
"Ada, Rizky ada di kamar. Sebentar aku panggil—"
"Nggak usah, Ma," sela Guntur. Dia memegang lengan Gita saat istrinya baru saja bangkit dari duduk. Guntur seakan tak mengizinkan jika Sofyan bertemu dengan anaknya. Dia juga tahu kalau kedatangan pria itu untuk membahas masalah tadi pagi.
Namun sayangnya Gita kali ini tak memihak padanya, dia malah menepis tangan Guntur dari lengannya. Kemudian berjalan pergi naik ke lantai atas.
'Pasti Nella sudah cerita pada Papanya,' batin Guntur.
Sembari menunggu Rizky datang, mungkin akan lebih baik Sofyan lebih dulu meyakinkan Guntur, sebab dia orang pertama yang tak mempercayai anaknya.
"Pak Guntur, Bapak harus percaya sama Nella daripada sama Ihsan. Saya mengakui jika Nella masih berhubungan dengan Ihsan disaat sudah menikah dengan Rizky, tetapi saya bisa jamin kalau Nella nggak berhubungan badan dengan pria lain selain Rizky," terang Sofyan. "Dia mengandung anak Rizky dan cucu kita."
"Apa kamu bisa buat aku dan Rizky percaya?" tanya Guntur dengan nada meremehkan.
Tak lama Rizky dan Gita datang. Pria tampan itu sama sekali tak mengatakan hal apa pun pada mertuanya, tetapi dia sempat menghampirinya untuk mencium punggung tangannya sebelum duduk di tengah-tengah Guntur dan Gita.
Sofyan melihat kondisi Rizky yang terlihat tak baik-baik saja. Pria tampan itu masih memakai jas tadi pagi. Bisa dipastikan jika dia belum mandi. Rambutnya acak-acakan, wajahnya begitu muram dan matanya sembab seperti habis menangis.
Sofyan mengerti perasaan pria itu saat ini, mungkin Rizky berpikir kalau dia sudah dikhianati, padahal aslinya tidak.
"Rizky, kamu harus percaya sama Nella daripada Ihsan. Ihsan mengatakan hal itu karena nggak mau putus dengan Nella." Sofyan menatap lekat wajah menantunya, dia berusaha untuk meyakinkan. "Sekarang coba kamu pikirkan ... kalau memang Nella mengandung anak Ihsan, untuk apa dia mau mempertahankan rumah tangga kalian? Kenapa nggak menikah saja dengan Ihsan?"
"Iya, apa yang dikatakan Sofyan itu benar, Riz. Mama juga percaya Nella nggak mungkin berbuat dosa seperti itu. Dan dia hamil pasti anakmu, darah dagingmu." Gita mengusap bahu Rizky. Dia tadi sempai berdebat dengan Guntur lantaran masalah ini, dan Gita masih memihak dan percaya pada Nella.
Rizky terdiam. Sungguh, dia ingin sekali mempercayai ucapan Sofyan maupun Nella. Tetapi lagi-lagi hatinya merasa galau. Jawaban Ihsan sudah membuatnya sulit untuk percaya.
"Papa nggak mau nantinya kamu menyesal, Papa juga tahu kamu sangat mencintai Nella. Papa mohon padamu ... tolong percaya pada Nella," imbuh Sofyan lagi.
Rizky masih bergeming dalam duduknya.
"Kalau memang kamu ragu, kamu bisa melakukan tes DNA saat Nella melahirkan nanti. Nella juga tak akan menolaknya." Kembali hanya Sofyan yang berbicara.
__ADS_1
"Kamu jangan begini, Riz. Mama lihat sikap Nella sudah mulai berubah dan melunak padamu. Jangan hanya gara-gara ucapan Ihsan semuanya hancur," tegur Gita.
Rizky menoleh pada Guntur yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, dia seolah meminta pendapat dari sang papa.
"Papa terserah padamu saja, Papa binggung harus percaya atau nggak," ucap Guntur pada Rizky.
"Papa tahu kamu masih binggung. Tapi menurut Papa ... sekarang lebih baik kamu pulang saja ke rumahmu. Nella sudah menunggu," ungkap Sofyan dengan wajah sedih. "Setidaknya, pertahankan pernikahanmu sampai Nella melahirkan. Papa nggak mau kamu meninggalkan Nella saat dia sedang mengandung. Itu akan membuat Papa sakit hati."
Rizky kini menoleh ke arah Gita, meminta pendapat pada sang mama.
Gita mengangguk dan tersenyum. "Itu benar, kamu pulanglah. Nella saat ini sangat membutuhkanmu, Riz."
*
Meskipun awalnya berat, tapi pada akhirnya Rizky menurut. Memang hati Rizky benar-benar gampang melunak jika melihat seseorang yang membutuhkannya.
Tepat di dalam mobil, Rizky duduk dan masih terdiam di samping Sofyan yang tengah mengemudi. Dia akan mengantarkan Rizky, sebab dia tak yakin jika menantunya benar-benar akan pulang menemui Nella.
"Apa Papa boleh minta sesuatu padamu, Riz?" Ini adalah sebuah permohonan dan pertanyaan yang keluar dari mulut Sofyan.
"Iya," jawab Rizky tanpa menoleh, wajahnya sejak tadi menatap kaca mobil dan melihat kendaraan yang lalu lalang di jalan raya.
"Sekesal apa pun kamu sama Nella, tolong jangan berbuat kasar padanya," pinta Sofyan lirih. "Papa tahu diri ... Papa termasuk orang yang kasar pada Nella. Tapi Papa nggak akan sanggup kalau melihat Nella dikasari orang lain, apalagi suaminya sendiri."
"Apa selama aku menikah dengan Nella ... aku pernah kasar padanya, Pa?" Bukannya mengiyakan, Rizky justru memberikan pertanyaan balik.
"Nggak, Riz." Sofyan menggeleng cepat. "Papa hanya takut saja ... kalau gara-gara ini kamu jadi berubah."
"Selama ini aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Nella, Pa. Dan sekarang juga sama, tapi bedanya aku sekarang masih binggung dan meragukannya."
"Nggak masalah, Papa mengerti."
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Rizky segera turun dari mobil Sofyan, dan Sofyan pun langsung pulang tanpa mampir dulu. Dia tak ingin menganggu momen mereka berdua.
Rizky baru saja membuka pintu rumahnya dan dia dikejutkan saat Nella tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat.
"Mas Rizky, akhirnya Mas pulang juga. Aku menunggu Mas dari tadi," ucap Nella dengan nada lembut.
Rizky membulatkan matanya ketika menyadari pakaian apa yang kini menempel pada tubuh indah istrinya. Wangi mawar yang begitu semerbak pada hidungnya membuat Rizky menelan salivanya dengan kelat.
'Astaga apa ini? Gue bahkan baru sampai, jangan sampai langsung tergoda,' batin Rizky.
Nella meregangkan pelukannya hingga terlepas, lalu segera menutup pintu rumah. Setelah itu dia menggandeng tangan Rizky dan mengajaknya berjalan masuk.
"Mas Rizky mau mandi dulu atau makan dulu? Aku tadi masak gulai ayam, Mas."
"Gue mau langsung tidur saja," jawab Rizky datar. Dia sama sekali tak berani menoleh pada Nella, dia takut jika nasf*nya langsung naik. Padahal niat Nella adalah ingin membuatnya tergoda.
"Oh, mau langsung tidur. Ya sudah," jawab Nella. Sesekali dia menoleh pada Rizky dan tersenyum padanya.
"Bi, tunggu sebentar." Rizky memanggil Bibi pembantu yang baru saja lewat hingga menghentikan langkah kakinya. Dia dan Nella juga sama-sama menghentikan langkah.
"Iya, Pak," ucap Bibi.
"Tolong ambilkan beberapa pakaian dan barang-barang di kamarku lalu pindahkan ke kamar tamu," titah Rizky.
Nella terbelalak, lalu menoleh ke arah Rizky. "Lho, kok dipindahkan? Kenapa Mas?"
"Iya, mulai sekarang gue akan tidur di kamar tamu dan lu tidur di kamar gue," jawab Rizky yang masih tak menatap Nella.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....
__ADS_1
...1036...