Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
230. Salah orang


__ADS_3

"Nggak, memang kenapa?"


"Maya hari ini nggak masuk kantor, Pa. Dan kata Hersa saat ke apartemennya, dia dari semalam belum pulang," jelas Rizky.


"Nggak pulang?" Sofyan terbelalak, jantungnya langsung berdebar tak beraturan. Sejak semalam dia bahkan tak bisa tidur karena terus memikirkan gadis itu, dan tadi kerja juga tidak fokus. "Kamu sudah mencoba menghubunginya belum?"


"Sudah, tapi nomornya nggak aktif."


"Apa dia punya teman dekat di sini?"


"Setahuku teman Maya, Indah. Itu juga kata Reymond."


"Oh ya sudah, biar Papa bantu cari dia deh."


"Terima kasih ya, Pa."


"Iya, Riz." Sofyan mematikan sambungan teleponnya, lalu bahunya tiba-tiba ditepuk oleh Mawan.


"Sofyan lihat deh, kasihan banget, ya. Cantik-cantik begini dijual diluar negeri. Padahal kalau jadi model produk skincareku pasti aku menerimanya."


Mawan menunjukkan sebuah artikel tentang perdagangan manusia yang berada di negara Singapura. Ada tiga orang gadis cantik berambut panjang. Dan setelah Sofyan perhatikan dengan seksama—salah satu dari mereka entah mengapa mirip sekali dengan Maya.


"Ini artikel kapan, Pak?" tanya Sofyan menatap Mawan.


"Baru tadi pagi. Ini lihat jamnya."

__ADS_1


Artikel itu dipublikasikan dari jam 06.00, hari ini.


"Boleh saya pinjam sebentar hape Bapak? Saya penasaran dengan gadis ini." Sofyan menunjuk layar tersebut tepat pada wajah gadis yang dia maksud. Mawan pun segera memberikan ponselnya.


"Penasaran kenapa? Kau ingin membelinya?" tanya Mawan.


Sofyan menggeleng. "Bukan, tapi wajah dia mirip sekali dengan Maya, Pak. Sekertarisnya Rizky." Sofyan mengulirkan layar ponsel Mawan sampai ke bawah, sambil membacanya dengan teliti. Entah mengapa perasaannya mengatakan jika gadis itu adalah Maya. Kebetulan Maya juga belum pulang ke apartemen sejak kemarin malam.


"Mungkin hanya mirip, nggak mungkinlah itu sekertaris Rizky, Yan." Mawan nampaknya tak percaya.


"Ah tapi ini mucikarinya orang Indonesia, Pak." Sofyan membulatkan matanya dengan lebar. Segera dia menyalin link artikel itu, lalu mengirimkan ke ponselnya. "Kalau benar dia Maya, dia pasti dalam bahaya, Pak." Sofyan memberikan ponsel Mawan kepada pemiliknya, lalu berdiri. "Aku pergi dulu ya, Pak. Maaf sekali acara santai kita terganggu."


"Kau mau ke mana? Menyusul gadis itu? Memangnya penting, ya?" tanya Mawan dengan kening yang berkerut.


"Iya, dia penting bagiku, Pak." Sofyan berjalan cepat menghampiri kasir, dia langsung membayarkan semua pesanan dia dan juga Mawan. Setelah itu dia keluar, lalu masuk ke dalam mobilnya dan langsung mengemudi. Di dalam perjalanan dia menelepon Reymond.


"Nggak, memang kenapa, Om?" tanya Reymond.


"Om mau menyewa satu orang. Nanti bilang padanya temui Om di rumah Om, ya?"


"Oh, iya, iya."


***


Sebelumnya.....

__ADS_1


Dua orang yang membius Maya membawa gadis itu ke sebuah ruangan yang mirip seperti kamar, dan di sana ada seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa single sambil tumpang kaki.


Tubuhnya semok dan putih, ada tatto bunga mawar di dada atas sebelah kiri. Pakaian yang dia pakai sungguh sangat seksi. Dia memakai mini dress dengan kerah yang membentuk huruf V hingga buah dadanya yang sintal itu nampak menyembul keluar.


Rambutnya pirang sebahu dan dia juga sekarang tengah menyesap sebatang rokok di tangan kanannya.


"Ini dia gadisnya, Mami," ujar pria berbadan kekar itu, lalu membaringkan tubuh Maya ke atas kasur size bag berseprai putih.


Wanita yang dipanggil Mami itu tersenyum puas, lalu bangkit dari duduk seraya berjalan menghampiri Maya yang masih tertidur pulas dengan posisi terlentang.


Lantas dia pun membuka tas jinjing berwarna hitam, yang berada di samping Maya. Lalu merogoh dompet persegi dan membukanya.


"Lho, kok namanya Maya?" Mami membulatkan matanya saat melihat KTP yang bertuliskan nama Maya Angelia. Lantas dia pun menatap kedua pria yang berada di depannya, kedua pria itu tampak terkejut dengan kedua mata yang membola. "Kalian bodoh apa gimana? Ini salah orang! Yang kita cari Melisa, bukan Maya!" bentaknya dengan emosi. Tampaknya kedua anak buahnya itu salah menangkap orang.


Kedua tubuh pria berbadan kekar tampak bergetar karena takut. Nyali mereka seketika menciut.


"Duh, maaf, Mi. Kami sempat lupa namanya, tapi gadis itu wajahnya sangat mirip," ujar salah satu dari mereka sambil menundukkan wajahnya.


"Kalau begitu kita kembalikan lagi saja dia tempat semula, nanti kita cari lagi yang namanya Melisa." Yang satunya segera mendekati Maya, lalu mengangkat tubuhnya.


"Jangan dibawa!" teriak Mami menghentikan langkah kedua pria itu yang baru saja hendak keluar kamar. Lantas keduanya berbalik badan. "Jamnya sudah sangat mepet, lebih baik kita pergi sekarang. Nanti ketinggalan pesawat."


"Tapi, Mi. Katanya dia bukan Melisa. Berarti salah orang."


"Memang iya, tapi sudah terlanjur. Biarkan saja. Sekarang siapkan barang-barang untuk kita pergi," titah wanita itu lalu menyesap kembali rokoknya dan menjinjing tas milik Maya.

__ADS_1


"Memang nggak apa-apa ini, Mi? Nanti kalau keluarganya mencari dia bagaimana?" tanya pria itu lagi, dia terlihat cemas. Bahkan temannya juga.


"Nggak perlu pikirkan masalah itu, sekarang bereskan apa yang mau dibawa. Gantikan dia baju juga," perintahnya lagi.


__ADS_2