
Pria itu sampai bangkit dan berdiri. Kemudian tanpa permisi, Gita mengibaskan tangannya ke pipi kirinya dengan sekuat tenaga.
Plak!
"Mama!" Nella terkejut dengan mata terbelalak, dia segera bangkit dari duduknya dan memegangi pipi pacarnya. "Kenapa Mama menampar Kak Ihsan? Apa salahnya?" Wajah Nella langsung memerah, dia seakan tak terima melihat perlakuan kasar yang diberikan oleh Gita untuk Ihsan.
Tangan Gita sudah mengepal dan bergetar hebat, dadanya berdenyut nyeri dan emosi. Ingin rasanya dia marah pada Nella, tetapi mulutnya seakan berat. Dia tak bisa memarahi Nella meskipun apa yang dia lihat benar-benar salah. Lantas, Gita menutupi wajahnya sambil menangis.
"Kamu jahat sama Mama, Nell," lirihnya.
Nella menarik kursi untuk Gita duduk, lalu memanggil pelayan restoran untuk mengambilkan air minum. Kemudian dia dan Ihsan ikut duduk, di samping Gita.
Nella mengenggam tangan Gita yang berada di atas paha, tangan wanita itu masih bergetar.
"Mama, Mama minum dulu." Nella mengambil segelas air itu, memberikan pada Gita. Namun dia menggelengkan kepalanya, tanda menolak. "Mama, Kak Ihsan itu pacarku." Nella menaruh kembali segelas air itu di atas meja, lantas dirinya mengusap air mata pada kedua pipi sang mertua.
Gita membuang nafasnya dengan berat kemudian berkata, "Mama tahu, tapi kamu nggak sepantasnya bersikap seperti ini dengan Ihsan." Gita melirik sebentar pada Ihsan dengan sinis, lalu beralih menatap Nella.
Wanita itu terdiam dan saling memandangi Ihsan yang tengah memegangi pipi. Bekas tamparan Gita membuat pipinya berdenyut nyeri.
"Mama juga tahu dia pacarmu dan kamu mencintainya. Tapi kamu harusnya sadar kalau kamu masih istri orang, istri Rizky, anak Mama." Gita memalingkan wajahnya sambil mengusap-usap dada. "Setidaknya, tolong hargai Mama dan Rizky untuk sekarang, selagi kamu masih berstatus istrinya." Suara Gita terdengar begitu tegas namun bergetar.
"Maaf, maafkan aku, Ma." Nella binggung harus berbuat apa, mungkin hanya kata maaf yang bisa dia katakan.
"Kak, Kakak pulang dulu, ya? Nanti kita bicara lewat telepon," pinta Nella pada Ihsan, terlihat Ihsan mengangguki ucapan Nella. Tanpa bicara apa-apa, dia berlalu pergi meninggalkan Nella dan Gita berdua.
Sebetulnya Ihsan merasa kesal, gara-gara Gita, acara makan siang romantisnya berantakan. Tetapi dia tak bisa apa-apa, mengalah adalah jalan yang terbaik untuk saat ini.
'Nggak anaknya, nggak ibunya, mereka seperti pengacau dalam hubunganku. Aku ingin Nella segera bercerai dengan Rizky dan menikah denganku,' batin Ihsan.
"Apa Mama marah padaku?" tanya Nella pelan, dia masih melihat Gita memalingkan wajah.
"Apa Mama boleh marah padamu?"
"Boleh."
"Iya, Mama marah padamu. Marah sekali, tapi ...." Gita tiba-tiba saja memeluk tubuh Nella, menciumi rambutnya. "Tapi rasa sayang Mama lebih besar dan itu membuat Mama nggak bisa marah padamu."
Deg!
Jantung Nella langsung berdebar. Ucapan Gita terasa hangat masuk ke relung dalam hatinya. Lengannya melingkar di punggung Gita, membalas pelukannya.
__ADS_1
"Terima kasih telah sayang padaku, Ma. Mama memang wanita yang sangat baik. Aku minta maaf jika apa yang Mama lihat tadi membuat Mama emosi."
"Mungkin Mama nggak berhak meminta ini padamu, tapi Mama ingin kamu berjanji sama Mama."
"Janji apa?"
"Janji untuk jangan ketemu dengan Ihsan."
"Maaf, Ma. Kalau masalah itu ... aku nggak bisa. Maafkan aku."
"Kenapa?" Gita melepaskan pelukannya dan mengelus puncak kepala Nella dengan penuh kasih sayang.
Nella tersenyum tipis. "Itu karena Kak Ihsan sangat berarti untukku."
Ucapan dari Nella membuat Gita termangu, hampir beberapa menit mereka terdiam sampai akhirnya pertanyaan Nella menepis semua lamunan Gita.
"Ngomong-ngomong, Mama ke sini ada perlu apa? Mama mau aku masakin?"
"Sebenarnya iya. Tapi sepertinya, selera makan Mama sudah hilang," keluh Gita
"Kok gitu? Aku bisa masakin Mama, Mama mau aku buatkan apa? Nanti kita makan bersama." Ada rasa yang mengganjal, Nella merasa tak enak pada Gita yang terlihat cemberut.
Gita menggelengkan kepalanya. "Nggak, nanti Mama makan di rumah saja. Mama juga sekalian ingin memberitahu, kalau Ridho adiknya Rizky, dia akan menikah besok."
Deg!
"Apa kamu bilang? Mas?" Seketika itupun, kesedihan Gita seakan sirna begitu saja. Panggilan baru yang Nella ucapkan mampu membuat Gita menggembungkan senyum.
Nella mengangguk. "Iya, memang kenapa? Apa aku nggak pantas memanggil Mas Rizky dengan sebutan 'Mas'?" tanya Nella dengan kening yang berkerut.
"Tentu pantas, bahkan sangat pantas," jawab Gita dengan semangat.
"Mas Rizky yang memintanya, Ma." Nella membalas senyuman dari Gita.
"Itu bagus, Mama ikut senang mendengarnya. Oya ... nanti kamu dan Rizky harus datang ke hotel pas pesta. Besok malam sekitar jam 7."
"Iya, nanti aku datang." Nella mengangguk.
'Alhamdulilah ... sepertinya hubungan Nella dan Rizky makin membaik. Aku ikut senang. Aku akan kasih Rizky hadiah saat pestanya Ridho. Dia sudah bekerja keras selama ini,' batin Gita.
"Nanti Mama kirim pakaian untuk kalian berdua, kamu dan Rizky pasti terlihat serasi."
__ADS_1
"Iya, Ma."
***
Rizky telah selesai melakukan meeting bersama Sofyan dan beberapa rekan bisnisnya yang lain. Hari sudah menjelang siang dan perutnya terasa begitu lapar. Rizky memutuskan untuk makan siang bersama Sofyan di Cafe tepat di seberang kantornya.
Mereka memesan menu makan siang sembari berbincang-bincang.
"Bagaimana sikap Opa padamu? Apa dia menyebalkan?" tanya Sofyan.
Rizky menggelengkan kepalanya. "Nggak, Opa baik kok, Pa."
Sofyan menghela nafas dengan lega. "Syukurlah, terus bagaimana hubunganmu dan Nella? Apa berjalan dengan baik?"
"Aku 'kan baru semalam tinggal di sana, Pa."
"Iya, Papa tau. Tapi Papa hanya penasaran saja. Apa Nella masih jutek padamu, Riz?"
"Nggak sih, Pa. Sekarang dia jauh lebih lembut." Rizky tersenyum dan mengingat sekilas tentang dirinya disuapi oleh Nella. Sungguh membuat jantungnya berdebar.
"Bagus sekali, nanti lama-lama juga dia akan luluh. Oya, Papa dengar adikmu mau menikah. Kamu sudah mengajak Nella untuk datang? Papa sudah beritahu dia, tapi kamu juga harus mengajaknya, kan?"
"Nanti malam aku beritahu dia."
"Papa ada sebuah rencana untukmu Riz, supaya kamu dan Nella bisa tidur bersama."
Deg!
Jantung Rizky makin berdebar hebat kala mendengar kata yang menjurus ke arah situ. Dia merasa makin rindu untuk menyentuh istrinya. Tapi disisi lain, dia ingat akan janjinya pada Nella yang melarangnya untuk kembali mengajak bercinta.
"Ah nggak perlu, Pa. Aku nggak mau." Rizky menggeleng.
"Papa 'kan belum beritahu rencananya padamu. Rencana ini juga sudah Papa bicarakan dengan Mamamu dan dia setuju."
"Tentang apa? Pelet Nella bukan?" hardik Rizky.
Sofyan terbelalak, dari ekspresinya menandakan rasa kaget. Dia sepertinya tak tahu apa-apa. "Kok pelet? Tapi ... bagus juga." Sofyan mengangguk-angguk.
"Aku nggak mau Papa dan Mama melakukan hal itu, itu nggak baik!" tegas Rizky.
"Tapi rencana Papa bukan itu, rencana ini besok malam Papa dan Mamamu jalankan. Kamu ikuti perintah Papa saja."
__ADS_1
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...