
"Seneng, seneng kok." Nella mengangguk dengan penuh keterpaksaan. Rasanya dia ingin menghubungi Rizky dan memberitahunya, tetapi saat ini dia tak pegang ponsel. "Mama coba chat Mas Rizky, katakan padanya kalau kita pergi ke rumah sakit."
"Memang kenapa harus hubungi Rizky?"
"Takutnya Mas Rizky cariin, aku juga takut Jihan nanti nangis dan minta nyusu."
"Mereka bawa perlengkapan susu kok, kamu tenang saja." Gita awalnya tak mengizinkan Jihan dibawa pergi oleh kedua pria itu, tetapi Rizky seperti memaksa ditambah Guntur juga ingin ikut. Kebetulan, cucunya itu sudah mulai doyan susu formula. Jadi akan lebih mudah jika dia diajak main meskipun tidak dengan ibunya.
*
*
*
Di taman.
"Ngapain kamu beli balon, Riz?" tanya Guntur pada Rizky yang baru saja kembali dari toilet, lalu membawa sebuah balon Hello Kitty yang diikat oleh tali. Tali itu Rizky pegang.
"Kok ngapain? Ya aku beli balon untuk Jihan lah, Pa. Masa untuk Papa." Rizky mengikat tali itu pada besi troli bayi, anaknya yang cantik itu tengah duduk di sana. Dia sengaja membeli balon karena tadi sempat melihat banyak anak-anak yang membeli.
"Tapi Jihan masih kecil, mana ngerti dia?"
"Itu dia lihatin balon, Pa." Rizky berjongkok lalu mencium pipi kiri anaknya. Jihan mendongakkan wajahnya ke atas menatap balon itu sambil mengoceh.
"Tapi lehernya sakit nanti itu, dongak terus." Guntur membuka tali balon itu. Lalu mengikatnya kembali ke besi troli hanya saja diperpendek, supaya cucunya tak terlihat kesusahan untuk menatap benda itu. "Nah begini baru benar. Kamu ini jadi Daddy nggak becus amat," gerutu Guntur.
"Enak saja nggak becus, ya Papa yang jauh berpengalaman harusnya ajari aku dong. Kan aku masih butuh banyak belajar."
"Iya ini 'kan Papa sudah ajari kamu. Ini pegang tas bayinya, berat tahu." Guntur menaruh tas selempang bayi ke atas bahu Rizky. Di dalamnya berisi termos, susu formula, popok, minyak angin, bedak dan pakaian Jihan. Semua itu dipersiapkan oleh Gita tadi.
"Pa, aku laper, nih. Kita makan di restoran depan yuk!" ajak Rizky seraya mengusap perutnya yang tiba-tiba saja berbunyi, kemudian menunjuk sebuah restoran sederhana.
"Ayok, kebetulan Papa juga sarapannya tadi sedikit."
"Dih, Papa jangan jalan duluan, troli Jihan didorong dong." Rizky mendengus kesal saat melihat Guntur sudah melangkah lebih dulu, dia tertinggal di belakang dengan Jihan.
__ADS_1
"Ya kamu doronglah, kan punya tangan."
"Dih, aku 'kan bawa tas." Rizky langsung mendorongnya kemudian mengikuti langkah kaki Guntur untuk masuk ke dalam restoran.
"Begitu saja manja kamu, Riz. Kan kamu Daddynya."
"Papa juga Opanya." Rizky membalik perkataan Guntur, lalu duduk di sofa dan mendekatkan troli Jihan di sampingnya.
Guntur duduk di depan Rizky, lalu tak lama pelayan wanita datang dan menyodorkan menu. "Makannya gantian saja, Riz. Takutnya Jihan nangis terus minta susu bagaimana?"
Rizky menoleh ke arah Jihan, terlihat anaknya itu memejamkan mata. "Jihannya juga tidur."
"Tapi mending kamu buat susu dulu, takutnya dia nangis pas bangun. Kan biar enak juga."
"Ya sudah Papa yang buatkan." Rizky menaruh tas bayi itu ke atas meja, lalu menggeserkan ke arah Guntur.
"Kok jadi Papa yang buat? Kamu lah." Guntur menggeserkan tas itu lagi ke arah Rizky.
"Aku belum bisa cara membuat susu, kemarin saja salah ... katanya airnya kebanyakan."
Guntur membuang napasnnya kasar, kemudian dia lah yang membuatkannya. "Nih, lihatin cara buatnya, biar kamu bisa."
Setelah itu mereka pun memesan menu makan siang dan mulai menyantapnya. Suasana di restoran itu cukup ramai, banyak beberapa orang yang makan di sana.
Disesi makan yang sedang lahap-lahapnya, secara mendadak Guntur mencium aroma tidak sedap yang mengguar berasal dari depan.
Guntur langsung berdecak lalu melototi Rizky. "Kamu jorok banget sih, Riz!"
Rizky yang tengah menelan makanannya lantas mengerutkan kening. "Jorok? Maksudnya?"
"Kamu pasti kentut, kan? Bau tahu, Riz." Guntur mengambil beberapa lembar tissue lalu menutupi hidungnya. "Nggak sopan banget kamu di depan orang tua, mana Papa lagi enak-enak makan."
"Dih, siapa yang kentut?" Rizky menggeleng cepat. "Aku nggak kentut."
"Terus ini bau apa? Memangnya kamu ga menciumnya? Kan asalnya dari kamu."
__ADS_1
Rizky langsung mengerutkan hidungnya lalu mengendus. Ya, dia mencium aroma tidak sedap yang menyerupai kentut itu. Tetapi saat ditelaah, ternyata asal aroma itu dari Jihan.
Kini kepala Rizky sudah masuk ke dalam troli, dia mengendus lagi dan ternyata asalnya dari celana Jihan.
"Jihan yang kentut kayaknya."
Baru saja Rizky mengatakan hal itu, tiba-tiba saja Jihan terbangun dan langsung menangis, cepat-cepat Rizky mengendongnya lalu memberikan botol dot itu ke dalam mulut Jihan.
Namun, bukannya menghisap, Jihan justru makin keras menangis dan dia menggelengkan kepalanya. Seolah tak mau meminum susu itu.
"Pa, Jihan nangis bagaimana ini?" Rizky menepuk-nepuk bokong anaknya, dan aroma tidak sedap itu makin menjadi-jadi tercium di hidung. Merasa penasaran—Rizky pun perlahan mengintip celana Jihan yang memakai popok. Matanya seketika membulat kala melihat begitu banyak aneka pisang di dalam sana. "Ternyata Jihan berak, Pa. Bagaimana ini?" tanya Rizky binggung.
Guntur menaruh dompetnya di dalam kantong celana, dia tadi baru selesai membayar pesanan.
"Bawa ke toilet lah, Riz. Ganti popoknya. Kamu ini aneh." Guntur mengambil alih Jihan untuk dia gendong, tangis bayi cantik itu makin pecah. "Bawa ke sini tas bayinya," titah Guntur kemudian berlalu pergi menuju toilet.
Rizky cepat-cepat menyambar tas itu kemudian berlari mengejar Guntur. Langkah pria tua itu langsung Rizky hentikan tepat di depan pintu toilet pria.
"Papa mau ngapain?"
"Dih, kok ngapain? Ya cebokkin Jihan lah, ini dia nangis karena mungkin nggak betah."
"Tapi ini 'kan toilet pria, Pa." Rizky menunjuk papan nama di pintu.
"Terus kenapa?"
"Jihan 'kan cewek. Harusnya ke toilet wanita dong." Rizky menunjuk toilet wanita yang berada di sebelahnya.
"Lebih nggak mungkin lagi kalau kita ke toilet wanita." Guntur menarik lengan Rizky supaya tubuhnya menyingkir dari pintu. Lantas dia pun masuk ke dalam sana sembari mengambil paksa tas di bahu anaknya. Dia merasa tak sabar sekali ingin cepat-cepat membersihkan tubuh Jihan, sebab merasa kasihan karena cucunya terus menangis.
Rizky baru saja melangkah ingin masuk ke dalam toilet, namun terhenti lantaran bunyi pada ponselnya yang berada di kantong celana jeans. Cepat-cepat dia pun mengambil benda pipih itu dan mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Gita.
"Rizky! Pulang kamu sekarang juga!" Pekikan yang begitu menggema itu berhasil membuat telinga kanan Rizky berdengung, entah mengapa tiba-tiba saja wanita itu langsung berbicara dengan suara toa.
"Memangnya kenapa, Ma?"
__ADS_1
Tut!
Panggilan itu dimatikan secara sepihak, padahal Rizky belum mendapatkan jawabannya.