofyan memberikan jawaban, tiba-tiba seluruh anggota keluarganya datang.
Bukan hanya Rizky, Nella, Jihan, Gita dan Guntur saja. Tetapi ada Angga, Sindi, Steven, Nissa dan suaminya. Bi Yeyen juga ada, dia diminta Nella supaya bisa membantu menemani Jihan.
"Selamat malam semuanya." Sofyan berdiri bersamaan dengan Maya. Mereka berdua langsung mencium punggung tangan Sindi dan Angga. Kemudian menerima ciuman tangan oleh Rizky dan Nella.
"Malam." Mereka berucap secara bersamaan.
"May, kenalkan dia Nissa dan suaminya, namanya Abimana Malik, panggil saja Abi." Sofyan mengenalkan adik dan adik iparnya. Istrinya itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan disambut hangat oleh mereka.
"Salam kenal."
"Dan ini Steven, dia adik bungsuku. Dia belum menikah, alias perjaka tua." Sofyan beralih mengenalkan Steven.
"Ish Kakak. Aku hanya perjaka, tapi belum tua." Steven mendengus kesal lalu bersalaman sebentar dengan Maya.
"Kamu itu sudah tiga puluh lebih, sudah tua. Memang nggak mau nikah? Nikah enak tahu, ada yang kelonin," ledek Sofyan sambil terkekeh.
"Ah sombong, mentang-mentang sudah menikah lagi." Steven merengut. "Mending belum nikah sama sekali dari pada gagal dua kali," timpal Steven menyindir.
"Lha, ya mending menikah dua kali dari pada belum sama sekali. Kan itu nggak laku namanya." Sofyan membalikkannya sembari tertawa jahat.
"Sudah! Kalian ini jarang bertemu tapi sekali bertemu malah berantem!" Angga angkat bicara sebelum Steven kembali memberikan sahutan, keduanya langsung diam.
"Di samping Maya siapa?" tanya Sindi menatap Yuni yang tengah bermain ponsel, dia masih duduk padahal yang lainnya berdiri.
"Oh, maaf. Dia Tantenya Maya, kebetulan dia sedang main ke rumah," ujar Sofyan tersenyum sambil melirik Yuni. Maya segera memanggil wanita itu dan lantas dia berdiri dan berkenalan pada semuanya.
__ADS_1
"Namaku Yuni, Bu. Aku Tantenya Maya, Maya sudah nggak punya orang tua. Dia dari dulu tinggal bersama aku, suami dan anak-anakku," ujar Yuni memberitahu, dia melihat ke arah Sindi.
"Oh, kasihan sekali. Tapi untungnya masih ada keluarga." Sindi tersenyum ke arah Maya.
"Sampai kapan kita berdiri? Kakiku kesemutan ini." Rizky membuka suara, dia merasakan kakinya kebas.
"Oh iya, silahkan duduk semuanya." Sofyan mempersilahkan duduk dan semuanya langsung duduk mengelilingi meja itu.
"Jadi kamu undang kami semua karena ingin mengenalkan Tantenya Maya?" tanya Angga penasaran. Dia duduk tepat di depan Sofyan.
Tak lama beberapa pelayan datang untuk menyajikan beberapa menu andalan di restoran itu, tidak lupa dengan beberapa jus dan es yang berfariasi.
"Bukan, Pa." Sofyan menggeleng. "Sebelum makan aku ingin menyampaikan sesuatu dulu pada kalian."
Rizky sudah menganga ingin melahap steak daging yang barusan dia potong, tetapi urung lantaran ucapan Sofyan. Akhirnya dia hanya menelan ludah dan menaruh garpunya lagi di atas piring.
"Apa itu?"
"Ini." Sofyan merogoh saku jasnya, lalu memerlihatkan sebuah foto 4D. Mereka semua memerhatikan foto hasil USG itu, tetapi tak paham sebab seperti tak ada apa-apa di sana.
Namun, Rizky dan Nella sendiri menaruh curiga jika Maya hamil. Keduanya tampak saling memandang.
Rizky membulatkan matanya dan langsung tersendak ludahnya sendiri. "Uhuk! Uhuk!"
"Kamu ini kenapa sih, Riz?" Gita cepat-cepat memberikan air minum pada anaknya dan segera ditenggak oleh pria itu.
Tidak masalah dengan apa yang Sofyan katakan, malah dia juga ikut senang. Tetapi mengapa harus bareng? Itu yang jadi pertanyaannya saat ini.
'Kok bisa bareng gitu, sih? Mana sama-sama 3 Minggu. Apa Mas Rizky dan Papa pas bikin janjian?' batin Nella.
Yuni mengerut heran, seperti ada yang salah dari ucapan Sofyan tadi. 'Tiga Minggu? Bukannya pas Maya pulang dia bilang hamil satu bulan kalau nggak salah. Apa mungkin tadinya Maya keguguran? Ah nanti aku tanya deh ke dia.'
"Wah selamat Sofyan, Maya, Mama nggak menyangka akan dapat cucu lagi dari kalian." Sindi langsung bangkit dan memeluk anak dan menantunya itu, begitu pun dengan Angga.
"Hebat juga kamu, Papa kira sudah nggak kuat goyang," ujar Angga.
"Kuat lah, Pa. Itu 'kan enak."
"Selamat ya Sofyan, Maya," ujar Gita dan Guntur.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu, Pak," jawab Maya.
"Rizky, Nella. Kok kalian diam saja?" Sofyan menegur anak dan menantunya yang sejak tadi saling memandang dengan wajah yang sulit diartikan. Lantas, kedua pun menoleh ke arahnya. "Kalian nggak senang Papa punya anak lagi? Kalian sebentar lagi punya adik, lho. Dan katanya kamu sendiri yang dari kemarin-kemarin mau punya adik, Nell."
Nella yang memang duduk di samping Sofyan pun langsung memeluknya, kemudian mengusap punggung papanya. Begitu pula dengan Rizky yang berdiri kemudian ikut berpelukan.
"Apa yang Papa katakan? Jelas aku dan Mas Rizky senang, itu pasti. Iya kan, Mas?" Nella meminta sahutan dari Rizky.
"Iya, kita berdua senang, apa lagi Jihan. Dia sebentar lagi ada yang temenin untuk main."
Setelah memeluk Sofyan, Nella beralih memeluk Maya, lalu mengusap perutnya.
"Selamat Mama Maya, aku senang sekali. Semoga ibu dan bayinya tetap sehat, ya? Jaga kesehatan."
"Amin. Iya, Nell. Terima kasih."
"Sama-sama."
"Ya sudah, ayok kita makan bersama," ajak Sofyan.
Mereka semua pun langsung menyantap menu makan malam itu dengan begitu lahap dan serius. Suasananya begitu hening sampai yang terdengar hanya garpu dan sendok yang beradu dengan piring.
'Kira-kira ... Papa Sofyan marah nggak, ya. Kalau tahu Nella hamil lagi? Aku mau jujur tapi kayaknya takut,' batin Rizky. Sesekali dia melirik ke arah Nella, lalu ke Sofyan.
"Oh ya, Nell. Kamu sekarang pakai KB apa?" tanya Nissa saat semuanya telah selesai makan, begitu pun dengan Nella yang sedang mengusap bibirnya pakai tisu.
"Ah iya, Oma sampai lupa ngingetin kamu. Kamu nggak lupa diKB, kan?" Sindi ikut-ikutan bertanya. "Jangan lupa dicek dulu tanggal kadaluarsanya kalau mau minum pil kb," jawabnya sambil terkekeh. Dan mereka semua di meja ikut tertawa, sebab semua tahu alasan Nella bisa hamil dulu.
Sontak saja—untuk kedua kalinya Rizky tersendak ludahnya sendiri. "Uhuk! Uhuk!"
Dan untuk kedua kalinya juga Gita memberikannya air minum.
"Kenapa lagi, sih?" Gita mendengus kesal menatap anaknya.
"Oma ini apaan sih, ya nggak lah." Nella tersenyum sambil menelan ludahnya kasar. Dia pun melirik Rizky yang sudah berkeringat pada area dahi, pria itu terlihat gugup seperti dirinya saat ini. "Aku diKB sun .... eeemm ...."
Nella mendelik seketika. Dia merasakan mual di dalam perutnya secara tiba-tiba hingga Nella tak jadi meneruskan ucapannya lantaran bibirnya dibungkam tangan sendiri. Ini bukan momen yang tepat untuk dirinya mual dan muntah. Namun, perutnya sudah sangat bergejolak dan sesuatu sepertinya akan keluar. Cepat-cepat dia pun bangkit lalu berlari pergi tanpa pamit.
"Eh, Nella. Kamu kenapa?" Rizky langsung bangkit dari duduk kemudian berlari menyusulnya.
__ADS_1