Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
28. Gue bakal menyentuh lu lagi


__ADS_3

Oh iya, Rizky sampai melupakan Anna adalah wanita. Kenapa tidak ia saja yang dimintai tolong, Anna pasti mau membantunya.


"Apa lu bisa beliin gue pembalut?" tanya Rizky.


"Pembalut? Buat siapa?" Anna menatap Rizky dengan tatapan binggung


"Buat istri gue, dia sedang datang bulan."


Bukannya langsung menjawab, Anna justru terkekeh mendengar ucapan dari Rizky. Seperti ada yang lucu untuk bahan candaannya pada Rizky.


"Jadi istrimu datang bulan? Terus kamu tidak bercinta dengannya dong? Kasihan sekali kamu, Riz." Anna mengelus pipi kiri Rizky sekilas sambil tersenyum mengejek. "Apa jangan-jangan kamu belum menyentuhnya sama sekali?"


"Enak saja, udah dong. Dia 'kan datang bulannya baru pagi ini, semalam gue udah melakukan malam pertama dengannya," ungkapnya. Rizky menggembungkan senyum dengan pipi yang merona, ia tiba-tiba mengingat kejadian semalam yang menurutnya sangat nikmat.


"Cih!" Anna mendesis. "Pakai bilang malam pertama segala, sebut aja bercinta. Lebay kamu, Riz!"


"Bedalah Anna. Meskipun sama-sama bercinta, tapi istilah malam pertama itu adalah hal yang luar biasa," jawabnya penuh bangga lantaran sudah berhasil menyentuh istrinya. Otak mesum Rizky kian menjadi-jadi dan sekarang malah membayangkan tubuh Nella tanpa busana.


"Terus kalau kamu sudah menikah, kamu nggak akan nyewa aku lagi gitu?" tanya Anna mulai cemberut, ia seakan tak suka dengan sikap Rizky yang tengah berbahagia.


"Tergantung."


"Tergantung apanya?"


"Ya tergantung aja. Udah sih, lu bisa beliin pembalut nggak? Nanti istri gue marah Anna kalau kelamaan!" Rizky membahas kembali apa yang ia inginkan pada wanita seksi di depannya itu.


"Iya, bisa. Mana duitnya?" Anna mengadahkan salah satu telapak tangannya ke arah Rizky. "Jangan lupa uang jalannya dua juta."


"Ck!" Rizky berdecak. "Dasar mata duitan! Uang jalan lebih besar dari pada harga barang yang dibeli." Rizky mendengus kesal seraya mengambil ponselnya pada kantong celana jeans yang ia kenakan. "Gue transfer aja deh, tapi gue kasih lu waktu dua menit untuk beli barang itu." Rizky sudah mengetik-ngetik layar ponselnya, mentransfer dua juta lima ratus ribu pada Anna.


Ting~


Bunyi notifikasi pesan bukti transfer dari Rizky yang sudah masuk pada ponsel Anna.


"Kamu tunggu sebentar, aku akan kembali secepatnya." Anna kembali mencium pipi kiri Rizky sebelum ia meninggalkan pria tampan itu yang menunggunya di Restoran.


Benar apa yang Rizky perintahkan, hanya dua menit Anna sudah kembali sambil membawa plastik hitam lumayan besar berisi pembalut.

__ADS_1


"Aku ikut menemui istrimu, ya? Aku mau kenalan dengannya," pinta Anna seraya menghentikan pintu lift yang baru saja hendak tertutup. Di dalam sana sudah ada Rizky seorang diri.


"Nanti saja, jangan sekarang," tolak Rizky seraya melepaskan tangan Anna yang menghalangi pintu lift.


*


Saat dirinya masuk ke kamar Hotel, Rizky mendengar suara seseorang yang tengah mengobrol lewat sambungan video call. Asal suaranya dari balkon.


Merasa penasaran, Rizky mengendap-endap supaya tidak ketahuan bahwa dirinya sudah masuk ke kamar. Ia segera duduk di sofa dekat jendela, menguping pembicaraan mereka.


Orang yang melakukan panggilan video call itu adalah Nella, namun ia tak tau dengan siapa Nella menelepon, yang Rizky dengar hanya suara laki-laki.


"Oya, Kak. Waktu itu Kakak minta aku untuk berjanji, janji apa itu Kak?" tanya Nella menatap pria bule di depan layar ponselnya.


"Iya, aku sampai lupa karena kamu terus mengajakku bercanda." Laki-laki itu terkekeh sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya. "Aku ingin minta kamu jangan sampai hamil anak Rizky."


Deg!


Rizky terbelalak, ia mengintip sedikit pada hordeng jendela, melihat Nella yang tengah berdiri dengan mengenakan handuk kimono. Tapi yang buat Rizky penasaran, dengan siapa Nella menelepon dan kenapa laki-laki itu bisa tau namanya?


Siapa dia? Berani sekali melarang Nella hamil anakku' batin Rizky.


"Mungkin saja, kamu semalam saja sudah melakukannya. Kemungkinan bisa lagi, kan?" suara laki-laki itu terdengar seperti menahan rasa sakit di hatinya, begitu lirih namun mampu terdengar oleh Rizky.


Sepertinya, sebelum Rizky datang, Nella sudah cerita duluan pada Ihsan tentang dirinya sudah melakukan malam pertama dengan Rizky.


Apa mungkin dia adalah pacarnya Nella?' batin Rizky.


"Tidak akan, Kak. Dia tidak akan berani menyentuhku," jawabnya dengan yakin. "Dan sekarang aku juga sedang datang bulan. Aku tidak mungkin hamil, kan?"


Kata siapa gue nggak berani? Gue bakal menyentuh lu lagi, setelah lu selesai datang bulan' batin Rizky.


"Apa mungkin?"


"Iya. Oya ... Kakak kenapa seperti sedih begitu? Bukannya Kakak bilang menerimaku, kan?" Nella menatap sendu wajah Ihsan pada layar ponsel.


"Aku menerimamu Cantik, hanya saja aku sakit hati saja. Tapi tidak apa-apa, dia 'kan suamimu. Tidak masalah jika dia menyentuhmu. Tapi aku takut ... takut kamu bisa terhanyut padanya. Dan kamu melupakan janjimu."

__ADS_1


Nella menggeleng cepat. "Tidak akan, aku tidak akan mencintai pria mesum seperti dia. Hanya Kakak yang ada di hatiku, Kakak percaya aku, kan?"


Cih! Dasar bucin' batin Rizky.


"Aku percaya padamu. Oya Cantik, bagaimana sikap Rizky padamu? Apa dia orangnya baik?"


"Dia ...." Ucapan Nella mengantung begitu saja lantaran ponselnya mendadak mati.


"Cih! Kenapa bisa mati?! Menyebalkan sekali, aku belum selesai pacaran juga!" gerutu Nella, ia menekan tombol ponsel yang berada di sampingnya.


Setelah ponselnya menyala, ternyata baterainya habis dan ponselnya kembali mati.


Nella masih menggerutu dalam hati sembari berjalan masuk dan menutup pintu balkon. Langkah kakinya terhenti bertepatan saat dirinya melihat Rizky yang tengah duduk menyilang kaki di sofa.


Nella tidak terkejut, hanya saja ia heran. Sejak kapan Rizky datang dan tentunya ia tidak mengetahui lantaran keasikan video call.


"Mana pembalutnya?" tak ingin basa-basi, Nella langsung melemparkan pertanyaan yang terpenting untuknya.


"Itu." Rizky mengedikkan kepalanya tepat pada kantong plastik hitam berukuran sedang di atas meja.


Nella langsung mengambilnya dan membuka isi di dalamnya. "Lho kok nggak ada sayapnya? Aku 'kan pesan yang ada sayapnya." Nella menatap wajah Rizky dengan tatapan tak bersahabat.


Astaga, kenapa gue lupa nggak ngomong sama Anna tadi' batin Rizky.


"Oh itu. Kata orang yang gue suruh, yang ada sayapnya stoknya habis. Jadi daripada nggak beli, dia beliin yang itu," jawab Rizky berbohong. Kebohongan itu mampu ditangkap oleh Nell.


"Oh, ya sudah terima kasih sudah membelinya." Malas membahas, Nella akhirnya menerima saja. "Nanti uangnya aku ganti, tapi tidak sekarang." Nella melangkah menuju kamar mandi.


"Nggak usah diganti, gue 'kan suami lu." Ucapan Rizky menghentikan langkah Nella yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. "Oya Nell, gue mau pergi ke kantor polisi dulu, ya? Lu ditinggal sebentar nggak apa-apa, kan?"


Nella langsung berbalik badan. "Apa aku boleh ikut?"


"Memang lu mau ngapain ke kantor polisi? Dari kemarin lu minta ikut mulu pas gue bilang mau pergi ke sana?" Rizky menatap mata Nella dengan rasa penasaran.


"Kita sekalian saja ke kantor Papah, Pak. Kita obrolin masalah perceraian."


Deg!

__ADS_1


Rizky membulatkan matanya seraya menelan ludahnya dengan kasar.


__ADS_2