Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
213. Alhamdulillah


__ADS_3

Nella terus memanggil Rizky, mungkin menurutnya, suaminya itu belum keluar dari rumah.


Namun sudah beberapa menit berlalu dia terus berteriak, Rizky tak kunjung masuk ke kamar. Nella menarik kakinya pelan, berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar. Mungkin akan ada seseorang yang membantunya.


Ceklek~


"Bi Yeyen! Tolong aku, Bi!" Di ambang pintu Nella berteriak kencang memanggil pembantu di rumah Rizky. Dan untungnya wanita paruh baya itu belum tidur, masih berkutat di dapur mencuci piring.


"Bi Yeyen!" teriak Nella sekali lagi, tak lama wanita paruh baya itu berlari menaiki anak tangga lalu menghampiri Nella dengan kedua mata yang terbelalak lantaran kaget. Lantai kamar itu banyak sekali darah yang berceceran.


"Astaghfirullah, Nona kenapa?" Bi Yeyen merangkul punggung Nella. Terlihat wajah wanita cantik itu basah karena air mata menahan rasa sakit.


"Mas Rizky, apa dia masih ada diluar? Tolong panggilkan dia, Bi!"


"Iya, iya, tunggu sebentar Nona." Bi Yeyen langsung berlari turun dari tangga, lalu keluar dari rumah mewah Rizky.


Tak lama dia kembali, tetapi bukan dengan Rizky. Melainkan satpam rumahnya.


"Pak Rizky nggak ada Nona, sepertinya dia sudah pergi."


Bi Yeyen buru-buru masuk ke dalam kamar Rizky, lalu membuka lemari untuk mengambil dress milik Nella. Tidak mungkin juga dia mengantar majikannya itu ke rumah sakit dengan pakaian seksi seperti itu.


Setelah itu, barulah satpam rumah mengangkat tubuh Nella. Membawanya hingga masuk ke dalam taksi, lalu disusul oleh Bi Yeyen.


"Bapak tolong telepon Pak Rizky dan keluarganya. Biar saya saja yang mengantar Nona Nella," ucap Bi Yeyen dan satpam itu mengangguk paham.


Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Nella terus menangis sambil menyentuh perutnya sendiri. Rasanya sudah campur aduk. Sakit, nyeri dan kram menjadi satu.


"Bibi, aku takut, Bi. Perutku kenapa? Kok bisa sakit begini?" Nella memeluk tubuh Bi Yeyen sembari mencengkeram lengan kirinya. Terlihat wanita paruh baya itu kesakitan, tetapi dia pasrah sebab memaklumi akan kondisi Nella.


"Sepertinya Nona akan melahirkan. Nona bertahan ... semuanya akan baik-baik saja." Bi Yeyen mengusap-usap punggung Nella.


"Melahirkan?" Nella mendelik. "Apa rasanya akan sakit sekali, Bi? Aku mau Mas Rizky menemaniku." Tiba-tiba jantung Nella berdetak sangat cepat, rasa takut itu mendadak menghampirinya.


"Rasanya memang sakit, Nona. Tapi setelah bayinya lahir semuanya akan seperti biasa lagi. Dan Pak Rizky pasti akan menemani Nona Nella. Nona tenang saja." Bi Yeyen terus menyemangatinya supaya wanita itu tenang.


***

__ADS_1


Saat sampai di rumah sakit, kedatangan mereka berdua bertepatan dengan Sofyan, Guntur dan Gita yang baru sampai. Hanya saja tidak ada Rizky. Padahal dia satu-satunya orang yang sangat Nella butuhkan saat ini.


Sofyan langsung mengangkat tubuh anaknya, lalu berlari menuju ruang bersalin. Dia membaringkan tubuh Nella di bed partus.


"Dokter, putri saya akan melahirkan. Tolong dia," ucap Sofyan cemas.


Dokter wanita berambut pendek yang berada di dalam sana langsung buru-buru memakai masker dan sarung tangan. Kemudian menghampiri mereka.


Dia membuka kedua paha Nella lebar-lebar, lalu memasukkan jari tengahnya ke inti tubuh wanita itu.


"Sudah dekat ini, Pak," ujarnya pada Sofyan. Lalu menoleh pada suster wanita yang berada di sampingnya. "Tolong siapkan semua alat-alatnya ya, Sus."


"Baik, Dok." Suster itu mengangguk patuh, dia langsung menjalankan perintah dari sang Dokter.


"Papa, di mana Mas Rizky? Aku ingin dia menemaniku." Nella menangis sembari menatap Sofyan yang tengah mengelus keningnya. Dia sangat berharap Rizky berada disisinya selama proses itu berlangsung.


"Rizky akan ke sini sebentar lagi. Papa akan telepon dia sekarang." Sofyan segera mengambil ponselnya di dalam saku jas, kemudian langsung menelepon menantunya.


Sayangnya panggilan itu tak dijawab sama sekali oleh Rizky. Sedangkan Nella sudah benar-benar tak tahan ingin melahirkan.


"Sementara Bapak dulu saja yang menemaninya, kasihan bayinya," ucap Dokter. Hordeng pembatas di tempat Nella berbaring Itu sudah dia tarik, lalu memposisikan kedua kakinya dengan benar. "Apa Nona sudah siap? Ayok kita mulai."


Sofyan yang melihat semua itu, lantas duduk di kursi kecil di dekatnya seraya mengenggam tangan kanan Nella. Tangan kiri wanita itu memegang besi ranjang.


***


Di tempat yang sama. Rizky berlari dari parkiran seperti orang kesetanan masuk ke dalam rumah sakit. Dia benar-benar khawatir bercampur senang saat diberitahu jika saat ini istrinya itu akan melahirkan.


Namun mendadak rasa ingin kencing itu datang di saat langkahnya terhenti di depan ruang bersalin.


Guntur yang tengah duduk di kursi tunggu bersama Gita langsung berdiri saat melihat kedatangan anaknya. Kemudian dia menarik lengan Rizky begitu saja, membawanya masuk ke dalam ruangan bersalin.


Pria tampan itu bahkan sedang mengatur napasnya yang naik turun, ditambah menahan kencing.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu datang, Riz," ucap Sofyan seraya menghela nafasnya dengan lega. Dia langsung melepaskan tangan Nella, lalu bergeser di samping Guntur.


Nella menoleh pada suaminya, lalu mengangkat kedua tangannya seperti ingin dipeluk. Rizky pun segera menghampirinya, dia membukakan badan lalu memeluk tubuh Nella seraya menciumi rambutnya.

__ADS_1


"Maaf aku baru datang, kamu semangat, Sayang!"


Mendengar kata semangat, Nella langsung mengejen sekuat tenaga sembari mencengkeram punggung pria tampan itu. "Eeeuughhhh ...."


Rizky melotot sambil meringis kesakitan. 'Buset! Sakit banget. Mana mau kencing lagi.'


"Sedikit lagi, Nona," ujar Dokter. "Tarik nafas, lalu perlahan buang."


Nella menarik nafasnya dalam-dalam, lalu perlahan membuangnya sembari mengejen. "Eeeuughhhh ... Aakkkhhhh ...."


"Ayok sekali lagi."


"Mas sakit sekali, ini. Eeeuughhhh ...." Nella dengan refleks menarik rambut panjang Rizky yang terkuncir tidak rapih. Kepala Rizky sampai mendongak ke atas dan disaat bersamaan miliknya itu sudah kebobolan karena sudah tak tahan. Air kekuningan itu mengalir membasahi celana kolor pendeknya.


'Duh, ngompol lagi gue. Bagaimana ini?'


"Oe ... oe ... oe." Isakan tangis bayi itu langsung menggema mengisi ruangan. Menandakan kalau bayi mereka telah lahir ke dunia.


"Alhamdulillah!" seru Rizky.


"Alhamdulillah," ucap Sofyan dan Guntur berbarengan. Mereka pun menghampiri Rizky dan Nella kemudian memeluk tubuh mereka.


"Alhamdulillah semuanya lancar. Selamat untuk kalian berdua yang sudah menjadi orang tua," ucap Sofyan dengan tangan yang terus mengusap pundak menantunya.


Suster langsung membawa bayi itu ke kamar yang berada di sebelahnya untuk segera dimandikan.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah melahirkan anak kita dengan selamat. Kamu wanita hebat." Rizky mengulum senyum. Dia perlahan mengusap wajah istrinya yang basah, kemudian mengecupi seluruh wajahnya.


Sofyan dan Guntur menegakkan tubuhnya, mendadak hidungnya tercium aroma tidak sedap yang berasal dari Rizky.


Ditambah Sofyan merasakan beberapa tetesan air menimpa kakinya. Dia pun menurunkan pandangan ke bawah. Sontak saja matanya membulat sempurna saat melihat lantai yang dia injak itu banjir.


'Apa si Rizky ngompol lagi?' Sofyan membatin.


Dan tak berselang lama terdengar suara seseorang yang terjatuh saat menghampiri mereka.


Kedubrak!!

__ADS_1


"Aaaww!" Dokter itu meringis kesakitan sembari menyentuh pinggangnya yang terasa nyeri. Dia terpeleset gara-gara air kencing Rizky yang terasa begitu licin.


__ADS_2