
Area 21+
"Ini, aku mau memberikan obat." Rizky memperlihatkan kantong plastik yang berada di tangannya. "Tapi aku nggak enak ngasihnya, takut nganggu."
"Ya sudah besok saja, Mas. Ayok tidur, ini sudah jam 12 malam lho."
"Iya, iya. Ayok. Aku kangen banget tidur denganmu, Nell." Rizky merangkul pinggang istrinya lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar. "Apa milikmu masih berdarah? Kapan selesainya? Perasaan sudah sebulan lebih. Burungku karatan lama-lama, Nell."
"Masa karatan, Mas. Nggak lah." Nella terkekeh. "Aku sudah nggak berdarah, sih. Tapi kita bagusnya konsultasi ke dokter dulu. Takutnya belum bisa." Nella membaringkan tubuhnya dengan hati-hati di samping Jihan, lalu menarik selimut sampai di atas dada.
Rizky duduk di sofa sambil memandangi Nella, entah mengapa pikirannya melayang kepada papa mertuanya. Memikirkan akan malam pertama mereka dan di sini Rizky malah jadi ikut menginginkannya.
'Masa aku kalah sama Papa? Kapan aku selesai puasanya? Aku juga mau goyang.'
Rizky mengambil ponselnya, lalu melihat kalender. Dia sempat mencatat tanggal di mana hari Nella melahirkan. Dan bertepatan hari ini, Nella sudah sebulan setengah dari setelah melahirkan. Itu berarti umur Jihan sudah jalan sebulan setengah juga.
"Eh, berarti aku sudah bisa dong, ya? Ah coba telepon Dokter deh."
Padahal bisa besok dia menghubungi Dokter, atau pergi ke sana untuk sekedar konsultasi. Tetapi Rizky memilih menghubungi sekarang. Dia seolah tak ingin kalah dari mertuanya.
"Halo selamat malam, Dok. Maaf aku nganggu," ucap Rizky dengan sopan.
"Malam juga, ada apa Pak Rizky?"
"Ini, Dok. Nella 'kan sudah sebulan setengah habis nifas. Apa aku dan dia bisa bercinta lagi?" tanya Rizky tanpa basa-basi.
"Kalau Nona Nella sudah tak lagi berdarah tentu bisa, Pak. Tapi sebelum itu ada baiknya Nona Nella diKB dulu," saran dokter wanita itu.
"KB? Memang perlu, ya? Kan Nella baru melahirkan, Dok. Masa langsung hamil?"
"Itu bisa saja, Pak. Malah Nona Nella ada dimasa subur."
"Tapi sekarang sudah malam. Memang bisa pakai KB? Eh, minum pil atau bagaimana?"
__ADS_1
"Besok saja bagaimana, Pak? Nanti besok Bapak dan Nona Nella ke rumah sakit. Nanti saya kasih saran enaknya diKB apa. Soalnya Nona Nella juga sedang menyusui, kan?"
'Nunggu besok lama dong, orang kepengennya sekarang,' batin Rizky.
"Ya sudah, terima kasih, Dok. Selamat malam."
"Sama-sama, selamat malam juga, Pak."
Rizky mematikan sambungan teleponnya, lalu berdiri seraya berjalan beberapa langkah menghampiri Nella yang sudah memejamkan mata.
"Nella ...," panggil Rizky lembut, dia mengelus pipi kiri istrinya lalu mengecupinya dengan mesra.
Nella mengerjapkan matanya, dia tadi sudah tidur, tetapi langsung bangun akibat merasakan sentuhan tangan Rizky.
"Eh, Mas. Ayok tidur sini. Biar aku ditengah saja. Takutnya Jihan ketindihan Mas Rizky."
Nella mengeserkan tubuh Jihan, lalu menaruh beberapa bantal di samping tubuh bayi cantik itu. Untuk jaga-jaga takut nanti jatuh. Selanjutnya Nella menggeserkan tubuhnya sendiri, supaya memberikan ruang untuk berbagi tempat tidur dengan suaminya.
"Lho, sekarang, Mas? Gimana kalau nanti saja setelah kita ke rumah sakit konsultasi?" Nella membulatkan matanya saat tubuhnya sudah digendong oleh suaminya untuk pindah posisi berbaring di sofa panjang.
"Tadi aku sudah telepon Dokter, katanya boleh." Rizky melepas jaket dan kaosnya, kini dirinya sudah polos sempurna. Tinggal melucuti pakaian istrinya saja.
"Tapi aku belum pakai KB. Kata Mama aku musti diKB dulu sebelum bercinta sama Mas Rizky."
Rizky membuka kedua paha Nella dengan lebar, lalu memperhatikannya. Sudah lama sekali dia baru melihatnya lagi. Dan ternyata masih sama, indah dan menggoda hingga membuatnya menelan saliva dengan kelat.
"Kamu nggak mungkin hamil, Nell. Kan malam ini saja kita bercinta, besok baru pakai KB." Rizky membelai inti tubuh istrinya, lalu memasukkan jari tengahnya ke dalam sana seraya menarik dan menekannya pelan-pelan.
"Aahh!" desah Nella. Tubuhnya langsung merespon saat mendapatkan sentuhan dari suaminya. Jujur saja dia juga rindu dan menginginkannya, tetapi Nella selalu bisa menahan diri. Tidak seperti Rizky. "Nggak bisa begitu, Mas. Harusnya ... aahh. KB dulu, baru bercinta."
Rizky tak mendengarkan ucapan Nella, dia pun langsung naik ke atas tubuh wanita itu lalu melummat bibirnya. Tangan nakalnya masih terus bermain di dalam sana hingga membuat tubuh Nella meliuk-liuk.
"Mas ...." Nella mencekal lengan Rizky dan seketika menghentikan aktivitasnya. Deru napasnya terdengar terengah-engah, dia hampir melayang ke udara. "Minimal pakai pengaman, kond*m atau apa gitu, Mas. Aku belum mau hamil dulu. Jihan masih kecil." Nella menoleh ke arah kasur, tepat di mana anaknya tertidur pulas. Rasanya dia belum siap untuk hamil lagi. Kasihan pada Jihan yang masih butuh banyak asupan ASI.
__ADS_1
"Nggak ada komd*m aku, Nell. Nanti aku keluarkan diluar saja deh, ya?" Rizky terlihat begitu tak sabar, miliknya sudah dia tekan-tekan pada milik istrinya yang terasa lembab. Namun istrinya masih terus menahannya.
"Memang bisa? Nanti Mas lupa bagaimana? Dan memangnya itu bisa mencegah hamil?"
"Aku nggak akan lupa, kamu tenang saja." Rizky melepaskan tangan Nella yang sejak tadi menahan pinggangnya. Kemudian perlahan dia memasukkan miliknya pada inti tubuh Nella.
"Uuhh ...." Rizky melenguh keenakan saat merasakan miliknya seperti terjepit di dalam sana. Sungguh, dia begitu merindukan sensasi luar biasa seperti itu. "Kenapa sempit, Nell? Ini enak sekali."
Pelan-pelan Rizky menekan dan menarik pinggulnya, dilihat Nella sudah melem melek. Ikut merasakan kenikmatan itu.
"Mas jangan bohong dan lupa, ya? Keluarin diluar."
"Iya, Sayang. Sudah diam dulu, aku sedang menikmati. Takut keburu Jihan bangun."
Nella mengangguk, kemudian Rizky langsung menggempur miliknya dengan kekuatan super. Menguncangnya hingga suara erengan dan dessahan itu mengisi ruangan berAC itu.
Tanpa sadar dessahan Rizky yang paling nyaring itu mampu membuat Jihan terbangun, bayi mungil itu lantas menangis.
"Oe ... oe."
Setengah tanggung, lagi berada dititik kenikmatan. Tetapi Nella sudah mendorong tubuh Rizky hingga pria itu turun dari tubuhnya.
"Duh, Nell. Tanggung banget. Lagi enak-enaknya ini," keluh Rizky dengan wajah kecewa saat melihat istrinya berjalan menuju kasur lalu menyusui anaknya.
"Ngalah sama anak dulu, Mas."
Rizky menelan salivanya, dia berdiri kemudian membaringkan tubuhnya di samping Nella yang tengah meringkuk ke arah Jihan.
Tak peduli istrinya tengah menyusui, dan seolah tak mau menunggu karena sudah kepalang tanggung. Rizky langsung mengangkat salah satu kaki Nella, lalu menaruhnya ke atas bahunya sendiri. Setelah itu dia pun melakukan penyatuan.
"Aahh!" Nella membulatkan matanya, lalu menoleh ke arah Rizky sambil melotot. "Apa yang Mas lakukan? Tunggu Jihan selesai .... Eemmppp."
Rizky segera meraup kasar bibir istrinya sembari menarik turunkan pinggulnya.
__ADS_1