
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Ali datang di kamar inapnya. Dia tersenyum dan membungkuk sopan, lalu menghampiri Rizky yang sudah berwajah masam.
"Lama banget lu, beli di mana? Arab?" tanya Rizky dengan ketus saat menerima plastik hitam yang diberikan oleh sopirnya.
"Mini market di sini jauh, Pak. Jadi tadi saya cari dulu."
"Tapi ini kualitasnya sesuai yang gue inginkan, kan?" Rizky membuka plastik tersebut, lalu mengambil satu kardus kecil yang berisi komd*n dengan merek d*rek p*rforma isi tiga. Dan ada tiga kardus. Lantas dia pun memerhatikan bungkusnya.
"Iya, itu yang terbagus. Katanya tahan bocor sampai lima kali croot, Pak."
"Mana ada, yang ada luber ke mana-mana. Gue juga dulu pakai yang ini, sudah sana pergi lu!" titahnya dengan nada mengusir.
"Oke, Pak. Saya do'akan biar lancar. Tapi nanti mendesahnya jangan kencang-kencang ... nanti ibu dan anak Bapak bangun," goda Ali kemudian dia berlari keluar sebelum Rizky mengamuk.
Rizky tersenyum lebar menatap apa yang dia pegang, lalu menoleh ke arah Nella yang masih tertidur lelap.
Rizky ingin turun ke bawah, tetapi kakinya terasa sangat lemas. Niat ingin membangun Nella dengan cara menepuk bahu atau mengelus pipi akhirnya tidak jadi, dia memutuskan hanya ingin memanggil saja.
"Nell! Nella!" panggil Rizky dengan nada sedikit keras. Suaranya langsung membuat Jihan menggaruk-garuk kepalanya. "Nell, Nella!" panggil Rizky lagi, kali ini sedikit membungkuk ke arah Nella supaya wanita itu cepat bangun.
Sayangnya bukan dia yang bangun, melainkan Gita. Wanita itu mengerjapkan matanya lalu menatap Rizky.
"Ngapain kamu, Riz?" tanya Gita yang mana membuat Rizky terhenyak.
Rizky langsung membenarkan posisi duduknya dan menyandar pada besi ranjang.
"Kamu haus? Mau Mama ambilkan air minum?" tanya Gita seraya duduk.
Rizky menggeleng cepat. "Aku mau Nella dibangunin, Ma."
"Memangnya mau apa?"
Rizky terdiam sesaat, dia tengah memikirkan alasan yang cukup masuk akal. Jika jujur—Gita pasti akan melarang dan mengomelinya. Selain kondisi Rizky yang terlihat belum pulih, posisinya sekarang juga masih di rumah sakit.
"Paha dan kakiku pegal, Ma." Rizky menyentuh pahanya. "Aku mau Nella pijitin aku, aku nggak bisa tidur soalnya."
"Mama saja yang pijitin." Gita bangun, lalu dia pun menarik kursi kecil dan duduk di dekat anaknya. Baru saja tangannya hendak menyentuh kaki Rizky, pria itu pun langsung mencegahnya sambil menggeleng.
__ADS_1
"Mama nggak akan bisa, nanti salah urat."
"Cuma pijit mah bisa, Mama 'kan sering pijitin Papamu kalau badannya pegal." Gita kembali ingin menyentuh kaki Rizky, tetapi pria itu bersih keras menahan dan menolaknya.
"Nggak mau, aku maunya dipijitin sama Nella."
"Tapi Nella sedang tidur, Mama nggak tega banguninnya."
"Nggak apa-apa kali ini saja, lagian memijit suami 'kan dapat pahala. Apa lagi kalau suaminya sedang sakit, Ma."
"Iya, sih. Ya sudah ... Mama bangunkan dia dulu, tapi kalau Nella nggak mau jangan maksa, ya?" Nada bicara Gita terdengar mengancam.
Lantas, wanita itu pun berdiri dari duduknya, kemudian berjongkok ke bawah, tepat di mana Nella berada. Perlahan tangannya menggoyangkan lengan kiri Nella dengan lembut. Wanita itu juga tidurnya meringkuk di depan Jihan.
"Nell! Bangun, Nell!"
Dibangunkan sebentar dengan gerakan tangan wanita itu langsung membuka matanya, perlahan jarinya mengusap-usap mata yang terlihat rabun dalam penglihatannya. Tak lama wajah cantik Gita terlihat jelas di mata Nella.
"Ah, maaf, Ma. Sudah siang, ya?" Nella langsung duduk kemudian membereskan rambutnya dengan kelima jari.
"Nggak kok, ini masih malam. Maaf Mama bangunkan tidurmu, itu suamimu minta dipijit katanya, Nell." Gita melirikkan matanya ke arah Rizky. Dan Nella pun ikut menatapnya, pria itu terlihat tengah mengulum senyum. Dia benar-benar tak sabar ingin segera dipijit lalu bercinta.
"Kaki, Nell."
"Sebentar ... Mama punya minyak zaitun kayaknya." Gita membuka tas miliknya yang berada di dekat kasur, kemudian mengambil botol kecil itu dan memberikan pada Nella. "Kalau susah celananya dicopot saja, Riz."
Sebelum Gita mengatakan hal itu Rizky sudah lebih dulu melepaskan celananya. Bahkan semua sampai dalaman.
"Kok dicopot semua, Mas?" Nella terlihat binggung saat Rizky sudah setengah telanjang. Apa lagi miliknya sudah berkedut-kedut.
"S*mpak mah nggak usah kali, Riz," sahut Gita.
"Nggak apa-apa. Ayok sekarang pijit." Rizky menarik selimutnya ke atas hingga kain lembut itu hanya menutupi inti tubuhnya saja. Perlahan Nella sudah membaluri minyak zaitun itu ke seluruh kakinya. Dari paha, betis hingga telapak kaki, kemudian memijitnya pelan-pelan.
"Kalau sakit nanti bilang saja ya, Mas."
"Iya, Sayang." Rizky tersenyum mendapatkan sentuhan dari tangan istrinya. Tak sakit sama sekali, malah pijitannya begitu lembut dan malah membuatnya makin terangsang. Dia pun melirikkan matanya ke arah Gita, wanita itu tengah bermain ponsel sambil berbaring. "Mama tidur lagi saja."
__ADS_1
"Iya, Mama mau tidur lagi. Tapi mau chat Papa dulu."
Rizky mengigit bibir bawahnya, tanpa aba-aba dia pun segera meremmas kedua gunung kembar istrinya hingga membuat Nella terhenyak.
"Sstttt ...." Rizky menempel jari telunjuknya ke bibir Nella sebelum wanita itu bersuara, lantas dia pun mendekatkan bibirnya ke telinga kanan. "Nella, sebenarnya ada yang lebih pegal dari pada kaki," bisik Rizky pelan.
"Apa? Memangnya ada lagi?" tanya Nella penasaran.
Rizky menarik tangan Nella lalu memasukkannya ke dalam selimut. Nella sontak membulatkan matanya saat tangannya itu bersentuhan dengan sesuatu yang panjang dan keras di sana.
"Dih, Mas." Nella menarik lengannya, tetapi ditahan oleh Rizky.
"Burungku pegal, dia juga minta dipijit."
"Tapi ini sangat mesum, Mas. Dan ini di rumah sakit, ada Mama juga." Nella menggeleng cepat. Dia sudah menebak jika Rizky nantinya tak akan sekedar meminta pijit, melainkan bercinta jugam
"Nggak bakal." Rizky melirik ke arah Gita, wanita itu sudah memejamkan mata. Dugaan Rizky dia pasti sudah tidur. "Mama sudah tidur, sekarang naik ke atas pahaku, Nell." Rizky menyelimuti seluruh kakinya lagi, kemudian menarik tangan Nella untuk naik. Namun, istrinya itu terlihat ragu, dia masih diam di tempat. "Celananya saja yang dibuka, jangan semua. Dan nanti nggak bakal kelihatan. Kan pakai selimut."
"Tapi kalau ketahuan bagaimana? Dan Mas juga nggak pakai pengamanan. Aku nggak mau."
"Pakai kok, gue sudah beli." Rizky membuka bungkus plastik komd*m itu, kemudian memasukkan tangannya ke dalam selimut dan memakaikan pada miliknya. "Ayok, dong. Jangan banyak mikir. Kamu mah kebiasaan ... kalau diajak bercinta suka lama. Padahal 'kan sama-sama enak." Rizky terlihat begitu tak sabar, sedari tadi tangannya juga sibuk mememmas dada istrinya. Memberikan sentuhan supaya wanita itu ikut terangsang seperti dirinya.
"Ya sudah deh iya. Berarti ini aku di atas?" Nella langsung naik ke atas kasur, kemudian duduk di pangkuan Rizky.
"Iya." Rizky mengangguk, kemudian menarik celana luar dan dalam milik Nella dan menutupi bokong polos keduanya. "Masukkin, Nell."
"Tapi Mas janji dulu sama aku."
"Janji apa?"
"Desahnya jangan kencang-kencang, nanti Mama dan Jihan bangun. Akunya malu."
"Iya, nggak. Nanti kita sambil ciuman."
Nella mengangguk, perlahan dia pun mengangkat pinggulnya sedikit. Lantas dia turunkan sembari menekan milik Rizky yang berbungkus itu ke dalam miliknya. Terasa sesak dan penuh sekali.
"Berasa nggak, Nell?" Rizky melihat Nella tengah membuang napasnnya sembari mengigit bibir bawah. Jujur saja Rizky kurang suka memakai pengamanan. Tetapi kalau tidak seperti itu, Nella pasti tidak mau.
__ADS_1
"Berasa, kan punya Mas gede."