
"Selamat pagi Pak Sofyan, Maya," sapa seorang pria yang baru saja datang di ruangan itu. Suaranya terdengar tak asing dan mereka berdua pun lantas menoleh ke arahnya.
"Ah, Pak Hersa. Selamat pagi, Pak," ujar Maya sambil tersenyum. Senyuman itu langsung disambut dengan tatapan sinis oleh suaminya.
Baru saja pria itu dibicarakan oleh keduanya. Tetapi sekarang justru sudah ada di depan mata mereka.
"Mau apa ke sini?" tanya Sofyan judes. Dia menatap tajam Hersa.
"Saya mau mengantarkan mobilnya Maya yang sempat dibawa ke bengkel, ini kuncinya." Hersa mengulurkan tangannya ke arah Maya hendak memberikan kunci, namun Sofyan segera merampasnya lebih dulu, sebelum kedua tangan itu bersentuhan.
"Memangnya kamu punya bengkel, Sa?"
"Nggak, Pak." Hersa menggeleng.
"Terus kenapa mobil Maya yang berada di bengkel kamu antarkan? Oh ... apa kamu yang menyuruhnya, May?" Sofyan melirik ke arah istrinya dengan wajah datar.
"Nggak, Yank." Maya menggeleng cepat, entah mengapa Maya merasakan aura panas yang terpancar dari tatapan mata suaminya. Bulu kuduknya juga seketika berdiri.
"Saya disuruh Pak Rizky, Pak," sahut Hersa. "Mobil Maya sempat rusak dan saya disuruh Pak Rizky untuk membawanya ke bengkel. Jadi setelah selesai diservise ... mobilnya saya antarkan ke Maya," jelas Hersa.
"Oh, ya sudah. Terima kasih," ujar Sofyan cepat.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi. Maaf menganggu sarapan Bapak dan Maya." Hersa membungkuk sedikit, lantas berlalu pergi dari sana.
'Kenapa Pak Sofyan seperti marah padaku? Memang aku salah apa?' batin Hersa.
Setelah selesai sarapan, keduanya berjalan keluar dari rumah Sofyan.
Tepat di halaman rumah, sebuah mobil putih yang terlihat sudah banyak goresan dan berwarna pudar itu terparkir di dekat mobil mewah Sofyan. Langkah kaki Maya menuju mobil itu lalu membuka pintunya.
"Itu mobil kamu, May?" Sofyan mendekati istrinya yang tengah memperhatikan mobil itu. Kemudian masuk ke dalam tepat di kursi kemudi, kemudian menyalakan mesinnya.
"Iya, Ayank. Ini mobilku." Maya tersenyum manis. Matanya terlihat berbinar, rona kebahagiaan itu terpancar jelas di wajah cantiknya.
Jelas sekali dia senang melihat mobilnya yang sudah berbulan-bulan mati kini bisa menyala.
"Apa kamu mau ke kantor dengan mobil ini?" Kepala Sofyan nongol pada jendela mobil, lalu memperlihatkan mobil butut tersebut. "Mobil merek apa ini, May? Dan sudah berapa tahun?"
__ADS_1
"Berapa tahun apanya, Ayank? Mobil ini merek Honda Brio Satya."
"Sudah berapa tahun kamu punya mobil ini?" Sofyan berjalan masuk ke dalam mobil itu, lalu duduk di samping Maya. "Dari zaman kamu SMA, ya? Apa kuliah?"
"Aku baru punya mobil ini setahun yang lalu. Kenapa Ayank? Mobilku butut, ya?"
Sofyan menggeleng. Padahal memang iya mobil itu butut. "Nggak kok, mobil ini bagus. Malah keren."
"Ayank pasti berbohong. Eh, aku mau nyetir mobil. Nanti Ayank aku antarkan ke kantor, Ayank, mau, nggak?"
"Boleh, aku mau dong disetirin. Tapi nggak usah ke kantorku. Di kantor Rizky saja, aku ada perlu dengannya."
"Oke deh." Maya tersenyum, lantas membelokkan mobilnya dan menarik gasnya pelan-pelan.
Suara mesin mobil itu terdengar begitu nyaring, kursi yang Sofyan duduki juga terasa sangat keras hingga terasa sakit. Bokong pria itu sejak tadi bergeser ke sana kemari, tak nyaman dengan posisinya duduk.
'Keras banget ini kursi, seperti kursi kayu,' batin Sofyan.
"Ayank kenapa? Pantatnya gatel?" Maya menoleh sekilas pada Sofyan. Tadi dia sempat memperhatikan suaminya.
"Ah nggak." Sofyan menggeleng lantas tak lagi bergerak. "Aku hanya kepanasan saja, May. Apa ACnya mati?" Sofyan beralasan. Dia meregangkan dasi seraya mendongakkan wajahnya ke atas. Kemudian mencari-cari benda yang dimaksud, dan ternyata tidak ada.
"Lho, kenapa? Menyetir pasti panas 'kan, May?" Sofyan perlahan menurunkan kaca mobil itu, tetapi tak bisa. "Ini kenapa kacanya nggak turun? Macet atau bagaimana?"
"Uangku belum cukup buat membeli AC saat itu. Dan kaca di tempat duduk Ayank memang nggak bisa dibuka tutup. Sudah rusak dari awal aku membeli mobil." Maya menurunkan semua kaca di jendela sebelahnya, supaya angin alam masuk dan Sofyan tak kepanasan.
"Bukannya kata Hersa mobil ini habis dibawa ke bengkel, ya? Kok seperti masih rusak, May?"
"Ini nggak rusak, Ayank. Buktinya bisa jalan. Bisanya mah mobil ini suka mogok di jalan."
"Oh begitu." Sofyan mengangguk-angguk.
Dia pun terdiam sambil memperhatikan Maya menyetir dengan penuh konsentrasi, entah mengapa wajah istrinya malah makin terlihat cantik.
Sofyan menaruh anak rambut yang sejak tadi menutupi pipi istrinya, lalu diselipkan pada telinga kiri Maya. Setelah itu Sofyan mendekat dan langsung mengecup pipi.
"Kamu tambah cantik kalau lagi serius seperti itu, May."
__ADS_1
Kedua pipi Maya langsung merona, dia tersenyum tipis. Tetapi terlihat malu-malu. Bahkan terkadang mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Terima kasih, Ayank."
"Terima kasih untuk apa?" Sofyan kini mengelus pipinya, lalu beralih ke bibir. Lipstik berwarna pink yang menempel pada daging kenyal itu entah mengapa terlihat begitu menggoda. Sofyan sampai menelan saliva berkali-kali.
"Karena sudah memujiku."
"Nggak perlu berterima kasih, kan memang kamu cantik. Oh ya, pagi ini kita belum ciuman, ya? Ayok lakukan, May." Sofyan menarik tubuhnya dengan bibir monyong ke arah Maya. Tetapi wanita itu justru menutup bibir suaminya. "Kok ditutup?"
"Jangan sekarang Ayank."
"Kenapa? Apa kamu bosen ciuman sama aku? Memang rasanya nggak enak, ya?" tanya Sofyan sedih.
"Bukan bosen, tapi 'kan aku lagi nyetir, nanti kalau tertabrak bagaimana?" Maya melirik sekilas pada Sofyan dan menarik tangannya pada bibir suaminya.
"Matikan dulu saja kalau begitu." Sofyan tiba-tiba menekan kunci mobil itu hingga mesinnya tiba-tiba saja mati.
"Dih Ayank. Jangan langsung dimatikan begitu, nanti rusak." Maya terlihat tak suka dengan apa yang Sofyan lakukan. Tetapi pria itu seperti tak menggubrisnya, dia segera menarik kepala Maya hingga bibir keduanya menempel.
Cup~
Sofyan melummat bibir Maya dengan rakus. Lalu perlahan salah satu tangannya meraba dada.
Entah mengapa gerakan tangan pria itu sangat cepat, hingga Maya tak sadar jika kini semua kancing kemejanya terlepas.
"Ayank, jangan sambil buka-buka. Ini 'kan di mobil!" Maya mendorong dada bidang suaminya hingga ciuman mereka terlepas, kemudian cepat-cepat Maya mengancingi kembali kemejanya.
"Dih, jangan ditutup, May. Aku 'kan belum intip. Pagi ini aku juga belum nyusu, lho."
Maya sedang berusaha mengancingi, tetapi justru Sofyan membukanya lagi.
"Nanti saja Ayank, jangan di sini. Takutnya ... eemmppp ...." Sofyan kembali membungkam bibir istrinya, lalu dia pun bergegas mengangkat tubuhnya dan memindahkannya untuk duduk di pangkuannya.
Baru saja Sofyan menyentuh ujuk rok spam istrinya, niat hati ingin ditarik ke atas.
Namun sontak saja—dia dikejutkan oleh seorang pria berpakaian polisi yang entah datangnya dari mana. Tiba-tiba kepala pria itu sudah nongol di jendela yang kebetulan terbuka.
__ADS_1
Pria berseragam itu langsung membulatkan matanya saat melihat kedua manusia yang tengah pangku-pangkuan, juga dengan bibir yang masih saling bertaut. "Haduh ... masih pagi sudah nemu pasangan mesum, sudah begitu parkirnya ditengah jalan lagi!" gerutunya sambil geleng-geleng kepala.